
Calista menatap Dom dengan wajah pucat juga takut,karena Dom mulai mengencangkan cengkraman tangannya yang berada dileher Calista sampai membuat Calista kesulitan bernafas.
"D... Dom.. le... lepas... sa... kit".
Bukannya melepaskan Dom malah semakin menguatkan cengkramannya membuat Calista benar benar merasa bahwa Dom akan membunuhnya sekarang.
"Sakit! ",ucap Dom pelan didepan wajah pucat Calista.
Calista hanya mengangguk lemah menjawab itu berharap Dom mau melepaskan cengkraman tangannya.
"Rupanya selama ini aku terlalu baik padamu Calista,jadi kau menganggap aku tidak akan pernah bisa menyakitimu.
Calista menggeleng semakin takut melihat ekspresi kejam Dom yang sudah seperti iblis.
"Aku bisa memberikan apapun pada orang yang aku inginkan tapi aku juga bisa mengambil juga menghancurkan orang yang berani menentangku, kau pikir aku main main dengan kata kataku.aku sudah terlalu baik padamu selama ini jadi aku berhak mengambil nyawamu sebagai balasannya karena kau sudah berani menghina perempuan yang aku cintai".
Calista tidak bisa lagi bersuara karena setelah mengatakan itu Dom semakin kuat mencengkram lehernya membuat Calista merasa nyawanya sudah sampai ditenggorokan karena kuatnya cekikan tangan Dom.
Bukannya kasihan Dom malah menyeringai kejam melihat ekspresi kesakitan Calista saat ini.
Calista sudah pasrah pada nasibnya saat tiba tiba Dom melepaskan cekikan tangannya dari leher Calista, membuat Calista langsung jatuh kelantai dengan tubuh lemas tidak bertenaga.
Calista bermaksud bangkit untuk duduk saat Dom menahan tubuhnya dengan ujung sepatu pantofelnya dan menundukan tubuh kearahnya dengan memberikan surat cerai mereka.
"Tanda tangani surat ini kalau kau masih ingin bisa keluar dari ruanganku nanti",ucap Dom dingin.
Dengan tangan gemetar ketakutan karena baru sekali ini melihat ekspresi kejam seperti itu dari Dom,Calista mengambil surat cerai dan polpoin yang diberikan Dom padanya dan segera menandatanganinya tanpa berani bersuara lagi.
Dom mengambil surat itu dari tangan Calista tapi belum melepaskan Calista yang masih berada dibawah kakinya.
"Ini peringatan terakhirku untukmu anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena kau sudah menjadi istriku selama beberapa tahun ini".
Calista hanya menatap Dom tanpa berani menjawab ucapannya.
"Jangan pernah berani menyentuh Hanum sedikit pun kalau kau masih ingin hidup lama, camkan itu Calista karena apapun yang kau lakukan padanya aku pasti akan mengetahuinya".
Calista hanya berani mengangguk lemah untuk menjawab Dom, karena dia merasa tenggorokannya sangat sakit akibat cekikan Dom barusan padanya.
__ADS_1
Dom menatap Calista yang masih berada dibawah kakinya saat ini dia ingin kembali mencekik perempuan itu, tapi dia mencoba menahan keinginannya iblisnya itu.
Perlahan Dom menyingkirkan kakinya dari tubuh Calista lalu berjalan menuju meja kerjanya.
"Keluarlah sekarang sebelum aku benar benar mematahkan lehermu itu",ucap Dom mengusir Calista keluar dari ruangannya itu.
Dengan pelan Calista bangkit dari lantai kantor Dom dan berjalan tertatih tatih menuju pintu ruang kerja Dom,tapi sebelum dia berhasil keluar Dom kembali bicara padanya dengan suara dingin.
"Jangan mencoba bermain api dengan Arya sibrengsek itu setelah ini,kalau kau masih ingin kuampuni! ",ucap Dom membuat Calista terkejut mendengar itu.
"Aku tidak....",jawabnya mencoba membela dirinya mendengar ucapan Dom.
Mendengar itu Dom menatap Calista tajam dari balik meja kerjanya.
"Apa kau pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan selama ini dibelakangku dengan keparat itu,.aku hanya tidak perduli karena kau tidak penting bagiku, tapi kalau kau berani bekerja sama dengannya untuk menyakiti Hanum,aku tidak akan melepaskan kalian jadi turuti perintahku kalau kau masih ingin tetap seperti sekarang".
