Antara Suami Dan Kekasih

Antara Suami Dan Kekasih
Bab 120 (Rumah Mewah)


__ADS_3

Saat sampai di dalam kelas, Yumi dan Gresha segera duduk di bangku mereka masing-masing. Lalu dengan segera Gresha menghubungi Ardiya. Sedangkan Yumi hanya duduk diam termenung dan menopang dagunya dengan kedua tangannya.


“Halo Ar, kamu dimana?” Terdengar suara Gresha tengah berbincang dengan suaminya melalui ponsel.


“Lagi dijalan mau ke kantor, kenapa?” Jawab Ardiya.


“Kata teman aku katanya kamu berantem sama Rafandra? Beneran?” Tanya Gresha panik.


“Nggak kok cuma ngobrol aja, nggak ada yang berantem!” Jawab Ardiya dengan santai.


Gresha lalu meletakan ponselnya dan memalingkan wajahnya ke Yumi.


“Yum gue uda telfon Ardiya katanya nggak berantem cuma ngobrol biasa aja!” Kata Gresha pada Yumi.


“Hemm!” Jawab Yumi.


Mendengar jawaban Yumi yang singkat itu sontak saja membuat Gresha merasa aneh dengan sikap Yumi, apalagi dia tiba-tiba terlihat merenung dan melamun.


“Yum lo kenapa?” Bisik Gresha.


“Yum lo kenapa sih!” Rengek Gresha sambil menggoyang-goyangkan bahu Yumi.


“Aduh gresh, kenapa sih?” Tanya Yumi.


“Lo itu yang kenapa? Tiba-tiba ngajak buru-buru ke kelas, sampai kelas lo malah diam, ngelamun gini. Lo kenapa sih ada masalah?” Cecar Gresha.


“Entar aja pas di kantin gue ceritain!”


****


Raka menghampiri Rafandra yang tengah duduk di depan ruang perpustakaan, terlihat Rafandra hanya diam dan melamun saja. Raka lalu duduk disebelah Rafandra.


“Ka ayo masuk ke kelas!” Ajak Raka.


“Lo aja gue mau bolos aja hari ini!” Ketus Rafandra.


“Kenapa? Lo mau kemana?”

__ADS_1


“Gue mau ketemu bokapnya Ardiya, gue mau bikin perhitungan sama dia!” Ketus Rafandra.


“Hah? Lo serius? Lo terlalu gegabah Raf kalau kayak gitu!” Nasehat Raka.


“Kenapa? Lo uda nggak mau bantuin gue? Lo uda ngggak mau di pihak gue lagi sekarang?” Ketus Rafandra dengan  ujung bibir yang terangkat. 


Rafandra lalu berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Raka, karena merasa tidak enak dengan Rafandra lalu Raka segera mengejar Rafandra, dan terpakasa hari ini dia juga harus bolos kuliah.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Pak Dio Rafandra hanya diam, sepertinya dia masih teringat dengan ucapan Raka kemarin pada Yumi. Kalimat itu memang menyakitkan bagi Rafandra, hingga belum bisa dia lupain sampai sekarang.


“Lo punya rencana apa kalau uda ketemu bokapnya Ardiya?”


“Liat aja entar!” Ketus Rafandra.


Raka pun juga ikut merasa aneh dengan sikap Rafandra hari ini yang sangat berbeda dengan hari-hari biasanya. Tapi Raka mencoba untuk tidak berfikiran buruk pada sahabatnya itu. Sesampainya di rumah Pak Dio yang sangat megah dan mewah itu. Rafandra mengatakan pada satpam rumah itu untuk bertemu dengan Pak Dio. Tak berapa lama Satpam itu segera masuk ke dalam rumah, dan setelah beberapa menit menunggu , akhirnya satpam yang terlihat garang itu keluar dan mengatakan kalau Rafandra dan Raka bisa bertemu dengan Pak Dio. 


“Kenapa gampang banget gue diizinin masuk!” Batin Rafandra.


Raka dan Rafandra lalu masuk ke dalam rumah mewah dan menawan itu, ini adalah kali pertamanya bagi Rafandra menginjakan kakinya di rumah Papa tirinya itu.


“Halo Raf apa kabar?” Sapa Pak Dio yang berjalan menghampiri Rafandra.


“Ayo silahkan duduk!” Lanjut Pak Dio sambil mengarahkna tangannya pada sebuah sofa indah berwarna abu-abu yang ada di ruang tamu itu. 


