
Rafandra menarik nafas panjang dan lalu berjalan pelan meninggalkan kamar mamanya dengan wajah masam dan juga penasaran. Tidak seperti biasanya kamar mamanya itu di kunci seperti itu bahkan dari dulu Sherly membiarkan Bibi memegang kunci cadangan kamar itu, tapi sekarang ini semua terasa begitu aneh bagi Rafandra.
“Uda berapa hari kamar mama di kunci Bi?” Tanya Rafandra saat sudah pergi beberapa langkah dari kamar mamanya.
“Satu minggu kayaknya Mas!”
Rafandra lalu melanjutkan langkahnya dan segera menuju ke kamarnya sendiri. Di dalam kamarnya, Rafandra terlihat tengah berdiri di balkon rumahnya sambil melihat ke arah keluar, melihat motor-motor yang berlalu lalang meskipun tidak banyak, melihat mobil yang sesekali melintas, dan beberapa anak kecil bergerombol sambil memegang bola. Sepertinya anak-anak itu hendak pulang ke rumah mereka masing-masing setelah menghabiskan sore mereka bermain bola, dan karena ini hari sudah mulai petang mereka haruslah pulang sebelum mama-mama mereka datang ke lapangan dan meneriaki mereka semua dari pinggir lapangan.
Setelah rombongan anak laki-laki itu berlalu dari pandangannya, kini mata Rafandra tertuju pada dua orang laki-laki yang menaiki sebuah sepeda motor dengan menggunakan jaket jeans berwarna hitam serta helm yang sangat tertutup seprti seorang pembalap, anehnya laki-laki berjaket hitam itu berhenti tak tauh dari rumah Rafandra. Mata Rafandra pun semakin memperhatikan dua orang laki-laki itu, dan salah seorang laki-laki itu kiniturun dari motor lalu berjalan menuju ke rumah Rafandra. Laki-laki itu berdiri di depan gerbang sambil clingak-clinguk ke kanan dan kiri, seperti melihat situasi sekitar. Di saat itu lah Rafandra mulai menyadari apa tujuan mereka itu.
“Jangan-jangan mereka yang nerror!” Gumam Rafandra.
Dengan sekuat tenaga Rafandra berlari dari kamarnya menuju ke gerbang untuk memergoki dua orang laki-laki misterius itu, dan dengan kekuatan yang sudah terkumpul penuh, Rafandra membuka gerbang rumahnya dan melihat dua orang laki-laki itu kini sudah berada di atas sepeda motor.
“Eh kalian tunggu, berhenti!” Teriak Rafandra.
Tapi Rafandra tak sanggup mengejar dua orang itu, karena mereka sudah menjalankan motor mereka dengan kencang, nafas Rafandra pun tak beraturan kini, jantungnya juga berdetak tak beraturan, dia lalu berpegang pada gerbang rumahnya dan matanya melihat ada sebuah botol kaca di depan gerbang ruahnya nya itu. Rafandra lalu mengambil botol kaca bening itu dan melihat ada gulungan kertas berwarna coklat di dalamnya.
“Ini pasti mereka tadi yang naruh!”
Rafandra lalu segera masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengunci pintu gerbangnya, Rafandra juga memastikan tidak ada barang lain yang peneror tadi letakan di depan gerbang selain botol kaca yang kini dia genggam.
Saat masuk ke dalam rumah, Rafandra bertemu dengan Bibi yang terlihat panik melihat Rafandra, karena tadi Bibi melihat Rafandra berlarian dari tangga.
“Mas Rafandra kenapa ngos-ngosan gitu? Dan ini Mas Rafandra dari mana?” Tanya Bibi.
“Dari depan Bi, tadi saya lihat ada peneror itu dan ternyata saya gagal ngejar mereka!” Ucap Rafandra dengan nafas yang masih sesak.
“Tapi Mas Rafandra nggak apa-apa kan?”
“Saya nggak apa-apa Bi, oh ya tolong ambilin saya minum ya Bi, saya tunggu di kamar!”
Rafandra lalu segera naik ke atas dan masuk ke kamarnya, dan dengan segera dia mengambil gulungan kertas yang ada di dalam botol kaca itu lalu Rafandra segera membaca apa pesan di dalamnya.
