
Setelah diberitahu Ardiya kalau Papa mertuanya datang dan ingin bertemu, Gresha segera mengenakan baju dan segera bersiap-siap. Sedangkan Ardiya baru saja keluar kamar mandi dengan wajah yang masam.
“Kenapa gitu wajahnya?”
“Baru juga mau mulai uda ada yang ganggu!” Gumam Ardiya dengan wajah cemberutnya.
“Udah ah ayo siap-siap, kasihan kalau Papa nunggu lama!”
Tak berapa lama akhirnya mereka berdua turun ke bawah dan menemui Pak Dio di ruang keluarga. Pak Dio terlihat tengah menyaksikan acara televisi sambil terkekeh pelan.
“Papa!” Panggil Gresha.
Gresha lalu segera meraih tangan Papa mertuanya dna mencium tangan seorang ayah yang telah membesarkan suaminya itu dengan tulus. Ardiya pun juga ikut mencium tangan Papanya itu. Mereka bertiga lalu duduk santai di ruang keluarga itu.
“Papa kok nggak ngabarin kalau mau kesini, kan bisa aku jemput Pa!” Ucap Ardiya.
“Nggak perlu, tadi Papa kebetulan aja lewat. Dan sebenarnya ada yang mau Papa berikan buat kalian berdua!”
“Apa Pa?”
“Papa sudah pesankan tiket pesawat dan hotel buat kalian, kalian berlibur lah. Papa kasihan lihat kamu kerja begitu keras Ar, dan kamu Gresha pasti sudah sangat pusing dengan tugas dan kegiatan kampus kamu. Jadi kalian bisa berlibur dulu untuk beberapa hari!”
__ADS_1
“Pa kenapa tiba-tiba gini? Aku kan uda atur jadwal kerja ku untuk sebulan ke depan, kalau tiba-tiba aku tinggal liburan jadwalku bisa berantakan Pa!” Ucap Ardiya dengan wajah sedikit panik.
“Yang ada di otak kamu kok cuma kerja dan kerja itu lho, pikirin istri mu juga yang butuh di ajak jalan-jalan itu. Dan anggap saja ini hadiah pernikahan buat kalian, dari dulu Papa belum sempat memberikan kalian hadiah!” Ucap Pak Dio dengan diiringi senyum di bibirnya.
“Emangnya kapan Pa tiketnya?” Tanya Ardiya lagi.
“Jum’at pagi ini kalian berangkat ke Bali, senin kalian bisa kembali beraktitivas lagi tenang saja!” Ucap Pak Dio.
“Jum’at Pa? Itukan tinggal dua hari lagi!”
“Makasih ya Pa, pas banget aku jum’at ini nggak ada kuliah, jadi aku nggak perlu bolos kuliah!” Ucap Gresha dengan wajah sumringah.
Ardiya lalu melirik Gresha dengan wajah masamnya, tapi melihat Gresha tersenyum lebar dan mata yang berbinar-binar membuat Ardiya sadar kalau memang istrinya itu butuh liburan setelah hari-hari berat yang telah mereka lalui ini, meskipun hanya tiga hari tapi pasti ini akan bisa sedikit merefresh pikiran mereka.
Mereka bertiga lalu melanjutkan perbincangan nya dengan hangat dan penuh rasa kekeluargaan, serta pastinya dengan kebahagiaan pula.
****
Setelah sampai di rumah, Rafandra dengan langkah cepatnya menuju ke kamar Sherly, mama nya itu memang belum pulang dan Rafandra ingin ke kamar mamanya itu karena ingin mencari bukti-bukti lain karena dia merasa sikap mamanya itu semakin aneh dan mencurigakan. Tapi saat memegang gagang pintu kamar mamanya itu, ternyata kamar Shelry terkunci, dan ini tidak seperti biasanya.
“Kenapa dikunci?” Gumam Rafandra.
__ADS_1
Melihat Rafandra yang berusaha membuka pintu kamar Sherly, Bibi lalu menghampiri Rafandra.
“Mas Rafandra!”
“Bi, kebetulan ada Bibi, Bibi ada kunci kamar Mama kan?”
“Nggak Mas!”
“Nggak? Bukannya Bibi punya kunci cadangan ruangan-ruangan di rumah ini?” Tanya Rafandra bingung.
“Iya Mas, ruangan-ruangan lain saya ada kunci cadangannya, tapi kalau kamar ini sudah diminta sama Bu Sherly Mas!”
“Diminta sama Mama? Terus kenapa ini tumben banget kamar Mama di kunci Bi?”
“Bibi nggak tau Mas!”
Follow :
Ig :Rahayu_nrahma
Tiktok : Rahayunr30
__ADS_1
SV : Rahayunr (WS)