
Hari sudah mulai malam dan Rafandra mengantarkan Gresha untuk pulang ke rumah, setelah sampai di rumah Gresha, Rafandra membukakan pintu mobilnya untuk Gresha. saat Rafandra hendak mengantarkan Gresha sampai depan rumah Gresha melarang Rafandra dan meminta Rafandra untuk segera pulang. Rafandra pun mengiyakan permintaan Gresha tapi sebelum pulang tak lupa Rafandra memberikan ciuman kasih sayang di kening Gresha. Dan saat Rafandra mencium Gresha, sekilas Rafandra melihat ada seorang laki-laki di balkon kamar atas. Tapi saat Rafandra mencoba memperhatikan lagi ternyata tidak ada apa-apa disana.
“Kenapa Raf?” Tanya Gresha.
“Oh…nggak kok, nggak kenapa-kenapa, kamu masuk sana gih!” Ucap Rafandra.
Gresha kemudian masuk ke dalam rumah dan setelah memastikan Gresha masuk ke dalam rumah Rafandra lalu pulang.
Saat masuk ke dalam rumah, Bibi langsung menghampiri Gresha.
“Mbak Gresha baru pulang?”
“Iya Bi!”
“Mbak Pak Ardiya sedang marah sepertinya, Mbak Gresha hati-hati ya!” Pesan Bibi.
“Marah Bi? Kenapa?”
“Saya nggak tahu Mbak, tadi sore waktu pulang tiba-tiba marah dan banting pintu kamar!” cerita Bibi.
Setelah mendapat cerita dari Bibi lalu Gresha berjalan pelan menaiki tangga dan menyiapkan mentalnya untuk menghadapi Ardiya kalau saja memang Ardiya sedang marah dan marahnya itu karena Gresha.
Gresha lalu membuka pintu kamarnya pelan, disana terlihat Ardiya yang tengah berdiri menghadap ke balkon kamar.
“Kenapa jam segini baru diantar pulang?” Tanya Ardiya.
“Diantar?”
“Aku tahu kamu diantar Rafandra dan aku juga tahu kamu dari rumah Rafandra!” Ucap Ardiya tanpa berpaling sedikitpun menatap Gresha.
“Kamu kenapa bisa tahu?”
“Nggak penting, tapi yang pasti aku juga tahu kamu ciuman sama dia tadi!”
Mendengar penjelasan Ardiya membuat tubuh Gresha mendadak dingin, seluruh darah dalam tubuhnya terasa beku. Dia tidak menyangka kalau Ardiya ternyata mengetahui apa yang dia lakukan hari ini bersama Rafandra.
“itu..em…!” Ucap Gresha gelagapan.
“Nggak apa-apa, aku nggak marah, kan dia memang pacar kamu. Kamu bebas berbuat apapun sama dia!” Ucap Ardiya datar.
__ADS_1
Ardiya lalu membalikan badannya, dan berjalan menuju pintu kamar begitu saja tanpa melirik Gresha sedikitpun.
“Ar dengerin dulu aku…!”
Belum sempat Gresha selesai berucap Ardiya sudah pergi meinggalkan Gresha sendiri di dalam kamar. Ardiya lalu pergi ke kamar tamu yang ada di lantai satu dan mnegunci rapat kamar itu. Ardiya lalu duduk di atas tempat tidur sambil menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.
“Bajingan lo Raf!”
Sedangkan Gresha masih berdiri termenung sambil mentap pintu kamarnya, dia berharap Ardiya kembali lagi, tapi penantiannya nihil. Ardiya tidak datang menemuinya lagi.
“Kenapa sih sama gue? Harusnya gue seneng dong Ardiya ngebiarin gue sama Rafandra, tapi kenapa gue nggak suka di perlakuin kayak gini sama Ardiya?”
“Arghh….lama-lama gue bisa gila kalau kayak gini caranya!” Lanjut Gresha sambil mengacak-acak rambutnya.
****
Rafandra melempar jaketnya ke arah tempat tidur dan lalu dia duduk di sebuah bangku yang ada di kamarnya.
“Tadi gue salah lihat nggak sih? Kok gue kayak lihat ada cowok di balkon kamar lantai atas ya? Dan itu tadi kayaknya kamar Gresha deh!” Gumam Rafandra.
Sepanjang perjalanan dari rumah Gresha tadi Rafandra memang terus kepikiran tentang itu semua, dia sangat yakin tadi dia melihat ada sesorang di balkon kamar Gresha, tapi saat Rafandra melihat ke arah balkon lagi, cowok itu sudah pergi.
