
Hanum masih seperti bermimpi mendengar apa yang diucapkan dokter Moris padanya.
Hamil dia hamil sesuatu yang sangat diinginkannya sejak dulu sekarang menjadi kenyataan, apalagi dia sekarang hamil anak Dom laki laki yang sangat dicintainya.
Hanum sampai tidak mampu berkata kata lagi lidahnya terasa sangat kelu, hanya airmata yang bisa dikeluarkan untuk mengekspresikan perasaan bahagianya saat ini, begitu pula dengan Dom Hanum dapat melihat ekspresi sangat bahagia terpancar dari wajah tampan pria itu.
Bahkan sampai mereka berada didalam mobil Hanum masih merasa semua ucapan Dokter Moris itu seperti mimpi baginya.
"Aku sangat bahagia sayang,"Ucap Dom dengan kembali mengecupi tangan Hanum yang tidak lepas dari genggamannya dari tadi.
Hanum hanya mengangguk lagi.
"Apa kamu baik baik saja?",tanya Dom karena melihat Hanum tidak berbicara dari tadi.
"Aku tidak papa Dom hanya semuanya seperti mimpi bagiku, aku masih tidak percaya setelah penantian panjangku selama ini akhirnya Tuhan berkenan menitipkan seorang bayi kedalam rahimku",jawab Hanum dengan mata yang kembali berkaca kaca.
"Ini nyata sayang dalam beberapa bulan lagi kita akan punya seorang bayi yang berasal dari rahimmu".
Hanum mengangguk.
"Sekarang kalian adalah hal yang paling penting dalam hidupku jadi aku akan memberikan semua yang terbaik untuk kalian".
"Maksudmu, Dom? ".
"Aku akan menceraikan Calista dalam waktu dekat lalu mendaftarkan pernikahan kita secepatnya supaya tidak ada yang berani mengganggu kalian lagi nantinya".
Hanum tiba tiba tertunduk mendengar perkataan Dom.
Dom yang melihat itu langsung mengangkat dagu Hanum agar kembali menatap kearahnya.
"Kenapa sayang apa kau tidak senang dengan apa yang akan aku lakukan untukmu?".
Dom jadi merasa khawatir bahwa Hanum tidak suka dengan niatnya yang ingin menikahinya secara resmi secepatnya itu.
Hanum menggeleng,"Aku sangat senang mendengarnya Dom tapi... ".
"Tapi... kenapa sayang? ".
"Aku sedikit khawatir dengan pandangan orang tentangku kalau kau menceraikan Calista lalu kau langsung menikahiku, pasti orang orang akan mencap aku negatif".
Mendengar itu Dom tersenyum tipis,"Ini bukan seperti Hanum yang ku kenal",ucap Dom.
"Maksudmu apa?,kau merasa aku orang lain?".
Dom menggeleng, "Biasanya Hanumku tidak pernah perduli dengan pandangan orang tentangnya bahkan dia semakin tertantang saat orang menganggapnya tidak baik".
"Ya... itu sebenarnya aku hanya pura pura kuat supaya orang tidak semakin menindasku Dom".
__ADS_1
"Jadi seperti itu".
Hanum mengangguk.
"Mulai sekarang kau tidak perlu melakukan hal itu, karena ada aku yang akan menghukum orang orang yang berani menyentuhmu dan anak kita nantinya".
"Tapi... ".
"Tidak ada tapi tapian sayang ,pokoknya aku akan melindungimu dan anak kita dari semua orang yang ingin menyakiti kalian".
Mendengar tekad kuat Dom,Hanum akhirnya hanya mengangguk menjawabnya.
"Ayo kita pulang".
Setelah mengatakan itu Dom mulai melajukan mobilnya meninggalkan area Rumah sakit.
Sampai diApartemen Hanum, Dom langsung membantu Hanum turun dan mengikutinya sampai kedalam Apartemen.
"Kau tidak kembali kekantor?",tanya Hanum karena Dom malah menarik Hanum untuk duduk disofa ruang tengah.
Dom menggeleng.
"Hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian",jawabnya.
"Kalian maksudmu? ,tanya Hanum bingung karena saat ini mereka hanya berdua didalam Apartemen itu.
"Sayang bukankah sekarang kita sedang bertiga disini,aku kamu dan calon anak kita",ucapnya dengan menyentuh lembut perut rata Hanum.
