
Gresha berbaring di kamar karena merasa kurang enak badan, dan kemudian dia mendengar suara mobil Ardiya. Hari masih sore tapi Ardiya sudah pulang ke rumah. Dengan sigap Gresha keluar dari kamar dan ingin segera menemui Ardiya meskipun badannya kurang sehat. Saat sampai dilantai bawah di ujung tangga, Gresha dan Ardiya saling bertemu dan bertatapan.
“Kamu katanya sakit kenapa disini?” Ketus Ardiya.
“Aku mau nemuin kamu,tumben kamu uda pulang jam segini?”
Ardiya lalu memegang kening Gresha dan Ardiya merasa kalau badan Gresha sedikit panas.Ardiya lalu mengulurkan sebuah kantong yang berisi obat.
“Ini tadi aku beli obat di apotik, kamu cepatan minum obatnya!” Ucap Ardiya tanpa sedikitpun senyum terukir dibibirnya.
Setelah memberikan obat itu, Ardiya lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Gresha.
“Makasih!” Sahut Gresha dengan senyum malu tersimpul dibibirnya.
Ardiya tidak menggubris ucapan Gresha itu, tapi dia berhenti dan berbalik kembali menghadap Gresha.
“Kenapa Pak Wicak bilang kalau kamu nggak mau ngurus perceraian kita?” Ketus Ardiya.
Gresha lalu berjalan pelan dan semakin mendekat ke arah Ardiya, dan saat sampai tepat di depan Ardiya, Gresha mendongak dan menatap lembut wajah suaminya itu.
“Emangnya aku pernah bilang kalau aku mau cerai sama kamu? Kamu aja kan yang tiba-tiba nyuruh aku ngurus perceraian dan datangin pengacara kesini!” Ucap Gresha dengan senyum menggoda.
Jujur saja jantung Ardiya mulai berdetak hebat saat Gresha kini benar-benar berada di dekatnya dan menatap manja matanya. Tapi kali ini Ardiya tidak mau dengan mudah tergoda dengan istrinya itu.
Alih-alih menjawab, Ardiya malah pergi meninggalkan Gresha. Tapi belum jauh Gresha pergi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah mereka dengan keras. Ardiya yang penasaran pun lalu berjalan menuju ke pintu utama rumahnya untuk melihat siapa tamu yang berkunjung. Gresha yang juga penasaran pun mengikuti langkah Ardiya dari belakang.
__ADS_1
Dan saat membuka pintu betapa terkejutnya Ardiya saat melihat Rafandra dan Raka sudah berdiri di depan rumahnya. Gresha yang tepat ada dibelakang Ardiya pun tanpa sadar menjatuhkan obat yang dari tadi dia pegang. Gresha juga tak kalah terkejut dengan Ardiya, badan Gresha tiba-tiba gemetaran karena dia benar-benar takut kali ini.
Di sisi lain Rafanda dan Raka juga sama-sama terkejut melihat Ardiya dan Gresha di sana, hatinya benar-benar hancur saat ini, teranyata apa yang Vio ceritakan itu benar adanya. Air mata Rafandra seoalah-olah tak dapat dibendung lagi. Mengalir deras membasahi pipinya. Cinta yang begitu tulus yang dia berikan pada Gresha dibalas denga pengkhianatan seperti ini, bahkan Gresha seorang gadis yang amat Rafandra cintai itu kini sudah menjadi seorang istri.
Karena rasa sakit hati yang begitu hebat, Rafandra dengan spontan duduk bersimpuh dengan kedua tangan yang menutup wajahnya, Raka pun mencoba membangunkan tubuh sahabatnya itu, tapi Rafandra seakan-akan menolak.
“Sejak kapan?” Lirih Rafandra.
Gresha pun tak sanggup lagi menahan air matanya, tangisnya pun ikut pecah.
“Kalian selesain urusan kalian!” Ketus Ardiya sambil berlalu pergi meninggalkan Gresha dan Rafandra.
Ardiya kemudian pergi dengan hati yang sama tak karuan juga, dia dengan segera masuk ke dalam kamar. Kali ini Ardiya benar-benar tidak mau mengganggu keputusan Gresha, kalau memang setelah ini Gresha kembali ke Rafandra, Ardiya pun mencoba untuk siap.
