
“Ngapain malam-malam begini Rafandra kirim pesan ke Gresha? Apa mereka ternyata masih berhubungan?” Batin Ardiya.
Ardiya lalu berjalan menuju balkon dan membuka pesan tersebut karena dia sangat penasaran dan juga merasa cemburu. Saat di buka ternyata Rafandra mengirim sebuah foto kertas dengan tulisan “Jangan mengira kalau sakit hatimu sampai disini saja, dendam ini belum sepenuhnya terbalaskan” selain itu Rafandra juga mengirimkan pesan lagi.
"Gresh, kamu uda tidur? Itu barusan aku dapat terror lagi, dari tulisan itu jelas kan kalau Ardiya ada sangkut pautnya sama terror ini. Dan aku harap kamu juga memikirkan lagi keputusan kamu untuk tetap bersama Ardiya".
Membaca pesan itu sungguh membuat hati Ardiya terbakar, dia tidak menyangka kalau Rafandra masih terus menuduhnya melakukan terror itu, apalagi Rafandra mengatakan kalau Gresha diminta untuk memikirkan lagi untuk bersama Ardiya. Tanpa fikir panjang lagi Ardiya lalu menghubungi Rafandra menggunakan ponsel Gresha. dan tak lama Rafandra mengangkat panggilan itu.
“Halo Gresh, kamu belum tidur ya? Atau kamu memang belum bsisa tidur, kamu pasti lagi overthinking lagi ya, kebiasaan kamu itu belum hilang ternyata ya!” Ucap Rafandra dengan suara lembut, Rafandra terus berbicara tanpa tahu kalau dia tengah berbincang dengan Ardiya.
“Oh ya kamu uda baca pesanku barusan kan? Gimana menurut kamu? Orang itu pasti bekerjasama dengan Ardiya, karena memang sebenarnya aku sama Ardiya ada masa lalu yang belum aku ceritakan sama kamu Gresh, tapi kalau kamu ada waktu aku akan ceritakan semuanya sama kamu, biar kamu percaya kalau semua ini memang perbuatan Ardiya!” Lanjut Rafandra.
“Nggak perlu repot-repot cerita, aku sendiri yang akan cerita semuanya ke Gresha!” Jelas Ardiya dengan suara yang dalam.
Rafandra sangat terkejut mendengar suara yang dia dengar di panggilan itu.
“Sialan ternyata ini Ardiya!” Batin Rafandra kesal.
“Jauhi istri aku, jangan pernah menghubungi atau mencoba menggagunya lagi!” Ucap Ardiya.
“Aku yakin kamu sebenarnya tidak cinta sama Gresha, kamu cuma mau balas dendam aja kan, terlalu gampang buat ditebak Ar!”
“Kalau memang sekarang Gresha uda nggak cinta lagi sama kamu, kamu harus terima saja,ikhlasin Gresha buat aku!”
Ardiya lalu menutup telfonnya dan duduk di bangku balkon kamar. Ardiya terlihat memijat pelan kepalanya menggunakan kedua tangannya. Di dalam kepalanya kini memang tersimpan banyak sekali ketakutan. Apalagi jika harus mengungkapkan tentang semuanya pada Gresha.
****
Rafandra membanting ponselnya ke atas sofa ruang tamu, dia lalu mengacak-acak rambutnya dan menyobek berkali-kali kertas yang berisikan pesan terror itu. Dia sangat marah, kesal dan juga kecewa, apalagi setelah mendapatan panggilan dari Ardiya.
“Ardiya pasti mikir kalau gue masih ngejar Gresha!” Gumam Rafandra.
“Kenapa gue juga harus ngomong kayak tadi, gue kelihatan banget bego dan nggak bisa move on!”
“Tapi…tapi emang gue belum bisa lupain Gresha!” Lirih Rafandra.
“Gue harus cepat dapetin bukti kalau Ardiya memang terlibat dengan masalah terror ini!”
__ADS_1
Keesokan harinya , Rafandra dan Raka terlihat tengah makan siang di kantin kampus, mereka kali ini sepakat akan membahas tentang terror yang menimpa Rafandra. Rafandra juga menceritakan tentang terror yang baru saja tadi malam dia terima.
“Di CCTV gimana?”
“Nggak keliatan orangnya, dia pakai baju dan aksesoris buat nutupin wajahnya, sama sekali nggak keliahatan!” Jelas Rafandra.
“Sialan, terus kita mau cari tahu dari mana?”
“Kita buntuti Ardiya!”
