
Keesokan paginya
"Raja kemana? Kok ngga ada". Batin Putri saat mendapati Raja tidak ada disampingnya. Putri pun segera mencuci muka dan menggosok giginya setelah itu mengunjungi kamar Raja
"Ngga ada juga, katanya ngga ada bimbingan, terus kemana dong". Batin Putri
Putri pun memutuskan untuk kembali kekamarnya
"Mput?". Putri berbalik saat Tahta memanggilnya dari arah belakang. "Kak Raja kok ngga ada, kemana kak?".
"Ke rumah oma sayang, emang ngga ngasih tau?".
"Engga, emang ngapain?".
"Jemput Gisel". Putri sedikit terkejut sekaligus cemburu mendengar jawaban Tahta, untuk apa Raja menjemput Gisel?
"Katanya Gisel mau daftar kuliah di tempat kamu". Sambung Tahta
"Ooh, gitu ya". Gumam Putri. Tahta yang melihat perubahan pada raut wajah Putri segera menghampiri dan menangkup wajah mungil Putri dengan kedua tangannya
"Heeii, cemburu ya?". Putri mengangguk
"Dah gak usah dipikirin, cuma ngejemput kok itu pun disuruh oma. Oh ya tadi Panji ngabarin, kalo jadi magang di kantor om Heri, kamu harus ngasih suratnya hari ini, secepatnya".
"Hmm yaudah nanti aku ke kampus minta suratnya".
"Kakak anterin ya?".
"Kakak ngga bimbingan?".
"Besok".
"Yaudah, aku mandi dulu". Putri berbalik kembali menuju kamarnya, setelah itu langsung berbalik lagi ke belakang hingga tubuhnya menabrak Tahta yang sedang berjalan dibelakangnya
"Kenapa sih bolak-balik gitu?".
"Hehe kakak udah sembuh?". Putri segera berjinjit dan menaruh telapak tangannya diatas dahi Tahta
"Ya ampun, kirain mau ngapain. Kakak udah sembuh sayang".
"Oh iya, iya. Yaudah aku mandi dulu".
"Iya Mpuut".
---
Didalam perjalanan menuju kampus, Putri merenung memikirkan Raja yang sedari tadi tidak menjawab pesan dan panggilan telfonnya
Entah apa yang sedang dilakukan Raja tentunya membuat Putri berfikir yang tidak-tidak, terlebih lagi ia tahu kalau Raja sedang menjemput Gisel, wanita yang dulu sempat singgah dihati Raja meski hanya sebentar
Tahta pun menoleh dan meraih tangan Putri sambil ia usap-usap dengan lembut, membuat Putri menoleh dan menyunggingkan senyuman tipis
"Gelisah banget sih? Raja ngga bales chat kamu ya?". Putri mengangguki pertanyaan Tahta, "Sedih banget. Dari pagi aku chat, aku telfon ngga di respon".
"Positif thinking".
"Ngga bisa".
"Hmm kebiasaan".
"Dia ngga ngasih tau kalo mau jemput Gisel, tau-tau udah ngga ada di kamar, sekarang ngga ada kabar gini, gimana ngga overthinking".
"Yaudah sabar, tunggu aja. Nanti juga ngabarin". Putri mengangguk pelan
"Kaaak".
"Apa sayang?".
"Nanti beli permen kapas ya".
"Waduh, dimana yang jual permen kapas?".
__ADS_1
"Ngga tau".
"Hmm kayaknya ada tapi dipasar malem. Mau?".
"Kelamaan".
"Hehe lagian mintanya aneh-aneh deh, jangan-jangan kamu emang lagi ngidam ya? Hamil anaknya Raja?".
"Heh sembarangan, ya ngga lah".
"Ohh kirain, syukur lah hahaha".
"Yaudah nanti malem kita jalan ya, beli permen kapas".
