
Rafandra pergi ke rumah Gresha karena malam ini fikirannya benar-benar kalut dan dia butuh seseorang yang bisa menenangkan, dan orang itu tak lain adalah Gresha,kekasih yang amat Rafandra sayangi. Rafandra kali ini tidak memberitahu kedatangannya, karena sebenarnya hari juga sudah mulai larut. Rafandra memarkirkan mobilnya di depan gerbang lalu mengetuk gerbang itu cukup keras. Tak lama ada seorang satpam datang dan membuka pintu gerbang rumah Gresha. Sebenarnya satpam itu nampak kebingungan untuk apa Rafandra datang malam-malam begini.
“Cari siapa?” Tanya satpam rumah Gresha itu.
“Gresha!”
“Sudah ada janjian sama Mbak Gresha?”
“Belum, tapi saya mau ketemu, bilang saja pacarnya datang, pasti dia mau ketemu!”
“Pacar?” Tanya Satpam itu terkejut.
“Kenapa kaget gitu?”
“Kamu nggak usah ngaku-ngaku jadi pacarnya Mbak Gresha ya, dasar bocah kurang ajar,emangnya kamu nggak tahu Mbak Gresha itu siapa?” Maki Satpam rumah Gresha yang bernama Pak Basuki itu.
Mendengar ribut-ribut di depan gerbang, Pak Dede yang dari tadi di pos satpam lalu menghampiri Pak Basuki dan Rafandra. Pak Dede yang sudah sering bertemu dengan Rafandra pun tahu kalau itu adalah pacar dari Gresha.
“Mas Rafandra ya?” Tanya pak Dede, sopir Gresha.
“Iya pak, anda sopirnya Gresha kan? Saya mau ketemu Gresha tapi bapak ini ngalangin saya, malah bilang kalau saya ini bocah kurang ajar!” Jelas Rafandra kesal.
“Saya coba panggilkan dulu ya Mas, Mas Rafandra tunggu sini!” Ucap Pak Dede yang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Pak dede kemudian mencari Bibi dan mengatakan apa yang terjadi kepada Bibi, Bibi lalu ke kamar yang ditempati Ardiya dan mengetuk pelan pintu kamar Ardiya. Tak berselang lama Ardiya membuka pintu kamarnya, dia sepertinya sudah hendak tidur karena terlihat sudah menggunakan piyama berwarna navy.
“Ada apa Bi?”
“Pak, di depan ada Mas Rafandra nyariin Mbak Gresha!”
“Malam-malam begini? Ini sudah hampir jam 11 malam Bi, ngapain dia nyariin Gresha jam segini?”
“Saya nggak tahu Pak, saya juga tadi dikasih tahu sama Pak Dede!”
“Ya sudah Bi, kasih tahu saja Gresha , siapa tahu dia belum tidur!” Ucap Ardiya yang lalu menutup kembali pintu kamarnya.
Bibi sepertinya sedikit bingung dengan sikap Ardiya, karena tak seperti biasanya Ardiya bersikap santai seperti itu saat Rafandra datang menemui Gresha apalagi ini sudah hampir tengah malam.
Bibi lalu menuju ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Gresha dan ternyata Gresha juga belum tidur, tapi dari matanya terlihat sudah sangat mengantuk. Bibi lalu menceritakan ke Gresha kalau ada Rafandra di depan, Gresha pun terkejut karena dia juga tidak tahu untuk apa Rafandra datang malam-malam begini.
“Ardiya gimana Bi?”
__ADS_1
“Kata Pak Ardiya saya diminta kasih tahu Mbak Gresha!”
“Gitu aja? Dia nggak marah?”
“Ngga Mbak!”
“Kenapa dia nggak marah?”
“Bibi juga bingung mbak, tumben Pak Ardiya kayak gini!”
Gresha lalu merapikan rambut dan rambutnya lalu mengikuti Bibi turun ke bawah, Bibi lalu pergi ke dapur sedangkan Gresha berjalan ke depan rumah dan menemui Rafandra. Mereka berdua lalu duduk di ruang tamu dengan suguhan dua gelas jus jeruk. Rafandra dengan tiba-tiba memeluk tubuh Gresha dengan erat, dia merebahkan kepalanya dia atas pundak Gresha.
“Kenapa?” Tanya Gresha lirih.
“Aku pusing Gres, aku bingung!”
“Ada masalah apa?”
