Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Kondisi Dina


__ADS_3

Genap seminggu sudah Adam dan juga Papanya berada di negeri yang berjulukan Negeri Singa itu, mereka datang ke situ bukan untuk berlibur atau mengurus pekerjaan tetapi mereka datang ke tempat tidur untuk membawa Dina berobat.


seminggu pula Dina tidak sadarkan diri sampai saat ini meskipun semua alat vitalnya normal tetapi yang diinginkan oleh Adam dan juga Sakti yaitu wanita tersebut membuka matanya dan berbicara, bukan malah tidur antara mau hidup atau mati antara masih bernyawa atau hanya mengambang di permukaan tanpa kepastian.


"Sudah seminggu kita ada di sini dan selama itu pula Papa sebenarnya kepikiran dengan istri kamu di sana, Apa tidak sebaiknya kamu pulang saja memastikan keadaannya secara langsung dan juga menjaga agar anak kalian lahir ke dunia ini ada kamu sebagai bapaknya? Tenang saja jangan merasa tidak enak hati karena tidak sempat menjaga Mama kamu di sini, bukan kah tempat lain juga ada dua orang yang memerlukan kalau kehadiran kamu dan itu merupakan tanggung jawab kamu sebagai kepala keluarga?"tawar Sakti karena memang dirinya juga cemas memikirkan keadaan Amira di Indonesia yang Kalau tidak salah hari perkiraan lahirnya itu sudah hampir dekat maka dari itu seharusnya Adam kembali dan juga bisa menjaga istrinya itu dengan baik.


Adam menghela nafasnya kasar karena dirinya bukan sebenarnya tidak ingin pulang hanya ia berada di sini pun atas keinginannya Amira , nanti kalau misalnya ya kembali yang ada wanita itu pasti bakar marah dan juga merasa tidak terima karena kata-katanya sudah dilanggar.


"nanti aku bakalan menghubunginya lagi supaya memberitahukan kalau aku bakalan pulang dalam waktu dekat, soalnya aku ada di sini juga atas keinginan ya takut jangan sampai saat aku kembali dianya malah tidak suka!"sahut Adam yang terlihat sudah seperti seorang laki-laki yang begitu takut kepada istrinya bukan karena takut apanya tetapi takut nanti Amira bakalan meninggalkannya.


"sebenarnya tidak perlu kamu harus memberitahukan kepada dia segala ya kalau mau pulang tinggal pulang saja kan, jadi pria itu harus tegas dalam mengambil keputusan dan juga tegas dalam menentukan Jalan Hidup bukan malah plin-plan tidak jelas! "Sahut Sakti.


"Ya sudah Papa tidak perlu harus menjelaskan panjang lebar kepadaku kan nanti aku bakalan mengikutinya, Pokoknya tenang saja karena lebih baik kita pastikan dulu kondisi Mama terbaru mungkin dengan begitu aku bisa kembali ke Indonesia dengan keadaan tenang! "tawar Adam lalu segera mengajak Papanya Itu pergi ke ruang ruangan dokter supaya ada kejelasan tidak perlu harus menunggu tanpa kepastian seperti saat ini.


Keduanya kini sudah berada di ruangan dokter yang menangani Dina, pria itu tampak menghela nafasnya berkali-kali seolah bingung harus menjelaskan bagaimana caranya tentang kondisi Dina saat ini.


Bukannya tidak ingin profesional hanya saja untuk kasus seperti Dina ini memang butuh kesabaran ekstra, karena pasien tidak merespon semua pengobatan yang dilakukan seolah-olah memang tidak ingin bangun.


"Bagaimana dokter, apa ada kabar terbaru tentang kondisi Mama? Soalnya ini sudah hampir seminggu tetapi kondisinya tidak pernah ada perubahan sama sekali, bahkan bisa dibilang seolah-olah Mama itu ya memang seperti begitu saja tidak bisa bangun-bangun lagi! "jelas Adam yang memang sudah sangat penasaran Tetapi kalau putus asa ya memang tidak karena sebagai seorang anak selalu ingin Memastikan kondisi orang terdekatnya baik-baik saja itu merupakan hal yang utama.


Sakti adalah pria yang paling Terpukul di sini ketika separuh belahan jiwanya harus terbaring lemah tak berdaya seperti ini, belum lagi tekanan pekerjaan yang begitu banyak membuat dia pun harus kebingungan hanya saja bersyukur karena ada Rangga disaat seperti begini namun perusahaan mereka di Italia harus terbengkalai karena tidak ada yang mengurus soalnya selama ini yang menghandle ya merupakan Rangga.

__ADS_1


"ya betul sekali kami berdua ada di ruangan ini untuk memastikan Bagaimana keadaan istri saya yang paling terbaru, Kalau memang dia bakalan seperti begitu terus tolong dikatakan Terus kalau memang ada hal lain pengobatannya mungkin lebih bagus lagi juga tolong dikatakan kepada kami agar kami tahu! ya mungkin terkesannya terlalu tidak menghargai pekerjaan kalian tetapi jangan salahkan karena kami ini juga merupakan anggota keluarganya, jadi otomatis apapun yang terjadi kepada istriku kami harus mengetahuinya tanpa terkecuali! "jelas Sakti yang merasa bahwa dokter itu sepertinya menyembunyikan sesuatu padahal sebagai anggota keluarga yang dirinya harus diberitahu kemungkinan terkecilnya apapun itu.


