Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Adam Dan Daniel


__ADS_3

kebetulan hari sudah sore jadinya Dina memilih untuk pulang ke rumah bertemu dengan suaminya, kemudian menjalankan perintah yang diberikan oleh Aida tadi yaitu dirinya harus jujur kepada Sakti tentang penyakitnya saat ini.


meskipun kejujuran itu terkadang menyakitkan tetapi memang harus dikatakan karena jika tidak maka berimbasnya kepada diri kita sendiri, soalnya rasa sakit harus kita paham kemudian segala macam pantangan dan juga larangan Dokter tidak bisa kita lakukan karena takut ketahuan.


"ingat ya jangan lupa pesanku tadi kalau kamu itu harus jujur kepada suami sendiri, Jangan bersikap seperti aku yang sudah single seperti ini jadi apa-apa harus dilakukan seorang diri tidak perlu harus melibatkan orang lain! "tegas Aidah dan Dina yang mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi pertanda bahwa ia bakalan melakukan apapun yang inginkan dan juga diperintahkan oleh sahabatnya itu.


setelah mobil Dina menghilang Aida hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar karena tidak percaya jika selama ini Dina menyembunyikan hal seperti itu, padahal seharusnya wanita itu sadar hidup di rumah tangga apapun keadaannya harus ada kejujuran di dalamnya karena mereka bukan lagi dua melainkan satu tubuh.


"Aku harap kamu tidak terlalu memikirkan apapun yang berlebihan karena kondisi keluarga anak kita, dan juga kamu selalu kuat menghadapi cobaan di saat yang tidak tepat seperti ini karena aku pun berusaha untuk kuat. "batin Aidah lalu memilih untuk masuk kembali ke dalam rumah dan membereskan sisa-sisa bekas makanan yang ia dan Dina pakai tadi


"Aku pasti bisa ngomong jujur ke Mas Sakti dan juga dia pasti bakal mengerti kenapa aku berbohong selama ini, karena memang benar apa yang dikatakan Aida aku harus segera berobat dan bisa sembuh supaya bisa bertemu dengan Amira dan memastikan keadaan cucu kami baik-baik saja!"Dina mensugesti dirinya bahwa apapun keadaannya pasti suaminya bakalan mengerti dan paham kenapa sampai dirinya menyembunyikan tentang penyakitnya selama ini dan juga tidak pernah berkata jujur.


Sesampainya di rumah terlihat keadaannya begitu sepi pertanda bahwa Sakti belum kembali dari kantornya,


. Maka dari itu Dina memutuskan untuk mandi dan juga memasak makanan kesukaan suaminya itu. Meskipun terasa begitu nyeri di bagian payudara sebelah kanan.


Sakti hari ini adalah pandangan kalian ya maka dari itu pulangnya sedikit terlambat, dan sesampainya di rumah yang melihat istrinya Tengah tertidur di ruang tamu dengan posisi TV yang masih menyala.


ketika dirinya ingin membangunkan sang istri Betapa terkejutnya Sakti ketika merasa suhu tubuh Dina yang sedikit meningkat, Padahal di luar sedang hujan dan juga di rumah ini ada ac-nya Jadi tidak mungkin dong kalau istrinya itu kegerahan.


Sakti yang panik langsung berusaha membangunkan istrinya itu agar mereka bisa segera ke rumah sakit, kalau memang Dina merasakan sangat tidak nyaman di dalam anggota tubuhnya.


"Mama bangun, jangan tidur seperti ini soalnya badan kamu Panas loh! Atau kita ke rumah sakit saja untuk periksa keadaan kamu, soalnya kamu ini kan selama ini jarang sakit hanya belakangan wajah kamu saja yang terlihat pucat? "tawar Sakti yang seolah-olah memberi sinyal kepada Dina agar segera jujur sebab ternyata suaminya itu sudah menyadari perubahan dari anggota tubuhnya.


Dina segera duduk sambil menatap ke arah suaminya itu dengan memaksakan senyuman di wajahnya, lalu ia mengambil kedua tangan Sakti kemudian menatap Sendu para suaminya itu berharap agar ada kenyamanan di sana.

__ADS_1


"Aku mau ngomong penting sama kamu Mas! meskipun ini terlambat tetapi daripada tidak sama sekali dan kamunya tahunya dari belakangan, hanya saja aku mohon kamu pahami kenapa sampai aku berbohong soalnya kondisi keluarga kita saat ini yang amburadul seperti ini makanya membuat aku memilih untuk diam. " Pinta Dina penuh permohonan membuat Sakti mengerutkan keningnya karena merasa bingung dengan perkataan ambigu milik istrinya itu seolah-olah Ada hal penting yang sedang disembunyikan dan tidak ingin agar Sakti mengetahuinya.


"kamu lagi yang menyembunyikan apa sampai-sampai ngomong juga serius seperti ini? kamu tahu sendiri kan kalau aku tidak pernah ingin kamu berbohong apalagi jika itu menyangkut Tubuh kamu, mau masalah itu sebesar apapun yang penting Intinya kita sehat dulu baru bisa menghadapi masalah itu dan juga bisa mencari jalan keluarnya ? " tegas Sakti membuat Dina benar-benar merasa bersalah kepada suaminya itu.


