Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Rencana Vivi Untuk Raja


__ADS_3

"Hai, kak". Sapa Vivi sambil tersenyum


"Ngapain kesini?". Tanya Tahta


"Mau ketemu sama kakak".


"Hmm?".


"Eum, maksudnya ketemu kak Tahta, Putri, kak Dewa, semuanya, hehe itu kayaknya lagi ngumpul ya kak". Ucap Vivi sambil melirik Putri, Dewa dan Nindi yang masih berdiri disamping mobil Tahta


"Pulang aja". Ucap Tahta


"Yah, aku jauh-jauh kesini sebenarnya mau minta maaf sama Putri-"


"Kak Tahta, mending kak Tahta balik deh, istrinya cemburu tuh". Ucap Nindi saat menghampiri Tahta dan Vivi


"Istri? Jadi bener Putri istrinya kak Tahta?". Batin Vivi


"Nindi pengen ngobrol dulu sama Vivi". Ucap Nindi diangguki oleh Tahta kemudian pergi meninggalkan mereka


"Aduh, baru pengen have fun, udah dateng pengganggu". Sindir Nindi dengan tatapan sinis pada Vivi


"Heh, apa kabar? Sahabatku?". Tanya Vivi dengan tatapan tidak kalah sinis


"Cih, sahabat? Dengarnya aja gue muak. Lu mau ngapain ya kesini?". Tanya Nindi


"Bukan urusan lu". Jawab Vivi sambil berjalan melewati Nindi


Grep, Nindi mencengkram kuat tangan Vivi


"Lepasin! Lu apa-apaan sih!". Bentak Vivi sambil memberontak


"Gue ngga akan biarin lu deketin Putri". Ucap Nindi


"Haha, lu di bayar berapa sampai mau jadi bodyguard nya?". Tanya Vivi


"Mulut lu jaga ya. Oh gue tau, jangan-jangan lu kesini punya niat jahat lagi ke Putri?". Tanya Nindi


"Engga kok, justru gue kesini dengan hati yang baik dan tulus, gue mau minta maaf sama sahabat gue itu". Ucap Vivi sambil tersenyum menatap Putri


Putri yang merasa ditatap, memilih untuk masuk kedalam rumah, disusul oleh Tahta dan Dewa


"Ck, segitu takutnya sama gue". Ucap Vivi


"Wajar lah, lu itu udah bikin dia trauma. Mending lu sekarang pergi". Ucap Nindi


"Ngga, lu ngga berhak ngusir gue. Oh iya, gue mau pastiin, benar ya Putri itu istrinya kak Tahta?". Tanya Vivi


"Hmm".


"Berarti lu bohong soal Putri hamil anaknya kak Raja?".


"Iya, gue lakuin itu biar lu sadar diri, biar lu berhenti ngarepin kak Raja yang saat itu masih pacaran sama Putri".


"Oh, jadi alasan Putri sama kak Tahta nikah itu apa? Mereka ketahuan selingkuh?".


"Mulut lu mau gue tampar, ya?".


"Gue cuma nanya. Ok lah, ngga penting juga buat gue. Gue cukup senang denger kak Raja putus sama Putri. Kak Raja emang ngga pantas buat cewek kayak dia".


"Terus lu pikir kak Raja pantas buat lu? Cewek yang hatinya busuk, kelakukannya lebih dari iblis".


"I don't care. Mending lu masuk, lain kali gue kesini lagi, cari momen yang pas, ngga di ganggu sama lu". Ucap Vivi sambil berbalik arah meninggalkan Nindi


"Sumpah gue jadi ngga tenang kalo dia bebas berkeliaran kayak gini..."


"Duh, Put. Kasihan banget sih lu, musuh lu bebas, keselamatan lu bisa terancam lagi"


---


Pukul delapan malam, Putri, Tahta, Dewa dan Nindi sedang dalam perjalanan pulang setelah menghabiskan waktu bersama di mall dan taman bermain


Saat ini, Dewa sedang menyetir mobil dalam perjalanan mengantar Nindi pulang. Sementara Tahta, ia duduk bersandar di kursi belakang sambil memangku Putri yang sedang tertidur seperti koala diatas tubuhnya,


Kedua tangannya terus melingkar dipinggang sang istri sambil sesekali ia usap punggung dan ia tepuk-tepuk pelan bokong istrinya saat tidurnya terusik, sudah mirip seperti menidurkan seorang bocah kecil

