
Ardiya kemudian mengambil sepotong chocolate cake yang ada di meja, lalu memakan chocolate cake itu, dari raut wajah Ardiya terlihat dia nampak bahagia, dan tak bisa berhenti tersenyum. Begitupun Gresha, melihat Ardiya yang memakan chocolate cake itu membuat Gresha tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa dimakan? Katanya tadi nggak mau?” Ledek Gresha.
“Suka-suka lah yang beli juga aku!” Ucap Ardiya sambil tersenyum tipis.
Tawa riang terdengar diantara mereka berdua, mereka kini terlihat bagaikan selayaknya suami istri pada umumnya yang dipenuhi kebahagiaan. Dari dapur terlihat Bibi dan Pak Dede sedang mengintip Gresha dan Ardiya dibalik jendela dapur.
“Kalau lihat mereka kayak gitu ikutan adem ya, saya juga ikutan bahagia!” Celetuk Bibi sambil tersenyum tipis.
“Sama Bi, saya juga seneng kalau lihat Pak Ardiya sama Mbak Gresha kayak gini, akhirnya setelah sekian lama ada canda tawa juga diantara mereka!” Sahut Pak Dede tersenyum.
“Andaikan Non Naya masih ada, pasti dia juga bahagia ya!” Ucap Bibi sendu.
****
Ardiya hari ini sedang ada meeting dengan beberapa rekan kerjanya di kantor, dan salah satunya adalah Pak Roy papa dari Vio. Keluarga Ardiya memang sudah cukup lama bekerja sama dengan perusahaan Pak Roy. Dan setelah meeting terlihat Ardiya tengah mengobrol dengan Pak Roy di loby kantor Ardiya, dan tak lama kemudian datang seorang gadis yang menghampiri Ardiya dan Pak Roy, gadis itu adalah Vio.
“Hai Pa, Hai Ardiya!” Sapa Vio.
Ardiya dan Vio memang sudah kenal, karena sudah beberapa kali bertemu, tapi memang keluarga Vio tidak tahu kalau Ardiya sudah menikah, karena memang dulu yang diundang hanya kerabat dekat, dan rekan kerja yang benar-benar sudah dekat dengan keluarga Ardiya.
“Hai Vio!” Sapa Ardiya.
“Maaf ya Pak Ardiya tadi Vio pengen nyusul kesini!”
“Iya Pak nggak apa-apa!”
“Pak Ardiya saya mau ijin ke toilet dulu, Vio kamu tunggu disini dulu ya!” Pamit Pak Roy.
“Iya Pa!” Jawab Vio.
Kini hanya ada Ardiya dan Vio lalu mereka duduk di kursi yang ada di lobby kantor Ardiya, terlihat lalu lalang karyawan yang sedang sibuk bekerja, sedangkan Vio sesekali melihat ke arah Ardiya.
“Oh ya Ardiya, kamu sama Gresha ada hubungan apa?”
__ADS_1
“Gresha?” Tanya Ardiya terkejut.
“Iya, dia satu kampus sama aku, kamu kenal kan sama dia? Kalian ada hubungan apa, soalnya aku denger kamu habis beliin dia kado tas mahal dari singapura ya?” Cecar Vio.
“Terus salah satu perusahaan keluarga kamu juga dipegang keluarganya Gresha kan?” Lanjut Vio.
“Kita…kita saudara jauh!” Jawab Ardiya sambil memainkan ponselnya.
“Saudara?” Jelas Vio,
“Iya, ya uda saya mau pergi dulu, bilang ke Pak Roy kalau saya ada kerjaan!” Pamit Ardiya dan lalu berlalu pergi meninggalkan Vio sendiri.
*****
Ardiya menjemput Gresha di depan kampusnya, Gresha tidak tahu kalau hari ini yang menjemput adalah Ardiya, karena memang Ardiya tidak memberi tahu kan hal ini kepada Gresha. Saat sedang menunggu di parkiran kampus tiba-tiba Ardiya melihat Gresha sedang jalan berdua bersama Rafandra dan bergandengan tangan, mereka lalu menuju mobil Rafandra. Terlihat Rafandra membukakan pintu mobil untuk Gresha, raut wajah bahagia Gresha dan Rafandra sangat jelas terbaca oleh Ardiya, melihat kemesraan itu membuat hati Ardiya kesal dan ingin marah. Tangannya menggenggam setir mobil dengna kuat, rasanya dia sangat ingin turun dan memukul Rafandra, tapi Ardiya terus mencoba tenang. Tak lama kemudian mobil Rafandra pergi dan Ardiya dengan segera mengikuti mobil Rafandra.
