
Daniel yang sudah sampai di ruangan meeting terlihat memasang tatapan tajamnya dan juga terlihat sedang tidak ingin bercanda sama sekali, karena menurutnya hari ini merupakan hari terberat dalam hidupnya karena dipaksa untuk menjadi seorang profesionalitas padahal hati dan pikirannya sedang berbanding terbalik.
kalau tidak mengingat ribuan karyawan yang sedang bergantung pada perusahaan tersebut maka ia bakalan membiarkannya saja seperti itu, soalnya kan sama saja bohong mau dirinya bekerja keras seperti apapun menikam kepala ke dalam tanah kakinya ke atas pun tetap apa yang merupakan hasil kerja kerasnya tidak akan bisa membuat Amira bahagia.
Amira kini memilih untuk tidak peduli lagi dengannya meskipun pria itu sedang mengkhawatirkannya sampai secara berlebihan, mungkin dalam pikiran Amira kalau Daniel itu hanya sebatas temannya saja jadi otomatis apapun perasaan pria itu ya sebatas teman tidak lebih.
sakitnya itu ketika kita ingin melakukan sesuatu yang lebih tetapi ternyata orang-orang di sekitar kita itu rasa-rasanya seperti tidak peduli dengan apapun yang kita lakukan, dan itu sungguh merupakan sebuah ujian yang paling terberat karena harus melakukan sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita tetapi terpaksa tetap harus melakukannya seperti saat ini yang tengah terjadi kepada daniel.
Daniel sebenarnya tidak ada niatan untuk datang ke sini tetapi mau bagaimana lagi, Lagian Kasihan juga papanya yang sudah saya tua itu bukannya menikmati hari tua dengan tenang Tetapi malah harus dipaksa untuk bekerja.
"Baiklah semuanya meeting hari ini sudah selesai silakan Lanjutkan pekerjaan karena saya juga bakalan kembali, nanti kalau ada urusan yang lebih serius lagi hubungi saja Diana karena dia yang bakalan mengurusnya! "jelas Daniel tanpa banyak bicara segera meninggalkan tempat itu karena menurutnya tadi Michael pulang ke rumah kan hanya mengatakan bahwa dirinya lah yang harus mengurus proyek jadi saat sudah diurus setelah itu sudah selesai untuk apa yang berlama-lama di situ.
Sarah yang kebetulan sedang berada di lobby tidak peduli dengan keberadaan Daniel yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya, sebab menurutnya pria itu tadi kan sudah mengusirnya dan juga mengeluarkan kata-kata yang sudah sangat keterlaluan Jadi untuk apa peduli dengan kehadirannya.
"Eh kamu sini saya mau ngomong! "Panggil Daniel sambil memberikan kode melalui tangannya tetapi Sarah memilih Acuh dan juga tidak peduli sama sekali karena bukan kata di pria itu sudah yang menyuruh dirinya agar bisa menjaga jarak.
"kamu dengar atau tidak kalau saya dari tadi itu memanggil kamu, dasar pegawai tidak becus masa sama bosku kurang sopan seperti itu tingkahnya? "sinis Daniel tetapi Sarah malah memutar bola matanya malas soalnya orang seperti Daniel itu tidak perlu harus terlalu diperhatikan karena nantinya pasti bakalan lebih mengerikan tingkahnya.
__ADS_1
"Ya sudah terserah dari kamu kalau tidak peduli dengan apa yang saya katakan yang penting intinya besok-besok Kalau bertemu dengan saya anggap saja ya kalau kita itu tidak saling mengenal, dan juga kalau ada apa-apa sama Amira kamu adalah orang yang paling terakhir yang bakalan saya kasih tahu semuanya Soalnya kamu itu sangat menyebalkan sebagai seorang bawahan!" omel Daniel lalu pergi dari situ sedangkan Sarah tidak peduli dengan segala macam ocehan yang dilontarkannya karena menurutnya Bukankah pria itu yang lebih dulu mencari masalah.
Diana yang mendengar teriakan Daniel tadi langsung memilih mendekati Sarah Karena memang tadi dia melihat Kalau pria itu sempat memanggil Sarah tetapi tidak dipedulikan, maka dari itu tidak ada salahnya kan kalau mau memastikan Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka sampai-sampai harus ada namanya perang dingin seperti itu.
"kamu Kenapa tadi saat dipanggil sama Pak Daniel bukannya mendekat kamu malah tidak peduli sama sekali, padahal Seharusnya kamu sadar kalau kita di sini itu adalah bawahannya yang bisa sekali-sekali bakalan dipecat tanpa melakukan kesalahan apapun?" tanya Diana penasaran dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Sara itu.
"ya habisnya Siapa suruh dia lebih dulu mencari masalah! Biarpun kita itu hanya pesuruh di sini tetapi kita bekerja dulu baru dibayar bukan hanya duduk-duduk saja terus dibayar cuma-cuma, jadi otomatis Kita juga harus dihargai dong bukan malah diperlakukan sangat tidak masuk akal seperti ini! "ujar Sarah yang jelas-jelas tidak terima ketika harga dirinya dijatuhkan sampai segitunya.
Diana hanya menggelengkan kepala ketika melihat Sarah yang terlalu mementingkan egonya dibandingkan dengan pekerjaannya yang menurutnya sangat penting saat ini, terserahlah mau bagaimana kedepannya lihat saja yang penting intinya ia tidak mau ikut campur sama sekali karena sama saja nanti dirinya juga bakalan terkena imbasnya.