Mendengar itu wajah Hanum langsung bersemu merah malu karena lupa kalau sekarang dia Hamil.
"Aku masih belum terbiasa dengan kehamilan ini",jawabnya jujur.
"Aku juga seperti itu sayang,rasanya masih sulit dipercaya setelah menunggu seumur hidupku akhirnya aku akan menjadi seorang ayah".
"Seumur hidup bukannya hanya beberapa bulan saja setelah kita menikah?".
"Itu benar,tapi aku sudah menunggumu untuk bersamaku dan menjadi ibu dari anakku itu seumur hidupku ini sayang ",jawab Dom.
Hanum hanya menatap diam mendengar ucapan Dom padanya.
"Aku mencintaimu Hanum mungkin sudah sejak pertama kali aku melihatmu malam itu, atau sebelumnya".
"Sebelumnya, bukankah kita pertama kali bertemu waktu diclub malam itu Dom".
"Ya tapi kurasa aku sudah lama memperhatikanmu saat kau masih menjadi model dulu sebelum menikahi sibrengsek itu",gerutu Dom.
Kali ini Hanum tertawa melihat ekspresi Dom saat sedang cemburu pada Arya.
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa sayang?",tanyanya.
"Kau lucu dan menggemaskan saat sedang cemburu Dom".
"Aku sangat marah sayang kalau mengingat kau sudah menyia yiakan hidupmu selama ini dengannya".
Hanum menyentuh wajah Dom," bukannya kau sama Dom kau sudah menyia nyiakan hidupmu barsama Calista selama ini".
"Kau benar jadi karena itu hal yang sia sia maka aku akan membuangnya".
"Maksudmu? ",tanya Hanum.
"Sudah kukatakan tadi aku akan segera menceraikan Calista yang sudah tidak berguna lagi bagiku".
"Dasar kejam! ",maki Hanum reflek membuat Dom bermaksud menarik Hanum keatas pangkuannya tapi Hanum segera mendorong tubuhnya.
"Jangan macam macam dokter Moris belum mengatakan kita boleh bercinta sekarang",cegah Hanum yang membuat Dom langsung menghentikan niatnya barusan.
"Aku hanya ingin kamu duduk dipangkuanku sayang".
Hanum menggeleng,"Itu hanya awalnya Dom bukankah biasanya juga seperti itu dan berakhir dengan kita bercinta,apalagi kamu tidak pernah cukup sekali karena itu sebaiknya...".
"Baiklah...baiklah sayang aku tidak akan melakukan itu sesuai saran dokter Moris tadi sampai kondisi kalian stabil oke".
Hanum menatap Dom seolah belum percaya dengan janji Dom.
"Jangan menatapku seperti itu sayang,aku tidak main main dengan ucapanku,kondisi kalian berdua lebih penting bagiku dari pada yang lainnya sekarang, jadi sini aku hanya ingin memeluk kalian sekarang,agar calon anak kita juga bisa merasakan bahwa daddynya ini sangat mencintainya".
Dom menarik Hanum masuk kedalam pelukannya.
"Apa begini tidak papa?" tanya Dom khawatir kalau Hanum merasa tidak nyaman dengan pelukannya.
"Iya seperti ini saja ,aku suka",jawab Hanum dengan menyelusupkan kepalanya kedada Dom.
Dom membelai lembut kepala Hanum sambil sesekali mengecup lembut puncak kepala dan bibirnya, tanpa berniat melakukan lebih saat itu pada Hanum.
"Kau tidak merasa mual lagi saat dekat denganku sayang?",tanya Dom sedikit khawatir kalau kalau Hanum merasakan gejala ingin muntah lagi saat dekat dengannya.
Hanum menggeleng,"sepertinya kalian sudah berdamai sekarang" jawab Hanum.
"Siapa? ",tanya Dom yang tidak paham.
"Kamu dan beby kita bukannya aku mual karena sedang hamil dia".
"Kamu benar kurasa dia akan jadi anak daddy nanti karena itu dia sempat protes saat aku tidak peka dengan kehadirannya saat itu dan sekarang setelah aku tau dia ada didalam perutmu dia berhenti marah padaku".
"Mungkin juga dia anak mommynya nanti karena itu dia sempat marah padamu untuk membela mommynya".
__ADS_1
"Apapun itu sayang,yang penting dia tumbuh dengan baik nantinya bersama kita".