Terdengar hal-hal nafas berat dari dokter tersebut bukan karena tidak ingin jujur, hanya saja yang sedang mencari momen yang terbaik karena tidak mungkin juga kan Langsung menyerang seseorang dengan kata-kata yang mematikan padahal kondisi orang tersebut belum siap.


"Sebenarnya kondisi Nyonya Dina Adiguna itu bisa dibilang hanya bertahan dengan alat-alat medis yang tertempel di tubuhnya, Karena tanpa disadari ternyata karena perilaku beliau yang menolak segala macam pengobatan dan juga sengaja tidak meminum obat-obatan antibiotik serta vitamin untuk jaga daya tahan tubuh membuat dia semakin drop kondisinya! Mau melakukan kemoterapi pun rasanya sudah sangat tidak mungkin karena kondisi tubuhnya yang menolak segala macam pengobatan, jadi saya sarankan anda untuk bersabar saja entah sampai kapan baru dia bangun yang penting intinya dia sudah mendapatkan penanganan medis!"jelas dokter tersebut pelan tapi pasti membuat Sakti dan juga Adam hanya bisa tertunduk dan bingung harus merespon seperti apa.


"Baiklah kalau begitu saya Serahkan semuanya kepada Anda tolong lakukan segalanya pengobatan yang dianjurkan untuk saat ini, untuk biaya Tenang saja kami bakalan mengurusnya entah sampai mau berapa banyak pun tidak masalah yang penting intinya kondisi Mama ada perubahan! "perintah Adam tegas membuat dokter tersebut hanya menganggukkan kepala karena kalau memang itu merupakan keinginan keluarga pasien ya dirinya yang bekerja di bagian medis tentu tidak bisa menolaknya jika demi kebaikan.


kedua pria dewasa itu kini sudah berada di ruangan ICU tempat di mana Dina berada, pandangan keduanya terlihat begitu kosong karena ternyata sudah pergi sejauh ini dari Indonesia namun masih saja tetap tidak ada perubahan sama sekali.


Adam yang sudah rela meninggalkan keluarganya tidak bisa berbuat banyak karena memang tugasnya ya hanya menemani saja, walaupun ia paham suami medis dia sudah pasti dia tidak bisa berbuat banyak karena otot dan Jalan pemikirannya sedang ngeblank tidak bisa dipakai.


"lebih baik kamu kembali temani menantu kami dan usahakan jaga dia jangan sampai melakukan kesalahan yang sama, mau kondisi Mama kamu ada perubahan atau tidak tetapi Ingat kamu punya tanggung jawab dan tanggung jawab kamu itu sedang menanti kamu saat ini! "perintah Sakti tegas karena memang anaknya itu harus menjadi seorang pria yang Gentlemen tidak boleh ada niatan lari dari tanggung jawab.


"Itu yang selama ini ingin kami sampaikan kepada kamu jika milik Kamu yang kamu campakkan dan kamu Anggap tidak berarti sebenarnya di mata orang lain itu seperti sebongkah berlian, yang tidak ada tandingannya di dunia ini bahkan mau dicari sampai bagaimanapun tidak akan pernah ditemukan! "tutur kata dari Sakti itu begitu lembut tetapi Percayalah itu sebenarnya sebuah sindiran yang begitu mematikan kalau memang orang yang diajak bicara itu paham.


"Aku sadar sekarang Papa maka dari itu aku tidak ingin membiarkan istriku diganggu oleh pria manapun di muka bumi ini, apapun keadaannya dan siapapun orangnya mereka tidak berhak mendekati istriku apalagi mengambilnya dari sampingku dan juga mereka tidak punya wewenang untuk melakukannya! "ujar Adam membuat Sakti ingin tertawa tetapi hatinya belum mengiyakan hal itu sebab jalan pikirannya masih terbagi Dua.


kini Pria beristri itu sudah berada di dalam jet pribadi milik keluarga adik guna untuk mengantarkannya kembali kepada istri tercinta, jika dulu ia sangat betah meninggalkan Amira berhari-hari Percayalah sekarang hatinya Terasa seperti tertinggal di dekat Amira sehingga mau melakukan apapun rasanya sudah mati rasa.


"Aku kembali istriku tersayang dan juga pemilik hatiku, Jangan cemas karena setiap langkahku hanya ada nama kalian berdua! "batin Adam sambil berusaha memejamkan matanya karena sejatinya sebenarnya pria itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya.

__ADS_1


Amira tidak tahu sama sekali Kalau suaminya bakalan pulang hari ini Sebab mereka memang jarang saling bertukar kabar, karena menurut Amira dengan cara begitu maka rindu akan menggebu-gebu dan ketika bertemu nanti tidak akan merasa bosan.


