
Rafandra bergegas meninggalkan rumah sakit karena dia ada jadwal kuliah siang ini. Gresha tidak berangkat karena ingin menemani Papahnya yang masih dirawat. Pagi tadi Pak Bimo sudah siuman, dan keadaannya kini mulai berangsur membaik. Saat Gresha sedang mengupas buah jeruk untuk Pak Bimo, terdengar ada yang masuk ke dalam ruangan itu. Gresha melihat ke arah pintu dan ternyata seoarang laki-laki menggunakan setelan jas berwarna biru tua dan kacamata hitam masuk sambil membawa parcel buah.
"Pak Bimo bagaimana keadaannya? " tanya laki-laki itu.
"Alhamdullah keadaan saya sudah membaik, terimakasih telah membantu biaya rumah sakit saya, "
"Sama-sama Pak, oh ya Papah saya titip salam untuk Pak Bimo, maaf Papah belum bisa kesini, ada meeting penting hari ini, "
"Iya tidak perlu repot-repot kesini Pak Dio pasti sangat sibuk, "
Ardiya duduk di sofa lalu melepaskan kacamatanya dan diletakannya di atas meja. Gresha merasa tidak nyaman dengan kedatangan Ardiya.
"Untung saja Rafandra sudah pulang! " batin Gresha.
Tak lama kemudian Bu Bimo datang dengan membawa sebuah tas berisi baju.
"Wah ada Ardiya juga disini, sudah lama? "
"Saya juga baru saja sampai tante, kalau tahu tante tadi di rumah dan mau kesini kan bisa saya jemput sekalian! "
"Ah.. tidak perlu repot-repot, tadi tante naik angkot. Oh ya Gresha kamu sudah makan? "
"Belum mah! " ucap Gresha.
"Kalau gitu Gresha makan sama saya saja, saya juga belum makan! " sahut Ardiya.
"Ya uda Gresha sana kamu makan dulu sama Ardiya! " ucap Bu Bimo.
Gresha mengerutkan dahinya dan beranjak dari tempat duduknya. Tanpa mengucap sepatah katapun dia berjalan keluar, Ardiya yang melihat Gresha keluar segera mengikuti Gresha dan berjalan disamping Gresha.
"Kamu mau makan apa? " tanya Ardiya.
"Terserah! "
"Kita makan diluar saja ya, kamu pasti bosan makan di kantin rumah sakit! "
"Terserah!"
__ADS_1
Dalam hati Gresha dia sangat ingin menolak ajakan makan siang ini, tapi apalah dayanya, sebentar lagi mereka juga akan menikah dan karena Ardiya juga Papahnya bisa selamat. Gresha terus berjalan tanpa sepatah katapun yang keluar. Di sepanjang jalan menuju tempat makan pun Gresha tak berucap sama sekali, ia menolehkan wajahnya ke jendela mobil. Tak sedikitpun ia menolehkan wajahnya ke arah Ardiya.
"Kamu mau makan apa? " tanya Ardiya sambil memegang buku menu.
"Terserah! " ucap Gresha sambil menundukkan kepalanya sambil membaca buku menu.
Ardiya menarik nafas panjang dan sedikit menggelangkan kepalanya. Dalam hati Gresha, ia sangat ingin makan makanan kesukaannya.
" Duh makan ayam bakar enak nih, ada gurame jugaa, wahh ada nasi goreng juga. Dari gambarnya enak banget nih, pengen banget pesen ini. Tapi males ah , cuekin aja nih orang, biar dia bete! " batin Gresha.
"Mbak saya pesan ayam bakar, gurame bakar madu, nasi goreng sama minumnya jus apel 1 sama jus alpukat 1 ya mbak! " ucap Ardiya.
Pelayan restoran itu segera mencatat semua pesanan. Gresha melongo mendengar semua pesanan makanan itu. Dia merasa Ardiya bisa membaca pikirannya, bisa-bisanya dia memesan semua makanan yang ingin dia pesan.
Semua makanan telah datang, tanpa fikir panjang Gresha langsung memakan semua makanan yang ada di depannya. Dia makan begitu lahap, Ardiya hanya bisa tersenyum kecil saat melihat Gresha makan begitu lahapnya, dia tidak akan menegur ataupun bertanya apapun ke Gresha, karena dia tahu kalau dia bertanya bahkan menegur Gresha tidak akan melanjutkan makannya.
