
“Lo uda berubah Gres, lo kenapa? Lo uda mulai sayang sama Ardiya?” Tanya Yumi dengan penuh rasa penasaran.
Gresha lalu menatap wajah Yumi yang penuh dengan rasa penasaran itu. Gresha pun juga bingung harus menjawab pertanyaan Yumi itu bagaimana, karena sebenarnya dia sendiri juga sudah mulai bimbang dengan hatinya sendiri.
“Mana mungkin gue sayang sama Ardiya Yum!” Ketus Gresha.
“Tapi ngapain lo punya rasa bersalah kayak gini kalau memang lo nggak ada rasa sama Ardiya!”
“Gue cuma…cuma nggak biasa aja ngomong sekasar itu jadi gue sendiri yang ngerasa nggak nyaman!”
****
Sherly membuka lemarinya dan mengambil beberapa barang yang dia simpan di dalam sebuah box besar di dalam lemarinya itu. Barang-barang itu tak lain adalah barang-barang kenangan milik Rafandra dan Naya dulu. Sherly terlihat mengambil sebuah foto Rafandra dan Naya serta sebuah gelang couple milik Rafandra dan Naya.
Sherly lalu duduk di atas tempat tidur sambil terus mengamati barang yang dia pegang, dadanya kembali terasa sesak dan terasa sangat pedih.
“Kenapa kamu pergi secepat ini Nay, ini terlalu cepat!” Lirih Sherly.
Sherly lalu mengalihkan pandangannya pada sebuh foto di meja kecil samping tempat tidurnya, foto dua anak laki-laki yang tampan dan riang itu diambil oleh Sherly dan dia usap lembut.
“Kamu juga Ar kenapa sampai sekarang nggak pernah ada kabar,menikahpun kamu juga nggak ngasih kabar!” Lirih Sherly sambil memeluk foto dan barang-barang milik Rafandra serta Naya.
Air mata Sherly tak terasa menetes satu per satu, rasa rindu yang besar saat ini memang sedang memenuhi hati Sherly. Kerinduan yang memang teramat dalam itu sangat amat bisa terlihat dari raut wajah Sherly yang sendu dan terus berlinang air mata. Tapi tiba-tiba ada suara Rafandra yang mengetuk pintu kamar Sherly. Sherly pun menyimpan kembali barang-barang tersebut ke dalam lemari dan meletakkan kembali foto itu ke atas meja. Sherly lalu mengusap air matanya dan dengan segera membuka pintu kamarnya.
“Kenapa Raf?” Tanya Sherly.
“Mama nangis ya?” Tanya Rafandra sambil menatap kedua bola mata Sherly.
“Nggak, tadi mama nggak sengaja ketiduran, jadi mata mama sembap kayak abis nangis!” Ucap Sherly.
“Oh ya Rafandra mau minta tolong sama Mama buat bantuin nyari barang-barang kenangan Rafandra sama Naya dulu ma!” Pinta Rafandra.
__ADS_1
“Mau cari dimana?”
“Di kamar aku dulu kali ya ma!”
Rafandra dan Sherly lalu berjalan menuju ke kamar Rafandra, mereka berdua kemudian membuka lemari dan laci-laci yang ada di kamar Rafandra. Mereka berdua terus mencari barang-barang yang sebenarnya disimpan oleh Sherly.
“Gimana ma, ada nggak?”
“Nggak ada, mungkin uda kamu buang tapi kamu lupa!” Ucap Sherly.
“Nggak mungkin ma, aku inget banget dulu aku simpan!”
“Terus dimana dong, kita uda cari seisi kamar kamu tapi nggak ada !”
“Atau mungkin aku titipin mama ya waktu itu?”
“Hah? Ng..nggak Raf, kamu nggak nitip ke mama kok!”
“Mama tahu kan dulu gimana terpukulnya aku waktu Naya pergi ninggalin aku selamanya ma, aku sampai sekarang masih suka keinget sama kejadian itu ma, harusnya waktu itu aku nggak egois ma, aku harusnya dengerin Naya!” Lirih Rafandra.
Sherly mengusap pelan pundak anak laki-laki satu-satunya itu, suasana sore ini menjadi sangat haru, kesedihan beberapa tahun lalu kembali terbuka dan teringat lagi. Penyesalan dan kesakitan yang Rafandra pernah rasakan kini kembali hadir dan sangat menyiksa dirinya sendiri.
