Bukan Pelakor Biasa

Bukan Pelakor Biasa
122.Titik terang.


__ADS_3

Dom sedang berada diruang kantornya setelah lebih dari dua minggu dia tidak menginjakkan kaki kekantornya selama Hanum berada dirumah sakit.


Meski dia bisa bekerja dari rumah sakit tapi hari ini dia sengaja pergi kekantornya untuk menyelesaikan beberapa hal yang tidak bisa dilakukannya lewat online.


"Dom ini laporan semua proyek yang sudah berhasil kita kuasai dari pihak Arya",ucap Lucas dengan menyerahkan berkas berkas ditangannya yang cukup banyak untuk diperiksa oleh Dom.


Dom memeriksa semua berkas itu sekilas baru berkomentar.


"Hanya ini yang berhasil kau ambil alih,bukannya proyek yang lebih besar dari ini masih ada".


"Memang benar tapi itu agak sulit kita ambil alih karena Arya sepertinya berusaha mati matian mempertahankan proyek itu dengan mempertaruhkan semua asetnya agar proyek itu tetap berada ditangannya".


Dom menatap Lucas, "Dari mana dia bisa mendapat dana sebanyak itu dalam waktu secepat ini? ",tanya Dom pada Lucas.


"Menurut sumber kita dia mendapatkan dana itu dari Edward".


" Edward, Bukankah dia sudah kita buat bangkrut beberapa waktu lalu".


"Benar tapi ternyata dia masih punya banyak aset tersembunyi yang tidak kita ketahui".


"Selain itu dari mana dia mendapatkan suntikan dana lagi?".


"Sepertinya dia berhasil menipu Calista dengan menguasai semua aset Calista yang kau berikan dan memakainya sekarang".


Dom terdiam mendengar itu.


"Apa kau ingin mengambil kembali aset milik Calista yang berada ditangan Arya Dom?",tanya Lucas.


"Tidak perlu aku bukanlah pria brengsek seperti si Arya yang ingin sukses dengan menipu seorang perempuan seperti itu".


"Tapi itu adalah milikmu Dom jadi kita masih bisa mengambilnya".


"Aku tidak pernah mengambil kembali apa yang sudah aku berikan pada seseorang siapapun itu dan kalau Calista berhasil ditipunya itu bukan urusanku lagi".


"Jadi bagaimana? ",tanya Lucas.


"Ambil semua proyek miliknya bagaimanapun caranya dan selidiki orang bernama Edward itu secara menyeluruh".


"Untuk apa kau ingin menyelidiki si Edward ini ,dia hanya seorang pria tua yang kebetulan punya banyak harta dan suka dengan perempuan cantik bahkan menurut kabar yang beredar dia suka sekali menyiksa perempuan perempuan cantik yang tidak mau menuruti keinginannya".

__ADS_1


"Apa maksudmu?",tanya Dom merasa tertarik dengan keterangan Lucas barusan tentang Edward.


"Si Edward ini sedikit gila,dia bersedia mengeluarkan banyak uang agar bisa mendapatkan perempuan yang diinginkannya".


"Dimana dia biasanya membawa para perempuan yang ingin disiksanya itu".


"Itu.., jujur saja aku tidak menyelidikinya karena merasa itu tidak penting".


"Kalau begitu segera selidiki dimana dia biasa membawa mangsanya itu".


"Tapi untuk apa Dom,kurasa kita tidak perlu melakukan itu sekarang yang kita perlukan adalah fokus untuk menghancurkan Arya".


"Apa kau belum mengerti hubungan dari semua ini dengan menemukan keberadaan Calista sekarang?".


Lucas segera menggelengkan kepalanya, "Apa hubungan mereka?",tanya Lucas.


"Calista sekarang berada ditangan Edward karena itu kau tidak bisa menemukannya jadi segera temukan tempat persembunyian Edward dalam beberapa hari ini sebelum dia membunuh Calista".


Lucas langsung terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh Dom barusan.


"Kau yakin Dom bahwa Calista pasti berada ditangannya".


"Tapi kalau Calista berada ditangan Edward bukankah itu sama saja dia sudah mendapatkan hukuman atas apa yang sudah dilakukannya".


"Aku bisa menghukum sendiri orang yang berani mengganggu hidupku tidak perlu orang lain yang melakukan itu untukku".


