
Fadil yang saat ini sudah berada di depan rumahnya Aida, tanpa banyak bicara langsung mengetuk pintu rumah tersebut karena tadi ia sempat melihat mobil Aida yang masih terparkir sempurna di garasi .
Tok tok tok
Pria itu begitu gemas menunggu respon dari orang yang berada di dalam rumah itu, kalau Aida memilih untuk malas tahu dengan keberadaannya maka saat itu juga dirinya bakalan langsung mendobrak pintu.
Aida saat itu baru keluar dari kamar mandi merasa terkejut ketika ada yang mengetuk pintu dari depan, maka dari itu Ia pun segera berganti pakaian karena Percayalah gedoran pintu di depan itu semakin keras dan juga tidak berhenti sama sekali.
Membuat wanita itu benar-benar sangat penasaran kira-kira manusia kurang ajar Siapa yang bertamu di rumah orang tetapi tidak punya sopan santun sama sekali, seharusnya sadar diri kalau bertamu jika tuan rumah terlalu lambat menanggapinya maka seharusnya Tetap santai dan juga tenang karena Bukankah datang ke tempat itu tidak ada yang menyuruh ataupun Mengundang?
Ceklek
Aida yang setelah membuka pintu langsung memicingkan matanya ketika melihat Manusia Siapa yang tengah berdiri di hadapannya saat ini, dan lebih parahnya lagi orang itu memasang tatapan horor untuknya seolah-olah dirinya merupakan seorang penjahat.
"kamu bisa sabar tidak? Memangnya kamu pikir Kerjaan saya itu hanya menjaga pintu ini saja, jadi saat diketuk langsung dibukakan dalam waktu itu juga?" Tanya Aida yang sangat tidak menyukai sikap Fadil karena terlihat sekarang tetangga rumahnya sudah mulai mengintip dari sela-sela teras karena mendengar apa yang dilakukan oleh Sabil di depan pintu rumah Aida.
"kamu lagi menyembunyikan pria siapa di dalam rumah ini, sampai-sampai lama sekali untuk membuka pintunya? Ingat ya saya ini masih sebagai suami kamu yang sah, jadi siapapun yang masuk dalam rumah ini harus melalui Saya tidak asal nyelonong begitu saja! "tegas Fadil membuat Aida ini sekali tertawa.
"Menurut kamu perkataan yang aneh barusan yang baru saja Saya dengar itu harus saya tanggapi seperti apa ya, soalnya atas dasar apa saya melakukan sesuatu itu harus melalui persetujuan dari kamu? Kamu melakukan kejahatan dan juga penipuan saja tidak pernah ngomong dulu kepada saya, kamu menyakiti anak saya pun tidak pernah saya ketahui sama sekali!"Aida ingin sekali menertawakan kebodohannya karena sudah dengan bodohnya mau mempercayai dan juga menampung serta mengurus pria yang tidak tahu terima kasih seperti Fadil itu.
Wanita itu bahkan mencoba meraup begitu banyak oksigen agar bisa masuk ke dalam paru-parunya supaya terasa begitu lega, karena jika ia merespon terus perkataannya Fadil Percayalah wanita itu lama-lama bisa merasakan kegilaan.
"Nafas saya itu sesak loh mendengar apa yang kamu katakan tadi, soalnya datang di rumah orang sudah tidak punya sopan santun sama sekali malah mengatakan sesuatu hal yang sangat percaya diri!"sinis Aida tetapi Percayalah Fadil itu adalah tipe manusia yang urat malunya sudah putus separuh sisa hanya separuh saja itu hanya digunakan untuk er**si saja.
"Kamu mau menjadi seorang istri yang durhaka terhadap suaminya sendiri, jadi saat suami pulang bukannya malah disambut dengan baik tetapi malah bersikap kurang ajar seperti ini? " Tanya Fadil dengan tatapan yang begitu merendahkan harga dirinya Aida.
Aida mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Fadil yang sangat tidak masuk akal menurutnya, karena mau dicerna dengan cara bagaimanapun tetaplah pria itu adalah orang asing baginya karena gugatan cerai sudah dilayangkan jadi otomatis mereka berdua tinggal menunggu keputusan saja.
__ADS_1
Entah mengapa sampai-sampai Fadil memilih datang ke sini dan mencari perkara dengannya, kalau memang tidak ada niatan bercerai setidaknya ngomong baik-baik tetapi yang dilakukan Fadil malah kebalikannya.
"Kamu datang ke sini mau menceramai saya ,atau mau minta makan atau mau numpang hidup atau mau minta duit? Ingat ya apa yang sudah saya layangkan gugatan tersebut tidak akan pernah saya cabut lagi, apalagi untuk mempertahankan hidup saya bersama dengan pria yang tidak jelas seperti kamu! "ujar Aida yang bukannya marah atau menggunakan ada bicara yang begitu kasar melainkan wanita itu terlihat begitu santai.
Fadil tidak terima dengan jawaban yang diberikan oleh Aida yang terasa begitu menohok baginya, padahal harapannya adalah ketika ia kembali ke situ wanita itu bakalan membatalkan semua niatnya dari awal dan memilih untuk menerimanya kembali.