__ADS_1


"Lusa Raja keluar kota". Ucap Dewa pada Tahta saat memecah keheningan diantara mereka


"Ngapain?". Tanya Tahta


"Ikut pelatihan calon jaksa". Jawab Dewa


"Oh". Ucap Tahta sambil mengangguk kecil


"Hehe, kak Tahta ngga peduli kayaknya". Ucap Nindi


"Emang. Mau keluar kota, keluar negeri, keluar angkasa, ngga peduli". Ucap Tahta


"Jangan marah kalo besok dia ngajak Putri jalan sebelum dia pergi". Ucap Dewa


"Apa? Ngajak Putri jalan?". Tanya Tahta diangguki oleh Dewa


"Jangan harap bisa bawa istri gue". Ucap Tahta


"Dia keluar kota bisa setengah tahun bahkan lebih. Gini deh, anggap aja mereka jalan buat terakhir kalinya". Ucap Dewa


"Ngga. Lu ini disuruh Raja ya minta izin bawa Putri jalan? Kayaknya lu pengen banget Putri jalan sama dia". Tanya Tahta memicingkan matanya menatap Dewa


"Engga, gue cuma ngasih tau kalo Raja punya rencana buat ngajak Putri jalan. Kalo lu ngga izinin, ya itu hak lu. Lu kan suaminya". Ucap Dewa


"Yaudah, mending lu diem. Gue mau denger Raja sendiri yang minta izin ke gue". Ucap Tahta


"Halah, kayak di izinin aja? Lu kan selalu ngelarang Putri apapun yang berhubungan sama Raja". Ucap Dewa


"Wajar dong gue larang Mput-"


"Eung...beri...sik". Putri merengek sambil mengguncang kedua kakinya karena merasa terganggu dengan suara Tahta yang sedikit kencang


Seketika Tahta menghentikan ucapannya dan segera menepuk-nepuk pelan bokong Putri agar kembali tidur pulas


Setelah mengantar Nindi pulang, Dewa segera melajukan mobilnya menuju apartment Putri dan Tahta


"Apartment lu dimana?". Tanya Dewa


"Mau ngapain?". Tanya Tahta


"Gue mau turun disitu, lu langsung balik, kasihan Putri, biar cepet istirahat dikamar aja".


"Ngga usah. Cepet kasih tau dimana?".


"Ck, apartment Moon Rise".


"Yang deket kampusnya Putri?".


"Hmm".


"Ok, dekat dari sini. Lu tenang aja, gue ngga akan kasih tau Raja".


"Hmm".


Dewa menghentikan laju mobilnya tepat di parkiran apartment, agar memudahkan Tahta untuk langsung membawa Putri ke dalam unit mereka


Mereka pun segera berpisah, Tahta menggendong Putri memasuki tower apartmentnya sementara Dewa melangkah pergi untuk mencari taksi di sekitaran apartment tersebut untuk pulang kerumah


"Gimana? Lu udah kasih tau Tahta kalo besok gue mau bawa Putri jalan?". Tanya Raja saat Dewa baru tiba dirumah


"Ntar dulu, gue haus". Ucap Dewa sambil meneguk minuman kaleng dingin di tangannya


Raja pun menghela nafas lalu memperhatikan Dewa seperti orang yang tidak sabar menantikan sebuah jawaban


"Heh, biasa aja ngeliatin gue nya, naksir lu?". Tanya Dewa


"Najis". Ucap Raja


"Gue juga najis sama lu". Ucap Dewa


"Ya terus gimana?". Tanya Raja


"Gue udah kasih tau Tahta, tapi tau sendiri lah adek lu kayak gimana".


"Ngga di izinin lagi?".

__ADS_1


"Lu coba aja besok".


"Ck, tu anak lama-lama ngajak ribut. Udah lah, kalo sampe gak di izinin lagi gue bawa kabur Putri nya".


"Terserah, gue ngga ikut campur kalo ada masalah lagi".


Dewa meremas kaleng minumannya dan ia lempar tepat ke dalam tempat sampah, lalu menepuk kencang bahu Raja, membuat Raja tersentak


Ia ingin membicarakan hal serius dengan Raja perihal Vivi. Karena Nindi sempat bercerita kalau Vivi seperti punya niat untuk kembali mengganggu Putri


"Dengerin gue baik-baik, Ja. Soal Vivi, kalo sampai bocah itu bikin ulah lagi ke Putri, lu yang bakal habis di tangan gue". Ucap Dewa sambil menatap tajam kedua mata Raja


"Emang dia ada rencana apa?". Tanya Raja


"Gue belum tau, tapi ngga ada yang bisa pastiin. Lu sendiri yang ngejamin kebebasan dia, tapi lu pergi keluar kota, jelas Vivi bakal leluasa..."