Adam merasakan kepalanya benar-benar pening Percayalah amnesia itu membuat dirinya sangat sengsara, karena kilatan bayangan masa lalu kemudian apa yang pernah ia lakukan terhadap Amira terlihat begitu jelas namun untuk mengingatnya secara nyata itu masih samar-samar tidak terlalu bisa dipastikan kebenarannya.
"mau kubantu, yang maksudnya biar lebih cepat ? "tawar Adam tetapi Amira menolaknya sebab biar kehamilannya sudah sampai sebesar ini tetapi Percayalah kalau gerak tubuhnya masih begitu lincah tidak ada kesulitan sama sekali.
"kalau misalnya segala sesuatu kamu kerjakan sendiri terus pertanyaannya aku sebagai suami kamu itu kegunaannya untuk apa, Bukankah di sini itu tidak ada asisten rumah tangga ya Otomatis segala sesuatu kita bakalan melakukan sendiri jadi tidak ada salahnya dong kalau aku menawarkan bantuan seperti tadi? "tanya Adam yang merasa gemas Ketika istrinya itu benar-benar tidak ingin dibantu olehnya bahkan kini terlihat Amira rasanya seperti masih menghindar dan sedikit tidak nyaman dengan sentuhannya.
"maafkan aku ya! soalnya masih belum terlalu nyaman kalau kita berdekatan seperti ini karena aku merasa tidak terlalu baik, apalagi selama berbulan-bulan hubungan kita tidak dalam keadaan baik-baik saja Jadi kalau tiba-tiba langsung merespon kamu rasanya itu sangat tidak masuk akal dan juga aku pasti melakukannya dengan keadaan terpaksa! "ujar Amira membuat ada menghentikan kegiatannya untuk menggoda istrinya sebab menurutnya Amira sepertinya sedang membatasi diri agar tidak terlalu dekat dengannya.
__ADS_1
Dengan wajah kecewa ada keluar dari ruangan itu tetapi Percayalah kecewanya itu bukan ditujukan kepada Amira melainkan kepada kebodohannya sendiri, ya iyalah dikasih istri yang sempurna yang bisa segala-galanya malah menyia-nyiakannya Nah sekarang istrinya balik cuek kepadanya barulah terasa kehilangannya.
"kenapa aku dulu sebodoh itu ya, Coba saja kalau tidak tergoda dengan siapapun pasti hubungan kami bakalan baik-baik saja? "Adam merutuki kebodohan yang sudah ia lakukan tetapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi Mau dikembalikan lagi ke semula pun rasa-rasanya sudah sangat tidak mungkin.
"kalau bisa kamu bawa datang Jet Pribadi sekarang juga soalnya aku dengan istriku bakalan langsung pulang, tolong jangan pakai lama soalnya Sepertinya dia sudah tidak betah berada lama-lama di tempat ini! "perintah Adam yang tidak peduli jika orang di seberang itu lagi melakukan apa.
"Baik tuan saya akan segera meluncur ke sana sekarang juga!"Sahut Pilot yang biasa mengantarkan Adam.
Dirinya sengaja tidak menelpon Sakti dan juga Dina karena ia yakin pasti bakalan diceramai habis-habisan, maka dari itu ia memilih nanti Saat ketemu mereka barulah mendengarkan ceramahnya secara langsung mungkin dengan begitu kedua orang tuanya bakalan merasa lebih puas.
Rangga kini tengah menghadap dengan Sakti yang terlihat begitu murka atas apa yang ia lakukan dan juga atas keterlibatannya dengan yang dilakukan oleh Adam terhadap Amira, sebab yang diinginkan oleh Sakti adalah Rangga tetap fokus pada pekerjaannya yang dari awal tidak usah harus mencampuri urusan pribadi orang lain di luar dari kepentingan pekerjaan.
"kamu, yakin bahwa keputusan kamu itu bakalan saya setujui? Oleh karena Adam itu merupakan anak saya jadi otomatis saya bakalan mendukung semua keputusannya, pokoknya kamu harus ingat kalau sampai Amira kenapa-napa maka orang pertama yang bakalan saya salahkan yaitu kamu bukan orang lain termaksud Adam! Bukan karena dia merupakan anakku tetapi karena kamu yang seharusnya meluruskan jalan yang ia pilih Tetapi malah kamu juga ikutan belok, jadi seperti begini harus ada konsekuensi yang ditanggung agar besok rusak kamu tidak Mengulangi kesalahan yang sama lagi!"tegas Sakti sedangkan Rangga hanya bisa menundukkan kepalanya karena ia tidak punya kuasa untuk menjawab semua perkataan yang dilontarkan oleh majikannya itu.
Dina merasakan hal yang berbeda dengan keduanya sebab wanita itu sebenarnya sedikit mengkhawatirkan tentang kondisi Aida Yang sepertinya tidak aman dan juga nyaman, padahal dirinya juga sedang sakit hanya saja kebiasaan wanita itu ya seperti begitulah yaitu lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.
"Papa Sudahlah Biarkan saja nanti juga Adam sama Amira pasti bakalan kembali ke sini, yang penting intinya sekarang yang kita pikirkan itu kondisi Aida Yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja! "ujar Dina membuat Sakti menghentikan kegiatannya untuk memarahi Rangga tadi.
__ADS_1