“Sejak kapan?” Tanya Rafandra lagi.
Isak tangis Greshapun terdengar begitu jelas, begitu memilukan tak kalah memilukan dari tangis Rafandra.
“Di hari itu.., hari anniversary kita dan aku nggak datang, itu hari pernikahan aku sama Ardiya!” Jelas Gresha dengan tangis yang terus terdengar.
Medengar itu semua wajah Rafandra mendongak menatap tajam mata Gresha yang memerah dan penuh air mata. Rafandra benar-benar tidak menyangka kalau di hari anniversary mereka, Gresha memutuskan untuk menikah dengan orang lain dan membiarkan dirinya menunggu tanpa kepastian. Bayangan Rafandra melayang pada malam itu, malam dimana dia sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan baik agar Gresha bahagia. Tapi di malam itu Gresha berbalik mengkhianati Rafandra, dan mengikat janji suci dengan lelaki lain.
Gresha pun ikut bersimpuh dan memegang pundak Rafandra pelan.
“Maaf !” Lirih Gresha.
__ADS_1
“Kenapa Gresh? Salah aku apa?”
“Kamu nggak salah Raf, kamu nggak ada salah. Ini murni kesalahan aku!”
“Makasih uda buat aku sesakit ini, aku nggak nyangka kesetiaan dan cinta ku sama kamu malah kamu balas sama pernikahan kamu dengan laki-laki bajingan itu!” Ketus Rafandra.
Rafandra lalu berdiri dan mengajak Raka untuk pergi, Rafandra pergi dengan tangis yang masih belum bisa berhenti. Rafandra benar-benar merasa sangat sakit hati, sakit hati yang begitu dalam. Sedangkan Gresha masih bersimpuh dengan tangis yang tak kalah hebatnya.
Setelah Rafandra dan Raka pergi, dan disaat Gresha masih belum beranjak dari tempatnya, Vio tiba-tiba datang dengan amarah yang memuncak. Vio tiba-tiba mendorong tubuh Gresha hingga Gresha terjatuh. Gresha benar-benar marah karena selama ini merasa dibohongi oleh Gresha.
“Lo gila ya Gres, lo sinting. Maksud lo apaan sih bohong kayak gini? Lo ternyata lebih bangsat tahu nggak sih. Lo itu cewek nggak tahu diri, uda punya pacar malah nikah sama orang lain dan saat uda jadi suami orang malah tetap pacarana sama Rafandra. Lo benar-benar nggak waras!” Maki Vio.
Gresha tak menjawab sepatah katapun dia hanya bisa menangis, karena memang dia sadar dia juga salah karena tidak jujur selama ini, apalagi dia pernah mencoba mendekatkan Vio dengan Ardiya.
“Terus maksud lo kemarin deketin gue sama suami lo apaan? Lo pasti mau jebak gue kan? Lo nantinya pasti mau bikin rencana seolah-olah gue pelakor yang ngrebut suami lo gitu kan? Lo licik banget bangsat!” Maki Vio tiada henti.
Mendengar suara Vio yang begitu marah, Ardiya pun bergegs keluar dari kamar dan berjalan cepat mencari sumber suara itu. Dan betapa terkejutnya Ardiya saat melihat Gresha tersungkur di lantai dan Vio yang terus marah pada Gresha.
Ardiya pun segera berlari dan menolong istirnya itu dan membangunkan tubuh Gresha yang terlihat sangat lemas itu.
“Vio apa-apan ini?” Tanya Ardiya.
“Kalian berdua yang apa-apaan, pasangan gila. Lihat ya Ardiya Gresha gue nggak akan tinggal diam , karena kalian berdua uda bohongin dan ngejebak gue!”
Vio lalu pergi dengan amarah yang masih belum reda, entah apa yang direncakan Vio saat ini untuk membalas Gresha dan Ardiya. Ardiya pun tak terlalu menggubris omongan Vio karena sekarang Ardiya tengah memikirkan keadaan istrinya. Dan sesaat setelah Vio pergi tiba-tiba Gresha jatuh pingsan. Lalu Ardiya dengan sigap segera menggendong Gresha dan membawanya ke kamar Ardiya.
__ADS_1