
"Operasi berjalan lancar, Pak Bimo sudah melewati masa kritis nya! " ucap dokter yang menangani operasi Pak Bimo.
Greesha memeluk erat tubuh mamahnya, hatinya kini semakin tenang saat mendengar ucapan dari dokter itu.
"Tapi.... " Sambung dokter.
"Tapi kenapa dok? " tanya Greesha.
"Pak Bimo mengalami kelumpuhan pada kakinya, tapi itu bisa sembuh dengan menjalani terapi dan pengobatan secara rutin! " ucap dokter itu.
"Lakukan yang terbaik dok, berapapun biayanya yang penting Pak Bimo kembali sembuh total! " pinta Ardiya pada dokter itu.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu, sebentar lagi Pak Bimo akan dipindahkan ke ruang rawat inap, keluarga bisa menjenguknya disana! "
Dokter itu pun berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Terimakasih, sudah membantu keluarga kami! " ucap Bu Bimo sambil memegang tangan Ardiya.
Sedangkan Greesha hanya diam mematung memperhatikan mamahnya yang terlihat nampak bahagia karena mendapat bantuan dari Ardiya. Iya memang benar, Bu Bimo belum tahu perihal Greesha yang bersedia menikah dengan Ardiya demi menyelamatkan nyawa Papahnya. Greesha akan menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Entah benar atau salah jalan yang pilih Greesha yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan dan kesehatan Papahnya.
Pak Bimo telah dipindahkan ke ruang rawat inap, ruang mana lagi kalau bukan VIP. Demi calon mertuanya Ardiya rela menggelontorkan banyak biaya. Dan juga memaksa Greesha berada diposisi yang tidak punya pilihan selain harus menuruti kemauan Ardiya.
Greesha dan Ardiya berjalan menuju kantin rumah sakit, mereka hendak membeli makanan, karena sedari tadi mereka belum makan. Greesha masih nampak sangat lesu dan pucat.
"Anda jangan beritahu masalah ini kepada orang tua saya dulu! " ucap Greesha lirih ditengah langkahnya.
"Baik! "
"Kapan anda menikahiku? "
"Secepatnya!"
"Jangan! " teriak Greesha dengan spontan hingga mengalihkan semua pandangan orang-orang ke pada mereka berdua.
"Maksud saya tunggu sampai Papah keluar rumah sakit!" lanjut Greesha.
Ardiya mengangguk pelan, menandakan bahwa dia menyetujuinya.
Greesha tiba-tiba menghentikan langkahnya, dia tiba-tiba teringat Rafandra. Dia belum sempat menghubungi kekasihnya itu. Greesha segera mengambil handphonenya di dalam saku celananya. Saat dia melihat ke layar handphonenya, terlihat bahwa ada beberapa kali panggilan tak terjawab dari Rafandra.
"shittt.... aku lupa! " gumam Greesha.
"Kenapa berhenti? kita belum sampai kantin! "
__ADS_1
"Apa boleh saya meminta syarat? " tanya Greesha tiba-tiba.
"Apa? "
"Biarkan saya tetap menjalin hubungan dengan Rafandra kekasihku, sampai saya siap untuk benar-benar melepaskannya! "
"Bahkan sampai kita menikah? "
"Iya, saya masih sangat mencintainya, tidak mudah saya melepaskannya begitu saja. Saya tidak akan macam-macam, saya berjani! " pinta Greesha.
"Cihhhh..... kurang ajar, bisa-bisanya kamu tidak mau putus dengan dia walaupun sudah menikah dengan ku! " batin Ardiya.
"Gimana? " tanya Greesha.
"Iya baik, tapi saya tidak mau kamu terlalu lama mengulur waktu untuk mengkahiri hubungan dengan dia! " jawab Ardiya.
"Iya," ucap Greesha dengan lesu.
Setelah selesai membeli makanan di kantin mereka berdua bergegas menuju ruangan rawat inap.
Greesha kemudian mengirim pesan pada Rafandra.
"Sayang maaf aku nggak sempet ngabarin kamu, Papah aku kecelakaan dan harus di operasi. Sekarang sudah pindah di ruang rawat biasa,jadi aku baru sempat ngabarin kamu, maaf ya!"
Tak berapa lama Greesha mengirim pesan, Rafandra dengan cepat membalas pesan Greesha.
Greesha panik saat Rafandra bilang mau ke rumah sakit. Karena tidak mungkin Rafandra kesini dan ada Ardiya. Greesha memutar otaknya, dia harus berfikir bagaimana caranya supaya Rafandra tidak bertemu dengan Ardiya.
"Pak Ardiya, anda sudah dari kemarin disini, sebaiknya anda istirahat dulu! " celetuk Greesha memecah keheningan dalam ruangan itu.
"Kenapa tiba-tiba ngusir saya? "
"Oh bukan begitu maksud saya, saya tidak mengusir anda, tapi... em.... saya cuma mau anda istirahat, kan anda sudah dari kemarin disini! " jawab Greesha dengan gelagapan.
