Antara Suami Dan Kekasih

Antara Suami Dan Kekasih
Bab 29 (Rumah Mewah)


__ADS_3

Gresha mencari tas yang kemarin dia kenakan, dia sudah mencari di lemari di gantungan tas dekat meja rias bahkan dia sudah menanyakan ke asisten rumah tangganya, dan sama sekali tidak menemukan tas nya juga. Tapi karena badannya mulai terasa lemas dan perutnya sudah merasa tidak nyaman Gresha lalu merebahkan badannya di atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian Ardiya masuk ke kamar dan membawakan beberapa potong buah untuk Gresha.


"Kamu makan dulu buah-buahan ini ya! " Ucap Ardiya sambil meletakkan piring buah ke meja dekat tempat tidur.


"Handphone aku mana?" Tanya Gresha.


"Masih aku sita, kamu istirahat dulu kalau handphonenya kamu pegang pasti Rafandra dan temen-temen kamu bakalan ngehubungin kamu terus, saya nggak mau kamu dan janin kamu ada apa-apa!”


****


Rafandra dan Raka masih fokus mengikuti mobil hitam yang tadi keluar dari rumah Gresha. Mereka sangat penasaran siapa orang yang mengendarai mobil itu karena Rafandra belum pernah melihat mobil itu sebelumnya. Dan setelah cukup lama akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang terlihat sangat mewah, Rafandra terus mengamati mobil itu dan ternyata keluarlah Pak Bimo dan Istrinya dari mobil hitam itu. Terlihat mereka diantarkan oleh seorang sopir. Pak bimo terlihat sudah sangat sehat dan bisa berjalan kembali, itu berarti terapi yang selama ini dia jalani sukses.


"Itu bokap nyokapnya Gresha kan Raf?”


"Iya Ka, terus ini rumah siapa ya?”


"Mana gue tahu!”


Saat sedang memperhatikan rumah itu kemudian Rafandra melihat dua orang bapak-bapak melintas melewati mobil mereka. Rafandra kemudian keluar dari mobil dan menghampiri dua orang laki-laki setengah baya itu.


"Maaf pak saya mau tanya!”


"Iya gimana?”


"Saya mau tanya rumahnya Pak Bimo dimana ya?”


"Oh Pak Bimo, itu rumahnya!" Jawab seorang laki-laki sambil menunjuk rumah yang dari tadi Rafandra dan Raka amati.


“Pak Bimo yang punya satu anak perempuan itu kan pak?”


"Waduh kalau itu saya nggak tahu mas, kalau Pak Bimo setau saya disini cuma sama istrinya, anaknya nggak pernah kelihatan. Atau mungkin Pak Bimo yang mas maksud bukan Pak Bimo yang ini!”


"Gitu ya pak, soalnya saya dapat alamatnya disini pak. Saya ini temen dari anaknya Pak Bimo, saya diminta sama dosen saya untuk ke rumahnya karena sudah beberapa hari ini nggak masuk kuliah!”


"Kalau Pak Bimo yang ini dari awal pindah sini saya nggak pernah lihat anaknya mas. Kalau nggak mas coba masuk saja!”


"Baik pak, makasih ya!”

__ADS_1


Setelah mendapatkan informasi Rafandra kembali ke dalam mobil dengan wajah yang kebingungan.


"Gimana Raf?”


"Ini rumah Bokap Nyokapnya Gresha, tapi orang tadi bilang dia nggak tahu kalau mereka punya anak, dan selama pindah kesini nggak pernah lihat Gresha!”


"Berarti Gresha sama Bokap Nyokap nya ini tinggal terpisah gitu?”


"Sepertinya, tapi ngapain? Dan kayak nggak masuk akal aja sih, Om Bimo habis bangkrut dan dalam hitungan bulan mereka beli dua rumah sekaligus di lokasi yang berbeda di Kawasan elit semua, dan belum lagi mobil-mobil mewah mereka. Sebelum bangkrut aja rumah mereka nggak semewah sekarang lho!”


“Iya gue mikirnya juga gitu, ini kayak ada yang nggak beres deh Raf!”


