Bukan Pelakor Biasa

Bukan Pelakor Biasa
73.Semua Butuh Waktu.


__ADS_3

Hanum terbangun karena mendengar bunyi ponsel Dom yang berdering.


Digoyangnya tubuh Dom yang masih tertelungkup sambil memeluk tubuhnya.


"Dom,bangun",panggil Hanum sambil mencoba bergeser dari pelukan Dom.


Bukannya bangun dom malah kembali menarik tubuh Hanum kedalam pelukannya.


"Dom...ponselmu berbunyi terus siapa tau itu panggilan penting".


"Biarkan saja sayang tidurlah sebentar lagi bersamaku",ajak Dom.


"Tapi Dom...".


Belum selesai Hanum bicara ponsel Dom kembali berbunyi, entah sudah untuk yang keberapa kali pagi ini hingga membuat siempunya akhirnya bangun meski dengan marah.


"Brengsek!!!",maki Dom merasa sangat kesal karena pagi indahnya dengan Hanum terganggu oleh dering ponsel yang terus berbunyi.


Dom bangkit dari ranjang dan langsung mengambil ponsel miliknya yang ada dikantong jasnya.


"Ada apa?!",tanya Dom dingin pada Lucas.


"Dom kau harus mendengar ini sekarang karena ini sangat penting".


"Katakan kalau itu tidak penting maka aku akan menghancurkan kepalamu nanti".


Hanum hanya diam mendengar Dom memaki pada orang yang menghubunginya itu.


"Ini soal istri Arya dan proyek yang diinginkannya".


Mendengar itu Dom menatap Hanum yang masih diam diranjang,mendengarkan dia menelpon.


"Kita bicarakan masalah ini dikantor jemput aku setengah jam lagi" perintah Dom pada Lucas.


Setelah itu Dom langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu Lucas menjawab perintahnya.


Dom kembali menghampiri Hanum dan langsung memeluk pinggangnya erat.


"Morning kiss",ucapnya dengan memagut dalam bibir Hanum.


"Dom hentikan!",hardik Hanum sambil mendorong tubuh Dom menjauh.


"Baiklah aku harus kekantor sekarang sayang",jawabnya dengan kembali turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Apa ada hal darurat sampai Lucas menelponmu sepagi ini",tanya Hanum saat Dom sudah selesai mandi dan mulai berpakaian.


"Hanya masalah pekerjaan jangan khawatir",Jawab Dom,"Sekarang bantu aku memasang dasi sayang",pintanya dengan memberikan dasi kepada Hanum.

__ADS_1


Hanum menerima dasi itu lalu bangkit dari ranjang dan mulai membantu Dom untuk memakainya.


"Kau tidak sarapan pagi dulu?',tawar Hanum karena semenjak Dom sering berada diApartemen Hanum kebiasaan barunya setiap pagi selalu makan sarapan sebelum berangkat kekantor dan Hanum dengan telaten juga membuatkan sarapan sehat untuk Dom.


Dom melihat jam tangannya,"Kurasa sepotong roti masih bisa",jawabnya dengan berjalan keluar kamar menuju ruang makan minimalis diApartemen Hanum.


Mendengar itu Hanum mengikuti Dom lalu membuatkan roti dengan selai kacang saja untuk Dom.


"Bantu aku makan",pinta Dom yang sudah menjadi kebiasaan barunya setiap pagi,selalu menyuruh Hanum menyuapinya sarapan.


Dengan patuh dan telaten Hanum melakukan apa yang diminta Dom meskipun sebenarnya iti cuma roti yang diolesi selai tapi Dom tetap meminta Hanum untuk menyuapinya.


"Apa hari ini kau akan bekerja?",tanya Dom sebelum dia keluar dari dalam Apartemen.


Hanum menggeleng,"Hari ini aku libur tapi Wendy berencana datang kesini ada yang ingin kami lakukan",jawab Hanum.


"Bersenang senanglah hari ini,aku mungkin akan lama dikantor,pekerjaanku banyak hari ini".


Hanum mengangguk,"Apa kau akan lembur nanti?",tanya Hanum.


"Iya,aku akan menelponmu nanti kalau ada waktu",pamit Dom sebelum meninggalkan Apartemen Hanum.


Setelah Dom berangkat,tidak sampai 10 menit Wendy sudah muncul didepan pintu Hanum membuat Hanum sempat berpikir kalau Dom kembali lagi karena ada barang yang tertinggal.


