
Gresha menoleh ke arah kedatangan Ardiya dengan wajah malasnya.
“Maksud kamu apa ngomong kasar seperti tadi? Dan kenapa juga handphonenya kamu matiin?”
“Bukan urusan lo!” Jawab Gresha dengan tenang.
“Kamu mulai berani kasar sama saya sekarang?”
“Bukannya lo duluan yang ngajarin kasar? Lo duluan kan yang mulai mukulin gue? Jadi sekarang kalau gue ngomong kasar sama lo kenapa, nggak salah kan? Toh ini juga yang ngajarin suami gue!”
“Kamu…” Bentak Ardiya dengan tangan kanan terangkat hendak memukul Gresha.
“Pukul aja terus gue nggak takut, gue uda kebal!” Teriak Gresha.
Mendengar kata-kata Gresha, emosi Ardiya semakin tak tertahan, tanpa rasa iba dia benar-benar menjatuhkan pukulan pada pipi kiri Gresha.
PLAK
Gresha meringis kesakitan, dia merasa pipinya sangat panas dan sakit, tapi kemudian dia melempar senyum tipis ke arah suaminya itu.
“Puas sekarang? Kalau masih belum puas nih pukul lagi sebelah sini!”
Gresha menyodorkan pipinya sebelah kanan, entah apa yang ada dalam pikiran Gresha tapi saat ini dia sangat merasa kalut. Alih-alih memukul Gresha lagi Ardiya kemudian memeluk istrinya itu. Tanpa membantah Gresha diam dalam pelukan Ardiya.
“Kenapa? Lo kasihan sama gue?” Lirih Gresha.
“Nggak usah pura-pura iba kalau lo masih kayak gini sama gue!” Lanjut Gresha.
Ardiya masih terus diam dan mengelus pelan rambut istrinya,dan sesekali mencium puncak kepala Gresha.
****
Rafandra menghampiri Raka yang sedang bermain handphone di kantin kampus, terlihat wajah Rafandra nampak lesu dan pucat, melihat kehadiran sahabatnya itu membuat Raka meletakkan handphonenya di meja dan memperhatikan Rafandra.
“Lo kenapa pucat banget Raf? Lo sakit?”
Rafandra kemudian duduk di sebelah Raka dan menghela nafas panjang.
“Lo inget dulu lo pernah bilang ke gue soal perusahaan keluarga Gresha?”
“Oh iya inget, yang gue sempet denger katanya bangkrut itu kan?”
“Iya, ternyata kabar itu bener !”
“Hah yang bener lo? Tapi kan kata lo perusahaan bokapnya Gresha aman-aman aja kan?”
“Iya gue kira gitu sampai tadi malem gue ngeliat sendiri!”
“Lo ngeliat apaan?”
“Gue ke rumah Gresha karena gue uda lama banget nggak kesana, dan ternyata rumah itu uda lama disita sama bank!”
__ADS_1
“Apa? Yang bener lo?”Teriak Raka terkejut hingga membuat mahasiswa-mahasiswa yang ada dikantin sontak menolah ke arahnya.
“Pelan-pelan bego!” Ucap Rafandra.
“Eh sorry-sorry, terus gimana?”
“Gue belum tanya ke Gresha, tapi emang lo tahu sendiri kan Gresha tiba-tiba nggak mau gue antar jemput dan selalu nglarang gue main ke rumahnya, bahkan gue mau nengokin bokapnya aja nggk boleh, apa itu karena Gresha sekarang uda pindah?”
“Bisa jadi tuh Raf, tapi akhir-akhir ini kan kita sering ngeliat dia diantar jemput sama sopir kan? Kalau uda bangkrut mana mungkin bisa pakai sopir pribadi gitu!”
“Gue juga nggak tahu, tapi gue harus cari tahu!”
“Caranya?”
****
Gresha hari ini bolos kuliah, dia merasa malu ke kampus saat pipinya masih terlihat lebam, pasti itu akan membuat banyak pertanyaan terutama oleh Rafandra, karena dia merasa dia tidak punya alasan yang tepat untuk membohongi Rafandra kali ini. Gresha masih membungkus tubuhnya dengan selimut, matanya sayu dan terus menatap ponselnya yang mati dari semalem.
“Kamu nggak ke kampus?” Tanya Ardiya sambil mengusap lembut rambut Gresha.
Gresha menggelengkan kepalanya pelan.
“Kenapa?”