"Kamu pasti sangat lapar, " batin Ardiya.
Setelah selesai makan Ardiya juga membelikan beberapa makanan lagi untuk dibungkus dan dibawa ke rumah sakit. Didalam mobil Gresha kembali terdiam.
"Kamu laper sama kenyang sama aja ya! " celetuk Ardiya memecah keheningan dalam mobil.
"Sama-sama diem, "
Gresha tidak merespon ucapan Ardiya dia kembali memandangi kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang melalui jendela mobil.
"Oh ya saya sudah cari WO, kita tinggal atur pertemuan saja untuk membahas tema acara peenikahan kita! "
"Saya sudah bilang tunggu Papah Saya Keluar dari rumah sakit dulu! "
"Tapi setidaknya kamu sudah ada bayangan kan gimana nanti tema acara pernikahan kita? "
"Bayangan? Membayangkan saya menikah dengan anda saja saya tidak pernah. Satu-satunya pernikahan yang saya bayangkan hanyalah pernikahan saya dengan Rafandra, bukan dengan anda! " jawab Gresha dengan ketus.
"Tapi pada kenyatannya kamu akan menikah dengan saya! "
Gresha terdiam, memang benar pernikahannya dengan Rafandra hanyalah bayangan, kenyatannya dia akan menikah dengan Ardiya.
__ADS_1
"Brengsek.... kenapa hidpuku jadi kayak gini! " batin Gresha.
Gresha segera turun dari mobil dia berjalan cepat meninggalkan Ardiya. Ardiya berjalan cepat mengikuti Gresha sambil membawa beberapa bungkus makanan di tangannya.
"Gresha tunggu! "
Gresha mengabaikan Ardiya yang terus memanggilnya, ia terus berjalan sedikit berlari.
Saat sudah dekat dengan ruang rawat inap Pak Bimo, Gresha melihat Rafandra masuk ke dalam ruangan itu. Gresha lalu menghentikan langkahnya dan memutar balikan badannya , seketika ia menabrak seorang laki-laki berdada bidang itu.
"Aduh.. maaf! " ucap Gresha.
"Kamu kenapa? "
"Em.. Kita ke kantin dulu ya!"
" Mau beli apa lagi? kamu masih lapar? ini kan saya bungkusin makanan juga, bisa makan lagi di dalam!"
"Em... ikut saya saja! "
Gresha menarik tangan Ardiya dan membawa nya pergi dari tempat itu. Mereka kemudian duduk di kantin rumah sakit.
"Kamu kenapa tiba-tiba ngajak saya kesini? "
"Aduhh... bisa diam dan nurut aja nggak sih? " bentak Gresha.
"Ada Rafandra di dalam, mana mungkin saya membawa anda masuk kesana! Bisa gila saya kalau Rafandra ketemu sama anda! " lanjut Gresha sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Terus kita akan disini sampai kapan?"
"Saya nggak tahu, saya nggak tahu!" bentak Gresha.
Gresha begitu takut kalau Rafandra bertemu dengan Ardiya, Gresha takut jika tiba-tiba Ardiya mengatakan pada Rafandra apa yang terjadi sebenarnya. Dia belum sanggup jika Rafandra tahu kalau dia akan menikah dengan orang lain, dan mungkin dia tidak akan pernah sanggup.
"Kenapa sih Papah harus bangkrut, kenapa Papah harus kecelakaan, dan kenapa gue harus punya hutang budi sama loe dan kenapa juga gue harus nikah sama loe buat ngebayar semua ini? kenapa?" Teriak Gresha.
Teriakan Gresha membuat semua orang yang ada dikantin itu mengalihkan pandangan mereka ke Gresha. Teriakan itu diiringi air mata yang satu per satu mulai jatuh membasahi pipinya. Badannya tiba-tiba lemah. Dia duduk dan membaringkan kepalanya diatas meja dan menggunakan lengan tangannya sebagai bantal.
__ADS_1
Ardiya hanya diam dan terus memandangi Gresha, dia tidak mau menjawab apapun, karena ia tahu semakin ia menjawab amarah Gresha akan terus memuncak. Dan bisa jadi itu akan membuat keributan di kantin.