Antara Suami Dan Kekasih

Antara Suami Dan Kekasih
Bab 115 (Kenangan manis)


__ADS_3

“Lo bisa kan damai sama Rafandra? Dan nggak memperpanjang masalah kalian?” Tanya Raka dengan tatapan mata penuh harap.


“Maksud lo apaan? Gue uda berusaha buat nggak ada masalah sama dia, tapi dia sendiri kan yang memperpanjang masalah ini. Dan jadi mending lo yang minta Rafandra buat nggak cari masalah lagi sama gue sama suami gue!” Ketus Gresha.


“Ya uda mending lo sama suami lo ngakuin semuanya!”


“Ngaku apaan Ka?”


“Ngaku kalau emang keluarga suami lo yang nerror keluarga Rafandra, dengan gitu masalahnya kelar Gresh, hidup lo  tenang, hidup Rafandra tenang lalu gue dan Yumi juga bisa jalin hubungan ini denga tenang!”


Gresha lalu berdiri dari duduknya dan terlihat wajahnya mulai memerah, dan seperti tersulut amarah. 


“Lo mending pergi aja deh dari sini Ka, gue muak denger ocehan lo, lama-lama lo kayak Rafandra yang suka nuduh orang tanpa bukti yang jelas. Dan buat hubungan lo sama Yumi lo mending cari cara yang lebih tepat buat bisa dapetin dia, bukan dengan cara lo yang sekarang!” Ketus Gresha.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Gresha segera masuk ke dalam rumah, dan membanting pintu rumahnya dengan cukup keras sehingga membuat Raka terkejut. 

__ADS_1


Raka lalu memukul meja yang ada disampingnya dengan cukup keras juga.


“Arghhh….sialan!” Geram Raka.


Entah apa sebenarnya yang ada di pikiran Raka sehingga dia bisa datang menemui Gresha dan berkata seperti itu pada Gresha. mungkin ini juga salah satu bentuk solidaritasnya sebagai sahabatnya Rafandra. Tapi apakah cara ini benar, dan berhasil? Sepertinya sih salah dan gagal total. Sepanjang jalan Raka hanya menggerutu kesal, cinta yang telah Raka pendam selama ini kepada Yumi ternyata kini tidak dapat tersampaikan hanya karena masalah yang datang bukan dari dirinya dan Yumi melainkan dari orang lain, itu sungguh menyebalkan dan menyakitkan bukan? Karena dia sendiri tidak bisa menyelesaikannya, karena yang harus menyelesaikan masalah itu hanya Rafandra dan Gresha.


“Maksud Raka apaan sih, kenapa gue yang dituduh cari masalah dan nerror Rafandra. Ardiya sama Papa Dio juga orang yang sangat baik, nggak mungkin mereka ngelakuin semua itu!” Gerutu Gresha kesal dengan ekspresi wajah yang tak kalah kesalnya. 


Gresha lalu berjalan menuju ke dapur dan mengambil sebotol minuman rasa coklat di kulkasnya. Saat menenggak minuman itu, tiba-tiba Gresha teringat sesuatu, dia lalu memperhatikan botol minuman itu lalu tersenyum tipis.


“Mbak Gresha rindu Mas Rafandra yang dulu ya?” Suara Bibi memecah lamunan Gresha, entah dari mana datangnya Bibi yang tiba-tiba muncul begitu saja disamping Gresha.


“Eh Bibi, nggak kok Bi, saya cuma…!” Ucap Gresha gelagapan.


“Nggak apa-apa mbak, saya nggak akan bilang ke Pak Ardiya. Saya paham betul perasaan Mbak Gresha, hubungan Mbak Gresha sama Mas Rafandra dulu kan juga sudah terbilang cukup lama dan harus terpaksa putus dengan cara yang seperti ini, pasti sedikit banyak Mbak Gresha masih menyimpan memory indah dengan Mas Rafandra!”

__ADS_1


Gresha tersenyum manis ke Bibi lalu meletakkan botol minuman itu ke atas meja.


“Makasih ya Bi, tapi memang entah kenapa tiba-tiba saya mengingat kenangan indah dulu sama Rafandra, tapi Bi bukan berarti dengan ini saya tidak bisa melupakan Rafandra dan tidak mencintai Ardiya. Saya cinta dan sayang sama Ardiya, tapi saya memang belum bisa benar-benar manghilangkan semua kenangan saya dengan Rafandra yang bisa dibilang hampir semuanya kenangan manis Bi!”


“Saya paham Mbak, itu hal wajar menurut saya. Bukan cuma cinta saja yang butuh proses tapi melupakan juga butuh proses!” Ucap Bibi dengan bijak.


Mendengar petuah dari Bibi membuat Gresha merasa lebih tenang , dia memang butuh seseorang untuk bisa mendengar dan memahami perasaanya. Mungkin selama ini hanya Yumi yang jadi tempat Gresha untuk mencurahkan semua perasaannya, tapi sekarang setelah tinggal satu atap dengan Bibi, Gresha merasa punya tempat baru untuk menceritakan perasaan dan isi hatinya. 


**** 


Raka mengetuk pintu rumah Rafandra, hari sebenarnya sudah mulai larut, tapi Raka tetap pergi ke rumah sahabatnya itu. Dan tak lama akhirnya Rafandra membuka pintu rumahnya dan melihat ada Raka yang berdiri tegak di depan pintu rumahnya.


“Lo ngapain malam-malam gini kesini?” Tanya Rafandra heran.


“Gue capek sama lo, gue mau cari kebahagiaan gue sendiri tanpa pusing mikirin masalah lo!” Ketus Raka tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2