Sepanjang perjalanan Ardiya mencoba menghubungi Gresha, tapi sekalipun Gresha tidak mengangkat telfon dari Ardiya.
“Kenapa sih Gresh, baru kemarin kamu kayak ngasih harapan sama aku, sekarang kamu seperti ini!” Gumam Ardiya kesal.
Setelah beberpa saat akhirnya mereka sampai di sebuah tempat dan ternyata itu adalah rumah Rafandra.
Rafandra dan Gresha turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Rafandra, sedangkan Ardiya menunggu tak jauh dari rumah Ardiya.
****
“Gresh kamu langsung naik ke kamar aja ya, aku mau ngambilin minum dulu!” Ucap Rafandra.
“Tante Sherly dimana?”
“Masih di kantor kayaknya, mobilnya juga nggak ada!” Jawab Rafandra sambil berjalan ke arah dapur.
Gresha lalu berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamar Rafandra, Gresha lalu membuka pintu yang mengarah ke balkon kamar Rafandra, dan kini Gresha berdiri di pinggir balkon. Dari kejauhan ternyata Ardiya bisa melihat keberadaan Gresha yang ada di balkon kamar Rafandra.
Tak selang berapa lama Rafandra datang dengan membawa dua gelas minuman dan beberapa makanan ringan, mereka lalu terlihat berbincang di balkon itu dan sesekali menebar tawa riang.
__ADS_1
“Gresh, aku cinta banget sama kamu, kamu jangan pernah ninggalin aku ya!” Pinta Rafandra dengan tulus.
“Aku juga cinta banget sama kamu Raf!”
“Kamu janji kan nggak akan pergi?”
Gresha mendadak diam dan menatap sendu kedua bola mata Ardiya, saat ini Gresha tengah kebingungan dengan apa yang harus dia jawab. Karena dia tahu saat inipun sebenarnya dia sudah pergi meninggalkan Rafandra,lalu bagaiman bisa mengucap janji itu?
“Gres? Kenapa nggak jawab?” Tanya Rafandra lagi.
“Iya sayang…aku nggak akan ninggalin kamu kok janji!” Ucap Gresha meyakinkan Rafandra.
Senyum manis terukir dari bibir Rafandra, senyuman yang benar-benar meluluhkan hati Gresha. Rafandra kemudian mengusap lembut pipi Gresha dan mendekatkan bibirnya ke bibir Gresha.Gresha yang tahu apa maksud dari Rafandra itu lantas memejamkan matanya dan turut mendekatkan bibirnya ke bibir Rafandra.
****
Ardiya terus memperhatikan Rafandra dan Gresha dari kejauhan, untungnya mereka berdua ada di balkon kamar sehingga Ardiya masih bisa memantau Gresha dan Rafandra. Semakin lama semakin sakit hati Ardiya saat melihat kemesraan Rafandra dan Gresha. dan semakin sakit hati Ardiya saat melihat istri yang sangat dia cintai ciuman mesra dengan Rafandra. Tangan Ardiya mengepal kuat dan memukul setir mobilnya. Hatinya begitu sakit dan rasanya saat itu juga dia ingin turun dan menghajar pacar dari istrinya itu. Tapi sekali lagi dia mencoba sabar dan menepati janjinya pada Gresha untuk menahan semua ini.
“Sampai kapan harus kayak gini Gres? Kamu itu istri aku!” Gumam Ardiya kesal.
Karena sudah sangat sakit Ardiya lalu pergi dari rumah Rafandra, Ardiya mengendarai mobilnya dengan sangat ugal-ugalan, emosinya kini benar-benar tak tahu harus dilampiaskan kepada siapa. Sepanjang jalan hatinya terasa sangat sesak, matanya terlihat berkaca-kaca.
Sesampainya di rumah Ardiya langsung masuk ke kamar dan membanting pintu kamarnya dengan keras, Bibi yang melihat Ardiya marah itupun menjadi takut. Dan pergi ke dapur menemui Pak Dede yang sedang menikmati secangkir kopi.
“Suara apa itu tadi Bi?” Tanya Pak Dede.
“Pak Ardiya banting pintu kamar!”
“Kenapa?”
“Nggak tahu kayaknya lagi marah-marah!”
“Sama Mbak Gresha datangnya?”
“Nggak, sendirian!”
__ADS_1
“Lhah Mbak Gresha dimana? Pak Ardiya kan bilang mau jemput Mbak Gresha makanya saya di rumah aja nggak ke kampus!” Jelas Pak Dede bingung.
“Nggak tahu, apa berantem lagi ya? Baru juga kemarin lihat mereka bahagia, masak sekarang udah berantem lagi!” Keluh Bibi.