
Gresha dan Bibi membereskan baju-baju dan barang-barang Ardiya yang baru saja mereka pindahkan. Dan haripun kini semakin larut, setelah semua selesai dibereskan Gresha segera mandi dan berjalan menuju ke ruang makan sambil menunggu kepulangan suaminya. Terlihat semua makanan sudah terhidang rapi di atas meja, rasa lapar juga sudah memenuhi perutnya. Tapi dia tidak bisa langsung memakannya, karena dia ingin menunggu Ardiya pulang terlebih dahulu. Dan tak berapa lama menunggu, akhirnya Ardiya pun datang dengan wajah yang terlihat lelah tapi dia tetap menyisipkan senyum manis untuk istrinya.
Gresha lalu segera menghampiri suaminya itu dengan wajah yang gembira.
"Ayo makan dulu, aku uda lapar! " Rengek Gresha.
Ardiya tersenyum manis dan menganggukan kepalanya. Mereka berdua nampak begitu bahagia, senyum dan tawa tidak pernah luntur dari wajah mereka berdua. Setelah selesai makan, Ardiya dan Gresha lalu berdiri dari tempat duduk mereka masing-masing.
Gresha lalu segera mengaitkan lengannya dengan lengan Ardiya.
"Sekarang waktunya kamu mandi, dan aku uda pindahkan semua barang-barang kamu ke kamar atas! "
"Hah? Kamu kapan pindahin barang-barang aku? "
"Tadi sama Bibi! "
"Kenapa dipindahin? "
Gresha lalu menatap tajam bola mata Ardiya itu, dan merubah raut wajahnya ke dalam mode garang.
"Emang nya kamu masih mau tidur di kamar itu? Kamu mau kita tidur nya pisah-pisah lagi? " Tanya Gresha dengan nada agak tinggi.
Ardiya meringis dan mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.
"Maksud aku kenapa nggak nungguin aku, kan bisa aku bantuin!"
Mereka berdua lalu tertawa dengan begitu merdunya. Dan segera berjalan menaiki anak tangga tanpa melepaskan tangan yang saling bertautan.
Saat Ardiya tengah mandi, Gresha tiba-tiba teringat dengan apa yang tadi Rafandra ucapkan, yaitu tentang terror, Dan Gresha ingin memastikan sendiri, apakah yang diucapkan oleh Rafandra itu benar adanya.
Setelah Ardiya selesai mandi, Ardiya segera menghampiri Gresha yang tengah duduk di balkon kamar. Ardiya lalu duduk tepat disamping istrinya itu.
"Ada yang kamu fikirin ya? " Tanya Ardiya.
Ardiya memang merasa kalau Gresha tengah memikirkan sesuatu, karena sedari tadi dia di balkon Dan hanya melamun saja.
"Aku boleh nanya sesuatu? " Lirih Gresha sambil menatap sendu wajah Ardiya.
"Apapun boleh kamu tanyakan! "
"Tapi aku minta kamu jujur, karena aku nggak mau di hubungan kita yang baru ini masih ada kebohongan! " Lirih Gresha.
__ADS_1
"Iya pasti! "
"Tadi aku di kampus ketemu Rafandra, dan dia bilang kalau kamu ada kaitannya dengan terror yang selama ini ganggu dia. Apa itu benar? "
"Apa kamu percaya? "
"Aku... aku.... aku nggak mau percaya sama semua itu, tapi aku juga butuh kamu buat ngomong yang sejujurnya sama aku! "
Ardiya lalu mengecup mesra kening Gresha, seolah-olah mencoba menenangkan dan menjauhkan Gresha dari perasaan khawatir itu.
"Aku juga baru tahu kalau Rafandra dapat terror waktu kemarin aku ketemu dia saat ke kampus kamu, dia juga sama, dia menuduh aku yang kirim semua terror itu sama dia. Tapi aku nggak tahu sama sekali tentang terror itu, dan buat apa juga aku nerror dia! "
"Tapi kenapa dia bisa nuduh kamu? Pasti dia punya alasan kan? " Tanya Gresha dengan penasaran.
"Dia bilang orang yang kirim terror itu tahu tentang pernikahan kita, padahal pernikahan kita juga sangat sedikit yang tahu, makanya dia curiga sama aku! "
"Jadi beneran bukan kamu dan kamu nggak tahu siapa orang dibalik penerroran itu? "
Ardiya mengelus rambut Gresha yang indah, dengan senyum yang manis yang dia berikan kepada Gresha.
