Bukan Pelakor Biasa

Bukan Pelakor Biasa
76.Perasaan Aneh.


__ADS_3

Sementara itu Dom sedang berdiri dibalik kaca menatap bayi Arya yang berada di inkubator dengan banyak alat menempel ditubuh bayi mungil itu.


"Kondisi bayi itu masih sangat lemah",jelas Dokter Moris yang juga berdiri disana disamping Dom.


Dom masih tidak mengatakan apa apa mendengar keterangan yang diberikan dokter Moris.


Ada perasaan sesak melihat makhluk kecil tak berdosa itu harus berada disituasi seperti ini.


"Apakah dia akan selamat?",tanya Dom dengan tetap menatap kearah inkubator itu karena saat ini bayi yang berada didalamnya tidak menunjukan tanda tanda kehidupan sama sekali.


"Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk membuatnya bertahan bukan karena uang yang diberikan kedua orang tuanya tapi lebih ke dia berhak hidup sebagai manusia".


Dom tidak menjawab ucapan dokter Moris,tapi memilih berjalan meninggalkan tempat itu karena semakin lama dia disana perasaan sesak yang sulit diartikannya semakin terasa.


"Tunda saja tes DNA yang kuminta itu, pada bayi itu",perintah Dom pada Dokter Moris.


"Anda berubah pikiran tuan?".


"Iya,dia hanya seorang bayi mungil yang tidak tau apa apa jadi sebaiknya dia tidak perlu terlibat dalam kemarahan orang dewasa sekarang".


"Baik tuan,lalu bagaimana dengan istri anda,bagaimana kalau dia hamil sedangkan itu sudah pasti bukan anak anda".


"Aku tidak akan membicarakan itu sekarang karena belum ada hasil nyatanya,tapi kalau memang dia hamil lakukan yang terbaik untuk menjaga bayi itu aku ingin anak itu memakai namaku nanti dan aku yang akan membesarkannya juga nanti bersama Hanum".


Dokter Moris diam mendengar itu,dia merasa pria dingin didepannya ini hanya terlihat hangat saat membicarakan istrinya yang bernama Hanum selain itu ekapresinya tidak berubah kecuali saat dia menatap bayi mungil dalam inkubator tadi.


Mungkin benar sedingin dan sekejam kejamnya seorang pria tetap kalah dengan yang namanya Cinta,batin dokter Moris.


"Apa anda tidak berencana melakukan program untuk membuat istri anda Hanum hamil sendiri bukankah itu bisa tuan,teknologi sekarang sudah sangat maju kurasa itu tidak akan sulit".


Dom menggeleng,"Aku tidak akan memaksanya biarkan saja semua berjalan secara alami",jawab Dom.


Dokter Moris diam mendengar itu,tidak lagi membahas atau menyarankan apapun pada Dom.


**


Dom menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya setelah pulang bertemu dokter Moris tadi pikirannya masih dipenuhi bayangan bayi mungil Arya yang berada didalam inkubator itu,perasaan sesak seperti ada ganjalan besar didadanya melihat makhluk kecil yang tak berdosa menjadi pelampiasan keegoisan orang dewasa seperti dirinya membuat perasaannya semakin tidak nyaman.


"Tok...tok...".


Dom terkejut saat mendengar suara ketukan dipintu ruangannya.


"Masuk!",perintah Dom.

__ADS_1


Lucas membuka pintu kemudian melangkah masuk kedalam ruangan Dom.


"Dom orang kita memberi laporan bahwa tadi malam Arya membawa Calista keApartemennya lagi setelah mereka keluar dari Bar".


Dom diam mendengar apa yang dilaporkan Lucas,membuat Lucas tidak melanjutkan lagi laporan lainnya.


"Keluarlah sekarang!",perintah Dom pada Lucas.


Melihat reaksi Dom yang seperti tidak perduli dengan laporannya Lucas memilih keluar dari ruangan itu tanpa bertanya lagi.


Setelah Lucas pergi Dom lama terdiam,tapi tiba tiba kembali menghubungi Lucas.


"Ada apa Dom?".


"Tunda dulu perceraianku dengan Calista",perintah Dom.


diseberang sana Lucas tampak mengerutkan kening bingung.


"Kenapa?,bukankah kemarin kau ingin cepat menceraikan dia agar bisa segera mendaftarkan pernikahanmu dengan Hanum".


