Antara Suami Dan Kekasih

Antara Suami Dan Kekasih
Bab 39 (Pembunuh)


__ADS_3

Gresha masuk ke kamar dan membanting keras pintu kamarnya, suara bantingan pintu itu terdengar hingga ruang kerja Ardiya. Ardiya yang penasaran dengan kegaduhan itu kemudian bergegas ke kamar. Disana Ardiya melihat Gresha sedang menangis histeris sambil membanting beberapa barang yang ada di meja riasnya.


"Gresha Stop kamu kenapa?" Teriak Ardiya sambil berlari menghampiri Gresha.


"Ini semua gara-gara lo bajingan! " Maki Gresha sambil menunjuk ke arah wajah suaminya itu.


"Apa maksud kamu? Kamu kenapa? "


"Lo harusnya nggak datang dan ngerusak masa depan gue sialan! "


"Jaga omongan kamu ya, saya ini suami kamu. Kamu bisa tidak lebih sopan lagi kalau ngomong! "Bentak Ardiya kesal.


" Suami bajingan lo, nggak ada gunanya gue punya suami kayak lo setan! " Amarah Gresha semakin memuncak.


Melihat Gresha yang terus menerus memaki Ardiya dan kini Ardiya tidak bisa menahan emosinya lagi, dia dengan keras memukul Gresha hingga Gresha terjatuh dan perut Gresha menghantam kursi yang ada didekat Gresha.


Gresha tersungkur ke lantai dan merintih kesakitan, tangannya terus memegang perutnya yang terasa amat sakit.


Dan perlahan darah mulai keluar dari sela-sela kaki Gresha. Melihat darah mengalir deras Ardiya panik tak karuan.


"Gresha, kamu kenapa? kenapa ada darah? " Tanya Ardiya gelagapan.


"Ah.... sakitt! " Rintih Gresha.


Tanpa banyak berfikir Ardiya langsung mengangkat tubuh Gresha dan membawa Gresha ke rumah sakit. Mereka ke rumah sakit di antar oleh sopir, dengan air mata yang terus menetes Gresha teruss merintih kesakitan. Ardiya juga terlihat panik dan matanya juga berkaca-kaca.


"Sayang sabar ya sebentar lagi kita sampai rumah sakit! " Ucap Ardiya sambil mengusap rambut istrinya.


Setelah sampai rumah sakit Gresha langsung ditangani oleh dokter. Ardiya menunggu di depan ruang UGD sambil menghubungi keluarga Gresha dan keluarga Ardiya.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Ardiya diminta untuk menemui dokter. Saat masuk ke ruangan rawat terlihat Gresha terbaring lemas dengan wajah yang sangat teramat pucat.


"Gimana keadaan istri saya dok? Dan keadaan janin nya gimana ? " Tanya Ardiya dengan penuh rasa khawatir.


"Sebelumnya saya mohon maaf kepada Pak Ardiya dan Bu Gresha saya harus mengatakan kalau Bu Gresha keguguran! "

__ADS_1


Kalimat yang keluar dari mulut dokter perempuan itu bagaikan petir di siang bolong. Hati Ardiya hancur sehancur-hancurnya, air matanya tak terasa sudah menetes membasahi pipinya. Ardiya lalu melihat ke arah Gresha yang terbaring lemah. Gresha kemudian berbalik melihat ke arah Ardiya lalu memberikan sedikit senyuman yang sinis yang seolah-olah mengatakan kalau Gresha merasa puas dengan apa yang dokter itu ucapkan.


Setelah dokter perempuan itu keluar dari ruangan, Ardiya terlihat menangis sambil menundukan kepalanya, dia tengah duduk di sofa panjang ruangan rawat saat ini. sedangkan Gresha masih merasakan rasa sakit pada perutnya tapi rasa puas dan bahagia juga menghiasi perasaannya kini. Karena tanpa dia repot-repot menggugurkan kandungannya kini janin itu benar-benar sudah tidak ada didalam rahimnya lagi.


"Puas kamu sekarang? " Lirih Ardiya sambil menatap tajam Gresha.


"Kenapa tatapannya nakutin banget gitu sih! " Fikir Gresha.


"Jawab! " Teriak Ardiya yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Gresha.


"Apasih teriak-teriak, berisik! " Sahut Gresha.


"Ini kan yang kamu mau? Ini kan yang kamu inginkan? " Maki Ardiya.


"Kalau iya kenapa? Hah? "


"Kamu nggak punya hati, padahal itu anak kamu sendiri! " Tegas Ardiya.


