Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Bukan Tak Sanggup


__ADS_3

Adam tak bisa lagi menahan rasa kecewanya ketika melihat respon yang diberikan oleh Mama nya tadi, yang terlihat malah membohonginya tidak ingin berbicara jujur sedikitpun Padahal jelas-jelas semua kenyataan sudah ada di depan mata.


jika sudah seperti ini maka bisa dibilang Apapun yang terjadi kedepannya tidak akan pernah bisa membuat Mamanya itu selalu bersikap jujur, apapun keadaannya Bagaimanapun rasa sakitnya tetap bakalan ditahan dan tidak akan pernah dikatakan kepada orang lain yang mungkin Alasannya karena dia tidak mau merepotkan siapapun?


Dina tidak tahu lagi harus menjawab apa ketika mendengar nada bicara ada yang penuh kemarahan di dalamnya, meskipun kemarin-kemarin ia sempat merasa emosi dengan Adam yang menurutnya Terlalu kurang ajar dan juga tidak setia tetapi saat ini ia tidak bisa berbicara banyak lagi.


Sakti tidak ada niatan untuk membela istrinya karena biar bagaimanapun di sini itu yang salah ya Dina bukan orang lain, Jadi kalau misalnya Sakti memilih untuk diam dan mendengarkan perdebatan antara Ibu dan juga anak itu rasa-rasanya ya sedikit berbangga diri karena ternyata Adam lebih peka dengan keadaan orang tuanya.


sebab seorang anak pasti menginginkan hal yang terbaik untuk orang tuanya tidak ingin mereka mengalami yang namanya kesakitan, maka dari itu ketika perhatian yang diberikan oleh Adam rasanya tepat pada sasaran siapapun tidak akan berani ada yang menolak.


"Memangnya Aida ngomong apa sih ke kalian, jadi datang-datang langsung marah-marah seperti ini ke mama? Ngapain juga pakai acara mau telepon dia segala, padahal kamu tahu sendiri kan dia juga butuh istirahat karena kondisinya belum pulih?"tolak Dina yang merasa bahwa kalau misalnya mereka menelpon Aida saat itu juga dan wanita itu mengatakan kebenaran pasti mereka bakalan sedih.


"Kenapa tidak boleh telepon Ibu, Bukankah dia itu Mertuaku Jadi kalau misalnya aku menelponnya untuk menanyakan soal kondisi rumah dan juga kondisi keluargaku sepertinya tidak ada yang salah kan? "tanya Adam dengan tatapan menyelidik berharap agar Mamanya itu langsung jujur kepadanya saat itu juga tidak perlu harus menunggu lagi atau tidak perlu menunggu akhir bulan nanti.


Dina menoleh ke arah suaminya itu berharap agar ada bantuan yang datang sebab Biar bagaimanapun dirinya hanyalah manusia biasa yang kalau misalnya disuruh untuk berbicara dalam keadaan terdesak rasanya sangat tidak mungkin, jadi daripada terjadi hal yang tidak diinginkan lebih baik membiarkan orang lain yang bicara sebab dengan begitu Mungkin ia tidak terlalu merasakan tertekan.


"Papa tolongin Mama dong Jelaskan kepada mereka kalau sebenarnya keadaannya itu baik-baik saja, kalau misalnya mereka memaksa Ya sudah bilang saja mereka pergi ke dokter kan tidak ada hasilnya sama sekali yang menyatakan Mama sakit kan? "bujuk Dina berharap agar suaminya itu memang berniat untuk membantunya karena kalau tidak pasti nanti bakalan kesulitan.


Sakti menggelengkan kepalanya karena kalau membantu istrinya dalam hal yang baik dia tidak masalah tetapi kalau bantu menyembunyikan soal penyakit Dina rasa-rasanya Ia seperti tidak punya hati nurani sama sekali, maka dari itu dipanggilnya Adam dan juga Amira agar menatap ke arahnya karena ada hal penting yang harus dia sampaikan tidak peduli dengan perasaan Dina atau apapun itu yang penting intinya kebenaran harus terungkap saat ini juga.


"Mama Memang sakit dan Dia menderita kanker darah sudah stadium 3 kenapa sampai meningkat ke Stadion 3 karena yang masih stadium 2 dia tidak pernah mengurusnya dengan begitu baik, kalau ditanya kenapa selama ini tidak melakukan pengobatan Kalian kan sudah tahu sendiri cara keras kepalanya mama dan juga susahnya diatur serta apa-apa sebagai suami pun tidak pernah didengarkan sedikitpun! setidaknya apapun yang papa katakan kalau diterima dengan benar kan pasti bakal merasa puas, tetapi yang ada malah papa itu disuruh diam karena katanya itu tubuhnya dan dia sendiri yang merasakan sakit atau tidak di seluruh tubuh?" jelas Sakti karena memang seperti begitulah kenyataannya dan kali ini terlihat wajah Dina yang sedikit menegang karena tidak percaya kalau suaminya itu mengatakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan dan bahkan bisa dibilang tanpa ada sedikitpun yang coba untuk ditutupinya, dan lebih parahnya lagi sekarang tatapannya Adam dan juga Amira hanya mengarah kepadanya seolah-olah ingin mendapatkan kejelasan Apakah semua yang mereka dengar itu betul atau tidak Dan ini semua hanya mimpi atau nyata.

