
Di dalam ruang rawat Pak Bimo.
"Gresha kok belum sampai ya tante, dia makan dimana? " tanya Rafandra.
"Tante juga kurang tahu, katanya cari diluar rumah sakit soalnya dia bosan makanan di kantin rumah sakit! "
"Saya telfon juga tidak di angkat dari tadi! "
"Mungkin masih dijalan! "
"Oh ya tante akhir-akhir ini kenapa Gresha sering diantar jemput sama sopir ya? katanya om sama tante yang minta? "
"Diantar sopir? "
Pak Bimo dan Bu Bimo terdiam, mereka berdua paham pasti Gresha berbohong kepada Rafandra.
"Om, Tante? kenapa? apa saya ada salah jadi saya tidak boleh lagi antar jemput Gresha? "
"Tidak kamu tidak ada salah sama sekali, tapi. .. "
"Tapi kenapa tante? "
"Aduh.... saya harus jawab apa ini" batin Bu Bimo.
"Tante kok malah diam? "
"Emm... sebenernya itu tuh sopir baru, jadi dia itu saudaranya asisten rumah tangga kami dan lagi cari kerjaan, karena om kasihan ya di kasih kerjaan sebagai sopir. Karena om sudah ada sopir ya jadinya sekarang sopir nya Gresha. Tiap hari biar antar jemput Gresha ke kampus! "
"Gresha nggak pernah cerita masalah itu ke saya, "
"Mungkin Gresha lupa, jadi biarin aja ya Gresha di antar jemput sopir dulu, kan kalau mau jalan-jalan kalian bisa berdua! " hibur Bu Bimo.
Rafandra tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sudah lebih dari 3 jam Rafandra menunggu dan hari sudah hampir malam. Rafandra mulai gelisah karena Gresha masih belum juga kembali.
Rafandra terus mencoba menghubungi Gresha tapi kini handphone nya mati.
"Tante saya coba cari Gresha ya, uda hampir malam tapi Gresha belum juga kembali, saya sangat cemas! "
"Kamu mau cari kemana? "
" Saya coba cari ke restoran-restoran yang Gresha sering datangi tante , saya sangat khawatir! "
Rafandra berdiri dan meraih kunci mobilnya diatas meja dan segera berjalan menuju pintu. Saat ia membuka pintu ia terkejut saat melihat Gresha sudah berdiri didepannya.
"Gresha! "
Rafandra langsung memeluk tubuh Gresha, dia memeluk erat tubuh itu dan sesekali mencium rambut Gresha.
"Kamu dari mana? "bisik Rafandra.
" Aku cuma cari makan diluar, aku nggak pergi kemana-mana, "ucap Gresha sambil menjatuhkan kepalanya dipundak Rafandra.
__ADS_1
Mereka terus memeluk satu sama lain, bahkan mereka tidak peduli jika banyak orang yang berlalu lalang disekitar mereka.
" Kalian ayo masuk! "ucap Bu Bimo.
Mendengar ucapan mamahnya, Gresha melepaskan pelukannya. Dan mereka masuk ke dalam ruangan.
" Kamu makan dimana kenapa lama sekali? "
" Aku makan gurame bakar di tempat kita biasanya makan, kamu sudah lama disini? "
"Uda 3 jam mungkin"
"Maaf ya lama! "
Hari semakin larut malam dan malam ini Rafandra pulang dan tidak menemani Gresha di rumah sakit, karena Gresha ditemani mamahnya.
Gresha berbaring di sofa dan memejamkan matanya dengan pelan. Dalam gelap Gresha terbayang dengan kejadian tadi siang di kantin bersama Ardiya.
"Sudah hampir 3 jam kita disini, dan mau menunggu sampai kapan lagi? " tanya Ardiya.
"Sampai Rafandra pulang! "
"Saya sudah tidak bisa menunggu lagi, sebaiknya saya langsung menemui Rafandra dan mengatakan yang sebenernya! "
"Anda sudah gila? anda ini memang orang nggak waras! " bentak Gresha.
"Lalu kamu mau apa? mau terus menangis disini meratapi nasibmu dan keluargamu yang bangkrut dan sekarang miskin? "
"Saya mohon anda pulang sekarang!"
"Pulang? Saya harus mengantarkan kamu dulu ke dalam ruangan, saya ini calon suami kamu!"
"Tolong saya, anda pulang dulu saya cuma mau ketemu pacar saya! " rengek Gresha.
