
dokter yang menangani Aida terlihat begitu teliti memastikan keadaan pasiennya karena takutnya jangan sampai ada diagnosa yang salah, karena Biar bagaimanapun keadaan Aida terlihat begitu lemah seolah-olah-olah wanita itu memang Tengah menderita sesuatu penyakit yang tidak diketahui oleh semua orang atau mungkin Aidah secara sengaja menyembunyikannya.
"bisa saya berbicara dengan keluarga pasien, karena ada hal penting yang harus saya sampaikan?"Tanya Dokter tersebut memastikan karena yang ia tahu bahwa yang mengantarkan Aida hanyalah suami istri konglomerat itu.
"silakan katakan saja kepada kami nanti kalau ada apa-apa tinggal kami sampaikan saja kepada anaknya, dan dia juga merupakan besan kamu maka tidak ada salahnya kalau kamu tahu keadaannya yang sebenarnya! "jelas Dina penasaran karena takutnya jangan sampai terjadi penyakit yang serius tapi terlambat melakukan penanganan.
Dina terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan Aida padahal dirinya juga dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, dan lebih parahnya lagi Dina sebenarnya sudah beberapa hari ini sampai melupakan minum obat padahal obat merupakan sesuatu yang sangat ia butuhkan.
Sakti Hanya berdiri dan mendengarkan perbincangan antara istrinya dan juga dokter yang menangani keadaannya Aida itu, dirinya tahu apa arti sahabatnya bagi kehidupan Dina yang selama ini selalu saja menempel kepada Aida di manapun wanita itu berada.
"sebenarnya ibu Aida ini kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan hanya saja mungkin karena pola makannya tidak teratur dan juga sepertinya memang sengaja melakukan hal itu, membuat dirinya terkena penyakit typus jadi saya sarankan untuk dirawat saja sambil mengobservasi keadaannya lebih lanjut dan juga kira-kira penanganan apa yang harus diambil agar kondisi pasien kembali stabil! "jelas dokter tersebut membuat Dina dan juga Sakti Hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar karena tidak percaya jika Aida yang anti sakit-sakitan itu kini mau tidak mau harus dirawat di rumah sakit padahal orang yang paling tidak betah berada di tempat itu
"lakukan saja yang terbaik untuknya dokter kalau memang butuh penanganan serius lakukan juga nanti soal biaya Jangan cemas karena saya yang bakalan melunasinya, kalau bisa berikan perawatan yang paling terbaik di rumah sakit ini dan juga usahakan jangan mengecewakan karena jika tidak maka kalian pasti tahu akibatnya! "perintah Sakti dengan Tatapan yang begitu mengintimidasi sebab menurutnya orang-orang seperti mereka semua itu harus diberikan perintah secara ketegasan maka mereka akan mendengarkan sebuah kalau tidak kebanyakan semua pasien bakalan terbengkalai Tidak ada yang mengurus mereka sedikitpun.
dokter tersebut segera melakukan apa yang dikatakan oleh Sakti karena selain memang itu sesuai dengan prosedur dan juga pria yang memberikan perintah itu merupakan orang yang paling berpengaruh di negeri ini, jangan sampai nanti ketika mereka tidak memberikan pelayanan yang baik jangan menyesal kalau rumah sakit itu Bakalan mendapatkan stigma negatif dari publik.
Dina terlihat begitu cemas memikirkan keadaan sahabatnya itu sampai-sampai lupa dan juga tidak sadar kalau saat ini kondisinya juga Sepertinya harus membutuhkan penanganan ekstrak, jika Aida membutuhkan yang namanya perawatan yang tidak terlalu membahayakan berbeda dengan Dina yang memang benar-benar harus dilakukan kemoterapi dan juga jadwal rutin untuk kontrol serta tidak mengabaikan segala sesuatu perintah yang diberikan kepada mereka.
Dina tanpa sadar kini hidupnya itu mengeluarkan cairan berwarna merah kental yang tanpa disebutkan juga pasti semuanya sudah tahu Cairan apa itu, hanya saja dirinya berusaha menahan itu semua Dan menganggap bahwa mungkin hanya kecapean saja sampai terjadi hal seperti itu padahal wanita itu harusnya menyadari kalau kondisinya sekarang itu tidak bisa dianggap remeh.
__ADS_1
"Astaga mama sadar tidak kalau sekarang hidung Kamu itu sebenarnya sedang mengeluarkan darah, Ayo cepat pergi ke dokter kemudian urus kondisi kamu juga tidak boleh kamu memang pikirkan orang lain sedangkan bisa-bisanya melupakan keadaan diri sendiri!" perintah Sakti tegas.
Dina menggelengkan kepalanya karena dirinya tidak mau merepotkan siapapun dan juga dirinya ingin fokus mengurus Aida,kalau soal kondisinya mah bisa dipikirkan belakang yang penting intinya orang-orang yang sangat penting di dalam kehidupannya dalam keadaan baik-baik saja serta tidak kekurangan apapun.
