
Setelah membantu Sherly ke kamar dan setelah Sherly tertidur, Rafandra dan Raka kembali ke kamar Rafandra. Mereka berdua terlihat sedang menyruput kopi susu sambil menghirup udara segar malam ini. Dari raut wajah mereka berdua nampak sangat kebingungan, apalagi Rafandra, dia terlihat sangat gelisah. Fikiran Rafandra terus saja terganggu dengan semua ucapan dan tingkah dari mamanya. Ingatannya juga melayang pada tragedi beberapa tahun lalu, dimana hari itu adalah hari yang sangat menyedihkan bagi Rafandra, karena dia harus kehilangan kekasih yang di cintai saat itu. Luka yang lama terkubur itu mulai terbuka lagi dan menggoreng luka lagi, apalagi sekarang Sherly bersikap seperti itu, Sherly seolah-olah menyalahkan Rafandra atas kematian Naya. Dan entah apa yang kini membuat Sherly histeris seperti itu.
“Lo liat sendiri kan Ka gimana nyokap gue!” Ucap Rafandra sambil menatap kopi yang dia pegang.
“Iya gue juga ngerasa aneh sama sikap nyokap lo tadi, setelah sekian tahun kenapa seolah-olah baru sekarang semua ini meledak. Kalau nyokap lo mau marah harusnya itu dulu, bukan sekarang. Dan dulu padahal nyokap lo nggak pernah bahas malah kematian Naya kan?”
“Iya, dulu sama sekali nyokap gue nggak pernah bahas tentang Naya, dan lo juga tahu sendiri kan dulu nyokap gue sama Naya itu ngak dekat!” Jelas Rafandra.
“Semakin kesini makin mencurigakan Raf!”
****
Gresha menghampiri Ardiya yang sedang duduk sambil bermain ponsel di ruang keluarga, Gresha lalu duduk di sebalah Ardiya dan mencoba memberanikan diri untuk berbincang dengan Ardiya.
“Ada apa?” Ketus Ardiya sebelum Gresha sempat berucap.
“Aku..aku mau ..!”
“Mau apa?mau bilang kalau uda mulai ngurus perceraian kita?”
“Nggak…aku…aku belum ngurus apapun kok!”
“Kenapa? Butuh pengacara? Nggak usah bingung nanti aku sediain pengacara buat dampingin kamu!”
“Hah?Tapi aku tuh mau…”
Ardiya lalu berdiri tanpa memperhatikan Gresha sedikitpun.
“Aku buru-buru mau pergi!” Ketus Ardiya sambil terus berjalan meninggalkan Gresha.
“Kamu mau kemana? Ini kan weekend?”
“Aku ada janji sama Vio!”
Ardiya berlalu meninggalkan Gresha dengan wajah kebingungan. Gresha merasa aneh dan juga cukup kesal saat Ardiya menyebut nama Vio di depannya, apalagi mendengar kalau Ardiya akan beremu dengan Vio.
“Janjian sama Vio? Tapi kan gue sama Yumi nggak ada atur rencana buat mereka ketemuan hari ini? Kalau begitu berarti mereka janjian sendiri?” Gumam Gresha dengan wajah kebingungan.
Gresha lalu segera menghubungi Vio, tapi beberapa kali Gresha menelfon, Vio tidak mengangkat panggilan Gresha itu, Gresha terus mencoba menghubungi Vio tanpa henti hingga akhirnya Vio mengangkatnya.
__ADS_1
“Ada apa Gres?” Tanya Vio.
“Lo mau ketemuan sama Ardiya ?”
“Iya, gue ada janjian sama dia Gres. Kenapa ?”
“Oh..emm…ya uda, gue cuma nanya aja kok!”
Gresha lalu mematikan telfon itu dan membanting ponselnya ke atas sofa. Dari raut wajah Gresha terlihat dia kesal dan mungkin saja dia sudah mulai cemburu melihat kedekatan Ardiya dan Vio saat ini.
Gresha lalu pergi keluar dan melihat apakah mobil Ardiya masih di garasi atau tidak, dan ternyata mobil Ardiya masih di garasi berarti Ardiya belum berangkat. Dan tak lama kemudian Ardiya keluar dari rumah, dia menggunakan kaos pendek berwarna hitam dan celana hitam, serta mengenakan sepatu berwarna putih. Seketika Gresha luluh melihat suaminya yang nampak sangat menawan itu. Matanya seakan tak mau lepas memandangi tubuh Ardiya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Kenapa ngeliatin kayak gitu?” Ketus Ardiya.