"Iya Mput, tapi jangan sedih lagi ". Tahta mengusap tangan Putri dan diakhiri dengan kecupan lembut pada punggung tangannya
---
"Makasih ya pak". Putri meninggalkan ruangan tata usaha setelah mendapatkan surat pengantar untuk pengajuan magang di kantor milik orang tau Panji, teman lamanya
"Wih Putri, lama ngga keliatan makin cantik aja". Niko menghadang jalan Putri dan memperhatikan Putri dari atas sampai bawah,
Tahta yang melihatnya dari arah kantin segera menghampiri Putri "ayo sayang, udah kan?". Putri mengangguk
"Wiiih, cowok lu ganti Put? Anak mana ini?". Tahta menatap Niko dengan tatapan dingin, sementara Niko hanya tersenyum dengan wajah tengil, "Lu anak mana? Perasaan gue gak pernah liat lu"
"Bukan urusan lu". Putri meraih tangan Tahta dan membawanya pergi meninggalkan kantin
"Tengil banget dah, jagoan ya?".
"Ngga juga kak, ya gitu lah orangnya, sok asik". Tahta mengangguk paham
"Kak, kak Raja mau bawa Gisel kerumah ya?".
"Katanya sih gitu. Oma minta Gisel tinggal dirumah kita dulu".
"Yaudah kalo gitu aku pulang aja kerumah ayah".
"Kayaknya ngga sanggup liat Gisel deketin kak Raja hehe". Tahta menatap Putri seolah bertanya
"Gisel masih suka sama kak Raja".
"Serius?".
"Iya".
"Perasaan kamu aja kali, bukannya mereka udah lama ngga deket Mput?".
"Ngga tau juga".
"Udah udah, jangan dibahas lagi, dah masuk". Tahta mendorong punggung Putri masuk kedalam mobil dan memakaikan seatbeltnya
"Makasih ya kak udah selalu ada buat aku". Seketika Tahta menoleh mendengar ucapan Putri hingga tatapan mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat
"Aku sayang sama kakak". Putri mengakhiri ucapannya dengan mencium pipi Tahta, Tahta pun tersenyum dan segera berdiri kemudian menutup pintu
"Kakak jauh lebih sayang sama kamu Mput".
---
Setelah Putri selesai mengurus perihal magangnya, mereka segera pulang kerumah. Dan benar saja, disana sudah ada Gisel yang sedang duduk bersama Raja diruang makan
Putri yang sedang berada di gendongan Tahta, menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Tahta, ia enggan melihat kebersamaan Raja dan Gisel yang terlihat sangat akrab
"Sayang sini. Makan yuk". Putri menggeleng-gelengkan kepala tanpa menatap kearah Raja
"Mau ke kamar kak". Putri berucap pelan, Tahta pun mengangguk dan segera membawa Putri kekamarnya
"Tumben Raja mau sedeket itu sama Gisel, bahkan keliatan akrab banget".
---
__ADS_1
Dimeja makan, Putri, Tahta dan Dewa sedang menyantap makan malam mereka, Raja dan Gisel tidak gabung bersama mereka
Raja sempat memberitahu Putri kalau ia akan menyusul makan malam karena masih sibuk dengan tugas akhirnya, sementara Gisel enggan makan malam karena sedang menjalankan program dietnya
Malam ini, Putri pun makan dengan tidak semangat, meski sudah disuapi oleh Tahta, Putri tetap terlihat malas dan hanya berdiam diri, tidak secerewet biasanya saat dimeja makan
"Kenyang kak, aku mau kekamar". Putri bangun dari duduknya dan berjalan menaiki tangga, meninggalkan Dewa dan Tahta yang sama-sama menghela nafas panjang melihat perubahan sikap Putri hari ini
"Gara-gara ada Gisel ya?". Tahta mengangguki pertanyaan Dewa
"Gue mau nyusul Putri". Tahta pun juga bangun dari duduknya sementara Dewa hanya mengangguk
"Eh Putri, sini masuk". Putri mematung diambang pintu saat melihat Gisel didalam kamar Raja. Entah apa yang sedang dilakukan Gisel didalam sana, yang pasti membayangkannya saja Putri pun tidak sanggup
"Gisel ngapain dikamar Raja? Tapi kok ngga ada Raja?"
"Tahta, sini". Putri pun juga terkejut saat mendengar Gisel memanggil Tahta, ternyata Tahta sedang berdiri tepat dibelakang Putri. Tanpa menjawab ajakan Gisel, Tahta meraih tangan Putri dan membawa Putri kedalam kamarnya
"Ganti baju, katanya mau keluar beli permen kapas". Putri menggeleng, "Udah ngga pengen. Anterin aku pulang ya kak, aku kangen ayah sama ibu".