“Semua tentang terror yang aku terima dan ditambah lagi masalah tentang Naya dan Mama!”
PYARRRRRRR
“Siapa itu Gres? Ada orang disana? Tadi bukannya Bibi ke arah dapur ya?”
“Em…paling kucing nyenggol apa gitu!”
“Kucing? Kita lihat ya dari pada nyenggol barang-barang kamu yang lain!” Ajak Rafandra.
“Nggak usah biarin aja, nanti biar Bibi aja yang lihat. Kamu lanjutin aja cerita kamu!” Ucap Gresha sedikit gugup, karena sebenarnya Gresha tahu kalau disana ada Ardiya. Tapi yang Gresha bingung kenapa Ardiya menjatuhkan gelas disana?
Rafandra lalu mulai menceritakan terror dan keanehan yang ada pada Sherly, Rafandra juga merasa kebingungan bagaimana lagi caranya supaya dia bisa membongkar semua terror yang selama ini dia terima.
Hari sudah semakin larut dan saat ini sudah pukul 1 dini hari, Rafandra lalu berpamitan untuk pulang, sebelum pulang tak lupa Rafandra mendaratkan pelukan dan ciuman hangat di kening Gresha. Setelah itu Rafandra terlihat mendekatkan bibirnya ke bibir Gresha, lalu tiba-tiba PYARRRR…..
Suara pecahan gelas itu kembali terdengar dan niat Rafandra untuk mencium bibir manis Gresha pun gagal.
“Kucingnya masih di situ Gresh?” Tanya Rafandra dengan wajah sedikit kesal.
“I…iya, ya uda kamu pulang sana nanti mama kamu nyariin!”
Rafandra lalu beranjak pergi meninggalkan rumah Gresha, sedangkan Gresha menghampiri sumber suara pecahan gelas yang sudah dua kali terdengar. Dan di ruangan itu Gresha melihat Ardiya sedang duduk di lantai bersandarkan tembok, mata Ardiya juga terlihat sembab seperti habis menangis. Gresha lalu menghampiri Ardiya dan duduk disebelah Ardiya.
__ADS_1
“Kamu kenapa?”
“Maaf kalau aku tadi aku ganggu kamu sama pacar kamu, cuma aku nggak suka aja kamu ciuman di rumah aku, meskipun kalian berdua memang pacarana!” Celetuk Ardiya datar.
“Lalu yang pertama tadi kenapa? “
“Buka napa-apa!”
Ardiya lalu berdiri dan berjalan sempoyongan ke arah kamarnya, Gresha benar-benar merasa aneh dengan Ardiya, Gresha yakin betul kalau Ardiya habis menangis dan sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu dari Gresha. Karena rasa penasarannya Gresha mencoba mengejar Ardiya tapi tangannya tak sengaja mengenai pecahan gelas yang ada di dekatnya.
“Aw…!” Teriak Gresha.
Mendengar teriakan Gresha, membuat Ardiya berpaling dan menghampiri Gresha kembali. Ardiya sama terkejutnya melihat darah yang mengalir dari tangan Gresha karena pecahan gelas itu. Ardiya lalu menuntun Gresha menuju ke kamarnya dan segera mengambil kotak P3K. Dengan sangat teliti Ardiya mengobati luka Gresha itu, sedangkan Gresha terus meringis menahan rasa sakitnya.
“Tahan sebentar lagi!” Ucap Ardiya sambil terus mengobati luka Gresha.
“Kamu kenapa ngebiarin aku ketemu Rafandra malam-malam begini?”
“Kan dia pacar kamu, jadi terserah aja mau ketemu kapan saja!”
“Tapi kan kamu suami aku, kamu kan juga bisa ngelarang aku!”
“Aku nggak yakin kalau kamu nganggap aku suami kamu apa bukan,jadi aku nggak bisa ngelarang kamu buat ketemu sama pacar kamu itu!”
Ardiya telah selesai mengobati luka Gresha, lalu dia berdiri dari duduknya dan hendak pergi, tapi dengan sigap Gresha memegang lengan Ardiya dan menahannya.
“Mau kemana?”
“Balik ke kamarku!”
“Ini kan juga kamar kamu!” Ucap Gresha.
“Ini kamar kamu bukan kamar aku!”
“Ini kamar kita!” Ucap Gresha.
❤Follow me
IG : @rahayu_nrahma
Tiktok : @rahayunr30
__ADS_1