Tapi saat Hanum membuka pintu ternyata Wendy yang berada didepan pintunya.


Meski Hanum punya pembantu yang bekerja membersihkan rumah tapi untuk masalah daerah pribadi dia lebih memilih membersihkannya sendiri ,seperti kamar tidur,karena dia merasa lebih nyaman kalau orang lain tidak terlalu sering masuk daerah pribadinya.


Terkecuali dia sudah sangat dekat dengan orang itu.


"Omo Hanum!!!,"


Wendy menatap Hanum yang hanya memakai jubah kamar tipis sekarang dengan belahan dada sangat rendah ,dengan tatapan tidak percaya melihat banyaknya bintang kecil hasil mahakarya Dom.


Sadar kemana,arah tatapan Wendy Hanum mencoba merapikan jubah kamarnya.


"Jangan menatapku seperti itu",hardik Hanum.


"Kupikir kau bercanda saat bilang akan menghabisi Dom kemarin ternyata kau serius karena tadi aku juga melihat banyak maha karyamu dibagian atas leher Dom".


"Kami melakukannya bersama tentu saja kami punya tanda masing masing",jawab Hanum santai dengan berjalan menuju kamar tidurnya bermaksud merapikannya sebelum dia membersihkan tubuhnya.


Wendy kembali terpukau saat masuk kedalam kamar tidur Hanum.


"Hanum A..apa yang sudah terjadi apa kalian baru saja merayakan sesuatu kenapa ada banyak sekali kelopak mawar dan ini...".


"Dom melamarku tadi malam",jawan Hanum sambil menunjukan cincin pemberian Dom yang masih ada dijari manisnya.

__ADS_1


Mata Wendy langsung membulat melihat itu dan tiba tiba dia langsung memeluk Hanum erat membuat Hanum terkejut.


"Hanum selamat!!,aku ikut bahagia untukmu!!".


"Tapi aku belum menerimanya 100 persen",jawab Hanum.


Mendengar itu Wendy langsung melepaskan tubuh Hanum.


"Kenapa?,bukankah kau juga mencintainya apa lagi yang memberatkanmu tidak menerima lamaran seorang Dominic Alexander",ucap Wendy tidak percaya.


Hanum menghempaskan tubuhnya duduk ditepi ranjang.


Dipandanginya cincin kecil ditangannya,lalu menjawab Wendy.


"Aku takut Wendy" ucapnya dengan nada sendu.


Mendengar itu Wendy ikut duduk disamping Hanum dan menyentuh tangan Hanum.


"Apa yang membuatmu tidak berani menerima lamarannya?",tanya Wendy.


"Banyak hal,yang menjadi pertimbanganku,statusnya..".


"Tapi kau tau bukan bagaimana hubungannya dengan Calista kenapa itu masih membuatmu ragu".


"Dan kondisiku,itu sangat membebaniku".


"Kurasa Dom tidak mempermasalahkan itu,kalian bisa mencoba memiliki anak dengan cara lain kalau memang ingin".


Hanum diam mendengar itu bagaimanapun dia mengatakanya pada Wendy,sahabatnya itu tidak akan mengerti apa yang dirasakannya selama bertahun tahun dicap sebagai perempuan tidak sempurna.


"Aku masih butuh waktu berpikir,untuk siap menanggung konsekuensi menjadi nyonya Dominic".


"Maksudmu?",tanya Wendy tidak mengerti jalan pikiran Hanum.


"Maksudku selama tiga bulan dari sekarang aku harus menatapkan hati kalau memang ingin menjadi istrinya yang sebenarnya".


"Seharusnya kau bangga soal ini Hanum bukannya malah masih ragu ,kalau kau khawatir soal Calista kurasa Dom sudah punya rencana saat melamarmu tadi malam.Tidak mungkin dia tetap mempertahankan Calista menjadi istrinya kalau dia ingin menjadikanmu nyonya Dominic sesungguhnya".


Hanum hanya mengangkat bahu lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang masih terlihat berantakan itu sambil memandangi cincin pemberian Dom dijari manisnya.


"Biarkan aku berpikir dan memantapkan hatiku untuk bisa melangkah maju".


Wendy menepuk pelan bahu Hanum,"Kuharap kau membuat keputusan yang tepat dengan hidupmu kali ini".


"Ya,karena itu aku tidak ingin gegabah mengambil keputusan kali ini karena aku ingin ini pernikahan terakhir untukku".


Masih Berat Masalah Mereka,sabar ya reader๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š.

__ADS_1


__ADS_2