"Aku sakit karena kanker payudara Stadium 2, aku lagi proses pengobatan tetapi rasanya sangat tidak mungkin soalnya tidak melakukan pantangan makanan selama ini. "Jelas Sakti lirih membuat Sakti benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Kamu sakit penyakit yang kurang ajar seperti begitu terus kamu tidak ngomong? Aku ini kamu anggap apa Kalau sampai tidak jujur seperti itu, dan juga Memangnya kamu pikir aku tidak bakalan peduli sama kamu dan membiarkan kamu sakit seperti ini dan lebih mementingkan perusahaan daripada istri sendiri? "tanya Sakti membuat Dina menitikkan air matanya karena tidak percaya jika suaminya itu benar-benar merasa kecewa atas kebohongan yang sudah ia lakukan.


Sakti yang melihat Dina menangis memilih untuk tidak melanjutkan aksi marah-marahnya itu, karena Biar bagaimanapun kondisi istrinya lebih penting daripada rasa kecewanya dan juga kemarahannya saat sekarang.


"Maaf Sayang, maafkan mas karena marah-marah kepada kamu! Jadi sekarang lebih baik kita ke rumah sakit untuk periksa lanjutan dan bila perlu Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan kamu, kalau memang di rumah sakit sini tidak mampu kita bakalan ke luar negeri mungkin ke Singapura atau Amerika supaya kamu bisa segera sembuh!"tawar Sakti tetapi Dina menggelengkan kepalanya membuat suaminya itu salah paham karena mengira bahwa istrinya itu tidak ingin berobat.


"Kamu tidak mau sembuh? Terus kamu juga tidak memikirkan perasaanku, mau melihat aku juga ikutan terpuruk seperti begini?"tanya Sakti yang sudah melepaskan pegangan tangan Dina kemudian mengacak rambutnya frustasi.


"Aku bukannya tidak mau berobat Mas, hanya saja Aku ingin sembuh dan juga menjalani perawatan bersama dengan Amira di Perancis!" jelas Dina membuat suaminya itu tidak tahu harus merespon bagaimana Karena menurutnya jika semua orang berada di Prancis maka bisa dipastikan Adam pasti bakalan curiga karena ada negara lain yang lebih maju dan juga pengobatannya tidak kalah terkenal dari tempat itu.


"Ya sudah kalau tidak di tempat itu mendingan tidak usah berobat sama sekali kan, karena sama saja Mama tidak akan pernah sembuh jika berjauhan terus dengan Amira seperti ini karena Percayalah malam itu tidak bisa tidur sama sekali memikirkan anak itu." sahut Dina keras kepala karena menurutnya keadaannya itu tidak penting sama sekali yang penting itu adalah keadaannya Amira.


Sakti tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa agar istrinya itu paham dan juga mengerti Kalau sebenarnya kondisi mereka sekarang itu belum memungkinkan untuk bertemu Amira, jika terlalu memaksakan diri yang ada bakalan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan itu membuat mereka yang rugi apalagi Amira yang mungkin bakalan tertekan ketika bertemu dengan Adam.


"Pokoknya sekarang kita harus ke rumah sakit dulu nanti urusan pergi pengobatan di Prancis kita pikirkan dari belakang, karena kalau kita menunggu Papa tidak tahu lagi Apakah mama bisa menahan sakit atau tidak?"jelas Sakti mau tidak mau membuat Dina hanya bisa menuruti perkataan suaminya karena memang tidak ada yang salah sama sekali.


Dina mau tidak mau mengikuti apa yang diinginkan oleh Sakti karena biar bagaimanapun pria itu benar-benar merasa kecewa kepadanya, seorang suami pasti ingin yang terbaik untuk istrinya namun terkadang istri lupa kewajibannya yaitu selalu membuat suami betah di rumah dan juga selalu membuat suami merasa dihargai yaitu salah satunya dengan berbicara jujur.


Skip Gaess

__ADS_1


Adam sudah sampai di Airport International di kota Paris, Prancis. Pria itu terlihat menghembuskan nafasnya kasar berusaha untuk tetap tenang dan menyelesaikan semua masalah di sini lalu kembali ke tanah air, dirinya bahkan tidak habis pikir dengan jalan pemikiran orang tuanya yang tiga-tiga menyuruh dirinya pergi ke Perancis padahal Ia sedang proses mencari keberadaan istrinya.


"Semoga saja segala macam urusan di sini tidak terlalu memakan waktu, dan aku harus segera bertemu dengan klien pertama yang dijadwalkan oleh papa. "batin Adam karena kebetulan di situ masih pukul 06.00 pagi Jadi otomatis jam 08.00 waktu kantor dirinya langsung bekerja saat itu juga tidak perlu harus menunda.