"Kangen ayah ibu apa cemburu liat Raja sama Gisel?".
"Hehe kangen ayah ibu kak, anterin aku yaaa". Tahta pun tersenyum dan bersimpuh dikaki Putri sambil ia genggam kedua tangan Putri dengan erat
"Mput, sayaaang, kakak tanya sama kamu, diantara kakak, Raja sama Dewa, siapa yang menurut kamu paling paham dan paling ngerti tentang apa yang kamu rasain?".
"Kakak".
"Nah, sekarang kakak tau apa yang kamu rasain, kakak tau banget gimana sedihnya kamu..."
"Kalo kakak jadi Raja, kakak ngga akan pernah bikin kamu sedih, bikin kamu cemburu, karena kakak bersyukur bisa dicintai kamu".
"Jadi kak Raja ngga bersyukur aku cinta sama dia?".
"Ya itu cuma Raja yang tau, tapi harusnya dia gak acuhin kamu kayak tadi pagi, ngga terlalu deket sama Gisel dan bisa ngehargain keberadaan kamu disini". Putri mengangguk setuju dengan ucapan Tahta. Karena faktanya, sejak kehadiran Gisel hari ini, Raja sudah melupakan dirinya dan lebih sering bersama dengan Gisel. Raja seperti melupakan Putri
"Tapi kok tumben kamu ngga marah-marah? Ngga nangis? Biasanya kalo cemburu kan nangis?".
"Hehe pengen mencoba lebih dewasa kak, aku anggap ini cobaan menjelang pernikahan, lagian bukannya udah biasa ada orang yang coba ngusik hubungan seseorang?..."
"Tinggal orang itu aja bisa jaga hati dan perasaan pasangannya atau engga". Tahta mengangguk, "Iya, kamu bener".
"Sayang". Raja melangkahkan kakinya memasuki kamar Putri, Tahta yang masih bersimpuh dikaki Putri segera bangun dan berdiri berhadapan dengan Raja yang sedang berjalan kearah mereka
"Kirain udah tidur, ngga ada suaranya". Raja hendak mengusap kepala Putri namun buru-buru Putri menghindar membuat Raja sedikit terkejut dan menatap Putri dengan heran
"Aku izin keluar sebentar ya, tinta print aku habis. Sekalian nganter Gisel beli buku buat persiapan kuliah". Putri tersenyum tipis sambil mengangguk
"Mau nitip apa sayang?".
"Ngga usah".
"Kak, aku mau bobo". Tahta mengangguk dan segera menyingkap selimut, "Yuk bobo, kakak usap-usap".
Raja kembali melangkahkan kakinya tanpa mengucapkan apapun lagi, bahkan meskipun Raja telah mendengar Putri ingin tidur bersama Tahta, Raja bersikap biasa saja. Padahal biasanya Raja akan melarangnya, namun kali ini tidak
"Apa kamu udah gak peduli lagi sama aku?".
Putri hanya bisa menatap kepergian Raja sambil menahan rasa sakit dihatinya. Lagi-lagi ia harus mendengar lelaki yang dicintainya bersama wanita lain
"Mput, ayo bobo". Ucapan Tahta membuyarkan lamunan Putri, Putri pun segera berbaring dan masuk kedalam pelukan Tahta, menyembunyikan kesedihannya didalam dada sang kakak
"Nangis aja gak usah ditahan". Perlahan demi perlahan Tahta pun dapat mendengar isakan tangis Putri, ia paham betul dengan apa yang dirasakan Putri
"Kamu masih punya kakak, kakak akan selalu ada buat kamu". Tahta berucap sambil mengusap lembut punggung Putri, tangis Putri pun di semakin menjadi setelah mendengar ucapan Tahta,
Rasanya memang Tahta lah yang selalu ada untuk dirinya disaat Raja sedang sibuk dengan dunianya. Dan terlepas dari adanya Raja atau tidak, memang dari kecil Putri dan Tahta sudah sangat dekat dan selalu bersama setiap waktu, bahkan keduanya sudah saling membutuhkan satu sama lain
"Mput, menikah sama kakak aja ya, jadi istri kakak".
---
__ADS_1