
Pagi ini begitu berat bagi Gresha, hari paling tidak ia harapkan. Dia sudah duduk depan cermin, beberapa orang tengah sibuk merias wajah dan rambut nya. Tapi ia tak sanggup menahan air matanya, berkali-kali terus menetes membasahi makeup nya.
"Mbak Gresha jangan nangis terus ya, nanti makeup nya jadi jelek! " ucap seorang MUA
Gresha mengenakan gaun berwarna putih, dia nampak sangat cantik tapi hatinya begitu hancur.
Ponsel Gresha terus berdering, Rafandra terus menelfon nya, Gresha bahkan nggak sanggup untuk membalas pesan ataupun mengangkat telfon nya. Dan akhirnya Gresha mematikan ponsel nya. Yumi datang ke ruang rias, dan sontak memeluk Gresha.
"Loe hebat loe kuat Gres! " ucap Yumi.
Gresha tak membalas ucapan Yumi, dia berusaha untuk tetap tegar dan menahan air matanya.
"SAH!"
Seketika jantung Gresha serasa berhenti, nafasnya begitu sesak, tubuhnya sangat dingin.Tangisnya pecah, tangisan itu disusul dengan tangisan dari Pak Bimo dan istrinya, Yumi pun tak sanggup menahan air matanya.
Senyuman bahagia terpancar jelas dari raut wajah Ardiya.
"Jangan menangis didepan tamu saya! " bisik Ardiya pelan ditelinga Gresha.
Rafandra masih terus mencoba menghubungi Gresha tapi sama sekali tidak ada jawaban dan sekarang ponsel nya tidak bisa dihubungi.
"Kenapa perasaan gue nggak enak banget hari ini, semoga Gresha baik-baik aja! " ucap Rafandra.
Tamu undangan terus berdatangan, Gresha mencoba tersenyum di depan semua tamu undangan meskipun hatinya tersiksa. Gresha terus bertanya kapan acara selesai kepada Ardiya. Tapi Ardiya selalu menjawab kepada Gresha untuk menikmati acara ini.
Hari sudah semakin larut, tapi acara masih terus berjalan, Gresha terus memikirkan Rafandra karena malam ini ia berjanji menemui Rafandra di hari jadi mereka yang ke 3 tahun.
Sedangkan Rafandra sudah tiba di cafe tempat ia dan Gresha mengatur janji, Rafandra sudah menyulap ruangan VIP itu begitu indah dan romantis, Rafandra juga telah membawa hadiah untuk Gresha. Tapi waktu terus berjalan Gresha tak kunjung datang.
Acara selesai pukul 8 malam, Gresha segera menghapus makeup dan bersih-bersih. Dia coba mencari cara untuk pergi. Gresha selesai bersih-bersih dan siap-siap untuk menemui Rafandra sekitar pukul 9 malam.
"Sudah telat 2 jam, semoga Rafandra masih disana! "
"Kamu mau kemana? " tanya Ardiya yang tiba-tiba masuk ke kamar hotel Gresha.
"Saya mau pergi sebentar saja, saya mohon!"
"Pergi? dimalam pengantin kita? Tidak! "
"Saya tidak akan lama! "
"Saya bilang tidak boleh! "
__ADS_1
"Saya mohon kali ini saja! "
"TIDAKK!! "
Gresha menangis mendengar Ardiya membentak nya, dia juga sedih karena tidak bisa menemui Ardiya. Kemudian Gresha meminta ijin bertemu Yumi di loby hotel.
"Baik, tapi saya antar ke loby! "
Mereka berjalan menuju loby, Yumi yang melihat Gresha berjalan dengan Ardiya merasa sangat iba dan merasa kalau Gresha tidak bisa pergi bersamanya untuk menemui Rafandra.
"Yum, gue nggak bisa, loe bisa pulang! "
Yumi melihat Gresha mengatakan itu dengan menahan tangisnya. Yumi langsung memeluk Gresha dengan kuat.
"Loe pasti kuat Gres, gue yakin loe kuat! "
Gresha menangis dalam dekapan Yumi.
"Yum,Rafa! "
"Gue kesana ngabarin Rafa ya, gue akan cari alasan. kasihan juga kalau Rafandra terus nungguin loe! "
"Gue minta tolong ya Yum! ".
Yumi kemudian pergi meninggalkan sepasang pengantin baru itu. Gresha dan Ardiya kemudian berjalan kembali ke kamar mereka.