"Liat aja, kalo Putri kenapa-napa lagi karna dia, lu ngga bisa kabur. Mau keluar negeri pun bakal gue cari keberadaan lu..."


"Lu harus tanggung jawab karna lu yang bebasin dia tanpa persetujuan gue, Tahta atau pun Putri".


Raja meneguk ludahnya, ucapan yang terdengar serius dari mulut kakanya cukup membuatnya ketakutan


"Lu tenang aja, gue yakin Vivi ngga akan lakuin itu, karna gue juga ngga mau Putri kenapa-napa..."


"Dan gue siap terima resikonya kalo sampai itu terjadi". Ucap Raja setelah menarik nafas dalam dan panjang


"Ok, gue pegang omongan lu. Gue ngga akan biarin anak perempuan satu-satunya milik mama sama papa kenapa-kenapa lagi buat yang kedua kalinya..."


"Cukup sekali gue jadi kakak yang bodoh karna ngga bisa ngelindungin adik perempuan gue. Gue ngga mau itu terulang lagi, ngerti lu?". Tanya Dewa diangguki oleh Raja


Dewa tersenyum simpul lalu menepuk-nepuk pundak Raja sebelum beranjak meninggalkan ruang makan


"Vivi, gue harus ngomong sama dia"


---


"Kak Raja kesini cuma mau bahas itu?". Tanya Vivi


"Iya. Kakak ingetin, jangan lakuin apapun lagi ke Putri. Kamu tau dia punya Tahta yang selalu siaga di sampingnya, dia juga punya Dewa yang ngga akan biarin dia kenapa-napa". Ucap Raja


"Yaudah, kenapa kak Raja takut soal Putri?". Tanya Vivi


"Apa? Pertanyaan kamu seolah-olah ngasih tau kalo bener kamu punya niat jahat lagi sama Putri, ya kan?".


"Engga kak, ngga gitu". Ucap Vivi sambil maju beberapa langkah mendekati Raja


"Stop, disitu aja". Ucap Raja sambil menunjuk ke titik di hadapannya, Vivi pun berdecak kesal dan menghentikan langkahnya


"Kak Raja, kenapa kamu masih jaga jarak sama aku? Aku ngga pernah bisa deketin kamu. Pasti karna Putri, ulet bulu"


"Kak Raja peringatin aku kayak gini karna Putri?". Tanya Vivi


"Iya, kakak ngga mau dia kenapa-napa". Jawab Raja


"Ck, kenapa sih kakak masih peduli sama dia, padahal dia udah hianatin kakak".


"Tapi dia tetep adiknya kakak, kakak ngga mau adik perempuan satu-satunya yang kakak punya sampai kenapa-napa".


"Haha, adik? Aku tau kakak belum bisa terima kenyataan kalo Putri sekarang istrinya kak Tahta, ya kan?".


"Itu bukan urusan kamu, yang jelas inget kata kakak tadi. Jangan berulah, kakak bebasin kamu karna orang tua kamu mohon-mohon ke kakak. Kalau bukan karna itu, kamu masih di penjara..."


"Jadi, jangan kecewain orang tua kamu yang udah berkorban sampai rela sujud di kaki kakak buat anak yang ngga tau berterima kasih kayak kamu". Ucap Raja sebelum masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan Vivi


"Orang tua? Berkorban? Jelas lah orang tua harus berkorban buat anaknya. Ck, gue ngga peduli deh soal orang tua..."


"Yang paling penting, gue harus pikirin cara buat deketin kak Raja, cowok idaman gue yang sekarang udah single". Batin Vivi sambil tersenyum


---


Bersambung ges


Huek, muntah aku liat rencananya Vivi. Ngarep banget bisa deketin Raja, ngga akan aku biarkan


Yuk ges, kasih dukungan kalo kalian mau baca kelanjutannya, aku maksa loh 😚

__ADS_1


Ayo kasih like, vote dan hadiahnya buat aku


Oh ya maap juga kalo akhir-akhir ini aku updatenya bolong-bolong, harap di maklumi, ibu rumah tangga beranak dua, super sibuuuukkk😵 sekian terima gaji


__ADS_2