Antara Suami Dan Kekasih

Antara Suami Dan Kekasih
Bab 42 (Penyelidikan)


__ADS_3

Gresha diam mematung menatap langkah Ardiya yang semakin menjauh darinya, dia terpaku dengan kalimat terakhir yang Ardiya ucapkan yaitu "kehilangan untuk kedua kalinya". Gresha tak tahu siapa saja yang telah pergi meninggalkan suaminya itu sehingga Ardiya terlihat begitu sedih dan terluka.


" Kedua kalinya? " Gumam Gresha sambil terus menatap punggung Ardiya yang semakin menjauh.


Gresha kemudian kembali duduk di bangku taman belakang dan tak lama kemudian bibi datang membawakan segelas jus mangga kesukaan Gresha.


"Mbak ini bibi bawakan jus mangga kesukaan Mbak Gresha! " Ucap Bibi sambil meletakan jus mangga itu di meja kecil sebelah bangku Gresha.


"Lhoh bi saya nggak minta dibikinin jus! " Ucap Gresha kebingungan.


"Iya Mbak Gresha memang nggak minta, cuma saya saja yang mau bikinin buat Mbak Gresha. Saya kasihan sama Mbak Gresha, berhari-hari di Rumah Sakit sendirian nggak ada yang ngerawat, dan di rumah pun Pak Ardiya juga bersikap dingin dan terus marah sama Mbak Gresha! " Cerita Bibi.


"Bibi duduk sini temenin aku ngobrol ya! " Ajak Gresha.


Bibi kemudian duduk di bangku sebelah Gresha lalu menatap Gresha dengan tatapan haru.


"Mbak Gresha yang kuat ya, semua kejadian ini pasti ada hikmahnya! " Nasehat Bibi.


"Bukan aku bi yang bunuh janin itu! " Ucap Gresha sambil menatap Bibi sendu.


"Aku memang punya rencana untuk menggugurkan kandungan itu, tapi aku belum sempat minum obat itu. Hari itu waktu aku masih di kampus aku sempat jatuh dan aku uda ngerasa sakit bi di perutku dan di tambah lagi pertengkaranku sama Ardiya. Jadi ini semua murni kecelakaan, bukan aku yang sengaja bunuh janin itu bukan bi! " Seru Gresha.


"Bibi percaya sama Mbak Gresha! " Ucap Bibi menahan haru.


"Tapi nggak sama yang lain bi, semua bilang kalau aku lah yang sengaja ngebunuh. Bahkan Mama sama Papa aku aja nggak percaya sama aku sekarang! " Ucap Gresha sambil menunduk lesu.


"Oh ya bi aku mau tanya , Bibi uda lama kerja sama keluarganya Ardiya? " Lanjut Gresha.


"Dulu sebenarnya Bibi bekerja di rumah Mama nya Pak Ardiya, tapi setelah Mamanya Pak Ardiya pindah ke luar negeri Saya bekerja untuk Pak Ardiya dan Papanya! "


"Mama sama Papa Ardiya cerai bi? "


"Iya Mbak dari Pak Ardiya berumur sekitar 5 tahun! " Ucap Bibi sambil mengingat kenangan masa lalu.


"Lalu Bibi apa tahu Ardiya dulu punya pacar atau siapapun yang dekat dengan dia terus pergi ninggalin Ardiya? " Tanya Gresha.


"Pergi? " Tanya Bibi memperjelas.


"Iya bi pergi, aku nggak tahu juga apa maksudnya tapi tadi Ardiya bilang kalau dia udah kehilangan untuk kedua kalinya bi, jadi aku pengen tahu siapa lagi yang satu? "


"Sebenarnya Pak Ardiya pernah...pernah punya...! " Ucap Bibi terbata-bata.


"Bibi... !" Panggil sopir Gresha dari balik pintu taman belakang yang seketika memotong kalimat yang belum selesai bibi ucapkan.

__ADS_1


"Ada apa? " Tanya Bibi memalingkan wajahnya ke arah Pak Dede sopir Gresha.


"Ada tamu! " Jawab Pak Dede.


"Mbak Gresha saya kedepan dulu ya lihat tamunya! " Pamit Bibi lalu meninggalkan Gresha yang semakin penasaran dengan masa lalu Ardiya.


Bibi kemudian berjalan cepat menuju teras rumah untuk melihat tamu yang Pak Dede katakan. Saat sampai di teras rumah Bibi melihat dua orang anak muda berdiri dengan senyum dibibir mereka masing-masing.