Malam ini Gresha begitu takut pada Ardiya, dia berharap Ardiya tertidur dan tidak menyentuhnya.
Rafandra memandangi bouket bunga yang ia siapkan, dia masih terus menunggu kekasihnya. Rafandra masih terus menghubungi Gresha tapi masih tidak bisa. Rafandra masih duduk diam berharap Gresha akan datang.
Ardiya tiba-tiba memeluk tubuh Gresha dari belakang, dan mencium rambut Gresha.
"Lepasin! ".
" Kamu sudah menjadi istri saya, kamu tidak bisa menolak saya! "
"Saya mohon jangan sekarang! "
"Saya mau sekarang! "
Gresha mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Ardiya, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk itu.
Ardiya kemudian membawa Gresha ke atas kasur, perlahan mulai menyentuh rambut, pipi hingga leher Gresha. Gresha menangis sejadi-jadinya. Gresha yang terus menghindar membuat Ardiya semakin kasar hingga merobek baju Gresha. Ardiya berhasil mencengkeram kuat kedua tangan Gresha hingga Gresha tidak bisa memberontak. Dengan segera di cium nya bibir Gresha hingga bagian sensitive Gresha. Dan kemudian Ardiya berhasil merenggut keperawanan Gresha.
__ADS_1
Rafandra semakin gelisah dia merasa ada hal buruk yang menimpa Gresha, pikiran nya tak tenang dan kacau. Tiba-tiba dadanya sakit dan rasanya ia ingin menangis, entah apa penyebabnya Rafandra juga tidak tahu. Ditengah kegelisahan itu Yumi datang. Saat pintu terbuka Rafandra mengira kalau itu adalah Gresha tapi ternyata Yumi.
"Yum, loe ngapain kesini? "
"Gue mau kasih kabar kalau Gresha lagi ke luar kota dengan keluarganya, mereka pergi dadakan tadi pagi, jadi malam ini Gresha nggak bisa datang kesini! "
"Kenapa Gresha nggak ngasih kabar ke gue? "
"Mungkin Gresha kelupaan soalnya mereka emang buru-buru. Tadi pagi soalnya gue ke rumah Gresha dan Gresha minta gue nyampein ke Loe, dan sorry banget gue lupa Raf! ".
" Loe serius? "
"Iya gue serius! "
"Terus loe dari mana? rapi banget kayak abis kondangan! ".
" Oh iya ini gue tadi abis ada acara nikahan saudara gue makanya gue baru sempet kesini! "
"Kenapa loe nggak telfon aja? "
"Oh itu karena gue mau ngabisin makanan yang uda loe pesen! "
Yumi tertawa memecah ketegangan diantara mereka. Akhirnya Rafandra dan Yumi menikmati makan malam itu. Yumi sangat berharap Rafandra percaya meskipun dari raut wajah Rafandra nampak masih ada keragu-raguan.
Gresha masih terus menangis hingga pagi tiba, dia masih belum bisa menerima kalau malam pertamanya bukan dengan orang yang dia cintai.
"Kenapa masih nangis terus? Kamu nggak mau bangun dan sarapan? "
Gresha masih terus terdiam dan masih terus menangis. Ardiya kemudian dengan perlahan mengusap lembut rambut Gresha.
"Terimakasih untuk malam yang indah ya! " bisik Ardiya.
"Saya akan minta sarapannya dibawa kesini ya! "
Gresha masih tak mau menjawab ucapan Ardiya. Ardiya kemudian menelfon dan meminta pelayan hotel untuk membawakan sarapan mereka ke kamar.
Pagi ini Rafandra masih menunggu kabar dari Gresha, tapi ponsel Gresha masih belum bisa dihubungi. Dia masih mencoba percaya dengan perkataan Yumi kalau Gresha dan keluarganya ke luar kota. Tapi dalam lubuk hati paling dalam, ia sangat sulit mempercayai itu semua, serasa hatinya membantah semua alasan yang Yumi katakan.
"Kamu kemana Gresha? " gumam Rafandra.
"Kamu mau kita honeymoon kemana? " tanya Ardiya.
Gresha menggelangkan kepalanya, Gresha menyendok pelan makanan yang ada dihadapannya, tapi air matanya sama sekali tidak berhenti menetes. Kejadian malam tadi masih terus berkeliaraan di kepalanya.
__ADS_1