
Hanum terbangun karena merasa seseorang memeluk pinggangnya dari samping.
"Dom', panggilnya karena ternyata Dom yang melakukannya.
"Apa aku membangunkanmu sayang?",tanyanya dengan semakin menyelusupkan kepalanya keleher Hanum.
"Hemm",Hanum mengangguk dan menoleh kearah Dom.
"Apa kamu baru selesai bekerja?",tanya Hanum dengan membelai rambut dikepala Dom.
"Hemm.. dan sekarang aku sangat lelah ingin tidur dengan memelukmu apa kamu keberatan?".
Hanum menggeleng tapi instingnya sebagai istri merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh suaminya itu.
"Apa ada masalah dengan pekerjaanmu Dom?",tanyanya dengan tetap membelai lembut kepala Dom.
"Sedikit, tapi akan segera kuatasi",gumam Dom pelan sambil menyelusupkan kepalanya kedada Hanum seperti bayi yang merindukan ibunya.
"Apa kamu ingin membaginya denganku, siapa tau setelah itu kamu bisa lebih tenang dalam berpikir".
Bukannya menjawab ucapan Hanum Dom malah bertanya hal yang tidak ada hubungannya dengan itu.
"Apa Asi untuk sikembar sudah keluar sayang? '',tanyanya tiba tiba dengan menyentuh dua aset milik istrinya itu yang tidak memakai apa apa dibalik baju pasien.
"Belum.. aku sudah berusaha mengikuti saran dokter dengan rajin memijatnya dan juga sudah makan makanan pelancar Asi tapi seharian ini belum mau keluar",gerutu Hanum kesal.
"Mau kubantu melakukan terapy lagi sekarang siapa tau dengan isapan kuat dariku dia langsung keluar",ucap Dom dengan menatap kearah Hanum.
"Tapi Dom... ",Hanum tampak ragu karena dilihatnya Dom sengaja ingin melakukan itu untuk mengalihkannya dari menanyakan sesuatu yang Hanum tidak tau apa itu.
"Ayolah sayang..kasihan sikembar kalau sampai tidak bisa merasakan Asimu nanti",ucapnya dengan mulai membuka kancing atasan baju pasien Hanum satu persatu tanpa bisa lagi dicegah oleh Hanum.
"I.. iya.. tapi sebentar saja karena ini sudah malam",ucap Hanum pasrah saat Dom mulai memasukkan satu puncak dadanya kedalam mulut sementara yang satunya lagi mulai diremasnya pelan dengan tangannya.
Awalnya memang biasa saja tapi lama apa yang dilakukan Dom bukan lagi bertujuan untuk membantu Hanum mengeluarkan Asi dari dadanya tapi berubah menjadi isapan penuh gairah membuat Hanum terpaksa harus menahan hasratnya yang mulai bangkit akibat isapan dan remasan Dom yang semakin intens mempermainkan kedua dadanya itu.
"Dom.. ",desisnya dengan ******* ***** rambut dikepala Dom.
Melihat itu Dom mengangkat kepalanya dari dada Hanum dan beralih menatap wajah Hanum yang menatapnya dengan pandangan mulai berkabut.
__ADS_1
Dom ingin berhenti tapi saat melihat bibir sang istri yang setengah terbuka seolah menanti untuk dinikmati membuatnya memutuskan untuk menikmatinya dulu sebelum dia mengakhirinya.
Dengan rakus dipagutnya bibir Hanum sampai menimbulkan suara erangan kecil yang keluar dari tenggorokan mereka berdua.
"Dom hentikan! ",cegah Hanum saat tangan Dom tiba tiba merambat ingin melepas baju pasien yang dipakai Hanum membuat Dom langsung tersadar bahwa Hanum belum boleh disentuhnya karena kondisinya belum sembuh dari pasca melahirkan sikembar.
"Maaf sayang",ucap Dom dengan menjauhkan wajahnya dari Hanum dan kemudian membantu Hanum merapikan lagi pakaiannya.
"Tidak papa Dom",jawab Hanum dengan menyentuh wajah Dom lembut.
"Sebaiknya malam ini aku kembali tidur disofa saja sampai kamu sembuh sayang",ucap Dom dengan bermaksud bangkit dari ranjang tapi Hanum segera menahan tangan Dom.
"Tidurlah disampingku saja Dom",pinta Hanum.
"Tapi sayang...".
"Tidak papa, disofa tidak nyaman untuk tubuhmu yang besar itu".
