Antara Suami Dan Kekasih

Antara Suami Dan Kekasih
Eps 7 (Pilihan)


__ADS_3

Beberapa hari ini Greesha selalu diantar jemput Ardiya untuk ke kampus, dan setiap harinya ia selalu berbohong kepada Rafandra. Hari inipun begitu, Rafandra mengajak Greesha untuk nonton setelah pulang kuliah, tapi lagi-lagi Greesha menolak.


"Kamu akhir-akhir ini kenapa selalu nolak ajakan aku sih? " tanya Rafandra sedikit kesal.


"Aku lagi capek aja tadi kuliah banyak tugas, " jawab Alena sambil memainkan jari-jari tangannya.


Rafandra mengehela nafas panjang, rasanya dia tak percaya dengan alasan Greesha tapi dia tidak mau berifikiran negatif kepada kekasihnya itu.


Di perjalanan pulang bersama Ardiya, Greesha berniat untuk membicarakan masalah mereka.


"saya mau ngomong sama anda! " celetuk Greesha memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Mau sambil makan atau ngopi? " tawar Ardiya.


"Tidak perlu!"


"Baik, ada apa? "


"Masalah keluarga anda yang menawarkan bantuan kepada keluarga saya, apa bisa saya meminta syarat lain?"


"Contohnya? "


"Em.... mungkin saya bisa bekerja di perusahaan anda dalam waktu 1 atau 2 tahun tanpa digaji? atau saya perlu menjadi asisten pribadi anda tanpa digaji? atau saya harus mencuci atau memasak untuk anda? " ucap Alena sambil memohon kepada Ardiya.


"Menarik sih, " sahut Ardiya.


Mendengar ucapan itu Greesha terkejut dan merasa ia masih punya nafas.


"Benar sekali kan sangat menarik tawaran saya, " ucap Greesha dengan senyum yang lebar.


"Oke, syaratnya kamu harus selalu menemani saya, memasak buat saya, menyiapkan baju buat saya, mendampingi saya.... " Ardiya menggantungkan kalimat nya, ia melirik ke arah Greesha dan pelan-pelan mulai melanjutkan perkataan nya.


"seumur hidup saya! " ucap Ardiya dengan tegas.


"Seumur hidup menjadi asisten anda?" tanya Greesha memastikan.


"Bukan! "


"Lalu? "


"Menjadi istri saya! " tegas Ardiya.

__ADS_1


Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ardiya membuat Greesha sangat geram dan rasanya ia ingin sekali menghujat orang itu. Dia mengepalkan tangannya dengar erat, rasanya ingin sekali ia memukul wajah lelaki itu.


"Kurang ajar! " batin Greesha.


"Bagaimana kamu sudah menentukan tanggal pernikahan kita? " tanya Ardiya dengan senyum tipis dibibirnya.


"Saya tidak mau menikah dengan anda! " ucap Greesha dengan tegas.


Greesha merasa sangat kesal kenapa sangat susah membujuk lelaki itu , dia padahal sudah berusaha untuk mendekati tapi tetap saja tidak ada rasa iba.


Sesaat sebelum sampai rumah, handphone Greesha berdering dan saat ia liat itu panggilan telfon dari mamahnya. Greesha segera mengangkat panggilan itu.


"Halo mah, " sapa Greesha.


"Greesha papah kamu..... " isakan tangis itu terdengar begitu jelas di ujung telfon.


"Papah kenapa Mah?"


"Papah kecelakaan Greesha, kamu buruan kesini! " tangis itu semakin jelas.


"Dimana Mah? " tanya Greesha panik.


Saat mamahnya menyebutkan alamat rumah sakit dimana Papah Alena dirawat karena kecelakaan, disitu pikiran Alena mulai kacau air matanya tak terasa sudah membasahi pipinya.


"Papahku kecelakaan! " ucap Greesha dengan lirih.


Ardiya tanpa pikir panjang langsung menginjak gas dan bergegas menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Alena langsung menghampiri mamahnya yang duduk menangis di sebuah bangku depan ruang UGD.


"Mamah, " panggil Alena dengan lirih.


Alena lekas memeluk tubuh mamahnya yang dingin dan tak berdaya itu.


"Gimana keadaan Papah mah? " tanya Greesha.


"Papah masih ditanganin sama dokter Alena, " jawannya dengan tangis yang tak berhenti.


