
"Alhamdulillah, sudah ada perubahan pada kaki kamu meski baru sedikit". Ucap Ibrahim sambil mengusap bahu Tahta
"Tapi sepuluh persen itu udah lumayan loh Yah". Ucap Melly
"Iya bu, ayah yakin nak Tahta akan sembuh lebih cepat". Ucap Ibrahim
"Aamiin". Ucap Melly dan Tahta
"Kak, ini susunya, minum dulu". Ucap Putri sambil memberikan segelas susu hangat untuk Tahta
"Ayo Yah, biarin mereka istirahat". Ucap Melly
"Iya bu". Ucap Ibrahim
Melly dan Ibrahim meninggalkan kamar Putri. Putri pun mengunci pintu kamarnya dan menghampiri Tahta yang masih duduk bersandar
"Aku seneng banget, akhirnya kaki kamu ada perubahan". Ucap Putri tersenyum haru
"Aku juga. Sayang, aku janji, kalo aku udah sembuh, aku akan bawa kamu bulan madu". Ucap Tahta sambil menyentuh dagu Putri
"Bulan madu? Kok tiba-tiba bahas bulan madu?".
"Karna bulan madu kita udah kelewat waktu aku masih koma. Kamu pasti sedih kan kita batal bulan madu?".
"Hehe, iya aku sempet sedih. Tapi gapapa kok, yang penting kamu sembuh dulu..."
"Jujur aku malah lupa soal bulan madu hehe dirumah aja aku udah seneng yang penting sama kamu". Ucap Putri sambil tersenyum
"Engga, engga, aku mau ajak kamu bulan madu, kita jalan-jalan. Kamu udah capek ngerawat aku, udah sabar ngerawat aku. Gantian biar aku bahagiain kamu, mau ya?". Ucap Tahta sambil menggenggam erat kedua tangan Putri
"Iya, aku mau. Makasih sayang". Jawab Putri memeluk Tahta
"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu". Ucap Tahta sambil mengusap lembut punggung Putri
"Oh iya, jadi gimana besok? Kamu mau ikut ke acara wisuda kak Raja atau engga?". Tanya Putri
"Kalo aku ngga mau, kamu tetep dateng?".
"Engga. Aku ngga mau pergi tanpa kamu".
Tahta tersenyum mendengar jawaban istrinya. Ia usap salah satu pipi Putri dengan lembut dengan tatapan penuh kasih sayang
"Yaudah, kita dateng kesana. Gimana pun juga dia abang aku, seenggaknya aku harus hadir di momen penting dia..."
"Kita udah ngga punya orang tua, nanti Raja sedih kalo ngga ada keluarganya yang dateng". Ucap Tahta
"Syukur lah ngga perlu aku bujuk, hehe. Kamu baik banget sih, sayang". Ucap Putri
"Aku ngga bisa bener-bener benci sama Raja". Ucap Tahta
"Iya, karna darah lebih kental daripada air. Sebenci-bencinya kamu sama kak Raja, atau sebaliknya..."
"Sebenarnya kalian itu saling sayang. Tapi sama-sama gengsi buat mengakui, ya kan? hehe". Ucap Putri
"Hahahaha ini istri aku kenapa ya dari pagi aneh banget? Kadang bijak, kadang lawak, kadang malu-maluin".
"Ih, kamu!". Ucap Putri memukul lengan Tahta
"Hahaha, sini sayang, mau peluk lagi". Ucap Tahta merentangkan kedua tangannya, tanpa ragu Putri merapat dan masuk kedalam pelukan suaminya
__ADS_1
"Aku sayang banget sama kamu. Makasih udah nerima aku jadi suami kamu, makasih udah jadi istri terbaik buat aku..."
"Semua ini kayak mimpi, aku yang udah ikhlas kamu menikah sama Raja, justru menikahnya sama aku. Apa kita udah jodoh dari kecil ya? Apa ini doa papa sama mama juga yang pengen kita menikah?..."
"Ah, entah lah. Intinya aku bahagia banget". Ucap Tahta sambil menghirup puncak kepala Putri
Putri tersenyum haru mendengar ucapan Tahta, sejujurnya ia juga merasa bahagia. Meski ia sempat menolak Tahta dan pernikahannya, pada akhirnya ia luluh
Hati kecilnya tidak bisa menolak Tahta yang sudah hidup bersamanya selama lebih dari dua puluh tahun lamanya. Hanya Tahta lah sosok laki-laki yang paling memahami dirinya dan ia tidak bisa menyangkal itu
Putri sudah memantapkan hatinya sejak kemarin, ia akan memberikan cinta dan kasih sayangnya untuk Tahta selayaknya seorang suami
Putri mendongak, ia menatap Tahta yang juga sedang menunduk menatapnya
"Kenapa, hmm?". Tanya Tahta dengan lembut
"Aku juga bahagia jadi istri kamu". Jawab Putri sambil tersenyum
"Alhamdulillah, aku seneng dengernya". Ucap Tahta
Cup, Tahta mengecup sekilas bibir Putri
Cup, Putri membalasnya dengan kecupan yang sama
"I love you". Ucap Putri
"I love you too". Jawab Tahta yang diakhiri dengan kecupan yang cukup lama pada kening Putri
---
Putri menatap satu lembar foto yang ada ditangannya, foto saat ia merayakan ulang tahunnya yang ke lima bersama Tahta, Sultan, dan Berliana
Putri ingin kembali ke masa lalu, menjadi puteri kecil mereka yang selalu mereka manja. Menjadi anak kecil yang tidak peduli dengan urusan orang dewasa. Namun kenyataannya masa-masa itu tidak akan pernah kembali dan ia harus menerima itu
"Ma, pa, Putri kangen. Putri pengen peluk mama sama papa. Putri kangen di gendong papa, Putri kangen masakan mama..."
