
Selama mengikuti mata kuliah hari ini pikiran Greesha tidak pernah bisa fokus, dalam pikirannya hanya dipenuhi dengan Ardiya Bimantara. Yumi yang sedari tadi memperhatikan Greeshapun sadar kalau Greesha sedang tidak baik-baik saja. Selesai kuliah Yumi mengajak Greesha untuk makan di kantin.
"Greesha makan yuk, aku laper banget nih! " ajak Yumi.
Tapi Greesha berfikir kalau ia makan di kantin kampus, itu akan semakin menguras tabungannya, karena makanan di kantin kampus Greesha harganya cukup mahal.
"Em.. loe aja deh Yum, gue nggak laper! " jawab Greesha.
Ditengah perbincangan mereka tiba-tiba Rafandra datang.
"Hai sayang, Hai Yumi!! " sapa Rafandra.
Greesha dan Yumi membalas sapaan Rafandra dengan senyuman.
"Kalian uda pada makan belum? Kantin bareng yuk! " ajak Rafandra.
"Eh kebetulan banget gue laper banget, tapi ini si Greesha gue ajakin katanya nggak laper! " kata Yumi.
"Tumben sayang, biasanya kamu paling semangat kalau ke kantin? " tanya Rafandra.
"Em.. iya sih, tapi lagi nggak laper, " jawab Greesha gelagapan.
"Ya uda penting ke kantin aja, kamu kalau nggak laper bisa pesan minum aja atau cemilan! " pinta Rafandra.
Akhirnya mereka bertiga pergi ke kantin. Sebenarnya Greesha juga lapar tapi dia hanya ingin hemat dan makan di rumah. Tapi karena kali ini ke kantinnya dengan Rafandra ,ia tidak perlu risau lagi, karena pasti Rafandra yang akan membayar semua makanannya. Setelah sampai di kantin Greesha langsung memesan beberapa makanan, yang bahkan membuat Rafandra dan Yumi heran. Dan tanpa perlu berlama-lama Greesha langsung menyantap makanan yang telah ia pesan. Dia makan dengan lahap, karena dia memang sangat lapar dan dia rindu dengan makanan-makanan enak itu. Yumi dan Rafandra bengong melihat Greesha makan dengan begitu lahapnya.
"Sayang pelan-pelan makannya! " ucap Rafandra.
"Aku laper banget,! " kata Greesha.
"Lapar? " tanya Rafandra.
Greeshapun berhenti makan dan dia ingat kalau dia tadi mengaku kalau dia sedang tidak lapar.
"Emm.... iyaa... Tiba-tiba sampai sini aku jadi lapar! " ucap Greesha sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah beberapa saat akhirnya mereka bertiga selesai makan, Greesha merasa sangat puas dan perutnya terasa sangat kenyang. Saat mereka bertiga sedang ngobrol tiba-tiba handphone Greesha berdering, dan saat ia lihat ada sebuah panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Karena takut kalau itu penting, Greesha memutuskan untuk mengangkat telfon itu.
"Halo, " sapa Greesha.
"Saya sudah sampai di kampusmu, kamu sudah selesai kuliah kan? Ayo saya antar pulang! " ucap seseorang itu dari ujung telfon.
Greesha terdiam, dia coba mengingat siapa pemilik suara ini, setelah beberapa detik berfikir akhirnya dia sadar bahwa itu adalah Ardiya. Greesha merasa sangat panik karena dia sedang bersama Rafandra sekarang.
"Sial.... kenapa dia tiba-tiba bisa ada disini! " ucap Greesha dalam hati.
"Ayo cepat, kamu yang kesini atau saya yang cari kamu masuk ke kampus! " ucap Ardiya dengan tegas.
Greesha pun mematikan telfon itu tanpa membalas ucapan Ardiya sepatah katapun.
"Sayang, Yumi aku pulang dulu ya, ini sopir Papah uda jemput! " ucap Greesha mencari alasan.
"Nggak aku anterin aja? kenapa tumben pakai sopir yang antar jemput sekarang? " tanya Rafandra penasaran.
"Iya ini nggak tahu Papah aku yang minta, ya uda aku duluan ya! " ucap Greesha sambil bergegas pergi dan meninggalkan Rafandra dan Yumi.
Setelah letih berlarian akhirnya Greesha menemukan mobil Ardiya. Dan ia buru-buru masuk ke mobil sebelum Rafandra dan Yumi datang.