"Mama nggak mau Pah! Biarkan saja seperti ini nanti juga bakal baik sendiri kok,karena Papa tahu kan kalau kondisi Mama itu selalu seperti ini!" Ujar Dina yang berusaha untuk tetap tersenyum ya meskipun ada rasa sakit yang sangat tapi ia berusaha untuk tetap terlihat baik baik saja.
"Mama bisa tidak jadi orang itu lebih penurut sedikit karena pastinya ini semua demi kebaikan bersama,Papa tidak ingin Mama kenapa Napa padahal kondisi nya sedang tidak baik baik saja!"Sakti terlihat sangat tidak suka dengan sikap yang di tunjukan oleh Dina yang terlalu keras kepala dan juga susah sekali di atur.
"Mama bakal menurut kalau kondisi Aida sudah baik baik saja dan tidak ada hal yang sangat mengkhawatirkan, tetapi kalau masih seperti ini ya sama saja bohong karena itu sama saja membuat pikiran Mama bakalan kemana-mana dan akhirnya tidak menentu! "tolak Dina Terserah Kalau memang Sakti bakalan kecewa dengannya karena itu merupakan hak sebagai seorang suami tetapi dirinya juga sebagai seorang istri dan juga wanita ya otomatis harus punya perasaan untuk memastikan keadaan sahabatnya baik-baik saja.
sakti nggak bisa menghembuskan nafasnya kasar ketika mendengar penolakan yang dilakukan oleh sahabatnya itu dan juga tidak menyangka jika Dina itu memang benar-benar keras kepala, seharusnya wanita itu sambil mengurus Aida ia juga harus mementingkan dirinya sendiri karena biar bagaimanapun ada suami yang harusnya Dina perhatikan selain keberadaan Aida di tengah-tengah mereka.
"kamu itu harus bersabar dan juga tetap percaya kalau istrimu ini bakalan baik-baik saja dan tidak akan mengalami sesuatu hal yang membuat tidak nyaman, mama merasa kalau tubuh Mama ini bisa kok diajak kompromi!"jelas Dina yang memang benar-benar sangat keras kepala dan juga susah diatur membuat Sakti hanya bisa menghela nafasnya kasar karena tidak percaya lagi harus mengatakan hal apa agar istrinya itu paham dengan maksud dan tujuannya.
Dokter yang tadi melakukan penanganan kepada Aida kini sudah keluar dari dalam ruangan pemeriksaan tersebut membuat Sakti dan juga Dina langsung menghentikan perdebatan mereka, keduanya sangat penasaran kira-kira Bagaimana keadaan Aidah saat ini apakah mungkin memerlukan tindakan lanjutan atau hanya semata dirawat beberapa hari pasti juga langsung bisa pulang ?
"Bagaimana keadaannya Aida, Dokter? Apakah dia sudah baik-baik saja dan bisa dijenguk untuk sekarang ini, atau mungkin dia harus dilakukan berbagai macam tindakan intensif begitu? "tanya Dina memastikan bahkan terlihat wanita itu tidak mencegah semua ucapannya berharap agar semua rasa penasarannya hanya mendapatkan satu kali jawaban tanpa harus menunggu waktu lagi dan juga menyuruh melakukan pemeriksaan yang ***** bengek dan akhirnya membuat emosi semua orang.
Dokter itu ingin menjawab apa yang menjadi pertanyaan Dina hanya saja dirinya benar-benar terkejut ketika melihat mimisan keluar lagi dari hidung wanita paruh baya itu, sebagai seorang dokter dirinya langsung cepat tanggap dan mengetahui bahwa wanita yang sedang mencemaskan keberadaan seseorang di dalam ruangan tersebut ternyata memang sebenarnya kondisinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Keadaan ibu Aida baik-baik saja tetapi sekarang keadaan Anda yang sedang tidak baik-baik saja Nyonya, karena sepertinya ada yang bermasalah dengan diri Anda sebab Sekarang saya melihat anda sedang mimisan! "tegas Dokter tersebut membuat Sakti menghela nafasnya kasar karena yang ia takutkan Ya seperti begini akibat Dina yang terlalu banyak keras kepala dan juga sepertinya susah sekali untuk diatur menuju jalan yang paling baik.
"Ah kata siapa? Aku baik-baik saja kok bahkan mungkin bisa dibilang tubuhku ini merupakan saat yang paling sehat seumur hidupku, aku tahu memang Anda merupakan seorang dokter tetapi setidaknya jangan memberikan diagnosis sembarangan!"omel Dina tidak terima dengan dokter Yang katanya lebih tahu segala-galanya dibandingkan wanita itu sendiri padahal seseorang yang sudah berkecimpung dengan alat medis dan juga menata pasien dengan berbagai macam rupa keadaannya masa iya ia tidak bisa membaca Jalan pikirannya Dina saat ini kan merupakan sebuah hal yang mustahil.