"kamu sudah tidak bisa menyebut dia pacar karena kamu sudah jadi calon istri saya! "
"Anda memang tidak punya hati! " ucap Gresha dengan ketus.
"Baiklah saya akan mengizinkan kamu menemui Rafandra dan saya akan langsung pulang sekarang! "
Gresha melongo melihat ke arah Ardiya.
"Tapi saya mau kamu berjanji! "
"Apa? "
"Kita akan menikah 2 minggu lagi, tepat di tanggal 10 Oktober! "
Gresha menajamkan pandangannya ke arah Ardiya, dia berusaha mencerna baik-baik ucapan Ardiya. Dia merasa tidak asing dengan tanggal itu. Dan setelah beberapa detik ia berusaha mengingat akhirnya dia sadar bahwa tanggal 10 Oktober itu adalah hari Anniversary nya dengan Rafandra. Dan mereka sebenarnya telah menyiapkan sebuah acara kecil pada tanggal itu.
"Kenapa? Kenapa harus 10 oktober? Hah? " tanya Gresha dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Kenapa ? kamu keberatan? kalau tidak mau saya akan menemui Rafandra sekarang! "
Ardiya membalikan badannya dan berjalan keluar dari kantin. Sedangkan Gresha masih terpaku di tempat sambil melihat Ardiya yang semakin jauh dari pandangannya dan kemudian hilang. Gresha kemudian tersadar dan ia bergegas mengejar Ardiya. Setelah berlari Gresha berhasil menghadang Ardiya sebelum ia sampai di ruang rawat.
"Tunggu! Tolong jangan memanfaatkan keadaan seperti ini! "
"Gimana apa kamu berubah fikiran? "
"Anda memang bajingan!!"
"Saya tidak peduli kamu menganggap saya apa, sekarang keputusan ada di kamu! "
Gresha menghela nafas panjang dan memejamkan mata sebentar.
"Baik kita akan menikah tanggal 10 oktober, jadi saya minta anda pergi dari sini sekarang juga! "
"Oke pilihan yang bagus, baik kalau begitu saya pulang dulu! "
Ardiya memutarbalikan tubuhnya dan segera berlalu pergi dari pandangan Gresha. Gresha menyeka air matanya dan berjalan menuju ruangan papahnya di rawat.
Hari ini adalah hari terakhir Pak Bimo di rawat, keadaanya sudah semakin baik walaupun kedua kakinya lumpuh. Dan harus menggunakan kursi roda. Hari ini mereka pulang diantar oleh Ardiya. Dan hari ini pula Gresha akan mengatakan kepada orang tuanya tentang pernikahannya dengan Ardiya.
Ardiya langsung pulang saat selesai mengantarkan Gresha sampai rumah. Gresha mengumpulkan seluruh keberaniannya dan seluruh tenaganya. Meraka bertiga duduk di meja makan sambil menikmati makanan malam itu.
"Pah Mah Gresha mau bicara! "
"Ada apa? " tanya Pak Bimo.
"Pah Mah Gresha sudah mengambil keputusan, dan Gresha mau menikah dengan Ardiya! "
Pak Bimo dan istrinya sungguh tekejut mendengar ucapan itu, Pak Bimo menatap wajah anaknya yang terlihat sedang menahan tangis.
"Kenapa? " tanya Pak Bimo.
"Kita akan menikah tanggal 10 oktober ! "
"Kenapa cepat sekali? kenapa kamu mengambil keputusan sendiri? " tanya Bu Bimo.
Gresha diam dan tanpa ia sadari air matanya telah jatuh tanpa permisi.
Pak Bimo dan istrinya terdiam sejenak, dan kemudian mereka saling bertatap seolah-olah mereka menyadari sesuatu.
"Gresha apa ini ada hubungannya dengan biaya untuk rumah sakit Papah?"
Gresha masih terdiam, dia seakan tidak sanggup lagi mengatakan apapun.
"Jadi Ardiya membantu kita dengan syarat kamu mau menikah dengannya? " tanya Bu Bimo.
"Maafkan Papah Gresha, maafkan Papah! "
Pak Bimo memeluk tubuh putrinya itu yang duduk di tepat disampingnya. Air mata mereka bertiga pecah , tapi mereka tidak bisa melakukan apapun lagi selain mengikuti permintaan Ardiya.
__ADS_1