"Tunda selama 3 bulan sampai aku yakin Calista hamil atau tidak dalam kurun waktu itu".


Lucas diam mendengar itu,setelah pulang bertemu dokter Moris Lucas merasa Dom bersikap aneh,ada apa sebenarnya batin Lucas.


"Baiklah akan kulakukan sesuai perintahmu".


Dom menghempaskan tubuhnya kesofa diruang tengah sambil memejamkan matanya yang terasa sangat lelah dan tanpa sadar dia tertidur.


Dom terkejut saat seseorang mengguncang bahunya lembut.


"Dom...bangun...",panggil Hanum karena melihat Dom tertidur disofa dengan posisi duduk,yang pasti terasa sangat tidak nyaman karena itu dia langsung membangunkannya.


Dom membuka matanya dilihatnya Hanum membungkuk didepannya untuk membangunkannya,bukannya bangkit dari sofa seperti perintah Hanum, Dom malah menarik Hanum kedalam pelukannya membuat Hanum terkejut.


"Dom!".


"Hemm",gumam Dom dengan membenamkan wajahnya diceruk leher Hanum,menghirup aroma harum dari perempuan yang dicintainya itu.


"Aku merindukanmu sayang",ucap Dom dengan mengeratkan pelukannya ketubuh Hanum membuat Hanum merasa aneh dengan tingkah Dom.


"Kau baik baik saja Dom?",tanyanya dengan membelai kepala Dom lembut.


"Hemm".

__ADS_1


Dom menjawab pertanyaan Hanum hanya dengan bergumam tanpa mengatakan apapun.


Setelah puas seperti itu tiba tiba Dom mengangkat wajahnya memandang kearah Hanum.


"Mandikan aku sayang",pinta Dom tiba tiba.


"Kau sedang punya masalah Dom?",tanya Hanum karena merasa Dom sedikit aneh hari ini.


Dom menggeleng,"Aku hanya merasa sangat merindukanmu sekarang dan ingin menghabiskan waktu bersamamu hari ini".


"Kalau kau menginginkan itu kenapa tadi kau tidak menghubungiku lebih dulu sebelum kau sampai dirumah".


"Tidak papa aku ingin sekali kali merasakan menjadi dirimu yang selalu menungguku pulang setiap hari,sayang".


Hanum diam mendengar itu dan tidak banyak bertanya lagi.


"Ayo bantu aku mandi sebagai balasan karena sudah menunggumu sendiri dari tadi",pinta Dom lagi.


Meskipun Hanum tau itu cuma alasan Dom saja tapi dia tetap melakukannya karena merasa sepertinya saat ini perasaan Dom sedang tidak baik baik saja.


"Baiklah".


Hanum melepaskan seluruh baju yang melekat ditubuh Dom hingga hanya tersisa boxernya saja.


"Apa kau juga akan memintaku untuk membawamu kekamar mandi sekarang?",tanya Hanum.


"Kurasa aku tidak keberatan kalau kau bisa melakukannya",jawabnya membalas godaan Hanum.


Kurasa kita harus membeli kereta dorong lebih dulu agar aku bisa melakukannya" ucap Hanum sambil mendorong tubuh besar Dom dari belakang dengan tangannya kekamar mandi mereka.


"Kurasa itu bukan ide yang buruk,sayang",jawab Dom dengan menarik tangan Hanum kedepan dadanya jadi mereka berjalan sambil berpelukan menuju kamar mandi.


Membuat Hanum tertawa dengan tingkah mereka saat itu.


"Seringlah tertawa seperti itu",puji Dom dengan memutar tubuh Hanum menghadap kedepannya.


"Kurasa aku sudah sering tertawa hanya kau yang masih memasang wajah kaku seperti ini",balas Hanum dengan menyentuh sudut bibir Dom.


"Benarkah kurasa aku orang yang sangat manis....".


Mendengar itu Hanum kembali tertawa keras membuat Dom jadi gemas padanya.


"Kau mengatakan kau manis,itu perumpamaan yang tidak masuk padamu Dom,orang dewasa saja takut padamu apalagi anak kecil dia kan langsung menangis keras melihat wajah kakumu".

__ADS_1



(Visual Dom saat tersenyum sudah manis belum๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š).


__ADS_2