Hanya saja mungkin karena dirinya yang sudah kepalang tanggung merasa emosi, mau tidak mau langsung bersikap kasar dari awal dan ketika melihat tetangga yang begitu antusias membuat pria itu tambah gila lagi bukannya berhenti.
"Apa kamu bilang tadi? Apa kamu lupa selama ini yang sudah menemani kamu, membantu menjaga kamu dan juga melakukan hal-hal yang kamu inginkan Meskipun tidak masuk akal? "tanya Fadil emosi membuat Aida ingin sekali tertawa karena pertanyaan pria itu sungguh-sungguh sangat tidak pernah ia lakukan selama ini.
"Kamu membantu untuk menjagaku? Bukannya aku yang harus menjaga kamu soalnya kan kamu selalu dikejar-kejar hutang, dan aku yang membayarnya kemudian permintaan kamu yang aneh-aneh padahal tidak punya penghasilan aku juga yang harus menutupinya kan? "tanya Aida yang dari tadi memang tidak ada niatan untuk membiarkan Fadil masuk ke dalam rumahnya lagi.
Ibu RT yang kebetulan melintas di situ dan mendengar keributan di rumahnya Aida, memilih untuk menghampiri mereka berdua agar sepasang suami istri itu kalau bisa ributnya di dalam rumah.
"Permisi Pak Fadil dan juga ibu Aida, Maaf jika saya lancar tetapi kalau boleh jika ada permasalahan dalam rumah tangga itu sebaiknya dibicarakan di dalam rumah! Kalau jika dibicarakan di depan teras seperti ini ya Otomatis sudah menjadi konsumsi publik bukan masalah rumah tangga lagi, Jadi kalau besok lusa mendengar ada gunjingan sana-sini ataupun orang menceritakan keburukan kalian berdua ya didengar saja jangan marah-marah karena bukannya kalian yang menunjukkan kepada orang lain?"jelas ibu RT tersebut tidak ada nada sinis ataupun mengejek tetapi yang ada dirinya berbicara secara halus dan juga lembut kemudian dengan niat hati untuk mengayomi semua warga yang berada di RT tersebut untuk bersikap lebih rasional lagi.
"Dia ini susah sekali dibilangin Bu RT, sebagai seorang istri maunya saya sebagai suami harus mengalah! Padahal jelas-jelas saya di sini sebagai kepala keluarga yang harus didengar apapun perkataannya, tetapi lihat sendiri kan yang terjadi Barusan saya itu tidak pernah dihargai sama sekali Maunya harus diam dan mendengarkan saja apa yang dia katakan. "fitnah yang dikatakan Fadil itu sungguh membuat Aidah merasa harga dirinya sedang diinjak-injak dan juga dirinya sedang dihina oleh pria itu walaupun secara tidak langsung.
Cukup sudah!!
"Satu kali lagi Kamu fitnah saya maka hari ini juga kamu bakalan saya laporkan kepada polisi, Memangnya kamu pikir saya ini anak kecil yang mau saja mengumbar aib keluarga di hadapan orang lain?"ujar Aidah dengan tatapan horornya karena memang kali ini sudah habis batas kesabarannya akibat terlalu diuji terus oleh Fadil terlalu terus diungkit-ungkit oleh Fadil membuat manusia yang aslinya diam dan juga lembut pasti akan menjadi murka jika terus saja dijadikan kambing hitam.
Ibu RT yang masih berdiri di situ menatap heran ke arah Aida, pasalnya selama ini wanita itu selalu diam dan juga bersikap lembut terhadap Fadil Entah kenapa sekarang terlihat begitu berubah.
Wanita itu akhirnya tahu kalau sebenarnya kedua manusia itu sudah tidak bisa disatukan lagi, terbukti dengan bahasa tubuh Aida yang jelas-jelas menolak keberadaan Fadil di tempat itu sampai-sampai ia masih berdiri di depan pintu menyiratkan bahwa Fadil dilarang masuk.
"Masalahnya memang sudah tidak bisa dibicarakan baik-baik ya? Ya sudah kalau begitu pikirkan saja yang mana yang terbaik dan juga yang mana yang harus dipilih, Jangan membuat keributan Jangan membuat kehebohan karena Percayalah Terkadang kita harus lebih pintar menjaga martabat kita dibandingkan orang lain! "ujar ibu RT tersebut Lalu memilih pergi dari situ karena dirinya sudah tidak bisa ikut campur Terlalu dalam.
__ADS_1
Biar bagaimanapun masalah internal antara Fadil dan juga Aida, harusnya yang menyelesaikannya adalah mereka sendiri bukan orang lain apalagi dirinya.
Sepeninggal istri dari Pak RT tersebut Aida langsung memasang tatapan horornya dan juga tidak memberikan ampun sedikitpun terhadap Fadil, karena menurutnya maksud pria itu datang ke rumahnya sudah sangat tidak baik dari awal makanya saat sampai di sini rasa malu pun sudah tidak pernah dipikirkannya lagi.