"Kalian bukannya teman kuliah Mbak Gresha? " Tanya Bibi.


"Iya bi kami temannya Gresha, kami mau ketemu Gresha bisa? " Tanya Rafandra sopan.


"Kalian tunggu disini dulu ya! " Ucap Bibi lalu kembali masuk ke dalam rumah.


Bibi hendak memberitahukan kedatangan Rafandra dan Raka itu pada Ardiya terlebih dahulu. Tapi sebelum Bibi menaiki anak tangga untuk menuju ke ruang kerja Ardiya, ternyata Ardiya sudah lebih dulu turun ke bawah.


"Pak Ardiya maaf didepan ada tamu! " Ucap Bibi.


"Siapa? "


"Teman kuliah Mbak Gresha, cowok 2 orang! "


"Biar saya ketemu mereka! " Tegas Ardiya.


"Tunggu! " Panggil Gresha pada Ardiya.


Ardiya kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Gresha yang berjalan tertatih sambil memegang perutnya yang masih sedikit nyeri.


"Ada apa lagi? " Ketus Ardiya.


"Biarin aku aja yang ketemu mereka, aku mohon jangan sekarang, jangan bongkar semua ini sekarang! " Pinta Gresha.


"Mau sampai kapan? Aku sudah nggak tahan dengan semua rahasia ini. Lebih baik mereka tahu sekarang juga! " Ketus Ardiya.


"Jangan aku mohon, aku mohon kali ini biarin aku ketemu mereka! " Pinta Gresha dengan wajah penuh harap.


"Oke aku kasih kamu kesempatan lagi! " Ucap Ardiya lalu berlalu pergi.


Gresha kemudian berjalan pelan menuju teras rumah untuk menemui Raka dan Rafandra kekasihnya.


"Hai...! " Sapa Gresha dengan senyum dibibirnya.


"Gresha kamu baik-baik aja kan? Kenapa kamu nggak ada kabar beberapa hari ini? " Tanya Rafandra gelisah.

__ADS_1


"Aku baik kok, ayo masuk! " Ajak Gresha.


Mereka bertiga lalu masuk dan duduk di ruang tamu. Tiba-tiba tanpa aba-aba Rafandra memeluk erat tubuh Gresha, dia memang sangat rindu dengan kekasihnya itu. Tapi pelukan Rafandra itu ternyata membuat perut Gresha kembali terasa sedikit sakit.


"Aw... " Ucap Gresha sambil reflek memegang perutnya.


"Perut kamu kenapa ? " Tanya Rafandra Panik.


"Em.. nggak kok nggak kenapa-napa!"


"Beneran? "


"Iya! "


"Loe dirumah sama siapa Gres? " Tanya Raka tiba-tiba.


"Hah? Gue... gue sendiri nih, bokap sama nyokap lagi ada urusan di luar! "


"Gresh gue boleh numpang ke toilet nggak? " Tanya Raka.


"Toilet? Boleh, lo jalan ke arah sana nanti lo belok kiri terus ada toilet deket situ! " Ucap Gresha sambil menunjukan arah pada Raka.


Raka kemudian pergi mengikuti arahan yang ditunjukan oleh Gresha. Sedangkan Gresha dan Rafandra melanjutkan obrolan mereka.


Sebenarnya pergi ke toilet hanyalah alasan saja bagi Raka, itu memang sebuah cara yang Raka dan Rafandra susun untuk mencari tahu lebih banyak tentang apa yang sebenarnya Gresha selama ini sembunyikan.


Raka terus memperhatikan ke sudut rumah yang dia lewati, berharap ada suatu petunjuk yang bisa dia dapatkan.


Saat hendak sampai ke toilet Raka berpapasan dengan Bibi yang membawa segelas minuman yang diletakan di atas nampan.


"Masnya mau kemana? " Tanya Bibi.


"Mau ke toilet bi!" Ucap Raka.


"Oh pintu depan itu mas toiletnya! " Ucap Bibi.


"Iya bi makasih ya! "


Bibi kemudian melanjutkan langkahnya, entah kenapa tapi Raka merasa aneh dengan minuman yang bibi bawa. Jika minuman itu untuk Raka dan Rafandra tapi kenapa cuma satu? Fikir Raka.


Sebelum melangkahkan kaki menuju toilet Raka diam-diam memperhatikan Bibi yang ternyata berjalan menaiki tangga sambil membawa minuman.


"Kenapa minumannya di bawa ke lantai atas? Buat siapa? Bukannya Gresha di rumah sendirian? " Batin Raka.

__ADS_1


__ADS_2