
Beberapa tahun kebelakang
“Rafandra mau tinggal sama Papa Rei ma, Rafandra nggak mau sama Papa Dio!” Rengek Rafandra pada Sherly.
Ardiya ternyata mendengar ucapan Rafandra itu dari balik pintu kamar Sherly, Ardiya saat ini tengah memegang sebuah mainan pistol-pistolan yang baru saja dia beli untuk adik laki-lakinya itu. Dia berharap dengan membelikan mainan, Rafandra tidak merengek terus minta untuk tinggal dengan Papanya. Karena saat ini Ardiya benar-benar menyayangi adik laki-lakinya. Setelah berpisah dengan adik perempuannya, Ardiya memang merasa senang dengan kehadiran Rafandra, karena Ardiya merasa tidak kesepian lagi.
Ardiya lalu berjalan menuju ke halaman rumahnya dan terlihat tengah duduk termenung sambil menatap mainan yang sedari tadi dia pegang. Lalu tak lama kemudian Sherly datang dengan membawakan jus alpukat kesukaan Ardiya. Sherly lalu duduk di sebelah Ardiya dan mengulurkan jus alpukat itu.
“Minum dulu biar nggak sedih!” Ucap Sherly dengan senyum yang manis.
Ardiya lalu menerima jus itu dan meminumnya, seperti biasa jus buatan mama tirinya itu selalu enak.
“Enak ma!” Ucap Rafandra dengan senyum yang tak kalah memukau.
“Kamu habis beli mainan?”
“Iya ma, Ardiya ambil tabungan Ardiya lagi, ini Ardiya beliin mainan buat Rafandra!”
Sherly lalu mengusap lembut rambut Ardiya dengan penuh kasih sayang, hubungan mereka berdua memang harmonis dan tidak seperti mama dan anak tiri. Ardiya benar-benar menyayangi Ardiya seperti dia menyayangi Rafandra.
“Kamu kakak yang selalu baik, Ardiya beruntung punya kakak seperti kamu!” Puji Sherly.
“Mama…mama sama Rafandra nggak akan ninggalin Ardiya sama Papa kan?”
“Kenapa kamu bicara seperti itu sayang?”
“Ardiya takut ma, Ardiya trauma kalau harus kehilangan mama dan adik Ardiya lagi. Ardiya sayang sama mama, sayang sama Rafandra, Ardiya mau kita sama-sama terus, sampai Ardiya besar nanti. Ardiya janji akan bahagiain mama dan juga Rafandra!” Ucap anak laki-laki berusia 10 tahun itu.
Dia baru saja berusia 10 tahun tapi fikirannya sudah begitu jauh dan begitu dewasa, ya memang itulah anugrah yang diberikan Tuhan kepada anak laki-laki tampan itu.
“Mama janji nggak akan ninggalin Ardiya dan Papa, kita semua akan selalu sama-sama ya sayang!”
__ADS_1
Ardiya lalu memeluk tubuh Sherly dengan hangat dan dengan tatapan mata yang berkaca-kaca, Ardiya begitu bahagia mendengar janji yang diucapkan oleh mamanya itu.
Hari-hari Ardiya kemudian dipenuhi dengan kasih sayang yang berlimpah dari Sherly, tiap hari tak pernah tak ada tawa dan manja Ardiya kepada Sherly. Hingga pada suatu hari Ardiya melihat Sherly dan Ardiya mengemasi barang dan mereka masukan ke dalam beberapa koper. Ardiya hanya mengintip dari balik pintu, dan karena dia merasa kalau terjadi sesuatu, Ardiya lalu segera menghampiri papanya yang tengah duduk lesu di ruang tamu. Ardiya berlalari dengan cepat hingga nafasnya pun tak beraturan.
“Papa…papa!” Panggil Ardiya.
Pak Dio lalu menoleh ke arah kedatangan anak laki-lakinya itu, dari tatapan mata Pak Dio sangat terlihat kalau dia sedang sangat sedih dan terpukul.
“Papa kenapa? Papa sedih?” Tanya Ardiya dengan penasaran.
“Papa nggak apa-apa kok!”
“Papa, mama sama Rafandra mau kemana? Kenapa mereka memasukan barang-barang mereka ke dalam koper?” Tanya Ardiya panik.
“Mama ada kerjaan , dan harus pergi beberapa hari!”
“Sama Rafandra?”
“I..iya pa!”
Ardiya mencoba mempercayai ucapan Papanya itu meskipun sebenarnya dari lubuk hatinya yang paling dalam, Ardiya merasa kalau ada sesuatu yang terjadi di keluarga mereka.
