
“Tapi aku nggak, aku cintanya sama Rafandra bukan sama kamu, kamu harus tahu betapa indahnya membangun kehidupan dengan orang yang saling mencintai, bukan seperti ini hidup dengan orang yang sama sekali tidak punya perasaan sama kamu. Selamanya kamu nggak akan pernah merasakan kebahagiaan!”
Ardiya menarik nafas panjang sambil menatap sendu kedua bola mata Gresha, wajah jutek Gresha kali ini tak membuat Ardiya terpancing emosi.
“Kalau kamu tahu tanpa cinta nggak akan merasakan kebahagiaan, terus kenapa kamu nggak mau cinta sama aku?” Tanya Ardiya lirih.
“Karena aku cintanya sama Rafandra!”
“Apa lebihnya Rafandra dari pada aku?”
“Rafandra itu sempurna buat aku, kamu nggak akan bisa jauh lebih baik dari dia!” Ketus Gresha.
Gresha kemudian pergi meninggalkan Ardiya sendiri di ruang tamu, dada Ardiya terasa begitu sesak, air matanya serasa ingin menetes deras. Sekuat tenaga Ardiya menguatkan hati dan perasaannya agar tetap kuat menghadapi istrinya itu. Sedangkan Gresha segera masuk ke dalam kamar dan mengunci kamarnya rapat, nafasnya terengah-engah, dadanya juga terasa begitu sesak dan tanpa dia sadari air matanya juga menetes. Gresha lalu mengusap pelan air matanya yang sudah membasahi pipinya.
“Kenapa aku nangis? Kenapa rasanya dadaku sakit?Kenapa aku ngerasa nyesel gini abis ngomong kayak tadi sama Ardiya!” Gumam Gresha.
Gresha lalu duduk di ujung tempat tidur dan terus memegang dadanya menggunakan tangan kanannya, dia juga mulai mengatur nafasnya.
“Apa Ardiya baik-baik aja? Apa omonganku terlalu kasar tadi? Kenapa hatiku juga sakit?” Lirih Gresha.
****
Gresha dan Yumi tengah ngobrol asyik di kantin dan tiba-tiba Vio datang, Vio datang dengan wajah yang sumringah, Vio juga membawa sebuah bingkisan makanan yang diberikan kepada Gresha dan Yumi. Lalu mereka bertiga terlihat asyik mengobrol sambil terus bercanda. Dari kejauhan Rafandra dan Raka berjalan menuju kantin dan terkejut saat melihat Gresha, Yumi dan Vio terlihat sangat akrab. Karena mereka selama ini juga tahu kalau Gresha dan Yumi nggak pernah akrab bahkan sering berantem dengan Vio.
“Itu Vio kenapa bisa akrab sama cewek lo?” Tanya Raka penasaran.
“Nggak ngerti juga gue, gue juga heran. Sejak kapan mereka bisa seakrab itu!” Jawab Rafandra sambil melongo memperhatikan Gresah dan yang lainnya.
__ADS_1
Rafandra dan Raka lalu menghampiri tiga gadis yang sedang bersenda gurau itu.
“Gresh, kamu sejak kapan akrab sama Vio?” Tanya Rafandra.
“Sejak Gresha bantuin gue buat deket sama Ar…!” Ucap Vio.
“Eh sayang aku pengen beli es krim anterin aku yuk!” Ucap Gresha memotong ucapan Vio.
Gresha lalu menarik tangan Rafandra dan sebisa mungkin mengalihkan perhatian Rafandra, Gresha lalu mengatakan pada Rafandra kalau dia sudah tidak bermusuhan lagi dengan Vio dan melupakan semua masalah yang pernah terjadi dulu, Rafandrapun mencoba mempercayai ucapan kekasihnya itu.
Sepulang kuliah Rafandra dan Raka berniat pergi ke café tempat mereka biasanya nongkrong, tapi saat sampai di parkiran kampus, Rafandra menemukan sebuah amplop di kaca mobil bagian depan. Dan saat Rafandra membukan amplop itu ternyata ada selembar surat disana.
Kamu harus menderita kamu nggak pantas bahagia
Rafandra lalu meremas kertas itu dan membuangnya, raut wajah Rafandra seketika berubah menjadi penuh rasa penasaran dan juga kekesalan.
“Lo nggak mau coba cari tahu lagi Raf?” Tanya Raka.