"Mama tolong jangan keras kepala seperti begini dong! tadi sudah dengarkan apa yang Dokter katakan kalau keadaan Aidah itu baik-baik saja tidak perlu mencemaskan terlalu berlebihan, tapi yang sekarang perlu dicemaskan adalah keadaan Mama yang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja tetapi masih memaksa diri untuk selalu kuat dan juga mengatakan bahwa tidak terjadi apapun! "Sakti kali ini nada Bicaranya sedikit ditinggikan entah maupun beberapa oktaf Terserah dari pria itu karena menurutnya Jika ia terus mengikuti kemauannya Dina entah nantinya bakalan bisa bersama istrinya sampai selamanya atau yang ada ia tidak bisa melanjutkan lagi pemikirannya itu.
"Iya apa yang dikatakan oleh Tuan Sakti Adiguna Itu adalah sebuah kebenaran bahwa anda itu sebenarnya tidak dalam keadaan baik-baik saja, namun balik lagi kepada Pasiennya apa mau dilakukan pemeriksaan secara rutin atau mungkin bisa kita hubungi dokter yang terkait yang biasa selama ini menangani keadaan keluarga anda? "tawar dokter tersebut karena memang tidak menutupkan kemungkinan setiap orang kaya di dunia ini pasti bakalan menyewa satu orang dokter pribadi untuk mereka Jadi kapanpun dan juga di manapun mereka membutuhkan penanganan dokter tersebut akan selalu stay 24 jam.
Dina mendengus kesal karena dirinya sangat tidak suka harus dipaksa buat berobat, maka dari itu ia memilih untuk meminta izin melihat keadaan Aida dulu nanti baru setelah itu dirinya akan mengambil keputusan untuk melakukan apa.
"nanti saja ya berobatnya soalnya saya harus melihat keadaan Aida dulu, baru setelah itu saya bakalan memberikan kabar kepada dokter untuk melakukan seperti yang tadi dikatakan!" tawar Dina lagi tetapi Percayalah kalau Sakti itu bukan anak kecil ia sangat tahu dengan gerak-gerik istrinya yang selalu akan menghindar ketika bersinggungan dengan yang namanya alat-alat medis.
"Mama tolong jangan menghindar lagi untuk sekarang kalau memang masih sayang kepada papa dan juga Adam dan juga nanti cucu Mama yang bakalan lahir dari Amira, kalau memang mama tidak menghargai kami semua ya sudah tidak masalah Terserah mau bersikap seperti apa kedepannya karena sama saja mau memberikan bujukan sampai Bagaimana model pun kalau sekali tidak didengarkan ya akan tetap seperti begitu saja! "Sakti mengatakan hal itu dengan tatapannya yang datar seolah-olah dirinya sudah capek membujuk Dina yang sangat keras kepala.
Diana bukan anak kecil lagi yang tidak tahu arti dari tatapan suaminya itu dan juga ya jika diingatkan soal Amira dan juga cucunya Entah mengapa keinginan untuk sembuh itu selalu saja menggebu-gebu, maka dari itu daripada terus-terusan membuat Sakti merasa kecewa kepadanya yang mau tidak mau ya mengikuti saran yang diberikan oleh suaminya itu setidaknya menghargai apa yang dikatakan oleh suami itu merupakan salah satu bentuk bakti seorang istri.
"Nanti saya akan langsung pergi ke ruangannya dokter Irawan karena selama ini yang menangani saya adalah dia, Terima kasih juga atas tawaran yang diberikan tadi tetapi memang untuk saat ini saya hanya ingin memastikan keadaan sahabat saya baik-baik saja kalau memang dia baik ya sudah nanti saya bakalan langsung pergi! "sahut Dina membuat Sakti bernafas lega terserahlah istrinya itu mau berpikiran seperti apapun yang penting intinya yang ia inginkan yaitu terbaik untuk mereka berdua tanpa mau mengecewakan siapapun.
"Terima kasih mah karena sudah mau mengerti dan juga terima kasih karena akhirnya paham jika sebenarnya arti dari sebuah keluarga yaitu satu yang sakit maka semuanya merasakannya, dan hal itu yang tidak ingin Papa lihat jika selama ini Papa selalu merasa sehat Sedangkan istri bapak dalam keadaan tidak baik-baik saja itu merupakan kegagalan sebagai seorang suami karena tidak sanggup menjaga istrinya sendiri! "lirih Sakti membuat Dina hanya tersenyum karena Sakti tidak pernah gagal menjadi seorang suami buktinya Dina selama ini tidak pernah kekurangan apapun mulai dari perhatian dan juga kasih sayang serta yang lain sebagainya dan ia merasa seperti wanita yang sangat dihargai dalam kehidupan pria tersebut.
__ADS_1
"Papa itu suami terbaik sejauh ini dan Mama begitu bahagia karena mendapatkan suami seperti papa, Maafkan Mama kalau selama ini terlalu membangkang dan juga tidak pernah mengikuti apa yang Papa inginkan tetapi Percayalah mama hanya tidak ingin merepotkan siapapun! "ujar Dina.