“Oh..nggak kok, kamu uda mau berangkat?”
“Hmm”
“Aku ikut ya!” Tawar Gresha.
“Nggak!”
“Ngapain? Aku mau ketemu Vio berdua!” Ketus Ardiya dengan tatapan tajamnya.
“Aku…..!”
“Turun!” Tegas Ardiyai
“Tapi…!”
“Turun…!” Bentak Ardiya.
Mendengar bentakan Ardiya itu membuat nyali Gresha menciut dan segera turun dari mobil. Dia menahan tangis sambil melihat mobil Ardiya pergi meninggalkannya. Gresha lalu masuk kembali ke dalam rumah dan pergi ke dapur menemui Bibi.
Bibi saat ini terlihat tengah membersihkan piring-piring yang ada di dapur. Gresha lalu mengambil tisu dan ikut membantu Bibi membersihkan piring. Gresha hanya diam dan tak berucap apapun pada Bibi, tapi dari raut wajah Gresha terlihat ada rasa sedih. Matanya juga terlihat memerah seperti hendak menangis. Bibi yang peka dengan keadaan Gresha itu lalu menuangkan jus di gelas dan memberikannya pada Gresha.
“Minum dulu Mbak!” Ucap Bibi sambil mengulurkan segelas jus apel.
“Ardiya mau nyiapin pengacara Bi buat dampingin aku ngurus perceraian!” Lirih Gresha.
__ADS_1
“Mbak Gresha serius mau ceraiin Pak Ardiya?”
“Menurut Bibi gimana?”
“Kok jadi nanya Bibi sih Mbak, harusnya Mbak Gresha nanya hati Mbak Gresha, tapi saya yakin sebenarnya Mbak Gresha uda mulai sayang sama Pak Ardiya kan?”
****
Ardiya dan Vio terlihat sedang menikmati hidangan di sebuah café klasik dengan didiringi alunan lagu-lagu indah. Vio memang hari ini mengajak Ardiya untuk bertemu dan tanpa basa-basi Ardiya langsung menerima tawaran Vio itu. Sebenarnya Ardiya menerima tawaran Vio ini hanya untuk sedikit menghilangkan rasa sakit hatinya. Ardiya pun disini sebenarnya tidak terlalu banyak bicara, hanya berbicara seperlunya saja, sedangkan Vio terlihat sangat aktif dan banyak cerita. Ardiya pun sebenarnya juga kurang begitu memperhatikan cerita dari Vio karena sejujurnya yang ada dalam fikirannya kini adalah Gresha. Saat tengah asyik menikmati makanan tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Vio dan Ardiya.
“Vio!” Panggil seorang laki-laki yang berjalan mendekati Vio dan Ardiya.
“Eh Raka, kamu disini juga?” Tanya Vio.
“Iya tadi lewat terus mampir beli kopi, nih!” Ucap Raka sambil menunjukan kopi yang sudah dibungkus dengan paper bag dan siap dibawa pulang.
Mendengar Vio yang di sapa oleh seseorang, Ardiya lalu memalingkan wajahnya dan melihat ke arah Raka. Raka pun bertatapan dengan wajah Ardiya, Raka sontak mengingat wajah Ardiya, dan Raka juga ingat kalau itu adalah wajah laki-laki yang ada di rumah Gresha.
“Dia kan laki-laki yang sama Gresha!” Batin Raka.
“Eh iya Ka, ini kenalin Ardiya!” Ucap Vio.
Raka lalu mengulurkan tangannya ke arah Ardiya, uluran tangan itupun di sambut baik oleh Ardiya.
“Raka!” Ucap Raka.
“Ardiya!” Ucap Ardiya.
Ardiya disini juga tahu kalau Raka adalah sahabat dari Rafandra, kekasih dari istrinya. Tapi Ardiya tetap mencoba untuk tenang dan seolah-olah tidak tahu siapa Raka itu sebenarnya.
“Pacar lo Vio?” Tanya Raka sambil senyum dibibirnya.
“Eh..ini tuh sebenarnya saudaranya Gresha Ka!” Ucap Vio dengan pipi yang memerah.
Follow Me :
Ig : @Rahayu_nrahma
** : @Rahayunr30
__ADS_1