Antara Suami Dan Kekasih

Antara Suami Dan Kekasih
Bab 88 (Pertemuan)


__ADS_3

Rafandra dan Raka ternyata saat ini sudah menunggu Ardiya di dekat mobil Ardiya. Rafandra sudah sangat ingin bertemu dan berbicara dengan suami dari mantan kekasihnya itu. Raka sebenarnya sudah mengatakan kepada Rafandra untuk tidak menemui Ardiya sekarang, karena posisinya mereka masih di area kampus. Tapi Rafandra masih tetap saja ngotot untuk bertemu dengan Ardiya, dan akhirnya Raka pun mau tidak mau menuruti kemauan sahabatnya yang keras kepala itu. Dan setelah menunggu cukup lama akhirnya Ardiya pun mulai terlihat , dan kini berjalan semakin mendekati mobilnya. Ardiya pun kini sudah bisa melihat keberadaan Rafandra dan Raka. Ardiya menarik nafas panjang dan merapikan jas yang dia kenakan. Lalu Ardiya berhenti tepat di hadapan Rafandra. Mata mereka berdua tengah beradu saat ini, saling menatap untuk beberapa sekian detik, terlihat ada rasa amarah dan dendam yang tersimpan diantara mereka berdua. Raka pun menelan salivanya dalam-dalam karena merasakan badannya juga semakin merinding melihat kedua orang dihadapnnya itu saling bertatap penuh amarah.


“Maksud lo apaan dengan semua ini, kenapa harus Gresha?” Tanya Rafandra dengan mata yang tak sedikitpun gentar.


“Karena gue cinta sama dia!”


“Nggak usah bohong lo bajingan, gue tahu lo nikahin Gresha karena mau bikin gue sakit hati kan? Bangsat lo jadi orang!”


“Terserah lo mau ngomong apa, yang pasti gue cinta sama Gresha, dan lo bisa lihat sendiri kan, Gresha juga cinta sama gue!”


“Gue tahu semuanya,Gresha nikahin lo karena terpaksa , dia cuma berhutang budi sama lo!”


“Itu dulu, tapi sekarang gue uda berhasil dapetin cintanya Gresha!”


Ardiya lalu membalikan badannya dan berjalan menuju ke mobilnya.


“Kita belum selesai ya, lo mau kemana?”


“Gue sibuk, gue nggak mau ngurusin hal nggak penting kayak gini!”


“Bajingan! Lo kan yang nerror gue selama ini?”


Langkah Ardiya pun terhenti mendengar kata terror dari mulut Rafandra. Lalu dia membalikan badannya dan kembali menatap Rafandra.


“Terror apa maksud lo?”


“Lo nggak usah pura-pura deh, lo kan yang selama ini ngirimin terror ke rumah gue, karena peneror itu tahu tentang pernikahan lo sama Gresha, jadi siapa lagi pelakunya kalau bukan lo?” Maki Rafandra.

__ADS_1


“Kita memang ada masalah, tapi fikiran buat nerror lo aja gue nggak punya. Kalau ngomong tuh difikir dulu, nggak ada bukti tapi uda nuduh sembarangan!” Ketus Ardiya.


Ardiya pun lalu segera masuk ke dalam mobil dan segera mengendarai mobilnya dengan cepat. Sepanjang jalan dia kini kepikiran dengan terror yang dimaksud oleh Rafandra, dia masih nggak tahu kenapa juga Rafandra bisa menuduhnya seperti itu, padahal dia tidak melakukan hal itu sama sekali. 


“Tapi kenapa peneror itu bawa-bawa pernikahan Gue sama Gresha? Siapa peneror itu?” Gumam Ardiya.


Rafandra mengepalkan tangannya keras, dia sungguh geram dengan sikap Ardiya barusan, jelas-jelas mereka belum menyelesaikan masalah dinatara mereka, tapi Ardiya sudah pergi begitu saja.


“Eh Raf tunggu deh, kayaknya emang bukan Ardiya pelaku terror itu!” Celetuk Raka.


“Maksud lo apa sih Ka, jelas-jelas dia pelakunya. Dia mau gue hancur dengan cara nikahin Gresha, dan semua terror yang dia kirimkan itu tanda kalau Gresha sudah jadi istrinya, tapi gue aja yang nggak sadar!” Jelas Rafandra kesal.