“Lo masih nanya kenapa? Padahal lo sendiri yang bikin gue nggak bisa ke kampus!” Ketus Gresha.
“Aku panggilin dokter ya buat ngobatin pipi kamu!”
“Ya uda aku juga nggak akan ke kantor, aku mau nemenin kamu disini!”
“Lo kira gue seneng sama kalimat lo barusan? Ada lo disini makin bikin gue sakit!”
“Gres bisa nggak hormati aku sebagai suami kamu?”
“Suami bajingan kayak lo ngapain harus gue hormati!” Ketus Gresha sambil melirik tajam kearah Ardiya.
Ardiya meremas selimut yang membungkus tubuh Gresha dengan keras, emosinya dalam sekejap memuncak tapi dia menarik nafasnya panjang dan mencoba menenangkan dirinya agar tidak menyakiti kembali istrinya. Setelah beberapa saat terdiam menatap Gresha, Ardiya lalu berdiri dan memasukan kedua tangannya pada saku celananya.
“Aku ambilin makanan ya!” Ucap Ardiya sambil berlalu pergi.
“Tumben nggak ngamuk!” Batin Gresha.
****
“Gresha nggak berangkat, kenapa?” Tanya Rafandra kepada Yumi yang berpapasan di loby kampus.
“Gue nggak tahu juga Raf, dari semalem gue hubungi nggak bisa. Handphonenya mati deh kayaknya!”
“Yum lo tahu sesuatu kan?”
“Maksud lo?”
__ADS_1
“Semalem!”
“Soal itu, gue beneran nggak tahu Raf, gue juga kaget waktu semalem lo bilang kayak gitu!”
“Beneran? Tapi bukannya lo pernah dari rumah Gresha ya waktu pulang dari rumah gue?”
Badan Yumi mulai gemetaran, dia terus teringat janjinya dengan Gresha tapi Rafandra seolah-olah tidak memberinya celah untuk berbohong lagi.
“Yum jujur sama gue, lo uda tahu kan? Dan lo bantu Gresha buat nutupin ini semua dari gue?”
“Raf…gue…gue bisa jelasin!”
Rafandra tersenyum tipis ke arah Yumi.
“Bener berarti dugaan gue?”
“Nggak, eh maksud gue tuh Gresha cuma pindah rumah aja Raf, bisnis bokapnya masih jalan kok dan mereka pindah rumah sekarang!”
“Pindah? Terus kalau cuma pindah rumah kenapa Gresha nggak ngomong sama gue?”
“Gue nggak tahu!”
“Lo udah dong bohongin gue kayak gini Yum, Bokapnya Gresha bangkrut atau gimanapun gue tetep cinta sama dia Yum, gue nggak akan ninggalin dia kok. Kenapa lo sama Gresha harus nutupin kayak gini sih? Gini aja deh sekarang lo anterin gue ke rumah Gresha yang baru!”
“Hah ke rumah Gresha?”
“Iya, kenapa? Lo nggak mau?”
“Bukannya nggak mau tapi, tapi hari ini gue nggak bisa Raf!”
“Mau alasan apa lagi lo?”
“Gue bukannya cari-cari alesan tapi beneran gue nggak bisa, nyokap gue hari ini ulang tahun jadi gue nggak mungkin pergi-pergi gitu aja dong!”
“Oke terus lo bisanya kapan? Besok?”
“Em, nanti gue kabarin lagi!”
Belum sempat Rafandra menjawab, Yumi bergegas pergi meninggalkan Rafandra, dia benar-benar sudah kehabisan alasan untuk menutupi ini semua dari Rafandra. Sambil berjalan menuju parkiran Yumi terus berusaha menghubungi Gresha, tapi sampai sekarang Gresha benar-benar tidak bisa dihubungi.
“Lo bikin gue gila Gres!” Gumam Yumi.
****
Gresha berjalan ke arah dapur dengan badan yang sempoyongan, dia membuka kulkas dan mengambil sekotak susu rasa strawberry. Saat hendak meminum susu itu dia merasa kepalanya sangat pusing dan matanya berkunang-kunang. Dia kemudian berpegangan pada meja dapur dan mencoba mencari tempat duduk.
“Kenapa tiba-tiba kepala gue pusing banget gini?”
Belum sempat Gresha meraih kursi di dekat meja dapur, matanya semakin terasa berat dan gelap.
BRUKKK
__ADS_1