Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Menggoda


__ADS_3

Dina hanya melihat ke arah Aida yang dari tadi terlihat diam saja tidak berbicara sedikitpun, sampai-sampai wanita itu mencurigai jangan sampai sekarang pemikiran Aida itu sedang dipenuhi dengan mantan suaminya itu.


Bukannya ingin ikut campur terlalu jauh padahal Aida itu bisa dibilang bukan anak kecil lagi Jadi segala sesuatunya harus orang lain yang mengatur, hanya saja terkadang orang kalau lagi down pikirannya itu sedang kosong ya apapun bujukan rayuan dari luar pasti langsung dilaksanakan maka dari itu Dina mewaspadai dari awal.


" Kamu kenapa sepulang dari rumah sakit kok diam saja, Apa masih sakit kalau iya ya sudah kita balik lagi biar kamu dirawat lagi di sana? Masa iya orang baru pulang dari rumah sakit kok mukanya cemberut seperti itu seperti sedang mengingat mantan di masa lalu, ingat ya jangan bikin malu usia kamu padahal sekarang bukan anak muda lagi jadi masih berada pada fase-fase yang itu! "sinis Dina yang sebenarnya bukan marah Tetapi hanya ingin mengingatkan saja kalau memang Aida menanggapinya dengan serius ya terserah dari wanita itu saja.


Aida menoleh ke arah sahabatnya itu yang menurutnya sangat cerewet hari ini padahal tadi sudah sempat-sempatnya memarahi Fadil, masa iya sekarang giliran dirinya lagi memangnya tidak capek Apa seharian memarahi orang tidak berhenti.


"Mama please deh, jangan lebay seperti itu! biarkan Aida istirahat dengan tenang tidak usah kamu isi pemikirannya dengan hal-hal aneh yang sedang kamu rencanakan saat ini, kapan dia merasa rileksnya kalau setiap hari setiap saat dirongrong saja dengan kata-kata kamu itu? "Sakti Bukannya tidak ingin membela istrinya hanya saja menurutnya sikap Dina itu sudah sangat keterlaluan jadi tidak ada salahnya kan kalau mengingatkan istrinya itu lagi agar jangan Mengulangi kesalahan yang sama.


"Ya kali Pah kita diam saja sedangkan dia nya dari tadi juga ikutan diam, kita itu makhluk hidup Ya otomatis harus ngomong ya Meskipun jangan berlebihan sih! Ini orang tadi itu semenjak ketemu sama Fadil mukanya itu butek terus ngomong pun kagak kemudian diajak bicara pun malah tidak direspon sama sekali, sekarang kalau misalnya kita diam saja dia bakalan terus seperti itu!" Ujar Dina.


"Iya kita harus ngomong tetapi kalau misalnya sesekali diam juga rasanya mungkin bisa bikin nyaman tidak perlu harus dengar pembicaraan yang tidak masuk akal, maka dari itu Papa ngomong nya seperti tadi supaya Mama paham dan juga tidak akan mengulangi lagi hal itu!" jelas Sakti.


"aku baik-baik saja kok Biarkan saja dia mau ngomong seperti apapun soalnya kan kebiasaannya seperti itu, istri kamu itu bakalan sakit kalau semenit tidak ngomong maka dari itu biarkan saja Terserah mau sampai besok pagi mulutnya itu komat kamit tanpa henti pun tidak masalah!"ujar Aida yang memilih untuk malas tahu soalnya kebiasaan sahabatnya itu jika sudah menemukan sebuah TOPIK untuk dijadikan bahan Bulian dia bakalan ngomong terus tidak berhenti sama sekali.


Aida hanya tidak habis pikir dengan keadaan suaminya saat ini perasaan mereka baru berpisah selama beberapa bulan tetapi perubahannya terlihat begitu jelas, seperti tidak terurus kemudian layaknya orang yang tengah menanggung beban pikiran amat sangat.


padahal dulu selama menikah dengannya padahal itu bisa mengurus diri sendiri kemudian segala macam kebutuhannya bisa terpenuhi, mungkin karena kebiasaannya yang numpang hidup doang maka dari itu ketika berpisah perubahannya begitu terlihat jelas.


Amira dan juga Adam memilih menggunakan mobil yang satunya lagi karena tidak mungkin dong mereka harus berdesakan di tempat itu, Sedangkan Aida memerlukan sedikit ruang gerak yang bebas.


Surti otomatis mengikuti mobil majikannya karena nantinya ya bakalan tinggal bersama dengan Amira sampai wanita itu tidak memerlukan tenaganya lagi baru dirinya akan memilih untuk berhenti, karena tinggal bersama dengan Amira membuat Surti lebih betah dan juga hidupnya lebih nyaman karena Amira itu orangnya humble dan juga suka sekali bergaul serta tidak memilih-milih orang-orang dari strata sosial yang berada di bawahnya.

__ADS_1


"Bibi, ada sesuatu yang ingin dibeli mumpung kita sudah ada di daerah ini! Soalnya kalau sudah sampai di sana itu sepertinya niatan untuk keluar rumah itu susahnya minta ampun lah, jadi kebetulan sudah ada di sini tidak ada salahnya kan kalau kita sekalian? "tanya Amira memastikan.