Beberapa saat setelah menunggu, salah seorang dokter Keluar dari ruang UGD. Dokter laki-laki itu mencari keluarga Pak Bimo.


"Saya anaknya pak, gimana Papah saya?"

__ADS_1


"Pak Bimo harus segera menjalankan operasi karena ada pendarahan di otak akibat benturan yang cukup keras, saya minta persetujuan dari keluarga dan dari keluarga supaya bisa segera mengurus administrasinya! "


"Lakukan yang terbaik untuk Papah saya dok! " pinta Greesha dengan suara yang hampir tertutupi dengan isak tangis.


Greesha dan Mamahnya segera berlari ke bagian administrasi untuk menanyakan biaya operasi Papahnya.


"127.000.000 bu untuk operasi dan beberapa obatnya, tapi itu belum termasuk biaya rawat inap dan pemulihan pasca operasi nya. Tapi untuk saat ini cukup melakukan pembayaran yang 127.000.000 dulu! " ucap seorang petugas administrasi.


Greesha dan mamahnya seketika lemas mendengar kisaran biaya untuk operasi. Dari mana mereka harus mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Pikiran mereka semakin kalut dan kacau.


"Mah apa yang bisa kita jual? " tanya Greesha lirih.


"Kita sudah tidak punya barang berharga apa-apa lagi untuk dijual Greesha! "


Tiba-tiba Greesha teringat sesuatu, dia segera berlari meninggalkan mamahnya seorang diri duduk di depan ruang administrasi. Greesha pergi menghampiri laki-laki yang sedang duduk di depan ruang UGD.


"Tolong bantu saya! " pinta Greesha pada Ardiya.


"Apa yang bisa saya bantu? "


"Biaya operasi Papah 127 juta! "


"Saya harus membayarnya? " tanya Ardiya yang seolah bisa membaca pikiran Greesha.


Greesha mengangguk pelan, dia duduk dilantai bersimpuh di depan laki-laki yang dia benci itu.


"Baik saya akan bantu bahkan sampai Pak Bimo benar-benar sembuh, tapi apa yang bisa saya dapat? kapan kamu akan membayar hutang ini?"


ucap Ardiya sambil mengangkat dagu Greesha yang sedari tadi menunduk.


"Saya mau menjadi istri anda, apa itu cukup? " ucap Greesha dengan bibir yang gemetar.


Ardiya tersenyum tipis, mengangkat badan Greesha agar berdiri.


"Mari ke ruang administrasi! " ucap Ardiya dengan tegas.


Mereka hendak ke ruang administrasi dan membayar semua biaya. Mamah Greesha nampak bingung kenapa tiba-tiba Ardiya datang dan membayar semuanya. Tapi ditengah kebingungan itu dia juga bersyukur karena akhirnya suaminya bisa segera bisa operasi.


Entah bagaimana bisa Greesha membuat keputusan besar ini tanpa pertimbangan dari mamahnya, tapi ia merasa hanya ini lah yang mampu menyelamatkan papahnya. Dia juga tidak ada cara lain untuk mendapatkan uang dengan cepat selain cara ini.


Kini pikirannya semakin kalut selain memikirkan Papahnya yang sedang berjuang untuk bertahan hidup dia juga harus berjuang untuk mengiklhaskan dirinya untuk menikah dengan seorang laki-laki yang bahkan ia tidak mengenalnya dengan baik dan tidak tahu laki-laki macam apa yang akan menjadi suaminya itu. Terlebih lagi ia harus meninggalkan laki-laki yang sangat ia cintai yaitu Rafandra.

__ADS_1


Detik demi detik berlalu hingga sudah hampir 6 jam Papahnya dioperasi dan belum juga selesai. Terlihat Greesha dan mamahnya tertidur di bangku depan ruang operasi, mereka sangat lelah, lelah dengan fisik dan pikiran yang begitu kalut. Hanya Ardiya yang terjaga , dia melipatkan kedua tanganya didada. Nampak khawatir dan cemas diraut wajahnya. Sesekali ia memperhatikan wajah gadis yang akan ia nikahi dan tersenyum tipis. Mungkin di hatinya terbesit perasaan bahagia karena Greesha sudah mau menikah dengan nya.


Pintu ruang operasi mulai terbuka, Ardiya membangunkan Greesha dan mereka bergegas menghampiri dokter yang keluar dari ruangan operasi itu.


__ADS_2