
Hari ini adalah hari yang telah dinanti Xana, dimana ia akan kembali menjalani rutinitasnya sebagai senior kelas 3 di Asrama. Sebenarnya ia agak bosan dengan sekolah yang menurutnya begitu-begitu saja. Tetapi ia tahu dari grup chat sekolah bahwa ada penambahan gedung istirahat yang aulanya besar disertai ac. Sepertinya menyenangkan istirahat di sana sembari bersantai memakan camilan di sore hari.
"Aku tidak menyangka kita berempat akan pergi di hari yang sama tetapi ke tempat berbeda. Kakak-kakakku, ingat! Jaga kepercayaan ibu ya! Jangan nakal~" Xana menggoda ketiga kakaknya.
"Siapa yang kau bilang nakal?" Kak Sean mengerutkan alisnya.
"Siapa lagi?"
"Aku? Bisa sebutkan kenakalanku nona?" Kak Sean mendekati Xana.
"Wow! Wow! Bukan, maksudku Kak Petra! Aku takut dia buat masalah sampe mama mumet! Ya kan Ma?" Xana meminta pembelaan.
Mama hanya tersenyum. Kali ini Xana akan sekolah sendiri tanpa pengawasan siapapun. Sejujurnya Mama cemas, tetapi dia masih belum menemukan ide untuk Xana.
"Well, aku berbeda dengan kalian ya... Aku bisa pulang pergi setiap hari minggu dan kalian tidak~ hoho~ Papa bakalan memanjakanku!" Xana meledek Kakaknya dengan menatap iba.
Tanpa lama-lama mobil dihidupkan. Mereka berempat naik di mobil yang sama dan akan mengantarkan Xana terdahulu. Xana sendiri yang memintanya karena ingin mengucapkan salam perpisahan ke kakaknya. Sayang, Kak Sean hanya akan menurunkan Xana di depan sekolah lalu segera ke bandara.
"Sudah sampai, belajarlah yang rajin dan segera kuliah! Mau jadi apa nanti pas gede" Kak Albert menceramahi Xana.
"Dih, gini-gini gue punya usaha sendiri kali! Berpenghasilan gede lagi! Ga kayak kalian~ wleeekk" Xana menjulurkan lidahnya dan mengejek Kak Albert.
"Penghasilan tidak tetapmu yang sekarang itu bakalan ada saatnya turun, mending kuliah... Dapet penghasilan tetap!" Kak Albert menasehati Xana.
"Hadehhh.... Iya deh iya! Bawel! Yaudah aku turun ya, bye bye Kakak-Kakakku tercintahhhhh" manja Xana sembari memberi kiss bye.
Mobil itu pun pergi. Sekarang tinggal Xana membawa kopernya masuk ke sekolah. Tidak berat, tapi meresahkan. Di pintu aula gerbang utama Xana sudah disambut secara khusus oleh Kepala sekolah bahkan wakil dan istrinya.
"Lebay banget, padahal gertakan gitu doang.... Udah takut? Dasar tikus berdasi!" Xana meledek dalam hati.
"Nona Xana... Selamat datang kembali! Kami senang melihat Nona masih mau sekolah di sini bahkan percaya kembali pada kami! Hohoho...." Kepala sekolah itu merentangkan tangannya menyambut Xana.
__ADS_1
"Terima Kasih, sayang sekali itu bukan 'percaya' tetapi rasa 'kasian' ku pada kalian" ejek Xana lagi.
Mereka tersentak dan diam. Tidak ada yang berani menjawab. Xana segera pergi mengarah ke gedung istana VIP yang mewah. Memasuki kamar sudah ada Lea mengatur tempat tidurnya sendiri. Ia sudah datang sedikit lebih awal.
"Eh, Lea... Kok ga ngabarin kalo udah nyampe?" tanya Xana yang kemudian duduk dan membuka pintu.
"Aku ga suka mencolok sebenarnya, jadi aku datang pagi agar tidak banyak yang memperhatikan" jawab Lea.
"Wah wah! Artis kita tidak suka keramaian rupanya!" Xana kembali meledek Kakaknya.
Sekarang giliran Xana menyusun pakaiannya. Ia tak sabar ingin kembali sekolah dan bermain bersama Lea. Apalagi di rumah ia disibukkan dengan mengasuh bayi adopsi.
