
Pagi ini Rafandra sudah ada di depan rumah Gresha, seperti biasa dia menjemput Gresha untuk ke kampus. Sudah lebih dari 15 menit Rafandra menunggu Gresha, tapi Gresha belum juga keluar. Rafandra mencoba menghubungi Gresha tapi juga tidak ada jawaban dari Gresha. karena penasaran kenapa Gresha belum juga keluar dari rumah ,akhirnya Rafandra mencoba untuk masuk ke dalam rumah Gresha. saat Rafandra hendak mengetuk pintu gerbang rumah Gresha, ternyata Pak Basuki lebih dahulu membuka gerbang tersebut.
“Lhoh ada tamu, mas maaf bisa minggir sebentar ? Mobilnya mau keluar!” Ucap Pak Basuki.
“oh..iya pak!” Jawab Rafandra sambil berjalan ke pinggir pintu gerbang.
Dan tak lama sebuah mobil dari rumah Gresha keluar dan itu adalah mobil Ardiya. Rafandra mencoba mengamati siapa yang ada dalam mobil itu tapi dia tidak bisa melihat terlalu jelas. Tapi seklias dia melihat ada seorang laki-laki di dalam mobil itu. Rafandra pun berfikir apakah itu Gresha diantar oleh Pak Dede. Rafandra lalu menghampiri Pak Basuki.
“Maaf pak, itu tadi Gresha yang pergi?”
“Oh bukan mas, Mbak Greshanya masih di dalam mas!”
“Terus itu siapa pak yang pergi?”
“Ya yang punya rumah ini mas!”
“Pak Bimo?”
“Pak Bimo siapa? Nggak ada yang namanya Pak Bimo mas!”
“Lha terus siapa?” Tanya Rafandra semakin penasaran.
“Rafandra!” Panggil Gresha yang berjalan mendekati Rafandra.
Melihat Gresha yang menghampiri Rafandra, Pak Basuki kemudian kembali ke pos satpam. Gresha pun mengajak Rafandra untuk segera masuk ke dalam mobil. Dan akhirnya mereka berdua berangkat ke kampus. Sepanjang perjalanan Gresha hanya terlihat diam saja dan merenung, begitupun Rafandra , dia masih kebingungan dengan apa yang Pak Basuki tadi jelaskan. Rafandra pun akhirnya mencoba untuk menanyakan hal tersebut pada Gresha.
“Gresh, aku mau nanya, tadi sebelum kamu keluar ada mobil keluar dari rumah kamu dan kata satpam kamu, itu pemilik rumah kamu. Dan pas aku tanya apa itu Pak Bimo papa kamu gitu, katanya disana nggak ada namanya Pak Bimo. Jadi tadi itu siapa Gresh?” Tanya Rafandra.
Saat ini Gresha merasa mulai kebingungan untuk menjawab, dia terlihat memutarkan bola matanya kekiri ke kanan sambil terus berfikir untuk mencari alasan.
__ADS_1
“Siapa Gres? Kok nggak jawab?” Tanya Rafandra lagi.
“Itu…itu papa kok, Pak Basuki emang suka-suka lupa di itu!”
“Tapi Papa kamu kan juga nggak tinggal sama kamu kan?”
“Hah? Kamu ngomong apa sih Raf, Papa sama mama aku jelas-jelas tinggal sama aku lah, masak iya kita pisah-pisah tinggalnya!” Ucap Gresha sambil mengukir senyum agar Rafandra percaya padanya.
Rafandrapun terdiam, dia merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu dia merasa kalau Gresha menyembunyikan sesuatu. Padahal dulu Rafandra sempat menepis semua kecurigaannya pada Gresha, tapi kali ini rasa curiga itu tiba-tiba kembali muncul memenuhi hati dan pikiran Rafandra. Rafandra pun diam dan mengangguk, seolah-olah dia mempercayai semua kebohongan Gresha itu, tapi dalam hati Rafandra terbesit niat untuk mencari tahu tentang apa yang sebenarnya Gresha selama ini sembunyikan dari dirinya dan dunia sekitarnya.