"Tidak ada Mbak, karena kebetulan keperluan Bibi yang selama di sana itu masih ada semuanya kan waktu itu Mbak Amira belinya sengaja dilebihkan biar bertahan lama?"ujar Surti menjelaskan karena memang seperti begitulah kenyataannya.


Adam hanya memilih menjadi pendengar saja karena pikirannya sekarang itu sebenarnya masih tertuju kepada Daniel, ketulusan pria itu memang benar-benar terlihat jelas sebab rela pergi jauh-jauh menempuh beribu-ribu KM hanya untuk datang dan memastikan keadaan istrinya.


Padahal selama ini Adam saja tidak ada niatan untuk melakukan hal itu tetapi kenapa orang lain sampai nekat melakukannya, Di sini itu menjadi pertanyaannya tugas dan juga kewajibannya sebagai seorang suami kira-kira sudah ia jalankan dengan betul atau tidak.


Takutnya jangan sampai suatu saat Amira lebih nyaman dengan orang lain akibat dirinya yang tidak peka dan juga tidak bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh orang lain, otomatis posisinya sebagai seorang suami sudah gagal karena tidak bisa memberikan apa yang seharusnya diberikan untuk istrinya.


"Mas kamu baik-baik saja kan? masa iya dari tadi diam saja seperti itu, Masih memikirkan keberadaan Bapak tadi? Atau kamu memikirkan soal Pak Daniel yang datang tiba-tiba terus Ngomongnya ngelantur semua, Makanya lebih baik itu tadi kamu berbicara dulu dengannya Ya siapa tahu mungkin rasa penasaran kamu bakalan terjawab?"tanya Amira memastikan soalnya melihat suaminya terdiam seperti itu rasa-rasanya membuat berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya saat ini.


Adam menggelengkan kepalanya karena memang dirinya tidak mungkin dong jujur tentang kenekatan yang dilakukan oleh Daniel tadi, karena itu sama saja membuat dirinya Malu sendiri karena sudah sadar bahwa dirinya tidak pernah melakukan hal itu.


"kondisi seseorang itu sebenarnya tidak bisa kita prediksi dari awal bahwa dia akan baik-baik saja atau mungkin suatu saat dia tidak baik-baik saja kan kita tidak tahu, apalagi yang namanya penyakit itu biasanya datang secara tiba-tiba hari ini dia tersenyum hari ini dia baik-baik saja Eh besok tahu dianya drop. "Amira coba membesarkan hati suaminya itu maksudnya supaya jangan terlalu merasa bersalah atau mungkin bisa dibilang terlalu merasa rendah diri hanya karena merasa tidak berguna dengan apa yang tidak pernah ia lakukan.


Adam hanya menghela napasnya secara perlahan karena sebenarnya apa yang dikatakan oleh istrinya itu benar sekali hanya saja tetap saja masih mengganjal di dalam benaknya, namun itu semua masih bisa ditahannya karena ia punya jalan pemikiran sendiri untuk menyelesaikannya.


Daniel yang saat ini Tengah berada di Kompleks Perumahan tempat di mana mereka tinggal dahulu, karena kebetulan Sebenarnya rumah di situ itu hanya disuruh orang untuk menjaga tetapi mereka tidak ada niatan untuk menjual karena kebetulan tempat itu merupakan peninggalan dari orang tuanya Andara.


maka dari itu hari ini ia memilih untuk berkunjung dan bisa melihat segala macam aktivitas yang terjadi di rumah Aida karena kebetulan mereka itu saling berseberangan tetanggaannya, ya mungkin dengan melepas rindu hanya melihat dari jauh pun tidak masalah yang penting intinya ia bisa melihat segala macam aktivitas yang dilakukan oleh Amira.


"dulu kita selalu sama-sama tidak pernah terpisahkan Bahkan kamu selalu saja mengikuti apa yang aku katakan, tetapi sepertinya kejadian yang dulu tidak akan pernah terulang lagi karena kamu memilih untuk menjauh dan aku pun tidak berani untuk mendekat karena jelas-jelas dunia kita sudah semakin berbeda! "batin Daniel meratapi nasib yang tengah ia alami saat ini kalau misalnya yang diketahui oleh Andara ya jangan menyesal kalau dirinya bakalan menjadi bahan tertawaan dari Mamanya itu.

__ADS_1


Daniel sementara waktu bakalan tinggal di situ ya Meskipun tidak ada yang namanya aktivitas di luar rumah tetapi yang penting intinya keberadaannya tidak bisa diketahui oleh orang-orang sekitar apalagi dari keluarganya Amira, takutnya jangan sampai wanita itu bakalan salah paham lagi jika ia belum menghilang dan kembali kepada keluarganya.


Amira dan semuanya kini sudah sampai di kediamannya Aida dan tempat itu bentuknya masih sama saja tidak ada perubahan sama sekali dari waktu terakhir kali dirinya menemukan Adam dan juga Franda, terlihat wanita itu mencoba untuk tegar tetapi Percayalah bayangan pengkhianatan itu tiba-tiba muncul begitu saja membuat dirinya enggan untuk masuk ke dalam rumah.