****


Hujan tiba-tiba datang dengan deras, Rafandra yang baru saja memarkirkan mobilnya di garasi bergegas masuk ke dalam rumah, tapi saat hendak mengetuk pintu rumahnya, dia melihat bungkusan plastik kresek berwarna hitam di depan pintunya. Lalu dengan segera Rafandra mengambil bungkusan itu dan membukanya, Rafandra sangat terkejut saat dia melihat sebuah baju yang sudah berlumuran darah, saat Rafandra mengambil baju itu ternyata adalah baju perempuan.


“Apa maksud ini semua? Sialan! " Gumam Rafandra dengan wajah yang kesal.


Saat Rafandra memperhatikan baju itu kemudian dia teringat sesuatu.


****


Hari ini Rafandra juga tidak berangkat ke kampus, dia merasa badannya kurang sehat. Dan karena Raka khawatir dengan keadaan sahabatnya itu setelah pulang kuliah Raka menjenguk Rafandra di rumahnya. Saat masuk ke kamar Rafandra, Raka melihat Rafandra sedang berbaring lemas sambil menatap jendela kamarnya, wajahnya terlihat lesu dan juga pucat.


“Raf lo sakit apa? " Tanya Raka mengejutkan Rafandra.


"Lo kok kesini?”


"Ya kan gue mau nengokin lo, masak sahabat gue sakit, gue nggak tengokin sih!”


"Oh, gue nggak sakit kok, gue baik-baik aja!”


"Tapi kok lo pucat terus lemes gini kenapa?”


"Kemarin waktu kita pulang dari rumah Om Bimo gue dapet terror itu lagi Ka!”


"Hah? Penerornya bilang apa lagi?”

__ADS_1


"Nggak ada pesan apa-apa sih, dia cuma ngirimin baju yang udah berlumuran darah!”


"Sumpah lo? Kok makin serem sih!”


"Tapi yang bikin gue bingung baju itu nggak asing buat gue!”


"Bajunya siapa Raf? Gresha?”


"Bukan!”


“Lalu?”


"Baju milik Naya yang dulu gue beliin!”


"****!” Raka bercedak kesal.


****


Gresha masih saja dikurung dikamar oleh Ardiya, dia sudah dua hari ini tidak masuk kuliah lagi, dia akan sangat tertinggal materi kalau terus-terusan seperti ini. Tapi badannya masih saja terus merasa lemas, apalagi perutnya terus-terusan merasa mual. Gresha terlihat sangat tidak senang dan membenci keadaan ini. Dan malam ini adalah waktunya Gresha untk meminum obat dan vitaminnya, tapi untuk ketiga kalinya dalam hari ini dia tidak meminumnya malahan obat itu dia bungkus dengan tisu dan dia buang ke dalam tong sampah.


“Nggak ada gunanya gue minum obat dan semua vitamin ini. Karena ini yang bakalan nambah beban hidup gue!" Gumam Alena sambil membuang obat itu ke tong sampah.


Tak lama berselang Ardiya masuk ke kamar, dari raut wajahnya dia terlihat kelelahan karena bekerja seharian di kantor. Melihat Ardiya yang sudah pulang, Gresha lalu kembali ke tempat tidur dan merebahkan badannya. Ardiya langsung menghampiri Gresha dan mengelus perut Gresha.


"Kamu uda minum obat? " Tanya Ardiya dengan senyum manis dibibirnya.


“Udah!”


Ardiya kemudian menghitung persediaan obat Gresha lalu melempar senyum ke Gresha saat sudah selesai menghitung jumlah obat itu.


"Bagus!”


Sampai saat ini Ardiya masih belum menyadari kalau Gresha tidak meminum obatnya, dan itu membuat Gresha berfikiran untuk melakukan hal yang sama hari esok.


"Kalian harus sehat dan kuat!" Ucap Ardiya sambil mengelus pelan perut Gresha.


Ardiya terlihat sangat sayang dengan Gresha dan janinnya, dia terlihat seperti laki-laki lain yang sangat mengharapkan kehadiran momongan di tengah kelurga mereka. Tapi sayangnya Gresha merasakan sebaliknya, dia sangat sedih dan sangat membenci keadaannya yang sekarang. Yang selama ini difirkan oleh Gresha adalah bagaimana caranya supaya dia bisa menggugurkan janin dalam kandungannya itu tanpa ketahuan kalau dia memang sengaja melakukan itu. Sungguh picik saat ini pemikiran Gresha kepada seorang janin yang tak punya dosa itu.

__ADS_1


__ADS_2