“Terus kamu mau apain barang-barang itu kalau ketemu?” Tanya Sherly sendu.
“Aku kangen sama Naya ma, cuma barang-barang itu yang bisa ngobatin rasa rindu ku sama Naya. Karena disana ada banyak kenangan ku sama Naya. Mama tahu nggak dulu Naya suka banget ngasih barang-barang couple ke aku, kayak gelang, hoodie, sepatu dia suka banget kalau aku pakai barang-barang couple pemberiannya. Terus mama tahu nggak dulu Naya suka banget kalau aku bawain cookies coklat bikinan Mama, jadi dulu tiap mama bikin cookies coklat pasti aku selalu ambil dan bawain buat Naya. Dan aku selalu bilang kalau itu buat aku makan sendiri, padahal itu buat Naya!” Lirih Rafandra sambil mengukir senyum tipis dibibirnya.
“Oh ya Ma, Naya dulu juga sering banget muji mama, dia selalu bilang kalau mama itu cantik dan dia juga selalu bilang kalau dia suka banget sama stylenya mama, dia juga pengen nanti kalau uda nikah sama aku tetap kelihatan cantik dan style nya tetap bagus kayak mama. Tapi sayang banget dulu mama sama Naya jarang banget ketemu dan ngobrol bareng. Kalau Naya bisa sering ngobrol sama mama pasti Naya senang banget ma!” Lanjut Rafandra.
Rafandra berhenti bercerita karena dia merasa rambutnya kini basah, Rafandra lalu mengangkat kepalanya dari pundak Sherly dan memandang Sherly. Rafandra terkejut saat melihat Sherly sudah berlinang air mata dan matanya juga memerah.
“Mama kenapa nangis sampai kayak gini?”
__ADS_1
Sherly lalu mengusap air matanya dengan pelan, tap isak tangisnya masih terus berlanjut dan seakan tak mau berhenti. Rafandra saat ini benar-benar merasa bingung kenapa Sherly bisa nangis sampai seperti ini padahal dulu Naya tidak dekat dengan Sherly, tapi kenapa Sherly begitu terharu mendengar semua cerita Rafandra. Sherly seakan-akan tak mampu menjawab pertanyaan dari Rafandra, karena tangisnya memang benar-benar pecah sampai-sampai Sherly tak bisa berkata-kata. Rafandra lalu memeluk tubuh Sherly yang tak berdaya itu, dan mengusap lembut punggung mamanya itu.
“Mama uda ya, mama tenang ya!” Ucap Rafandra menenangkan Sherly.
****
Rafandra terlihat duduk sendiri dan termenung di depan kelas saat Raka tiba dan menghampiri Rafandra. Raka lalu duduk di sebelah Rafandra.
“Lo kenapa Raf?”
“Gue bingung Ka, kemarin waktu gue cerita tentang Naya, nyokap gue nangis dan nangisnya yang benar-benar sampai nggak bisa ngomong. Padahal dulu nyokap gue sama Naya nggak dekat Ka!”
“Lo nggak nanya kenapa nyokap lo bisa nangis sampai kayak gitu?”
“Nyokap gue nggak bisa jawab Ka, dia nangis sampai benar-benar nggak bisa ngomong apa-apa!” Jelas Rafandra.
“Kalau nggak ada hubungan erat kenapa nyokap lo harus sebegitu sedihnya saat lo cerita soal Naya!” Ucap Raka.
“Hubungan? Ada hubungan apa nyokap gue sama Naya?”
****
Ardiya membuka laci meja kerjanya yang ada di kantor, Ardiya lalu mengambil dua lembar foto. Satu foto terlihat ada dua anak laki-laki yang tersenyum bahagia. Dan satu foto lagi adalah foto seorang anak laki-laki bersama seorang anak perempuan yang sangat cantik. Ardiya mengusap kedua foto itu dengan lembut dan dengan wajah yang terlihat sendu.
“Kenapa kita semua terpisah kayak gini? Aku kangen sama kalian!” Lirih Ardiya.
Hallo semuanyaaa ❤❤
Buat teman-temanku semuaa yang belum follow boleh bangett follow yaa ❤
Dan boleh bangett tinggalin like dan koment kaliann, aku selalu menanti dan selalu membaca setiap Komenan kalian yang bikin aku makin semangat buat up ❤
__ADS_1
Terimakasih semuaaa nyaa ❤❤