__ADS_1
“Kesalahan Kamu Terlalu Besar dan Sekarang Kamu Akan Kehilangan Orang Terdekatmu lagi”
“Apa maksud semuanya ini? Setelah kehilangan Gresha, dan sekarang siapa lagi yang akan pergi ninggalin gue?” Gumam Rafandra.
Rafandra meremas keras kertas itu dan melemparnya ke atas kasur lalu membanting botol tadi ke lantai.
PYARRR…….
Botol itu pecah dengan suara yang cukup keras, dan pecahannya juga berserakan kemana-mana.
“Aduh sakit…….”
Rafandra terkejut mendengar suara teriakan itu, lalu dia segera mencari arah suara itu, dan dia melihat Bibi tengah duduk merintih kesakitan di belakang pintu kamarnya sambil memegang kakinya dan juga terlihat nampan berisi air minum yang di letakkan di atas lantai.
“Bibi!” Panggil Rafandra terkejut.
Rafandra lalu segera berlari menuju ke Bibi yang tengah merintih kesakitan sambil memegang kakinya yang telah mengeluarkan darah.
“Bibi kakinya kenapa?” Tanya Rafandra panik.
“Bibi kena pecahan beling ini? Maafin aku Bi, ayo ke rumah sakit sekarang!”
Rafandra lalu segera membantu Bibi berdiri dan segera membawa Bibi ke Rumah Sakit, Sepanjang jalan Rafandra terlihat cemas dengan keadaan Bibi, karena takut kalau pecahan beling itu masuk terlalu dalam ke telapak kaki Bibi.
Saat tengah menunggu Bibi di periksa dokter, ponsel Rafandra berdering dan ternyata Rafandra mendapatkan panggilan dari Mamanya.
“Halo Raf, kamu dimana? Kenapa rumah kosong, Bibi juga kemana?” Tanya Sherly dengan nada suara agak tinggi.
“Aku di rumah sakit Ma!”
“Di rumah sakit? Kamu kenapa?”
“Aku baik-baik aja Ma, tapi Bibi!”
__ADS_1
“Bibi kenapa?”
“Kakinya kena pecahan beling!”
Sherly pun menanyakan di rumah sakit mana Rafandra membawa Bibi berobat, dan Sherly pun segera bergegas menyusul Rafandra dan juga Bibi dengan perasaan khawatir. Saat sampai di rumah sakit Sherly melihat Rafandra tengah duduk cemas di depan ruang Tindakan. Sherly lalu segera menghampiri anak laki-lakinya itu. Sherly kemudian menanyakan bagaimana kejadiannya, dan Rafandra mengatakan kalau Bibi terkena pecahan beling yang ada di kamarnya.
“Emang apa yang pecah di kamar kamu?”
“Gelas…gelas minum aku kemarin nggak sengaja jatuh terus pecah!”
Rafandra tidak mengatakan yang sejujurnya karena dia masih cukup curiga dengan mamanya itu dan mulai sekarang Rafandra tidak mau menceritakan apapun tentang terror yang dia terima.
“Aku nggak perlu cerita apa-apa ke Mama lagi soal terror ini, karena aku masih ngerasa kalau mama ini mata-matanya mereka!” Batin Rafandra.
****
Sesaat sebelum turun dari mobil Kevin, Yumi merasa ingin menanyakan sesuatu pada Kevin, dia melihat sejenak ke arah Kevin, dan sepertinya Kevin juga menyadari kaalu ada sesuatu yang ingin Yumi tanyakan padanya.
“Ada apa Yum? Ngomong aja nggak apa-apa!” Ucap Kevin dengan senyum manis dibibirnya.
“Lo uda lama kenal Ardiya?”
“Uda lama banget, dia itu dulu teman sekolah gue waktu SMP!”
“Berarti lo tahu tentang keluarganya Ardiya?”
“Iya gue tahu, tentang dia yang ngincer Gresha dari lama juga gue tahu, tentang mantan pacarnya Gresha itu juga gue tahu!”
“Kalau tentang Naya lo tahu juga?”
Follow :
Ig :Rahayu_nrahma
__ADS_1
Tiktok : Rahayunr30
SV : Rahayunr (WS)