“Iya oke kalau tentang Gresha itu masuk akal, tapi apa lo lupa tentang Naya? Emangnya Ardiya ada hubungannya sama Naya?” Tanya Raka serius.


Rafandra terdiam dan melemaskan genggaman tangannya, dia lalu menunduk lalu mengangkat wajahnya dan menatap wajah Raka yang sangat serius saat ini.


Teka teki ini sungguh menguras fikiran Rafandra dan Raka, karena setelah mereka fikirakan lagi, sepertinya memang bukan Ardiya pelakunya , karena terror ini juga menyangkut tentang Naya, yang tak lain adalah mantan kekasih Rafandra dahulu. 


Saat Ardiya sampai di ruangan kantornya, dia dikejutkan dengan seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun yang nampak cantik itu duduk termenung di sofa panjang ruangan Ardiya yang memang digunakan untuk menerima tamu. Ardiya melangkah pelan mendekati perempuan itu, tapi perempuan itu sama sekali tidak menoleh ke arah Ardiya. 


“Kenapa harus Gresha?” Tanya perempuan itu tiba-tiba. 


“Sepertinya sudah jelas kalau saya cinta sama dia, dan nggak perlu alasan lain kan?”


“Kamu cuma mau balas dendam kan sama Mama sama Rafandra?”


“Anda bukan mama saya, saya tegaskan sekali lagi!” Ketus Ardiya.

__ADS_1


“Ar mama kangen sama kamu!”


“Silahkan pergi saya sibuk!” Ketus Ardiya.


Ardiya lalu membukakan pintu ruangannya untuk Sherly, sedangkan Sherly masih terlihat diam dengan mata yang berkaca-kaca seperti enggan untuk berpindah dari hadapan Ardiya. 


“Tolong pergi dari sini sekarang juga dan jangan ganggu saya lagi!”


Dengan langkah yang berat lalu Sherly berjalan pelan menuju pintu yang sudah dibukakan oleh Ardiya, ingin rasanya saat ini Sherly memeluk laki-laki tampan yang sangat dia rindukan itu. Ingin sekali memeluk nya seperti masa kecilnya dulu. 


Dan saat Shelry sudah keluar dari ruangan itu, Ardiya langsung menutup pintu itu rapat-rapat, dia lalu berjalan menuju ke kursi kerjanya. Matanya pun kini ternyata juga berkaca-kaca tapi apalah daya, dia tidak mau diluluhkan begitu saja oleh Sherly, terlalu dalam luka yang dirasakan oleh Ardiya saat ini. 


Hari sudah semakin petang dan Gresha akhirnya sampai juga di rumah, hari ini memang dia harus terlebih dahulu mengerjakan tugas setelah pulang kuliah, sehingga dia cukup telat sampai rumah. Dan ternyata saat dia sampai dir rumah, terlihat mobil Ardiya sudah terparkir rapi di garasi. Gresha lalu berjalan dengan cepat dan menuju ke kamar Ardiya. Tapi ternyata dia tidak menemukan Ardiya disana.


“Kok nggak ada, dia dimana?” Gumam Gresha.


Gresha lalu menutup pintu kamar Ardiya dan berjalan lesu menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Dan saat dia masuk ke kamarnya , dia melihat Ardiya sudah mengenakan piyama berwarna hitam dan duduk di atas tempat tidur sambil bermain ponsel. 


“Kamu baru pulang?” Tanya Ardiya dengan senyum yang terpancar dibibirnya. 


Gresha masih diam dan bengong melihat Ardiya kini sudah berada di dalam kamarnya, ditambah lagi malam ini Ardiya terlihat sangat menawan. Gresha menelan dalam-dalam salivanya, matanya juga tak bisa lepas memandangi ujung kaki hingga ujung rambut Ardiya. 


“Kenapa bengong?” Tanya Ardiya lagi.


Melihat istrinya bengong di depan pintu, Ardiya lalu berjalan menghampiri istrinya itu. Lalu berhenti tepat dihadapan Gresha. wangi parfum Ardiya kini benar-benar menusuk hidung Gresha , bahkan wangi parfum ini sudah memenuhi seluruh kamar ini.


“Gimana uda siap malam ini?” Bisik Ardiya tepat di telinga kanan Gresha.

__ADS_1


__ADS_2