__ADS_1


"Apa benar yang kami dengar barusan dan juga yang dikatakan Ibu di rumah tadi sampai-sampai kami rela ke sini, Kalau iya memang katakan saja dengan jelas karena saat ini juga kami bakalan mengajak Mama pergi ke rumah sakit tanpa banyak bicara dan juga tanpa penolakan sama sekali! "tegas Adam yang ingin agar mendapatkan jawaban yang pasti tidak ada yang namanya dipermainkan apalagi dibohongi seperti anak kecil.


Dina menghembuskan nafasnya secara perlahan karena benar-benar tidak menyangka jika Awalnya sikapnya yang tidak ingin merepotkan orang lain malah akhirnya harus seperti ini, apalagi melihat wajah keluarganya yang tersimpan begitu banyak kekecewaan dan juga sepertinya benar-benar merasa sedikit bersalah dengan apa yang terjadi kepadanya ini karena mereka memang dari awal tidak tahu sama sekali.


"Baiklah Mama bakalan menjelaskan kepada kalian sekarang, tetapi sebelumnya Mama minta maaf dulu karena sudah menyembunyikan hal sepenting ini dari kalian semua! asal kalian tahu saja Mama terpaksa melakukan semua ini sampai-sampai mengabaikan kesehatan sendiri itu karena memikirkan apa yang terjadi dengan hubungan kalian, Mama ingin menyiksa diri Mama sendiri karena sudah tidak becus menjadi orang tua sampai-sampai tidak bisa mengajarkan yang namanya tanggung jawab terhadap anak sendiri! Jadi kalau misalnya ditanya apa Mama rela meninggalkan kalian dalam keadaan seperti begini tidak masalah yang penting intinya kalian tidak pernah mengalami kesusahan dan juga hubungan kalian baik-baik saja,toh hidup dan mati itu sudah ada yang mengaturnya mau berusaha seperti apapun kalau memang sudah takdirnya harus meninggal ya ikhlas saja!"sahut Dina menjelaskan semuanya membuat orang-orang di situ benar-benar merasa miris dengan keadaannya yang lebih mementingkan orang lain dibandingkan diri sendiri yang sebenarnya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Amira mengusap pelan bahu mertuanya itu karena dirinya sangat paham ketika mencoba baik-baik saja, karena dulu ia pernah seperti begitu selalu memaksakan senyuman di depan orang lain padahal Percayalah hatinya itu saat ini sedang ingin menangis.


"Tapi kan ada Papa yang bisa mengurus semuanya tidak mungkin meninggalkan mama sendirian, hanya mungkin aslinya Mama saja yang ingin menyiksa diri supaya bisa merasakan sakit ini?"tanya Amira perlahan karena apapun alasan yang diberikan oleh mertuanya itu sebenarnya sangat tidak masuk akal Kalau mau menyiksa diri sendiri hanya karena ingin menunjukkan rasa bersalahnya.


Adam menundukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh mamanya barusan tadi, dan ia akhirnya sadar kalau Dina melakukan semua ini akibat imbas dari perbuatannya di masa lalu yang sudah dengan tega menyakiti Amira.


"aku minta maaf Mama jika sudah membuat Mama kecewa dan juga merasa bersalah Akibat apa yang aku lakukan kemarin-kemarin, Percayalah aku kapok dan tidak akan mengulangi lagi Sudah cukup air mata yang disebabkan oleh perbuatanku itu keluar dan Percayalah aku janji tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi seumur hidupku! "lirih Adam sambil memeluk kaki Dina karena memang benar-benar merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan itu sehingga membuat wanita itu begitu terluka.


"Aku minta maaf kalau selama ini sudah menyakiti hati Mama tanpa aku menyadarinya, Percayalah kalau aku tidak ada pikiran sampai ke arah sana sampai-sampai membuat Mama terluka dan juga putus asa seperti saat ini! Aku tahu kalau aku salah Dan juga sudah membuat mama merasa tidak nyaman tetapi Percayalah tidak ada niatan sampai di situ, jadi aku mohon sekarang Tolong ikut denganku kita ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Mama Lalu setelah itu kita pastikan mengambil langkah terbaik yang bagaimana! "jelas Adam penuh permohonan membuat Dina menangis karena selama ini sudah terlalu banyak memarahi anaknya itu dan mengeluarkan kata-kata Sumpah serapah Yang seharusnya tidak boleh diucapkan.