“Ardiya ? kenapa dia?”
“Gue yakin dia terlibat!”
“Tapi kan kita sudah pernah membahas ini, mana mungkin dia. Emang nya dia kenal sama Naya? Lo jangan lupa terror ini juga bawa nama Naya!” Jelas Raka.
“Oke gue ngerti, tapi nggak menutup kemungkinan kalau orang yang dekat dengan Naya bersekongkol dengan Ardiya. Karena yang tahu tentang pernikahan Ardiya sama Gresha cuma keluarga inti mereka aja, jadi pasti Ardiya juga terlibat dengan terror ini!”
“Lo kenapa bisa yakin banget sih kalau Ardiya itu terlibat?”
“Karena…karena yang punya dendam sama gue itu Ardiya!”
Yumi saat ini tengah di depan perpustakaan, dia sedang menunggu Gresha, karena Gresha sedang mengembalikan buka yang dia pinjam ke perpustakaan. Dan tak lama Raka menghampiri Yumi yang tengah duduk sendirian sambil bermain ponsel.
“Hai Yum!” Sapa Raka.
Raka lalu duduk disamping Yumi.
“Lo sendirian?”
“Nggak, sama Gresha kok, tapi Gresha lagi di dalam!” Ucap Yumi.
Mereka berdua hari ini terlihat sangat canggung, karena pertemuan dan perkataan tak biasa tempo hari.
“Lo gue anterin pulang ya!” Pinta Raka.
“Gue pulang sendiri aja!”
__ADS_1
“Lo marah ya Yum sama gue?”
“Nggak lah ngapain juga marah Ka!”
“Yum soal omongan gue kemarin itu gue serius!”
“Gue fikirin dulu ya Ka!” Ucap Yumi jutek.
Entah kenapa Yumi merasa kurang nyaman dengan permintaan Raka itu. Dia memang nyaman dengan sosok Raka, tapi permasalahan Gresha dan Rafandra membuat Yumi kurang nyaman. Ini bagaikan buah simalakama bagi Yumi. Dan tak berapa lama Gresha keluar juga dari dalam perpustakaan, melihat Raka duduk bersama Yumi, Gresha lantas memperhatikan sekitar, melihat-lihat apakah ada Rafandra juga, karena Raka dan Rafandra itu memang selalu bersama dan tak terpisahkan. Tapi Gresha tidak melihat tanda-tanda Rafandra sedikitpun.
“Nggak ada Rafandra kok Gresh!” Celetuk Raka , karena Raka juga merasa kalau Gresha tengah melihat-lihat apakah ada Rafandra bersamanya.
“Gue kesini cuma ngobrol aja sama Yumi, dan gue nggak sama Rafandra!”
“Oh oke, kalau gitu gue duluan ya kalau kalian berdua masih ngobrol!” Ucap Gresha.
“Tunggu Gresh, gue ikut!” Ucap Yumi seraya berdiri dari duduknya.
Yumi lalu segera menarik tangan Gresha dan mengajak Gresha untuk pergi meninggalkan Raka. Greshapun merasa aneh dengan sikap Yumi dan Raka tadi, karena sangat jelas terlihat kalau merkea berdua sama-sama canggung.
“Tunggu..tunggu deh, lo sama Raka ada apa?” Tanya Gresha sambil menghentikan langkahnya.
“Nggak ada apa-apa Gresh, yuk pergi!”
“Gue kenal lo bukan baru sehari dua hari Yum, lo jujur deh lo kenapa sama Raka? Raka juga tadi keliatan aneh dan canggung gitu, kalian kayak ada sesuatu deh!”
Mereka bedua memang sudah lama kenal, dan seperti sudah bisa membaca gelagat satu sama lain. Yumi lalu menarik nafas panjang dan mengajak Gresha untuk duduk di bangku sepanjang loby kampus. Yumi pun lalu menceritakan tentang pertemuan tak disengajanya kemarin di café dan juga perbincangan antara mereka berdua, karena Yumi juga tahu dia tiak bisa menyembunyian rahasia dari Gresha.
“Kalau lo emang suka juga sama Raka kenapa nggak lo coba?” Tanya Gresha.
“Nggak mungkin Gresh, Raka itu sahabatnya Rafandra!”
“Terus kenapa? Gue nggak masalah kok, gue nggak apa-apa!”
“Nggak segampang itu Gresh!”
Follow :
__ADS_1
Ig : Rahayu_nrahma
Tiktok : Rahayunr30