Pengumuman! Seluruh siswi Asrama putri dimohon segera berkumpul sejenak di lapangan
Xana dan Lea segera keluar dan ikut berkumpul di lapangan. Pidato panjang nan lebar pun dimulai. Kepala Sekolah membicarakan tahun ajaran baru dengan murid baru yang akan datang. Dia pun membahas soal pentingnya kebersamaan. Setelah itu dia pun membahas Xana, bukan masalah hormat, tetapi dia bersyukur karena Xana sekolah di Asrama mereka. Itu adalah suatu kehormatan terbesar bagi mereka.
Semua mata memandang Xana. Nah, ini yang aku tidak suka! Mata mereka jelalatan kemana-mana. Ingin sekali kutusuk matanya!
"Ngapain liat-liat?! Mau ku butain mata kalian??" Xana menatap tajam ke salah seorang siswi yang sangat asat menatapnya.
"Wow, kau berhasil menggertak mereka! Hood Job!" Lea berseru kegirangan.
Semua mata kembali melirik. Kali ini ke arah Lea yang sangat akrab dengan Xana. Entah apa yang mereka pikirkan namun yang jelas lirikan itu tampak tajam memandang Lea.
"Weww.... Kenapa mata mereka sekarang melirikku?" Lea berkata lirih pada Xana.
"Entahlah, mungkin menagih janji ku butain matanya" Xana tetap fokus pada Kepala sekolah dengan pidato nya.
Kata-kata Xana kembali berhasil menggertak mereka dan membuat semuanya kembali pada posisinya.
"Hihi, kau yang terbaik!" bisik Lea pada Xana.
__ADS_1
Xana yang kalem nan judes hanya diam. Diam pun bukan berarti tidak senang, tetapi dia menjaga kharismanya.
Pidato selesai, semua siswi dipersilakan istirahat full hari ini. Karena Kak Petra tidak ada, Xana pun bebas! Yeah, selama Kak Petra ada dia selalu saja melarang makanan berlemak dan kalori tinggi sekali. Sekarang dia bisa makan sepuasnya!
"Bibi Kantin yang terhormat, bisakah aku meminta hamburger dan minuman kalori tinggi? Pasti lezat!" Xana berbicara dengan logat ala pembaca naskah.
"Aduh Nona Xana ini, bagaimana bisa seorang pekerja rendahan seperti saya terhormat? Ada-ada saja...." Bibi itu merendah.
"Hemmm.... Dengar bi, seseorang akan terhormat selagi dia menjaga kehormatannya. True?" Xana mendekatkan wajahnya ke bibi kantin itu.
"Ah, Nona Xana tahu saja kalau saya memang belum menikah! Saya menjadi malu nona...." Bibi itu tersipu.
"Hehe, apa aku bilang~" Xana segera mengambil makanan pesanannya.
Mereka duduk di tempat yang terkena matahari tetapi tidak terlalu terik. Xana dan Lea duduk bersebelahan sekarang.
"Wow Baby, bagaimana kau tahu kalau wanita itu belum menikah dan masih menjaga kehormatannya?" Lea langsung bertanya karena kepo sejak tadi.
"Dulu,setiap seseorang yang kutemui dan menurutku aneh atau mencurigakan.... Aku akan mencari tahu tentang info pribadinya. Tetapi itu dulu! Sekarang mah males and bodoh amat!" Xana segera menyantap hamburger besarnya dengan lahap.
"Jadi begitu,...." Lea ikut memakan pesanannya.
Hari menunjukkan jam 11:30. Anggap saja tadi mereka makan siang, jadi nanti tinggal nyemil sore. Karena Xana sudah ketahuan kedoknya, setiap orang yang berlalu pun menunduk dan menyapanya. Xana sendiri karena bosan menjawab nya hanya mengangguk.
"Kau menjadi seorang yang dihormati ya sekarang! Aku menjadi iri~" Lea meledek Xana.
"Kau disampingku sejak tadi, jadi tundukan mereka padaku anggap saja kepadamu juga. Toh kau sendiri disini yang tidak tunduk malah menjadi temanku?" Xana menjelaskan pada Lea.
"Xana, kau membuatku semakin merasa berharga! Terima kasih!" Lea menggenggam Xana dan memeluknya sambil berjalan.
"Ya," Xana menjawab dengan datar.
__ADS_1
Matanya tertuju pada seseorang di ujung lorong yang mereka ikuti. Sosok itu dikenali Xana, tapi Xana malas ingin berbicara pada nya. Lea yang masih fokus pada kesibukannya sendiri pun tidak menyadari hal tersebut.
-Bersambung......