Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Bab 52 Ujian Kelulusan


__ADS_3

"Huffftttt..... Ini adalah momen ujian kelulusan sekolah terakhirku! Aku harus fokus dan melakukan yang terbaik!" Batin Xana dengan penuh kesungguhan.


"Xana!" Suara yang sudah tak asing memanggil.


"Lea? Kirain dah masuk duluan," ujar Xana menyambut kedatangan Lea.


"Hehe, aku juga baru datang. Xana! Lo tau ga? Tadi siapa yang anterin gue?" ujar Lea antusias.


"Gebetan?! Ga mungkin kan? Lo kan ga suka ama cowok tipe mana pun!" Xana mengelak.


"Ih! Lagian lo nebaknya aneh banget si!" Lea menjadi kesal.


"Ya terus siapa nona Leaaaaaaa" tanya Xana panjang.


"Ayahku!! Kyaaaa dia tadi nganterin aku! Ya meski katanya sekalian pergi ke kantor, tapi senang banget!!...."


"....Dia diam dan cuek si, tapi beneran deh dia kalau senyum ganteng banget! Ayah juga ngelus kepalaku dan bilanh "Semangat Ujiannya" AAAAAAAAAAA senang banget!!" Lea menjelaskan panjang kali lebar.


Xana terdiam, ia memikirkan bagaimana perasaannya jika berada di posisi Lea. Bahkan hanya hal kecil menurut Xana begitu pun menjadu suatu kebahagiaan besar untuk Lea. Xana begitu beruntung memiliki Ayah yang sangat perhatian dan menyayanginya tanpa syarat.


"Wah! Aku turut senang! Tumben banget Ayahmu baik?" Xana bertanya agar tidak mati topik.


Mereka mulai memasuki gedung Sekolah yang besar dan menuju kamar mereka.


"Ah, tadi aku bangunnya agak pagi dan kecepatan berdandan jadinya pas banget keluar bareng Ayah! Seneng banget deh!" Lea kembali menunjukkan ekspresi bahagianya.


"Cieee..... Ya semoga aja tu orang tau kalau anak cantik bungsunya ini butuh kasih sayang lebih gede lagi, haha" canda Xana pada Lea.


Lea ikut tertawa senang, ia masih senang bertubi-tubi oleh perhatian Ayahnya tadi pagi.


'duh, hatiku sakit banget sih. Kok ada ya, ayah kek gitu? Bahkan sama sekali ga peduli. Jadi pengen hajar tu bapak Lea, kalo bisa mau ngomong panjang lebar sama dia,' batin Xana yang prihatin dengan Lea.


"Apa lo? Gausah sok kasian deh, gua lagi seneng banget nih!" Lea sadar tatapan iba Xana.


"Paan sih, gue tuh lagi kasian ama rambut lo yang bagus tapi jarang lo shampoo in!" Ejek Xana mengelak.


"Mana ada anjer!" Lea mengingat kapan ia begitu karena dia sendiri benci rambut kotor.


---------------------------------------------------


Kriiiiiiiiiiiiiiinnnnngggggggg!!!!!


Ujian hari pertama di mulai, semua menjadi fokus dan serius menjawab soal ujian masing-masing. Tidak ada yang mencontek karena kelas diawasi CCTV.


'Bener kata Xana, kalo sungguh-sungguh belajar, pasti ngerti dan mudah. Astaga ni soal mah yang gue baca sama Xana bareng di perpustakaan kemaren!' Lea perang batin.


Tiba-tiba ia terpikir sesuatu,' duh, kok bisa ya? Lea mau temenan sama aku yang banyakan kurang dari pada lebihnya?".


Ia masih tidak menyangka orang sehebat Xana mau berteman dengan orang seperti dirinya.


Ujian pertama selesai, seluruh siswa diberi istirahat untuk ujian ke 2 nanti. Saking ingin anaknya pintar, sekolah itu hanya memberi 2 mata ujian untuk anak-anaknya agar tidak terlalu pusing dan dapat mempersiapkan diri dengan baik.

__ADS_1


"Hah! Ga nyangka gue kalo ujian tadi semudah itu!" Lea loncat-loncat kegirangan.


"Ah, Lea.... Gimana nanti kalo lo dapet nilai bagus terus bisa dapet pujian dari Ayah lo?" Xana langsung mempunyai idenya sendiri.


"Bener juga! Ayah juga suka muji Kakak-Kakakku ketika mereka punya nilai yang bagus,ya meski kecuali aku, sih. Hehe...." Lea tersenyum pahit saat ingat dia yang malang.


"Udah, lo tenang aja. Gue yakin tuh dia bakal muji!" Yakin Xana.


"Wait, kenapa lo jadi PD dan yakin banget kalo gw bakal di puji?" tanya Lea dengan tatapan selidik.


"Paan sih, tu cuma ide sekali lewat!" Xana mengelak.


"Hemmm, 'key gue percaya! Dah yok makan! Kita harus Ujian dengan Perut terisi" Lea menggandeng tangan Xana.


'Kasian banget si lo Lea, ga tega gue." Xana berpikir dalam hatinya bahwa seandainya saja dia bisa menolong Lea.


Di kantin sangat ramai, mereka membungkus makanan mereka dengan box premium dan membawanya ke taman bunga matahari kesukaan Xana.