"Ma, pa, sekarang Putri udah dewasa, bukan puteri kecilnya mama sama papa lagi, Putri udah jadi seorang istri hehe. Mama sama papa pasti udah tau ya?..."
"Putri bahagia jadi istrinya kak Tahta. Mama sama papa bahagia juga kan sama pernikahan Putri dan kak Tahta?..."
"Putri sayang sama mama dan papa. Putri ngga akan lupain semua kebaikan dan kasih sayang yang mama papa kasih ke Putri..."
"Dan...terima kasih ma udah melahirkan anak seperti kak Tahta. Kak Tahta suami yang baik dan bertanggung jawab. Putri bahagia".
Putri mengusap air matanya saat mendengar suara mesin mobil didepan rumahnya. Putri menaruh lembar foto yang ada ditangannya lalu berjalan menuju jendela kamarnya
"Siapa malem-malem gini?".
"Loh, itu mobil kak Dewa? Ngapain kak Dewa kesini?"
Putri menutup gordyn jendelanya lalu menuju lemari pakaian untuk mengambil cardigan guna menutupi bagian atas tubuhnya yang cukup terbuka, karna ia memakai setelan sutera yang berpotongan pendek
"Kak Dewa ngapain ya, kok ngga ngabarin dulu? Apa ada yang penting?". Batin Putri sambil membuka kunci pada pintu utama. Setelah itu melangkah mendekati mobil Dewa
Tok tok tok,
"Kak Dewa?". Ucap Putri sambil mengetok kaca pada jendela pintunya
"Eh? Itu kak Raja? Ya ampun, kak Raja kenapa?".
__ADS_1
Tok tok
"Kak, buka, kak". Ucap Putri tergesa-gesa
Raja mengangkat kepalanya yang sedang bersandar pada kemudi, lalu menoleh kearah jendela
"Putri?".
Raja membuka kunci mobilnya, dengan gerakan cepat, Putri membuka pintu tersebut
"Putri, sayang?". Ucap Raja dengan tatapan sayu
"Hump! Kakak mabok ya?". Ucap Putri sedikit meringis saat mencium alkohol meruak dari mulut Raja
"Ayo masuk dulu, minum air putih sekalian aku telfon kak Dewa buat jemput kakak".
"Ngga, ngga mau, sayang".
"Kak, jangan kayak gini. Besok kan kakak wisuda, ngga mungkin kalo keadaan kakak begini. Masuk dulu ya". Ucap Putri
Grep, Raja meraih pinggang Putri dengan cepat, ia angkat tubuh mungil Putri masuk kedalam mobil dan ia hempaskan ke kursi kosong sebelah kemudinya
"Argh...sakit". Putri meringis merasakan punggungnya yang terbentur pintu mobil
"Maaf...sayang".
Raja mengunci pintu mobilnya, lalu mendekat menghimpit tubuh Putri. Membuat Putri panik setengah mati
"Kak! Kak! Ngga boleh kak! Aku istrinya kak Tahta, kakak ngga boleh kayak gini!". Ucap Putri menahan kedua bahu Raja
"Kamu...istri...aku".
"Bukan! Aku istrinya kak Tahta! Aku adik ipar kamu!".
"Kamu...istri...aku". Raja semakin menghimpit tubuhnya
"Ngga! Ngga! TOLO- hmmphh". Raja mencium bibir Putri secara paksa saat Putri mulai berteriak meminta tolong
"Hmphh". Raja menekan tengkuk Putri, tidak membiarkan Putri melepaskan ciuman mereka
"Kak Tahta, tolong aku kak".
Putri meneteskan air matanya. Kedua tangannya memukul dan mendorong bahu Raja dengan harapan ciuman yang terbilang kasar itu terlepas
Namun tenaganya tidak sebanding dengan Raja, meski sedang terpengaruh alkohol, tenaga Raja sangat besar. Ia masih menahan tengkuk Putri meski Putri memberontak karena mulai kehabisan nafas
Beberapa menit ciuman kasar itu berlangsung, nafas Putri sudah lemah, tangannya pun sudah tidak bertenaga untuk mendorong Raja
"Ja...ngan...ping...san...Put...Ri".
---
GILA!! Raja maksa banget yak!!! Maksudnya apa nih! Kezel gue jadinya! Awas kamu ya! Belum aja aku getok kepala kamu!
Gimana ni nasib Putri? Pingsan lalu dibawa kabur sama mas mantan atau ada pahlawan kemalaman yang akan datang nolongin dia?
Venazaran khandddd? wkwk Nantikan chapter selanjutnya
Tapi di like dulu, kalo ngga like aku ngga mau lanjut! Bodo amat 😋
__ADS_1