"Tapi aku nggak pernah mau punya anak sama kamu! " Maki Gresha.


"Kamu udah membunuh anak kamu sendiri Gres, darah daging kamu sendiri! " Bentak Ardiya dengan mata penuh air mata.


Wajah Ardiya memerah mendengar semua ucapan Gresha, tangannya mengepal kuat. Dia sangat ingin memukul perempuan yang terbaring lemah itu, tapi dia mencoba menahan sekuat tenaga.


Ardiya kemudian pergi meninggalkan Gresha sendiri. Ardiya kembali pulang ke rumahnya tanpa memikirkan siapa yang akan menemani Gresha di rumah sakit. Melihat kedatangan Ardiya yang penuh emosi dan air mata yang berlinang membuat asisten rumah tangga Ardiya kebingungan dan juga penasaran dengan kondisi Gresha. Tapi bibi tidak berani bertanya ke Ardiya disaat Ardiya sedang marah seperti itu. Ardiya kemudian masuk ke dalam kamar dan duduk lesu di atas tempat tidur, dan tiba-tiba kaki kanannya menginjak botol berwarna merah yang tergelatak di lantai, karena penasaran dengan isi botol itu, Ardiya kemudian mengambil botol itu dan membaca tiap tulisan dibungkusnya.


"Obat Penggugur Kandungan? " Gumam Ardiya.


Ardiya sangat terkejut melihat obat itu, dengan kuat tangannya meremas botol yang terbuat dari plastik itu.


"Jadi Gresha sudah mengkonsumsi obat ini? Sialan!!! " Teriak Ardiya murka.


...****************...


Kedua orangtua Gresha sudah datang ke rumah sakit, mereka berdua terlihat sangat khawatir dengan keadaan putrinya itu.

__ADS_1


"Gresha kamu baik-baik aja kan? " Tanya Mamanya Gresha.


"Iya Ma, tapi aku keguguran! " Jawab Gresha dengan santai.


Kedua orang tua Gresha sangat syok mendengar kalau Gresha keguguran. Terlihat mereka sangat sedih dan sedikit kecewa karena harapan mereka mendapatkan cucu kini sudah hilang.


"Apa? Gres kamu yang kuat ya yang sabar ya sayang! " Lirih Bu Bimo.


"Ardiya kemana Gresh? " Tanya Pak Bimo.


Gresha lalu menggelengkan kepalanya acuh.


"Gres, kenapa kamu keliatan biasa saja nggak sedih, padahal kamu baru saja kehilangan janin kamu? " Tanya Bu Bimo pada anaknya.


"Itu karena Gresha memang sudah merencanakan ini semua! " Suara Ardiya lantang terdengar dari arah pintu masuk.


Kedua orang tua Gresha dan juga Gresha menatap Ardiya dengan tatapan kebingungan, Ardiya lalu berjalan pelan ke arah mereka lalu memberikan obat penggugur kandungan yang dia pegang pada Pak Bimo.


"Ini apa? " Tanya Pak Bimo sambil membaca tulisan di botol berwarna merah itu.


"Ini obat penggugur kandungan? " Tanya Pak Bimo terkejut.


"Iya, saya menemukan itu di kamar! " Jelas Ardiya sambil menatap sinis Gresha.


"Gresha kamu apa-apaan? kamu sengaja minum obat ini? Kamu nggak waras Gres! " Maki Pak Bimo.


"Nggak Pa, nggak gitu! " Ucap Gresha panik.


"Mama nggak nyangka kamu sejahat itu Gres, itu darah daging kamu Gres, itu cucu papa sama mama, kenapa kamu tega ngelakuin ini semua? " Tanya Bu Bimo sambil berderai air mata.


"Ma nggak gitu mama sama papa dengerin aku dulu! "


"Papa sama mama kecewa sama kamu, kami nggak pernah mendidik kamu untuk menjadi pembunuh seperti ini! " Tegas Pak Bimo.


Pak Bimo kemudian mengajak istrinya keluar dan meninggalkan rumah sakit itu.

__ADS_1


"Papa mama tunggu Gresha mau jelasin dulu! " Panggil Gresha sambil meringis kesakitan.


"Puas kamu sekarang karena uda ngebunuh harapan kami semua? Pasti sebelum kita bertengkar kamu sudah minum obat itu dulu kan? Kamu nggak punya hati! " Tegas Ardiya sambil berlalu pergi.


__ADS_2