Rafandra dan Raka lalu duduk bersebrangan dengan Pak Dio, senyum Pak Dio mengembang dan tak menciut sedikitpun saat berhadapan dengan Rafandra. Seperti ada kerinduan yang memancar dari sorot mata orang tua itu. Sedangkan hanya sorot mata kekecewaan dan kemarahan yang terpancar dari Rafandra. 


“Hentikan terror murahan itu!” Ketus Rafandra.


“Terror? Saya sudah mengatakan pada Sherly kalau saya bukan peneror itu, apa Sherly tidak memberitahumu?”


“Hah Mama? Anda habis ketemu mama? Ngapain anda nemuin mama saya?” Bentak Rafandra.


“Tanya saja pada mama kamu, kenapa dia datang kesini dan nemuin saya!’” Jawab Pak Dio dengan senyum yang tak sedikitpun luntur dari bibirnya.


“Kenapa Mama nemuin orang ini!” Batin Rafandra.


“Raf, sudahlah jangan seperti ini, kita bisa memperbaiki hubungan keluarga kita, kamu itu tetap anak saya!”

__ADS_1


“Anak? Nggak ! kamu bukan Papa saya lagi, anda dan anak kesayangan anda itu sudah menghancurkan hidup saya, dia telah merebut kekasih saya, dan anda minta untuk saya memperbaiki hubungan keluarga kita? Mustahil, itu nggak akan pernah. Keluarga anda itu penghancur!” Bentak Rafandra.


Melihat Rafandra membentak dan terus memaki Pak Dio, membuat Raka semakin kebingungan, sungguh tiba-tiba dia merasa iba melihat laki-laki paruh baya itu dibenak dan di maki oleh Rafandra. Walaupun Raka tahu sudah banyak yang diperbuat oleh Pak Dio hingga membuat Rafandra murka seperti ini, tapi tetap saja Raka merasa sangat iba. Raka mencoba memegang bahu Rafandra dan menenangkan sahabatnya itu.


“Raf uda kita ngomong baik-baik saja , jangan kayak gini, beliau itu orang tua kita nggak boleh Kasar kayak gini!” Nasehat Raka.


“Udahlah lo diam aja Ka, lo tahu apa sih!” Bentak Rafandra pada Raka.


“Apa dengan saya kasih tahu makam Naya kamu mau ikut memperbaiki hubungan keluarga kita?” Tawar Pak Dio dengan senyum yang terus mengembang.


**** 


Setelah selesai makan, Gresha kini siap mendengarkan cerita yang akan Yumi sampaikan. terlihat wajah Yumi masih saja sendu dari pagi, terlihat kalau ada sebuah beban yang tengah dia pikul. Dan sebagai seorang sahabat apa bisa Gresha membiarkan sahabatnya seperti itu? Tentu tidak dong.


“Gimana lo uda siap cerita?” Tanya Gresha dengan santun.


“Iya Gresh, sebenarnya gue dari tadi kepikiran tentang Raka!”


Yumi lalu menceritakan semuanya kepada Gresha, menceritakan tentang bagaimana Raka mengatakan kalau dia ingin menjalin hubungan dengan Yumi. Dan menceritakan pula alasan Yumi menolak metah-mentah hubungan itu. Yumi juga mengatakan kepada Gresha tentang tawaran Raka, kalau Raka akan meninggalkan Rafandra andai saja Yumi mau menjadi pacar Raka. Mendengar cerita Yumi, akhirnya Gresha juga ikut menceritkana tentang kejadian dimana Raka tiba-tiba datang menemuinya sore itu. 


“Gue bingung harus gimana lagi buat nolak Raka, dan tadi pagi kenapa gue ngajak lo buru-buru ke kelas, karena gue lihat Raka mau nyamperin kita. Gue nggak mau ketemu dia, gue nggak mau debatin masalah yang itu-itu aja sama dia, karena sampai kapanpun kalau keadaan nya masih seperti ini gue sama Raka nggak akan bisa bersatu!” Jelas Yumi dengan mata yang mencoba menahan air matanya berjatuhan.


“Kalau keadaannya nggak kayak gini lo mau nerima cinta Raka?” Lirih Gresha.


“maksud lo apaan?”


“Maksud gue kalau misal gue dan Rafandra baik-baik saja , damai dan bisa nerima keadaan ini apa lo mau terima Raka? Apa lo mau bilang sama Raka kalau lo juga cinta sama Raka?”


“Cinta?”


Follow me:


Ig : Rahayu-nrahma


Tiktok : rahayunr30


Sv : Rahayunr(WS)

__ADS_1


 


__ADS_2