
“Eh..ini tuh sebenarnya saudaranya Gresha Ka!” Ucap Vio dengan pipi yang memerah.
“Oh saudaranya Gresha, terus ini sama Gresha juga dong?” Tanya Raka dengan senyum tipis dibirnya.
“Nggak…kita cuma berdua aja!” Jelas Vio sambil tersipu malu.
Raka lalu berpamitan pada Ardiya dan Vio lalu segera pergi. Raka mengendarai mobilnya menuju ke rumah Rafandra, hari ini memang dia akan pergi ke rumah sahabatnya itu, mereka berdua tidak bisa kalau sehari saja tidak bertemu ya gais, nempel mulu kayak prangko deh mereka itu. Selama di perjalanan Raka selalu teringat dengan Ardiya. Dan sebenarnya tadi itu juga sudah membantah kecuriggaan Raka terhadap Gresha.
“Jadi cowok itu saudaranya Gresha, ya benar sih kalau sering di rumah Gresha ataupaun nginep sana, tapi kenapa Gresha malam itu nggak jujur aja kalau dia datang sama saudaranya itu!” Fikir Raka.
Memang akhirnya kecurigaan Raka tentang Ardiya itu orang ketiga diantara Gresha dan Rafandra sudah terbantahkana, tapi timbul lagi pertanyaan , mengapa Gresha tidak jujur tentang Ardiya pada Rafandra, kan hanya sebatas saudara.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, akhirnya Raka sampai juga di rumah Rafandra. Saat Raka turun dari mobil, Raka melihat Sherly sedang duduk di taman dekat garasi rumah Rafandra. Sherly terlihat memandangi sebuah foto, karena terlalu serius memandangi foto yang dia pegang, sampai-sampai Sherly tidak menyadari kedatangan Raka.
Raka lalu menghampiri Sherly hendak menyapa, dan disana Raka melihat Sherly memegang sebuah foto anak perempuan yang cantik dan manis.
“Sore tante!” Sapa Raka.
Saat mendengar sapaan dari Raka ,membuat Sherly terkejut dan memasukan foto yang tadi dia pegang ke dalam saku bajunya.
“Eh Raka sore, mau ketemu Rafandra?” Tanya Sherly gelagapan.
“Iya tante!”
“Masuk aja, dia ada di kamar!” Jelas Sherly.
Sherly nampak terkejut dan gugup saat melihat kedatangan Raka. Raka pun merasa aneh dengan sikap Sherly, Raka juga penasaran tentang foto yang Sherly tadi lihat. Kemudian Raka langsung masuk ke rumah dan segera menuju ke kamar Rafandra. Sesampainya di kamar Rafandra, Raka meletakan kopi yang tadi dia beli ke atas meja belajar kamar Rafandra. Sedangkan Rafandra tengah asyik bermain PS sendirian.
“Lama banget sih lo otw nya!” Gumam Rafandra sambil terus fokus pada layer LCD di depannya.
__ADS_1
“Ya soalnya tadi pas gue mampir beli kopi gue ngobrol bentar sama Vio!” Jelas Raka.
“Hah? Sama Vio?Tumben banget lo ngobrol sama dia!”
“Iya tadi gue ketemu dia lagi sama cowok gitu!”
“Siapa? Pacarnya Vio?”
“Kayaknya lagi PDKT gitu, dan ternyata cowoknya itu tuh saudaranya Gresha lho Raf!”
“Saudaranya Gresha? Siapa namanya?” Tanya Rafandra terkejut.
“Namanya Ar…”
Tok…tok…tok….
Ucapan Raka terpotong oleh suara ketukan pintu di kamar Rafandra, dan ternyata itu Bibi yang datang membawakan cemilan untuk Rafandra dan Raka. Bibi langsung meletakan cemilan itu di meja belajar Rafandra.
“Nyoya dari tadi di taman depan rumah Mas!” Ungkap Bibi.
Bibi lalu keluar dari kamar Rafandra, sedangkan Rafandra berjalan ke balkon dan melihat ke arah taman. Dari atas, Rafandra dapat melihat mamanya yang tengah duduk di taman itu. Raka lalu menghampiri Rafandra dan menceritakan apa yang tadi dia lihat saat dirinya baru sampai di rumah Rafandra.