"Saya minta secara baik-baik kamu pergi dari sini atau saya bakalan menelpon polisi karena kamu sudah membuat sesuatu yang merugikan saya, kalau memang kamu masih punya malu silakan kamu angkat kaki kalau memang tidak punya malu lagi silakan berdiri di situ tenang di tempat tetapi jangan pernah mengganggu privasi ataupun kehidupan saya lagi! "ujar Aida lalu segera menutup pintu.
Fadil Tentu saja tidak terima ketika melihat Apa yang dilakukan oleh Aida kepadanya, karena menurutnya itu sama saja wanita itu tidak menghargainya sebagai suami meskipun status mereka sedang tidak jelas.
"Aida kamu buka pintunya sekarang atau aku bakalan melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu duga sebelumnya, dan ini merupakan ancamanku sekarang juga dan jika kamu masih tetap mempertahankan Ego kamu maka aku pun akan melakukan hal yang sama! "teriak Fadil dari depan membuat Aidah memilih untuk memasang earphone di telinganya dan mendengarkan lagu yang beralunan DJ supaya teriakan Fadil itu tidak didengarkan sama sekali meskipun hal itu selama ini tidak pernah ia lakukan yaitu mendengarkan lagu yang musiknya terlalu keras.
Para tetangga yang ada di situ sebenarnya merasa kesal dengan sikap Fadil selama ini, yang menurut mereka terlalu sombong dan juga terlalu keenakan sebagai seorang pria. Bagaimana tidak Fadil tidak pernah ada niatan untuk cari uang sekedar menafkahi Aida dan juga anaknya Franda, melainkan hanya tidur-tiduran di rumah menunggu kepulangan istrinya itu membawa penghasilan dari warisan yang ditinggalkan oleh suami pertamanya.
"Sepertinya kita harus mengusir Fadil itu dari Kompleks kita! Soalnya ibu Aida saja tidak menghiraukan keberadaannya, untuk apa juga dia tetap berada di situ? Hanya membuat ribut dan juga suasana di sini menjadi tambah kacau, dan juga tidak enak untuk dipandang! "ujar ibu-ibu di situ lalu kemudian mereka menuju ke rumah Aida Terserah mau dikatakan sebagai orang yang kepo dengan pribadi orang lain yang penting intinya di tempat mereka itu selalu terjadi kedamaian tidak ada yang namanya pertikaian apalagi keributan.
"Permisi Pak Fadil kalau misalnya ibu Aida sudah tidak ingin anda kembali ke sini ya lebih baik pergi saja kan, masa tuan rumah tidak mengharapkan kedatangan anda tetapi terus memaksakan diri seperti itu seolah-olah tidak punya urat malu? "Tanya Ningsih yang merupakan wanita yang bertubuh subur dan juga paling tidak suka jika ada pria yang kurang ajar karena dirinya merupakan korban perceraian akibat suaminya yang terlalu kasar.
Fadil memasang tatapan tajamnya kepada wanita yang secara tidak langsung sudah mengatur-ngatur hidupnya seperti itu, padahal sebenarnya apa yang dikatakan oleh Ningsih itu tidak ada yang salah jika Fadil tidak berhak ada di tempat itu karena Aida yang tidak menginginkannya secara langsung.
"Untuk apa kamu mau ngatur-ngatur hidupku Atur saja hidupmu yang tidak benar satu itu, bila perlu kuruskan badanmu sekalian supaya tidak perlu harus membuat orang lain merasa sakit mata karena melihat kamu! "Sindir Fadil tetapi Percayalah Ningsih adalah wanita yang sudah kebal terhadap kata-kata hinaan karena dulu ia selalu Mendengar hal itu dari suaminya.
"Sepertinya kamu merindukan pukulan dariku sampai-sampai membahas hal itu? Asal kamu tahu saja ya tubuhku seperti begini itu pertanda bahwa aku itu berpikiran sehat mencari makan sendiri dengan begitu baik tidak menyusahkan orang lain. Dan juga aku tidak pernah yang namanya numpang hidup terhadap orang lain, dan alhasil terlihat seperti bos besar Padahal hasil akhirnya adalah gembel!"jelas Ningsih yang menurutnya tengah menyindir Fadil agar pria itu tahu diri dan juga tidak terlalu sok-sokan.
"Iya benar Pak Fadil silakan pergi dari Kompleks kami ini soalnya tidak enak kalau ribet-ribut seperti tadi, sudah begitu kan ibu Aida tidak menyuruh Anda masuk jadi ngapain bertahan di situ sebagai seorang pria yang harusnya punya malu dong?" sahut tetangga mereka yang lainnya.
Fadil memilih pergi ketika dirinya dikeroyok oleh ibu-ibu Kompleks seperti itu, tetapi dirinya berjanji bakalan kembali lagi dan membuat perhitungan dengan Aida yang sudah mempermalukan dirinya seperti ini.
Franda yang sudah berjalan mendekati Dika Percayalah Wanita itu sangat percaya diri kalau nanti Dika bakalan menyambutnya dengan senyuman terbaiknya, padahal tanpa wanita itu sadari kalau Dika sekarang itu sedang berusaha menemukan Amira yang merupakan wanita satu-satunya dalam hidupnya.
__ADS_1