Calista tidak berani lagi menjawab ucapan Dom,dia merasa saat ini sangat takut pada pria didepannya itu, dia seperti iblis berwujud manusia.
Melihat Calista diam saja ditempatnya Dom kembali mengusirnya.
"Keluarlah sekarang dan renungkan hidupmu baik baik Calista".
Saat berada dilorong Calista berpapasan dengan Lucas tapi dia tidak menggubrisnya dia terus berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
Sampai didalam mobil Calista menutup pintu dengan tangan masih gemetar ketakutan karena perlakuan Dom padanya tadi.
Ditelungkupkannya wajahnya dikemudi kemudian dia mulai terisak keras bahkan dia tidak perduli kalau ada yang mendengar tangisannya sekarang.
**
Sementara itu diruangan Dom***
Lucas yang sempat berpapasan dengan Calista dilorong tadi dan melihat bagaimana penampilan Calista yang berantakan terutama gurat merah lebar dilehernya menjadi penasaran apa yang sudah dilakukan Dom untuk mendapat tanda tangan disurat cerainya.
Lucas bergegas masuk kedalam ruangan tidak perduli dengan prosedur yang harus dilakukannya sebelum masuk kedalam ruangan itu.
"Dom apa kau berhasil membuatnya menandatangani surat cerai kalian?',tanya Lucas penasaran.
__ADS_1
"Hemm",jawab Dom dengan menunjuk berkas berkas itu kepada Lucas.
Lucas mengambil berkas berkas itu,mengamatinya dengan teliti.
"kukira Calista akan menolak bercerai denganmu Dom, ternyata... ".
"Apa kau pikir dia punya hak untuk itu?",tanya Dom dingin pada Lucas.
"Lalu apa kau melakukan sesuatu yang mengerikan padanya karena kulihat dilehernya ada... ".
"Aku mencekiknya keras untuk menutup mulutnya",jawab Dom.
Lucas terbelalak mendengar itu, dia tidak menyangka bahwa itu perbuatan Dom, dia pikir itu Calista yang melakukannya untuk menarik perhatian Dom.
"Mencekiknya!!,apa kau sudah gila Dom!!!, kau bisa saja membunuhnya tadi karena cekikanmu!!".
"Aku memang ingin melakukannya tadi bahkan sekarang aku juga masih ingin melakukannya",jawab Dom dingin.
Lucas hanya menatap Dom tanpa mengatakan apapun setelah mendengar jawaban Dom.
Dom menatap kearah Lucas karena dia hanya diam tidak lagi bertanya atau protes padanya dengan nada berapi api seperti tadi.
"Ada apa?, apa kau pikir aku tidak sanggup melakukan hal itu pada seorang perempuan?".
Lucas hanya menggeleng, tidak tau harus mengatakan apa.
"Aku akan baik pada orang yang baik padaku,aku akan jahat pada orang yang berani berbuat jahat padaku,tidak perduli dia laki laki atau perempuan karena saat mereka berani berbuat jahat padaku aku tidak memandang jenis kelamin lagi pada mereka".
"Tapi Dom Calista itu mantan istrimu kenapa kau sampai tega ingin membunuhnya tadi".
"Aku sudah terlalu baik padanya selama ini dan dia menganggap aku lemah karena itu,jadi sudah sangat baik aku tidak benar benar membunuhnya tadi".
Lucas menatap Dom diam,tidak bertanya lagi."Baiklah aku keluar sekarang untuk mengurus surat nikahmu",ucapnya dengan bangkit dari duduknya.
"Suruh orang untuk mengawasi Calista,terutama saat dia bertemu dengan Arya brengsek itu",perintah Dom sebelum Lucas keluar dari ruangannya.
Lucas berhenti dan menoleh kearah Dom, "Untuk apa bukannya kalian sudah resmi bercerai jangan bilang... ".
__ADS_1
"Agar dia tidak berani lagi macam macam denganku dan Hanum dengan bekerja sama bersama sibrengsek itu".
Sudah puas belum dengan sikap Dom pada Calista reader,jangan lupa tinggalkan jejak cinta kalian untuk autor ππ.