"Amira, apa sudah ada kabar terbaru dari Nak Adam soal kondisi ibu mertua kamu? Ibu rasa-rasanya tidak bisa beristirahat dengan tenang kalau seperti begini keadaannya, Kamu kan tahu sendiri Kalau kami berdua itu sangat dekat dan bisa dibilang tidak terpisahkan sama sekali? "Aida terlihat begitu gelisah sampai-sampai malamnya pun tidak bisa tidur dengan tenang hanya karena mengingat Bagaimana kondisi Dina yang tidak diketahuinya sampai saat ini.


Percayalah kalau sebenarnya Amira pun berada di posisi yang sama karena ia sampai sekarang belum tahu kondisi terbaru tentang mertuanya, karena Adam selalu beralasan ingin agar istrinya itu hanya memikirkan kondisi anak mereka kalau soal kondisi Mamanya biarlah Adam sendiri yang memikirkan hal itu.


Bukan karena tidak menghargai Amira sebagai menantu dari keluarga Adiguna hanya saja kondisi wanita itu yang memang harus menjadi prioritas nomor 1, Biar bagaimanapun dan juga dengan cara apapun tetaplah Amira terpenting dan tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun itu.


"Aku juga bingung Bagaimana dengan kondisi Mama saat ini sebab setiap kali ditanya Mas Adam Tidak pernah berbicara, dan dia inginnya aku lebih fokus dengan kehamilanku saja biarlah kondisi Mama dia dengan Papa Sakti yang memikirkannya soalnya mereka tidak ingin aku terganggu! "jelas Amira membuat Aida hanya bisa mengelola nafasnya secara perlahan.


sebab Memang begitulah kebiasaan keluarga Adiguna tidak ingin merepotkan siapapun dan lebih memilih untuk mereka saja yang direpotkan, padahal orang-orang sekitarnya sebenarnya ingin membantu dan juga memberikan perhatian tetapi mereka selalu membangun benteng yang begitu kokoh agar tidak ada yang bisa melangkahinya.


"kebiasaan mereka memang dari dulu sampai sekarang ya seperti itu tidak suka jika ada orang lain yang merepotkan kondisi mereka, padahal sejatinya manusia itu kan makhluk sosial ya perlu yang namanya bantuan orang sekitar tetapi mungkin karena terlalu kaya jadi akhirnya sombong atau apalah itu! "omel Aida karena memang sangat tidak suka dengan kebiasaan Dina dan juga keluarganya yang menurutnya selalu saja membatasi diri.


Aida marah kepada Dina itu bukan berasal dari dalam hatinya yang paling dalam Hanya saja karena Kesal ya makanya kata-kata itu terlantar begitu saja, tetapi Percayalah kalau Dina datang pasti wanita itu begitu heboh karena terbukti ketika Adam melakukan kesalahan Aida tidak bisa memarahi Dina sampai segitunya.


"Nanti kalau misalnya Mas Adam telepon aku bakalan memaksakan dia untuk memberitahukan Bagaimana kondisi terbaru dari Mama Dina, karena menurutku mereka terlalu mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan Padahal aku bukan anak kecil lagi yang jelas-jelas pasti tahu dan juga bisa membedakan mana yang baik dan juga tidak. "Amira menimpali perkataan ibunya tadi karena memang Ia juga ingin butuh kepastian dan juga mendengar kejelasan tentang kondisi terbaru dari mertuanya.


jika semua orang diam maka rasa-rasanya ia merupakan menantu yang tidak tahu diri dan juga tidak tahu menghargai orang yang lebih tua, padahal jelas-jelas orang tuanya Adam milik orang tuanya juga mereka tidak mungkin terpisahkan dan juga tidak mungkin yang namanya saling malas tahu dengan keadaan masing-masing.


"semoga keadaan Dina baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu hal yang serius karena Percayalah Ibu ini sudah tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana, sakitnya itu sudah lama sekali tetapi karena masalah kalian yang membuat dia menggantungkan penyakitnya itu begitu saja seolah-olah kanker darah itu merupakan sebuah hal yang biasa saja! "ujar Aida yang masih mengingat dengan jelas Bagaimana penolakan yang dilakukan oleh Dina tentang pengobatan yang ditawarkan oleh dirinya dan juga Sakti.

__ADS_1


"Aku di sini paling merasa bersalah karena mungkin aku yang terlalu cepat terbawa emosi atau bisa dibilang yang tidak punya kesabaran sama sekali, sehingga membuat aku jadi menghukum orang-orang sekitarku sampai-sampai mereka tidak peduli dengan keadaan mereka sama sekali! "lirik Amira lagi karena merasa bersalah dengan apa yang menimpa Dina saat ini.


"kamu jangan seperti begini dong inilah hal yang paling ditakuti oleh Adam dan juga Sakti karena nantinya kamu yang bakalan drop, Tenang saja dan biasa saja tidak boleh menganggap sesuatu secara berlebihan dan ingat kondisi kamu yang tidak boleh membuat kamu stress. "jelas Adam.


__ADS_2