"Gila! Sesak banget di kantin, berasa kayak ngambil sembako aja!" Lea duduk lemas karena harus mengantri panjang dulu bahkan dempet-dempetan.


"Dah, yang penting sekarang makan. Gue dah laper banget!" Xana membuka box makanannya dan mulai menyantapnya.


Selesai makan, mereka tidak langsung masuk. Karena Sekolah memberi waktu istirahat yang cukup lama, Xana dan Lea punya waktu banyak untuk membaca buku mempersiapkan Ujian selanjutnya.


"Asli, gue seneng banget kalo soalnya kayak tadi, mudah-mudah banget!" Lea mengingat bagaimana ia mengisi soal dengan mudah.


"Iya-Iya percaya kok! Dah lanjut baca!" Xana mengakhiri topik agar tidak panjang.


Tak terasa kini sudah Mata Ujian Kedua, saatnya bertempur kembali dengan soal-soal menjengkelkan itu!


'semoga apa yang dibilang Xana beneran deh! Ayah jadi muji aja udah seneng banget! Harus, harus dapet nilai bagus!" Lea meyakinkan dirinya.


Sepulang dari sekolah mereka langsung ke asrama masing-masing dan mandi serta beristirahat.


"Gue mandi dulu ya? Lo kan lagi belajar" Lea menyampirkan handuk di pundaknya.


"Iya iya!" Xana lanjut belajar. Bisa-bisanya besok mata ujiannya adalah Matematika.


Setelah keduanya selesai mandi, tiba-tiba handphone Xana berdering kencang.


"Waduh, siapa tuh?" Lea kepo.


"Halo, Mah...." Jawab Xana pada telepon itu.


"Oh, Mama nya...." Lea ga jadi kepo.


"Iya, tau kok..... Iya...... Paling cuma seminggu terus libur lagi. Iya..... Bye..." Xana mematikan telepon.


"Ngomong apa Mama lo?" Tanya Lea penasaran.


"Nanya kapan libur aja, soalnya Kakakku mau pulang bentar lagi" Xana menghela nafas.

__ADS_1


"Kenapa? Kayak ga senang gitu kakak lo balik? Padahal kan menurutku mereka keren tau!" Lea memuji dengan kesungguhan.


"Ya.... Gapapa sih. Betewe nanti ada Kak Petra, mau ikut ga?" tanya Xana.


Ia sengaja begitu karena sahabatnya menyukai Kakaknya, Petra.


"Apaan sih lo! Ya mau lah!" Lea tersenyum malu.


"Deh, masa lo jadi Kakak ipar gue sih Leaa?" Xana menghela nafas lagi.


" Ingat, Umur hanyalah angka. HAHAHAHAHAHA!!!!" Lea tertawa keras melihat ekspresi Xana yang pasrah.


"Dih, mau kakak gue punya bini semua juga ga bakal ada yang bisa nyaingin.... Nih, Xana Wijaya ratu sejagat raya!" Xana menepuk pundak nya dan membanggakan diri.


" Iya iya, Nona Xana Wijaya Ratu Cogan sejagat Raya!!" Lea membesarkan hati Xana.


Karena Ujian, mereka harus tidur lebih cepat agar bisa bangun pagi dan sedikit belajar.


Pagi hari di london, Ketiga orang Kakak Xana yang sudah siap dan masih belajar mulai bosan.


"Arrrggghhh, aku bosan! Dari kemarin cuma baca buku yang sama dan diulang!" Kak Petra mengeluh.


"Telpon Xana aja kali ya?" Usul Kak Albert.


"Ide bagus! Mayan bisa denger suara adek sendiri meski jauh." Kak Petra langsung setuju.


Akhirnya Kak Albert menelpon Xana. Tertulis di handphonenya bahwa berdering, menandakan sudah tersambung di handphone Xana.


"Astaga, ga cape apa pagi-pagi udah nelpon lagi?" kata-kata pertama Xana saat mengangkat telpon.


"Wait, What?! Lagi? Kita baru aja nelpon baby Xana!!!" Kak petra kaget karena sudah ada yang nelpon duluan.


"Leon pagi-pagi dah nelpon ya? Berani amat" sindir Kak Albert.


"Ih apaan sih kalian, Yang nelpon duluan di pagi buta jam setengah empat tadi tuh bukan Leon! Tapi Kak Sean!" jawab Xana dengan wajah kesal.


"Kak..........Sean?" Mereka berdua melihat ke arah Kak Sean.


Kak Sean diam saja karena ia ketahuan mengganggu adiknya di pagi buta. Ia pura-pura meminum kopi nya dengan wajah sedikit keringat dingin.


"Wow.... Hari ini penyemangat Kak Sean sudah ditelpon tuh" Kak Petra menyindir Kak Sean.


"Hemm... Kak Petra salah! Ga cuma hari ini tapi dari kemarin! Kalo ga percaya tanya aja Lea!" Xana menyuruh Lea berbicara.


"Iya Kak, kemarin malah jam 3 pagi, kirain siapa nelpon eh ternyata Kak Sean!" imbuh Lea dengan nada yang kencang.


Kak Petra dan Kak Albert saling lirik dan kemudian menatap Kak Sean bersamaan.


"Hemmmmm.........." Gumam mereka dengan wajah menatap tajam yang menusuk.


- bersambung

__ADS_1


Kak Sean ada-ada aja XD


__ADS_2