"Aku berkata apa adanya, aku benar-benar nggak tahu siapa yang nerror Rafandra. Dan sebenarnya aku juga penasaran, kenapa orang itu tahu tentang pernikahan kita!"
Gresha menghembuskan nafas pelan, dia merasa cukup lega, dan saat ini dia yakin kalau Ardiya memang tidak terlibat masalah penerroran ini.
"Udah kok, makasih ya! "
"Ya uda ayok tidur, uda malam jangan diluar kayak gini! "
Ardiya dan Gresha lalu segera masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk tidur. Gresha pun dengan cepat memeluk tubuh Ardiya yang baru saja membaringkan badannya di atas kasur, wajahnya langsung saja dia benamkan pada dada bidang milik suaminya itu.
...****************...
Saat sampai di kampus Gresha segera menemui Yumi yang menunggu Gresha di loby kampus. Gresha lalu menceritakan kepada Yumi tentang apa yang dia tanyakan semalam kepada Ardiya.
"Jadi Ardiya nggak tahu masalah terror itu? " Tanya Yumi.
"Nggak Yum, dan gue yakin kalau Ardiya itu jujur dan nggak bohong sama gue! "
Yumi menaikan alisnya melihat tingkah Gresha yang mencoba meyakinkan nya kalau Ardiya memang benar-benar jujur dan tidak bohong.
"Sekarang uda bucin banget nih ya sama Ardiya! " Ledek Yumi dengan tawa di bibirnya.
__ADS_1
"Biarin dong , kan suami gue juga yang gue bucinin! "
Tawa Gresha dan Yumi pun pecah hingga beberapa mahasiswa disekitar mereka terkejut dengan tawa-tawa mereka.
...****************...
Ardiya tengah disibukan dengan mengecek beberapa berkas tentang projek baru nya, dan tiba-tiba dia mendapati sebuah telfon dan saat Ardiya melihat ponselnya ternyata itu panggilan dari nomer rumahnya.
"Apa Bibi yang telfon? Tapi ada apa? " Gumam Ardiya.
lalu dengan segera Ardiya mengangkat panggilan itu.
"Halo! " Sapa Bibi.
"Ada apa Bi? "
"Pak maaf ada yang mau saya bicarakan! "
"Apa apa Bi? Apa ini penting banget sampai Bibi telfon saya dan tidak bisa dibicarakan nanti di rumah! "
"Iya pak, sebenarnya kemarin waktu saya dan Mbak Gresha beres-beres kamar Pak Ardiya, Mbak Gresha menemukan foto Pak Ardiya waktu kecil, foto bersama anak laki-laki itu Pak! "
Ardiya melongo dan terkejut mendengar ucapan dari Bibi, ini memang hal yang sangat penting, pantas saja Bibi segera mengabari masalah ini.
"Lalu Bi? "
"Bibi bilang kalau Bibi tidak tahu siapa anak laki-laki yang satunya, tapi sepertinya Mbak Gresha kurang percaya dengan ucapan saya Pak, apa Mbak Gresha sudah menanyakan masalah itu? "
"Em.. be.. belum Bi, Gresha belum tanya tentang ini tapi mungkin sebentar lagi. Ya uda Bi makasih ya! "
Ardiya lalu segera menutup panggilan itu, dan dia kembali meletakan ponselnya di atas meja meja. Ardiya lalu menyandarkan punggungnya pada kursi sambil menatap langit-langit ruangan nya.
"Pasti nggak lama lagi Gresha akan menanyakan masalah ini, dan apa yang harus aku jelaskan? "Gumam Ardiya.
Ardiya kini tengah berfikir keras tentang masalah ini hingga dia lupa tentang berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Apakah dia harus jujur dan mengatakan semuanya? Tapi itu rasanya tidak mungkin karena ini belum saat yang tepat, tapi sampai kapan Ardiya akan menutupi semua ini?
"Apa yang Gresha akan lakukan kalau tahu yang sbenarnya? " Gumam Ardiya.
Follow me :
Ig : Rahayu_nrahma
__ADS_1
Tiktok : Rahayunr30