****
Setelah selesai kuliah Rafandra mengajak Raka untuk ke rumahnya, Raka langsung ke kamar Rafandra dan merebahkan badannya di atas kasur, sedangkan Rafandra masih di dapur untuk mengambil minuman dan makanan. Tapi saaat sedang rebahan di atas kasur tangannya menyentuh sesuatu yang tergelatak di atas tempat tidur. Raka meraih benda itu dan ternyata itu adalah sebuah foto. Raka memperhatikan sebuah foto pernikahan itu dan memperhatikan foto itu dengan seksama.
“Ini foto siapa? Saudaranya Rafandra apa ada yang nikah?” Gumam Raka.
Tak lama Rafandra masuk dengan membawa makanan dan minuman untuk mereka, Raka segera bangun dan mengambil segelas jus jeruk lalu segera meneguk minuman itu.
“Raf ini foto siapa?” Tanya Raka sambil menunjukan foto pernikahan yang Raka bawa.
“Gue juga bingung itu foto siapa Ka!” Ucap Rafandra sambil memakan kue kering.
“Maksdunya gimana?” Tanya Raka heran.
“Itu foto yang ngirimin si peneror itu Ka, gue jga bingung itu foto siapa karena fotonya dari arah belakang!” jelas Rafandra.
“Lo nggak kenal sama ciri-ciri orang yang di foto ini?” Tanya Raka.
__ADS_1
“Sebenarnya gue ngerasa nggak asing sih, tapi jujur gue nggak tahu mereka itu siapa!”
“Gue yakin ini salah satu kunci dari masalah terror ini Raf!”
“Kenapa gitu?”
“Gue yakin foto ini adalah foto pernikahan orang yang lo kenal dekat dan bisa jadi kalau lo uda tahu siapa orang yang dalam foto ini lo bakalan benar-benar hancur, seperti tujuan dari peneror itu!” Jelas Raka dengan wajah yang sangat serius dan sorot mata yang tajam.
Raka memang seseorang yang cukup cerdas, bahkan hal seperti ini saja Rafandra tidak memikirkan sejauh itu dan sekarang dengan cepat Raka bisa membaca situasi seperti ini.
“Teori lo masuk akal juga sih, tapi siapa ya Ka?”
Raka haya diam dan menunduk saat Rafandra menanyakan pertanyaan itu padanya, dalam otak Raka sebenarnya ada satu nama yang entah kenapa Raka sangat meyakini hal tersebut tapi dia ragu untuk mengatakan hal tersebut pada Raka.
“Ka lo kenapa diem? Lo lagi mikir ya?”
“Iya lah gue lagi mikir bego, anjing pusing sendiri gue, yang di terror lo kenapa gue yang pusing sih, malah lo santai-santai aja gini!” Ujar Raka meledek Rafandra.
“Lo kan lebih jago dalam hal-hal kayak gini Ka!” Ucap Rafandra sambil tersenyum.
“Terus lo jagonya apa? Ngebucin?” Ledek Raka dengan tawa yang terbahak-bahak.
Mendengar ledekan itu membuat Rafandra juga larut dalam tawa. Raka kini benar-benar tidak bisa mengatakan apa yang sedang dia fikirkan.
“Gue akan cari tahu dan gue akan bongkar semua kebohongan Gresha selama ini ke lo!” Batin Raka.
Raka lalu melihat lagi foto itu dan dia memperhatikan dengan seksama foto itu berharap ada petunjuk disana. Raka kemudian fokus pada sebuah papan kaca yang dekat dengan kedua pengantin itu, papan kaca itu tidak terlalu besar dan disana ada sebuah tulisan berwarna putih, dan isi tulisan itu adalah “Senja Wedding Organizer”.
“Senja Wedding Organizer” Gumam Raka.
Raka sepertinya mendapatkan petunjuk baru dari foto itu, nama dari wedding organizer itu dirasa sangat cukup untuk membantu Raka memecahkan masalah terror yang Rafandra hadapi.
“Gue boleh bawa foto ini Raf?” Tanya Raka.
“Mau lo buat apa?”
“Mau gue cari tahu!”
“Iya uda bawa aja!” Ucap Rafandra penuh harapan, agar Raka bisa seegra membantunya memecahkan masalah ini.
__ADS_1
Raka kemudian memasukan foto itu ke dalam tas nya untuk dia cari tahu lebih dalam lagi.