"Sudah tidak boleh seperti ini Mama tidak apa-apa kok jangan bersedih ataupun menangis karena hanya kalian berdua yang Mama punya di dunia ini, oke mama bakalan berubah memaafkan berusaha agar sembuh tetapi Tolong jangan bersedih ataupun Menangis Lagi!"pinta Dina penuh permohonan sehingga membuat suasana rumah itu terasa begitu Hening tidak ada yang berbicara karena semua sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Mama beneran mau berobat dan mau berusaha agar bisa sembuh dan tetap berkumpul dengan kami semua, kalau begitu baik Papa bakalan menghubungi dokter keluarga kita supaya segera menyiapkan tempat karena kita bakal berangkat sekarang? "tanya Sakti memastikan bahkan dengan kata-katanya yang begitu antusias karena Siapa yang tidak bahagia Ketika sang istri yang hatinya batu yang susah sekali diatur mau meleleh begitu dan juga mau untuk melakukan pengobatan.


"Coba dari kemarin-kemarin bergerak seperti begini kan lebih enak kan Pah? Bukan malah hanya diam-diam saja tidak melakukan apapun nanti kalau misalnya ada apa-apa siapa yang mau tanggung jawab, jadi suami kok susah sekali untuk bergerak mau mengurus istri sendiri kalau mengurus perusahaan besar dengan ribuan karyawan bisa Tetapi hanya satu orang kok lemotnya minta ampun?"tanya Adam sambil mendengus kesal membuat Sakti membulatkan matanya sempurna karena tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan oleh anaknya itu.

__ADS_1


"ini semua kan gara-gara kamu! coba saja kalau jadi orang berguna dan juga tidak nakal sana-sini ya pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi kan, makanya lain kali itu belajar setia biar orang tua di rumah juga tidak pikiran kemudian tidak menyiksa diri sendiri hanya karena merasa putus asa dengan kelakuan anaknya yang tidak jelas! "Sakti tidak mau kalah karena menurutnya jika Adam terlalu percaya diri merasa dirinya bersalah terus pertanyaannya Apa yang dilakukan oleh Adam itu disebut bersalah atau hanya khilaf?


"Ya ampun Astaga kenapa Jadi kalian yang bertengkar di sini sih, Katanya mau membawa Mama ke rumah sakit sekarang kenapa malah melehoy lagi? Ayo Mama siap-siap sekarang kita bakalan pergi kalau memang mereka tidak mau bergerak Ya sudah aku bakalan sendiri yang menemani Mama, Memang sih aku tahu kalau laki-laki di keluarga kita itu sebenarnya tidak berguna sama sekali hobinya hanya ngomong doang tetapi kelakuannya minus! "silinder Amira membuat Sakti dan juga Adam yang tadi berdebat langsung menghentikannya sebab tidak percaya jika wanita itu dengan beraninya mengatakan hal itu kepadanya yang jelas-jelas merupakan mertuanya.


"Lho kok Papa juga ikut-ikutan disalahkan, Nak? Padahal yang seharusnya disalahkan anak yang tidak berguna ini kan, Wah ini sepertinya gara-gara kelakuan kamu Papa sudah disama ratakan loh?"Sakti terlihat menatap tajam ke arah Adam yang hanya cengengesan soalnya tidak menyangka jika akibat perbuatannya Papa nya juga kena batunya.


"Ya sudah ayo kita berangkat nak, kayaknya kalau menunggu mereka sepertinya tahun depan pun kita tidak akan pernah jalan sama sekali! "ajak Dina yang kebetulan sudah bersiap diri membuat kedua pria dewasa yang ada di situ benar-benar merasa tidak berguna dan juga tidak bisa diandalkan.


"Ayo Mah!"jawab Amira sambil tersenyum mengejek ke arah suaminya.


Rangga hari ini kebetulan baru datang karena mengurus perusahaan yang masalah ayahnya tiba-tiba muncul di saat yang tidak tepat, padahal Ia harus segera kembali ke Perancis untuk mengurus segala macam urusan di sana tetapi sepertinya entah bagaimana ceritanya sampai-sampai ia masih tertahan di sini.


Amira merasa terkejut ketika melihat Rangga pun ada di negara itu padahal setahunnya pria itu ada di Perancis mengurus cabang perusahaan milik Sakti di sana, dan Hal itu membuat dirinya merasa emosi sehingga tanpa sadar mengambil sendal jepit yang dia pakai lalu melempar ke arah Rangga.


Bughhh


"Awww, Siapa yang melakukan hal ini kepadaku?"tanya Rangga kasar sampai-sampai membuat semua orang di situ menatap tidak percaya ke arah Amira yang melakukan hal tersebut.


Amira maju ke depan sambil berdiri bersedekap dada dan menatap tajam ke arah Rangga, karena menurutnya gara-gara kelakuan pria itu membuat dirinya harus diculik oleh Adam dan dibawa pergi sampai-sampai harus meninggalkan Surti di situ.


"Kenapa, kaget? Makanya jadi orang itu jangan terlalu lancang kelakuannya sampai-sampai melakukan sesuatu tanpa izinku, awas aja ya sampai terulang lagi kamu membawaku pergi tanpa sepengetahuanku maka aku bakalan menghajar kamu dengan selop bukan dengan sendal lagi!"ancam Amira membuat Rangga pergi didengerin karena ia pikir Ada orang iseng yang melakukan hal ini kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2