Mendengar itu Dom menuruti ucapan Hanum karena seperti kata Hanum tidur disofa membuat seluruh tubuhnya terasa sakit tapi yang lebih utama dia tidak bisa memeluk tubuh Hanum meski belum boleh disentuhnya.
"Baiklah",ucapnya dengan kembali merebahkan tubuhnya disamping Hanum menyamping sambil menatap Hanum.
"Tentu saja bersama sikembar,ada apa?",tanya Hanum.
Karena melihat Dom tampak ingin mengatakan sesuatu tapi terlihat ragu ragu.
"Tidak ada sebaiknya sekarang kita tidur ini sudah malam sayang",ucap dom dengan memeluk Hanum mengajaknya untuk berhenti mengobrol tapi Hanum malah menyentuh wajah Dom lembut menyuruh Dom menatapnya.
"Katakan saja kalau memang kamu ingin mengatakan sesuatu Dom bukankah aku istrimu".
Dom tampak menghela nafas bingung apakah akan mengatakan apa yang mengganjal hatinya itu sekarang atau tidak.
"Dom... ",ulang Hanum memberi penekanan agar Dom mau bercerita padanya tentang apa yang mengganggu pikrannya itu.
"Iya.. baiklah tapi berjanjilah kamu jangan marah saat mendengarnya".
"Deg".Hanum langsung gugup mendengar Dom mengatakan itu padanya, sekelebat pikiran buruk terlintas dibenaknya.
"Ini bukan masalah apa yang ada dipikiranmu itu",ucap Dom membuat Hanum langsung mengelaknya karena Dom seolah bisa membaca pikirannya.
__ADS_1
"A.. aku tidak memikirkan apapun Dom'', elak Hanum untuk menutupi rasa malunya karena sempat berpikir jelek pada Dom.
"Lalu... ",ucap Dom dengan ekspresi menggoda kearah Hanum yang langsung menerima gelengan Hanum.
"Aku yakin kamu tidak mungkin ingin berbicara soal perempuan lain denganku kan karena..".
Dom menelentangkan tubuhnya sambil menatap langit langit sebelum mulai bicara pada Hanum yang membuat Hanum merasa ini memang menyangkut perempuan dan perasaan tidak nyaman itu kembali muncul.
"Ini soal Clarisa.. ",ucap Dom pelan sambil menoleh kearah Hanum yang ekspresi wajahnya langsung berubah mendengar Dom menyebut nama perempuan itu yang dulu pernah meninggalkan luka cukup lebar dihatinya.
Ditariknya Hanum pelan kedalam pelukannya meski ada niat penolakan yang diberikan Hanum tapi Dom tetap memeluknya.
"Dia sakit parah sayang",ucap Dom dengan menatap wajah Hanum yang ekspresinya semain berubah tapi berusaha bersikap biasa saja.
"Lalu...? ",tanya Hanum dengan perasaan Gamang takut Dom mengatakan apa yang ada dipikirannya.
"Berhenti berekspresi seperti seolah olah aku sekarang sedang menyelingkuhimu",ucap Dom dengan menoel hidung Hanum sebal.
"Aku tidak.. ".
"Ekspresimu tidak bisa menipuku sayang",ucap Dom membuat Hanum langsung memasang wajah cemberut karena Dom bisa membaca apa yang ada dihatinya.
"Lalu kalau aku tidak boleh curiga kenapa kamu berbicara soal Clarisa padahal kamu tau apa yang pernah terjadi antara aku dengannnya dulu",gerutu Hanum.
"Itulah masalahnya...".
"Maksudmu Dom? ",tanya Hanum penasaran.
"Karena kamu dan Clarisa punya masalalu yang tidak baik jadi aku benar benar pusing sekarang saat mendengar dia sakit dan dia ingin minta bantuanku".
"Memangnya dia sakit apa Dom?",tanya Hanum penasaran.
"Sebenarnya masalahnya bukan tentang penyakitnya karena jujur saja meski dia bilang dia sakit parah aku juga tidak akan bersimpati padanya seperti sekarang".
"Lalu apa yang membuatmu bersimpati padanya Dom? ",tanya Hanum.
"Bayinya",jawab Dom dengan menatap kearah Hanum yang langsung diam mendengar itu.
"Clarisa menitipkan bayinya padaku,apa itu tidak masalah sayang".
__ADS_1
Hanum ,bingung harus menjawab apa sekarang.