"Baiklah kalau begitu aku akan melakukan apa yang kau perintahkan sekarang".


"Kau harus bisa membawa Calista hidup hidup kehadapanku,jangan sampai Edward berhasil membunuhnya lebih dulu".


"Baik akan segera kulaksanakan perintahmu",ucap Lucas dengan pergi dari ruangan Dom.


Setelah Lucas pergi Dom memeriksa berkas berkas yang diserahkan Lucas tadi padanya dengan ekspresi sinis.


"Hanya seorang pecundang berpikir untuk melawanku",Gumam Dom dengan kesal lalu melempar semua berkas milik Arya keatas mejanya lalu beralih menfambil ponselnya dan kembali memandang fotonya dan Hanum yang dijadikannya walpaper ponselnya.


"Sayang kapan kamu sadar,aku sudah sangat merindukanmu kenapa kamu begitu kejam menghukum aku sampai seperti ini,cepat sadar sayang aku berjanji akan melakukan apapun yang kau inginkan",gumamnya sambil terus menyentuh foto Hanum.


Dia tersentak saat tiba tiba ponselnya berdering dan nama Dokter Moris tertera dilayar ponselnya segera diangkatnya panggilan itu dengqn perasaan tidak menentu.

__ADS_1


"Ada apa Dokter Moris? ",tanya Dom dengan nada khawatir akan mendengar khabar buruk dari dokter Yang menangani Hanum itu.


"Tuan Dominic ada khabar gembira..".


Mendengar itu Dom langsung bangkit sari kursinya dan segera berjalan keluar dari ruangannya dengan langkah cepat bahkan setengah berlari padahal dokter Moris hanya mengatakan ada khabar gembira dan belum sempat melanjutkan ucapannya tapi Dom sudah merasa sangat senang sampai lupa menanyakan apa khabar gembira itu.


Lucas yang melihat Dom berjqlan cepat menuju mobilnya ikut mengejar Dom karena khawatir ada khabar buruk dari rumah sakit tentang Hanum.


"Dom ada apa!, apa terjadi hal buruk pada Hanum sampai kau berlari keluar !,"teriak Lucas dengan cemas.


"Hanum sudah sadar! ",teriak Dom dengan bergegas masuk kedalam mobilnya dan segera melajukannyq dengan kecepatan tinggi menuju kerumah sakit.


Sampai dirumah sakit Dom bergegas menuju ruang ICU untuk menemui Hanum,tapi disana dia hanya menemukan beberapa petugas yang sedang membereskan alat alat sisa yang dipakai oleh Hanum beberapa waktu lalu".


Dengan perasaan campur aduk Dom menghampiri mereka dan langsung bertanya keberadaan istrinya.


"Dimana istriku sekarang?!",tanyanya pada mereka.


"Tuan Dominic istri anda baru saja dipindahkan oleh Dokter Moris keruangan perawatan milik anda".


Mendengar itu Dom kembali berlari keruangan perawatan yang dikhususkannya untuk Hanum.


Sampai disana Dom segera membuka pintu dan masuk tanpa perduli pada semua orang yang ada disana.


"Tuan Dominic",sapa Dokter Moris sambil memeriksa kondisi Hanum yang masih terbaring diam diranjang ruang perawatan.


Dom segera mendekat keranjang dimana Hanum terbaring diam disana.


"Bagaimana keadaannya?!",tanyanya dwngan nada sangat khawatir sekarang karena ternyata Hanum belum membuka matanya sekarang.


"Kami memindahkan nyonya Hanum kemari karena sekarang kondisinya sudah stabil meski dia belum sadar".


"Apa maksud anda dokter? ",tanya Dom terdengar kecewa mendengar Hanum belum sadar sekarang".


"Nyonya Hanum. mungkin belum sadar tapi untuk keseluruhan kondisinya saat ini sudah stabil jadi hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum nyonya Hanum membuka matanya nanti".


Dom langsung tertunduk mendengar itu,dia sudqh membayangkan bahwa saat dia sampai dia akan melihat senyum Hanum lagi tapi ternyata masih belum bisa.


"Tolong anda sabar sedikit lagi tuan Dominic",ucap Dokter Moris dengan menepuk bahu Dom pelan.

__ADS_1


"Iya",jawab Dom dengan berjalan mendekati ranjang Hanum dan menyentuh tangan Hanum lembut.


__ADS_2