Lalu Sherly dan Rafandra terlihat datang dengan menenteng beberapa koper yang terlihat cukup berat.
“Mama mau pergi kerja? Nggak lama kan?” Tanya Ardiya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Iya mama nggak lama kok, secepatnya mama dan Rafandra pulang!” Ucap Sherly sambil mengusap rambut Ardiya dan lalu memeluk serta mencium anak laki-laki yang malang itu.
Hari demi hari telah berlalu dan tiada hari tanpa Ardiya menunggu kedatangan mama dan adik laki-lakinya, saat ini sudah tepat satu bulan setelah kepergian Sherly dan Rafandra. Bahkan pesan atau telfonpun tidak ada. Dan beberapa kali Ardiya mencoba menghubungi mamanya menggunakan ponsel papanya pun juga tidak pernah diangkat oleh Sherly. Dan hari ini Ardiya pergi ke sekolah Rafandra, setelah menunggu beberapa saat dia melihat Rafandra keluar dari sekolah.
Ardiya yang merindukan adik laki-lakinya itu langsung menhgampiri Rafandra dengan buru-buru.
__ADS_1
“Rafandra? Kamu uda pulang?” Tanya Ardiya yang kini sidah ada di hadpan Rafandra.
“Ada apa?” Ketus Rafandra.
“Kenapa kamu sama Mama nggak pulang ke rumah? Mama dimana?”
“Ke rumah Papa kamu? Ngapain? Sekarang aku sama Mama uda tinggal sama Papa Rei di rumah yang lebih besar dan lebih bagus!” Ketus Rafandra.
“Kenapa kamu tinggal disana?”
“Ya karena Papa dan Mamaku sekarang sudah menikah, jadi aku bisa tinggal lagi sama Papaku. Kamu jangan kesini lagi, aku nggak suka sama kamu sama Papa kamu. Kalian nggak bisa bikin aku bahagia!” Ketus Rafandra.
Rafandra lalu pergi meinggalkan Ardiya, sedangkan Ardiya benar-benar hancur dan terpukul. Dia tidak menyangka kalau mamanya itu akan mengingkari janjinya dulu. Cinta yang diberikan Ardiya pada Rafandra dan Sherly ternyata tidak bisa membuat Rafandra dan Sherly bahagia.
Hal ini sungguh meninggalkan sakit hati dan trauma yang mendalam bagi Rafandra, dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun dia kehilangan dua mamanya dan dua adiknya, rasanya sungguh luar biasa sakitnya.
Semenjak hari itu Ardiya tidak pernah bertemu dengan dengan Sherly dan Rafandra. Hingga suatu hari saat usia Rafandra menginjak 17 tahun, perusahaan yang dibangun oleh Papanya mengalami masalah keuangan, dan mengalami kekalahan dalam beberapa kali project. Itu cukup membuat Pak Rei merasa terktekan dan menurukan kondisi kesehatanya. Apalagi setelah Pak Rei tahu kalau perusahaan yang selalu mengalahkannya akhir-akhir ini adalah perusaan milik Pak Dio yang juga sudah mulai di Kelola oleh Ardiya. Ardiya memang masih berstatus mahasiswa, tapi dari SMA dia sudah sering membantu Papanya dalam mengurus pekerjaannya. Sehingga saat ini Ardiya sudah cukup lihai dan mahir bahkan sudah bisa dianggap jagoan oleh beberpa client yang bekerja sama dengan perusahaannya. Hingga suatu hari Pak Dio serta Ardiya bertemu dengan Pak Rei dalam suatu tender, dan lagi-lagi hari ini project tersebut dimenangkan oleh Pak Dio dan Ardiya, padahal Project ini adalah harapan besar bagi Pak Rei untuk memulihkan kondisi keuangan perusahaannya.
“Bagaimana kabar anda ?” Tanya Ardiya dengan wajah dingin kepada Pak Rei.
“Ardiya!”
“Anda fikir anda bisa terus menerus berada di atas dan selalu bahagia, saat anda sudah menyakiti hati saya dan papa saya? Beberapa tahun terakhir memang saya diam saja, tapi kali ini saya tidak akan tinggal diam saja. Saya akn menghancurkan anda seperti anda menghancurkan keluarga saya!”
“Dasar anak kecil kurang ajar!” Maki Pak Rei.
Follow
Ig : rahayu_nrahma
Tiktok : Rahayunr30
__ADS_1