Setelah sampai di kampus, Rafandra berpisah di loby karena mereka akan menuju ke kelas mereka masing-masing, Rafandra lalu mengajak Raka yang sedang duduk di loby sambil membaca buku itu untuk segera masuk ke kelas dengan terburu-buru. Setelah sampai di kelas Rafandra menceritakan tentang semua kecurigaannya tentang Gresha pada Raka. Raka nampak tidak terkejut karena sebenarnya memang Raka selama ini masih menyimpan rasa curiga itu.
“Kok lo kayaknya nggak kaget itu sih Ka?” Tanya Rafandra heran.
“Ya emang gue uda nggak kaget, karena emang selama ini gue masih curiga sama pacar lo itu!”
“Terus lo kok diam aja nggak ngasih tahu gue sih?”
Rafandra pun diam mendengar ucaoan Raka yang memang dia rasa benar. Dulu memang Rafandra tak pernah mempercayai pendapat Raka tentang Gresha, dan benar saja kalau setelah Raka tidak memberikan info apapun pada Rafandra. Akhirnya hari ini Rafandra mengajak Raka untuk memulai lagi penyelidikan tentang Gresha.
“Beneran lo mau nyelidikin tentang Gresha? Terus masalah terror itu gimana?” Tanya Raka.
“Ya kita selidiki juga!” Tegas Rafandra.
“Anjing bikin pusing aja sih lo, lagian ini kenapa masalah lo jadi numpuk gini sih. Lo punya dosa apa sih di masa lalu sampai karma nya datang barengan kayak gini!” Ledek Raka.
“Ah anjing lo, siapa juga yang mau punya banyak masalah gini. Tapi apapun masalahnya gue sih tetap tenang asal ada lo yang bantuin gue selalu!” Ucap Rafandra sambil menggoda sahabatnya itu.
****
__ADS_1
Vio tengah duduk sendiri di kantin kampus, kemudian Raka menghampiri Vio dan duduk di depan Vio. Raka juga membawa sepiring siomay dan segelas jus alpukat. Kedatangan Raka itu juga disambut baik oleh Vio. Vio hari ini tidak nampak ceria melainkan terlihat sedikit merenung seperti memkirkan sesuatu.
“Kenapa kok lo kayak banyak pikiran gitu sih?” Tanya Raka sambil melahap siomay dipiringnya.
“Gue kepikiran aja sama Ardiya!”
“Gebetan lo itu? Kenapa dia?”
“Kemarin gue kan ngambilin handphonenya yang jatuh pas di mobil, dan gue lihat masak dia pakek fotonya Gresha buat wallpaper sih. Dan itu tuh bukan fotonya Gresha yang bareng dia dan keluarga yang lain gitu. Benar-benar fotonya Gresha sendiri!”
“Terus kenapa emangnya?”
“Ya gue ngerasa itu aneh banget lah, mana ada sih sepupu atau saudara yang pasang foto saudaranya buat wallpaper handphonenya, mungkin kalau adik kakak kandung sih masih wajar. Tapi kalau cuma sepupu-sepupu gitu kayak gue ngerasanya neh aja gitu!” Jelas Vio.
“Iya juga sih ya, tapi emang mereka itu sepupuan ya?”
“Em…gue nggak tahu sih sebenarnya mereka sepupu atau gimana, tapi katanya saudara gitu aja!” Ungkap Vio.
Mendengar cerita Vio itu juga membuat Raka ikutan ngerasa ada yang aneh, apalagi dulu dia sempat lihat Ardiya pagi-pagi uda ada di rumah Gresha dan berangkat kerja dari rumah Gresha. ditambah lagi waktu malam-malam Ardiya ngumpet di dalam mobil, kalau memang saudara harusnya nggak apa-apa dong dikenalin ke Rafandra dan Raka, tapi Gresha memilih berbohong dan menutupi keberadaan Ardiya. Raka melahap siomay yang ada di piringnya dengan penuh pikiran yang menjurus ke arah Gresha.
“Lo tahu rumahnya Ardiya nggak sih?”
“Rumah? Gue nggak tahu sih, tapi mungkin bokap gue tahu deh. Kantor bokap gue kan ada kerja sama gitu sama kantornya Ardiya. Harusnya bokap gue tahu sih ya, emangnya kenapa?”
“Lo bisa tanyain ke bokap lo dan kasih tahu gue alamatnya?”
Follow Me :
Ig : Rahayu_nrahma
__ADS_1
Tiktok: @Rahayunr30