"Maaf dengan Tuan Adam Adiguna? Perkenalkan nama saya Rangga yang ditugaskan oleh Tuan Sakti untuk mengelola perusahaan di sini, kebetulan beliau kemarin memberi kabar Kalau akan mengirimkan Tuan Adam untuk memantau keadaan perusahaan di sini! "jelas Rangga yang merupakan orang kepercayaan Sakti selama dirinya tidak sempat berada di negara itu.


Adam hanya tersenyum sepenggal tidak ada niatan untuk tersenyum lebar karena dirinya benar-benar sedang tidak ingin berbasa-basi yang tidak penting, Lagian tanpa ia minta rangka sudah memperkenalkan diri Jadi untuk apa harus mencari tahu lebih detailnya lagi.


"Apakah anda mau pergi ke Apartemen atau ke Perusahaan? Soalnya jarak Apartemen lebih jauh daripada jarak Perusahaan yang mungkin hanya beberapa km dari sini!"tanya Rangga lagi untuk memastikan kira-kira apa yang diperlukan oleh Adam saat ini.


"Kalau menurut kamu Perusahaan lebih dekat ya sudah kita ke sana saja! Bisa tidak jangan mengatakan sesuatu hal yang sudah kamu tahu kebenarannya, soalnya saya sedang tidak ingin berbicara banyak kalau memang tidak ada hal yang sangat penting untuk dibahas? "ujar Adam datar sedatar hatinya.


"Maafkan saya tuan soalnya saya tidak tahu apa yang anda inginkan sekarang, tetapi Ya sudah kalau kayak begitu kita langsung pergi saja ke perusahaan karena kebetulan di sana ada ruangan kerja khusus untuk anda dan juga ada tempat istirahat di dalamnya! "tawar Rangga yang sedikit tersenyum kecut karena tidak menyangka jika Adam benar-benar orang yang sulit sekali diajak berkompromi apalagi bercanda.


Adam menatap malas ke arah luar jendela mobil dirinya seolah-olah tidak menikmati keadaan yang ada saat ini, karena Entah mengapa semenjak menginjak tangan kaki ke negara ini dirinya merasa seperti hendak bertemu dengan sang istri.


"Kamu di mana Sayang? Maaf jika aku salah telah menyakiti kamu, tetapi Percayalah aku sungguh menyesal! Kalau memang kamu tidak ada niatan untuk memaafkanku tidak masalah yang penting tolong jangan pernah menghilang dari pandanganku, apalagi kalau misalnya kamu benar-benar hamil maka aku pasti bakalan mau rasa bersalah sama sekali dengan semua kejadian yang telah kamu alami! "batin Adam sedangkan Rangga memilih untuk tidak ikut campur dengan apa yang dipikirkan oleh Adam saat ini karena kepentingannya hanya soal perusahaan saja.


"Jadwal pagi ini ketemu sama klien dari mana? Terus apakah dia menuju ke perusahaan kita atau kita yang menuju ke perusahaannya dia, karena saya tidak ingin beristirahat ataupun menunggu lama lagi untuk mengurus semua urusan yang ada di sini? "tanya Adam memastikan.


"Jadwal Pagi ini kita bakalan bertemu dengan Tuan Daniel Smith, karena proyek yang sedang dijalankan itu bekerja sama dengan perusahaannya dia. kebetulan nanti kita yang menuju ke perusahaannya karena sebelumnya dia yang sudah ke perusahaannya kita, dan pertemuan itu bakalan dilakukan pada pukul 09.00 pagi Jadi Anda masih punya beberapa waktu untuk beristirahat!"saran Rangga tentu saja diikuti oleh Adam karena memang selama berada di pesawat pikirannya itu sedang berlalang Buana kemana-mana maka dari itu memerlukan istirahat adalah hal yang utama saat ini.


Rangga memilih tidak mengganggu kegiatan majikannya itu karena biar bagaimanapun perjalanan dari Indonesia ke Perancis itu bukan merupakan jarak yang dekat, dan juga karena kebetulan fisik Adam yang menunjang makanya pria itu terlihat kelelahan tetapi tidak terlalu berlebihan.


"Saya bakalan membantu Anda bertemu dengan Nyonya Amira, tetapi itu pun tergantung kalau memang Anda mau berubah Selama ada di sini. Sebab di sini semua wanita itu nakal tidak ada yang bertingkah baik, Kalau Anda masih bisa menjaga hati dan juga pikiran serta perbuatan maka saya yakin cepat atau lambat kalian berdua Pasti Bertemu jika memang jodohnya sampai di akhirat nanti." ujar Rangga.

__ADS_1


Rangga bukan tidak tahu permasalahan yang Tengah dialami oleh Adam dan juga istrinya, karena sebelum pria itu datang ke tempat ini kedua orang tuanya sudah memberi masukan kepada Rangga agar menjaga Adam dengan ketat sehingga tidak bergaul dengan sembarang orang.


Karena yang mereka inginkan adalah Amira bisa kembali dengan Rangga meskipun perbuatan mereka itu bisa dibilang seperti tidak menghargai perasaan Amira, tetapi yang mereka pikirkan adalah keadaan cucu mereka yang nantinya bakalan terlahir tanpa ada sosok seorang ayah.


__ADS_2