Adam yang melihat wajah pucat istrinya itu memilih untuk mendapatinya agar bisa membantunya turun dari mobil dan masuk ke dalam, tetapi Amira menepis tangan suaminya itu bahkan kini wajah wanita itu terlihat begitu menahan kekecewaan yang amat sangat.


"katakan di tempat mana lagi kalian bertemu biar penyiksaan yang aku rasakan semakin lebih parah daripada ini, atau rumah kita yang selama ini ditepati pun kalian sudah menggunakannya selama aku tidak ada? kamu hebat loh Mas, rumah ibuku kamu jadikan tempat maksiat bahkan bisa dibilang orang lain pun tidak menyadari hal itu? "ujar Amira yang tidak ada kata-kata kasar di dalamnya kemudian Makian atau apapun itu karena menurutnya itu semua sudah terlambat hanya tersisa kekecewaan yang selalu ia rasakan


Aida yang merasa heran karena anaknya itu tidak keluar dari mobil membuat dirinya memilih untuk menyusul, dan betapa terkejutnya ketika melihat wajah Amira yang dipenuhi dengan air mata.


"loh kamu Kenapa Nak? apa kamu merasa sakit, ya sudah kalau begitu ayo masuk ke dalam ?" tanya Aida penasaran tetapi Amira menggelengkan kepalanya karena Percayalah kondisi tubuhnya sedang Fit saja tetapi hatinya Jangan ditanya lagi keadaannya Seperti apa saat ini.


"Ibu, aku sudah tidak ada tempat tinggal lain lagi selain di sini? kakiku tuh terasa berat loh untuk masuk ke dalam sana, maka dari itu Maafkan aku juga memilih untuk bertahan di dalam mobil saja!"ujar Amira membuat Aida tercekat karena tidak percaya jika anaknya itu mengingat kembali apa yang sudah terjadi beberapa bulan yang lalu.


"Ya sudah kalau begitu kita pergi saja dari sini Terserah kamu mau tinggal di manapun Ibu bakalan mendukungnya, maafkan Ibu ya melupakan hal ini dari awal sampai-sampai memilih untuk mengajak kamu datang ke sini Padahal jelas-jelas di sinilah kenangan buruk itu akan selalu muncul! "ajak Aida tetapi Amira tetap saja menggelengkan kepalanya karena menurutnya jika mereka meninggalkan tempat itu maka otomatis semua kenangan yang tersisa dengan almarhum Ayahnya dulu akan sirna begitu saja tidak akan pernah kembali.


"aku baik-baik saja kok tapi hanya masih perlu menenangkan diri dan Mencoba untuk bisa berdamai dengan keadaan, kalau memang semuanya mau masuk Ya sudah silakan saja aku tidak apa-apa kok nanti mungkin sekitar beberapa menit lagi baru aku menyusul ! "tolak Amira membuat Aida benar-benar merasa tidak tega sedangkan Adam dipenuhi dengan rasa bersalah sampai-sampai pria itu hanya menundukkan kepalanya tidak berani berbicara ataupun membujuk istrinya itu.


Amira pun sedikit pun tidak ada niatan untuk berbicara dengan suaminya karena menurutnya Adam sudah menang dengan membuatnya terpuruk sampai sedalam ini, pria itu memang sukses di luar sana sebagai seorang pengusaha dan juga sukses membuat hati istrinya benar-benar hancur berkeping.


"saya kasih anak saya kepada kamu dalam keadaan utuh dan baik-baik saja ternyata setelah memberikannya kepada kamu selama beberapa tahun kamu malah membiarkan dia seperti ini, Kamu lihat sendiri kan Dia selalu ngomong bahwa sudah memaafkan kamu tetapi Buktinya dia masih saja terpuruk ketika melihat rumah ini? Lain kali kalau mau melakukan kesalahan itu dipikir dulu apa dampak yang bakalan ditimbulkan jika kesalahan itu terpaksa kamu lakukan, orang bakalan ngomong kalau mereka baik-baik saja dan tidak akan terpengaruh tetapi Percayalah hanya ngomong doang kenyataannya tidak seperti itu. "ujar Aida sedangkan Dina dan juga Sakti tidak bisa menambahkan apalagi harus ikut-ikutan memojokan anak mereka soalnya mereka saja sudah merasa malu dengan apa yang dilakukan oleh adam jadi untuk menambahkan sesuatu rasanya sudah sangat terlambat disaat seperti begini.


"Adam ini benar-benar suruh membuat kita malu, Aida pasti benar-benar merasa kecewa lagi dengan apa yang terjadi! Mama bingung kita harus berbuat apa supaya Amira bisa tenang dan juga tidak terlalu memikirkan semuanya, karena dalam keadaan seperti begitu Jika dia terus menerus mendapatkan beban pikiran yang amat sangat takutnya berpengaruh pada janin yang tengah ia kandung!"sebagai seorang ibu dan juga wanita Dina jelas paham dengan apa yang dirasakan oleh Aida dan juga Amira.

__ADS_1


__ADS_2