"Tapi saya mau disini dulu! "
"Nanti anda bisa kesini lagi, anda bisa istirahat dulu! "
Setelah diam beberapa detik diam, akhirnya Ardiya berdiri dari tempat duduknya.
"Baik kalau begitu saya pulang dulu, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya! "
"Akhirnya dia mau pulang, " batin Greesha.
__ADS_1
Beberapa saat setelah Ardiya pulang, ada suara seseorang mengetuk pintu ruangan itu. Kemudian ada seorang laki-laki tinggi dan tampan sambil membawa buah-buahan masuk ke dalam ruangan itu, ya siapa lagi kalau bukan Rafandra.
"Greesha, Tante gimana keadaan om Bimo? maaf saya baru kesini, Greesha baru mengabari saya! "
"Iya tidak apa Rafandra, om sudah melewati masa kritis nya, tapi memang om mengalami kelumpuhan, tapi nanti ada pengobatan dan terapi untuk bisa menyembuhkannya! "
"Semoga om cepat sembuh ya tente! "
"Makasih Rafandra! "
Lalu Rafandra dan Greesha keluar dari ruangan dan duduk berdua di kursi depan ruangan.
"Sini peluk! " ucap Rafandra sambil mengulurkan kedua tanganya dan tersenyum.
Greesha langsung saja menjatuhkan badannya dalam pelukan Rafandra. Ini adalah pelukan hangat yang sangat ia ingin dapatkan dari kemarin. Perlahan air mata Greesha menetes membasahi baju Rafandra.
"Hei, kamu kenapa sayang?"
"Aku seneng banget ada kamu disini, kamu itu selalu ngasih aku ketenangan! "
"Ya udah peluk terus ya jangan lepasin, dan sampai kapanpun aku akan selalu ada buat peluk kamu! "
Tangis Greesha semakin pecah mendengar ucapan Rafandra, karena dia tahu pelukan itu tidak akan bertahan lama karena dia harus menikah dengan Ardiya.
"Aku pengen cepat lulus kuliah dan kerja, biar aku bisa cepat nikahin kamu, bisa ngelindungi kamu dan selalu jaga kamu! " ucap Rafandra sambil mengusap halus rambut kekasih yang ada dalam pelukannya itu.
Dari kejauhan ternyata Ardiya melihat Greesha dan Rafandra, ternyata dia tidak pulang melainkan menunggu di ruang tunggu. Entah apa yang membuat Ardiya tetap di Rumah Sakit, dia hanya mengikuti kata hatinya saja.
"Jadi ini alasan kamu memaksa aku pulang, " gumam Ardiya sambil mengepalkan tangannya dan menghantamkannya pada tembok di sebelahnya.
"Shitt.. kurang ajar! "
Hari semakin larut, Rafandra memutuskan untuk menginap karena ia tidak mau membiarkan Greesha menjaga Papahnya sendiri, karena mamahnya pulang untuk beristirahat.
Greesha tertidur pulas, ia terlihat begitu lelah. Ia menjatuhkan kepalanya di kedua kaki Rafandra yang duduk di sofa. Dengan lembut Rafandra mengusap lembut rambut gadis itu, hingga gadis cantik itu tertidur pulas.
Ditengah malam yang dingin dan sunyi itu hanya Rafandra yang terjaga. Dan dia merasa ada yang mengintip mereka dari pintu. Dia merasa kalau pintu ruangan itu sedikit terbuka dan ada orang yang mengintip. Tapi Rafandra mencoba untuk tetap fokus pada Greesha dan berusaha untuk tidak menoleh ke arah pintu. Tapi semakin lama ia merasa risih dan penasaran, ia mencoba mengangkat kepala Greesha dengan pelan dan membaringkan di atas kursi dengan bantal kecil. Saat Rafandra beranjak melangkah ke arah pintu, tiba-tiba pintu itu tertutup rapat kembali. Dia melihat jelas ada gerakan yang membuat pintu itu tertutup. Rafandra lalu berjalan dengan cepat ke arah pintu itu dan membukanya. Dilihat ke kanan dan ke kiri ke semua penjuru rumah sakit, tapi tidak ada yang mencurigakan, hanya ada beberapa perawat yang lalu lalang.
"Apa tadi hanya perasaanku saja ya, " batin Rafandra.
Saat Rafandra hendak masuk kembali ke ruangan, tak sengaja kakinya menginjak sesuatu. Dia pun jongkok dan meraih benda itu dari bawah sendalnya.
"Kelopak bunga? kenapa ada kelopak bunga disini? ini terlihat masih segar dan belum layu, berarti ini kelopak bunga yang baru terjatuh, " ucap Rafandra sambil memandangi kelopak bunga mawar putih itu.
__ADS_1
"Berarti benar ada yang datang kesini tadi, lalu kenapa dia tidak masuk saja ? ini aneh! "
Rafandra lalu membuang kelopak bunga itu di tong sampah depan ruang rawat Pak Bimo dan segera masuk ke dalam.