“Cari tahu gimana, semua cara buntu Ka, gue bahkan nggak bisa nemuin barang-barang kenangan gue sama Naya dulu!” Ujar Rafandra kesal.
“Lo masih ngira nggak kalau terror ini juga ada hubunganya sama Gresha?”
“Gue dulu sempat mikir gitu Ka, tapi semakin kesini gue semakin sadar kalau Gresah nggak ada hubungannya sama sekali sama terror ini, dan sepertinya juga bukan dia yang penerror ini incar!”
“Kenapa lo bisa seyakin ini?”
“Gue pacarnya Gresha, gue bisa ngerasain Ka!”
__ADS_1
“Tapi gue juga bisa ngerasain kalau ada yang Gresha sembunyiin!” Batin Raka.
Rafandra dan Raka lalu segera naik mobil dan pergi ke café, sepanjang jalan Raka terus memutar otaknya, dia terus mencari cara untuk menyelidiki Gresha lagi. Karena Raka rasa dia harus membantu sahabatnya itu.
****
Saat sampai di rumah, Rafandra langsung menemui mamanya yang sedang menunggu Rafandra di meja makan, mereka berdua memang sudah mengatur janji untuk bisa makan malam bersama di rumah malam ini, karena mereka berdua memang sama-sama sibuk sehingga mereka jarang sekali makan malam bersama. Mereka berdua nampak bahagia dan sangat menikmati makan malam kali ini.
Setelah makan malam, lalu mereka berdua menuju ke ruang keluarga dan berniat untuk menonton film bersama, tapi saat mencari dvd film yang akan mereka tonton ternyata dvd itu tidak ada. Sherly kemudian meminta Rafandra untuk mencari dvd itu di lemari kamar Sherly. Rafandra kemudian bergegas menuju kamar mamanya, setelah samapai di kamar Sherly, Rafandra membuka lemari dan membuka sebuah kotak besar yang ada di dalam lemari itu. Tapi betapa terkejutnya Rafandra saat membuka kotak yang ada di dalam lemari itu, alih-alih menemukan dvd film yang dia cari, Rafandra malah menemukan barang-barang kenangan miliknya dan Naya dulu.
“Kenapa barang-barang ini ada disini? Buat apa mama ngambil barang ini dan menyimpannya disini?” Gumam Rafandra.
Rafandra lalu melihat satu per satu barang-barang itu dan kini dia semakin yakin kalau itu emang barang-barang kenangannya bersama Naya. Rafandra pun merasa sangat kebingungan kali ini, karena mamanya tak pernah memberitahu kepada dirinya kalau selama ini Sherly yang menyimpan barang-barang itu. Dan bahkan Rafandra tidak tahu sejak kapan barang-berang itu Sherly ambil dari kamar Rafandra. Rafandra sebenarnya sangat ingin membawa barang-barang itu ke kamarnya, tetapi kalau Rafandra membawa barang-barang itu sekarang , Sherly akan melihanya, jadi Rafandra mencoba menyusun rencana agar bisa mengetahui maksud dari mamanya itu. Setelah merapikan barang-barang kenangan itu Rafandra lalu mencari dvd film yang akan dia tonton bersama Sherly. Dan setelah menemukan dvd itu Rafandra beranjak pergi menemui Sherly lagi yang sudah menunggu Rafandra.
Ditengah-tengah keseruan Rafandra dan mamanya menonton film, Rafandra menyiapkan diri untuk membuka oborlan mengenai Naya dengan mamanya.
“Ma, mama inget nggak dulu aku kan punya barang-barang kenangan bareng Naya yang aku simpen?”
“Iya, mama inget,kenapa?”
“Aku kemarin sempat nyari barang-barang itu ma, tapi nggak ada. Padahal aku inget banget dulu aku simpen di sebuah box dan aku taruh di lemari. Tapi ternyata box itu uda benar-benar kosong!”
“Kamu yakin nyimpen disitu? Apa mungkin kamu lupa, kan itu juga udah lama banget, coba kamu inget-inget lagi kamu nyimpannya dimana!” Jawab Sherly tenang.
Mendengar jawaban dari Sherly itu jujur membuat Rafandra semakin bingung, kenapa mamanya itu tidak jujur kalau memang barang-barang kenangan itu dialah yang menyimpan.
“Kenapa mama nggak jujur? Apa yang mama sembunyiin?” Batin Rafandra.
__ADS_1