"Mau anda itu sebenarnya apa sih? " ucap Greesha dengan nada tinggi.
"Mau jemput kamu! "jawab Ardiya dengan cuek.
" Iya tapi kan tadi saya sudah bilang tidak perlu jemput saya! "ucap Greesha dengan nada tinggi.
Ardiya hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Greesha. Greesha merasa kesal karena Ardiya terlihat begitu memanfaatkan keadaan, tapi ia juga tidak berani terlalu keras dengan Ardiya, karena Greesha masih terus mencari cara untuk mendapatkan bantuan dari keluarga Ardiya.
Saat sampai di rumah, Greesha langsung saja masuk ke rumah dan tanpa menghiraukan Ardiya. Sedangkan didepan rumah Pak Bimo dan istrinya sedang berbincang. Ardiya turun dari mobil dan menghampiri mereka.
"Selamat sore om, tante! " sapa Ardiya.
"Selama sore, makasih ya hari ini sudah antar jemput Greesha ke kampus! " ucap Pak Bimo.
__ADS_1
"Iya Pak saya senang bisa mengantar dan menjemput Greesha, tapi sepertinya Greesha saja yang kurang senang, " ucap Ardiya diikuti oleh tawa kecil.
"Iya, Ardiya tahu sendiri kan keadaan kami sekarang seperti apa, jadi itu masih jadi pukulan berat buat Greesha, " kata Pak Bimo.
"Maka dari itu, saya sangat senang jika bisa membantu keluarga Pak Bimo! " ucap Ardiya.
"Iya, tapi syaratnya.... " ucap Bu Bimo dengan gelisah.
"Hanya itu saja syaratnya, saya tidak minta syarat lainnya dan juga saya serta Papah saya tidak bisa mengubah syaratnya!" ucap Ardiya.
Pak Bimo dan istrinya yang mencoba meminta untuk syarat lainnya pun tak melanjutkan niatnya itu saat mendengar ucapan Ardiya yang terasa begitu pasti itu. Tak lama Ardiyapun pulang meninggalkan rumah kecil dan usang itu bersama tiga orang penghuni yang selalu diliputi kesedihan.
Dari dalam kamar Greesha mendengar percakapan orang tuanya, yang seperti nya membahas masalah pekerjaan. Greeshapun keluar dari kamar, berharap ada kabar baik dari kedua orang tuanya.
"Papah udah dapat kerjaan? " tanya Greesha penuh harap.
"Belum sayang , tadi Papah uda keliling untuk mencari pekerjaan, tapi semuanya masih menunggu, besok Papah cari kerja lagi, " ucap Pak Bimo.
"Mamah besok juga mau cari kerja, " tambah Bu Bimo.
"Mamah juga mau kerja? " tanya Greesha.
"Iya, Mamah mau bantuin Papah," jawab Mamahnya Greesha.
"Aku juga mau cari kerja ya Pah, Mah! " pinta Greesha.
"Jangan, kamu fokus dulu kuliah, kuliah kamu kan juga dari pagi sampai sore. Kamu tidak akan punya waktu untuk bekerja! " jawab Pak Bimo dengan tegas.
"Nanti Greesha cari yang jadwal kerjanya malam aja Pah, jadi nggak tabrakan sama jadwal kuliah Greesha, " ucap Greesha.
"Tidak!! " jawab Pak Bimo dengan tegas.
"Tapi Pah... " rengek Greesha.
"Sayang, Mamah setuju dengan Papah, kamu kuliah dulu ya, biar Papah sama Mamah yang kerja! " tambah Bu Bimo.
__ADS_1
Greesha pun mengangguk menandakan ia setuju dengan apa yang kedua orang tuanya katakan. Walaupun dia sangat ingin membantu tapi ia sendiri pun sebenarnya tidak tahu mau kerja apa dan bagaimana nanti kehidupan dalam pekerjaan dia juga belum tahu. Tetapi dia merasa sangat tidak tega melihat kedua orang tua nya mondar mandir cari kerjaan, padahal usia mereka sudah tidak muda lagi, pasti itu akan susah. Sekarang mungkin Greesha hanya bisa berdoa untuk orang tuanya. Greesha lalu kembali ke kamar dan berusaha untuk memejamkan matanya, ia sangat berharap saat besok ia terbangun semua hal indah akan datang kepadanya.