“Tadi nyokap lo kayak lagi kosong gitu fikirannya, gue datang aja nyokap lo nggak nyadar dan pas gue panggil malah kelihatan kaget baget, dan tadi tuh disana nyokap lo lagi lihatin foto anak cewek sekiar usia 2 tahunan mungkin.
“Anak cewek siapa? Kan anaknya nyokap gue cuma gue aja!” Tegas Rafandra.
“Ya gue nggak tahu, gue nggak nanya, kan fotonya langsung dimasukin ke kantong bajunya nyokap lo lagi!”
“Apa itu anak cewek di foto yang kemarin Ka?” Tanya Rafandra dengan sorot mata tajamnya.
__ADS_1
Raka dan Rafandra teringat dengan foto Sherly bersama seorang perempuan yang sedang mengendong bayi perempuan, apakah bayi perempuan pada foto waktu itu adalah anak perempuan yang ada di foto yang Raka lihat?.
****
Rafandra mengantarkan Vio untuk pulang, karena Vio memang tadi berangkat naik taxi dan tidak membawa mobil. Lagi-lagi ini adalah trick dari Vio agar bisa diantar pulang Ardiya. Tapi trick Vio memang tidak salah, Ardiya dengan gagah mengantarkan Vio pulang. Kebahagian Vio kini semaki menajdi-jadi, karena bisa menghabiskan weekendnya bersama orang yang dia suka. Setelah mengantarkan Vio pulang, Ardiya bergegas untuk pulang juga. Vio sebenarnya meminta Ardiya untuk mampir terlebih dahulu ke rumahnya, tapi Ardiya menolak karena hari sudah semakin petang. Saat sampai di rumah, Ardiya melihat Gresha tengah duduk di sofa ruang tamu, sepertinya kali ini Gresha tengah menunggu suaminya itu pulang. Gresha lalu berjalan menghampiri suaminya yang baru saja sampai rumah.
“Kamu uda pulang?”
“Hmmm”
“Tadi aku uda masak buat makan malam lho!” Ucap Gresha manis.
Tapi Ardiya ternyata tak menggubris ucapan Gresha itu dan langsung menuju ke kamar. Sedangkan Gresha terdiam melihat Ardiya yang masuk ke kamarnya tanpa berucap apapun pada Gresha. Gresha lalu menuju ke meja makan dan bersiap untuk makan malam. Dan sepertinya makan malam ini pun Gresha harus makan sendiri tanpa suaminya. Ruang dan meja makan di rumah Gresha ini sangatlah indah dan mewah, tapi hanya dia yang duduk dan berhadapan dengan makanan. Hampa dan hening yang saat ini Gresha rasakan, karena sejujurnya saat ini dia sangat merindukan kedaiaman dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Gresha lalu memanggil Bibi dan mengajak Bibi untuk makan malam bersama, Bibi sebenarnya sudah berulang-ulang kali menolak, tapi Gresha terus memaksa, karena Gresha benar-benar ingin ada teman untuk menemaninya manyantap hidangan special malam ini.
****
Ardiya tengah duduk di atas tempat tidur sambil mengotak-atik ponselnya, dai terlihat sedang sibuk menghubungi seseorang, entah siapa dan entah apa yang dia bicarakan pada orang tersebut. Tapi dari raut wajah Ardiya terlihat dia sangat serius tapi juga tersirat kesedihan dari raut wajahnya itu. Tak lama Ardiya lalu menutup telfonnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur , sambil menatap langit-langit kamarnya air mata Ardiya tiba-tiba menetes pelan membasahi bantal. Entah apa yang ada dalam fikirannya hingga dia terlihat begitu sedih hingga meneteskan air mata. Apakah segitu beratnya beban yang Ardiya pikul? Apakah sebegitu beratnya masalah yang Ardiya saat ini hadapi? Ardiya memang bukan type orang yang suka bercerita, dia memang lebih sering memendam apa yang dia rasakan, karena dia tidak mau membuat orang lain ikut berfikir tentang masalah yang dia hadapi.
Tok..tok…tok..
Tiba-tiba ada yang datang dan mengetuk pintu kamar Ardiya, Ardiya lalu terbangun dari tidurnya.
“Siapa?” Tanya Ardiya dari dalam kamar.
“Ini aku, aku bawain makanan buat kamu makan malam, ini aku taruh depan kamar kamu ya!” Ucap gresha dari luar kamar Ardiya.
Follow Me :
__ADS_1
Ig : @rahayu_nrahma
** : @rahayunr30