
Daniel yang sudah sampai di rumah sakit merasa terkejut ketika melihat Sarah dan juga Amira sudah berada di parkiran,padahal tadi ia sudah menelpon pegawainya tersebut agar menunggunya sebab nanti dirinya yang bakal menyelesaikan masalah administrasi Amira nantinya.
"Kalian kok sudah ada disini? Terus biaya rumah sakitnya Amira bagaimana,memangnya siapa yang membayar?" tanya Daniel penasaran.
Sarah Dan Amira saling pandang mendengar pertanyaan dari Daniel itu,karena menurut mereka jika pria itu sudah melihat mereka disini ya otomatis segala macam urusan sudah beres.
"Maksudnya apa ya Pak?" Tanya Sarah heran.
Daniel mendengus kesal ketika mendengar pertanyaan dari Sarah barusan, Karena Wanita itu seolah ingin mengalihkan topik pembicaraan mereka saat ini.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu lagi kepada saya, Bukannya sebelum kalian pergi dari rumah sakit sudah saya katakan untuk menunggu jangan kemana-mana dulu? "tanya Daniel kesal.
Sarah menatap ke arah majikannya itu dengan Tatapan yang sulit diartikan, Bagaimana tidak Daniel terlihat seolah menyalahkan dirinya saat ini padahal Ia tidak tahu menahu antara perkataan pria itu dengan segala Maksudnya yang lain.
"Maaf Pak Bukan saya yang mau pulang tapi ini adalah kemauannya Amira, karena kasihan bayinya juga kan kalau terlalu berlama-lama di tempat ini? maka dari itu tidak ada yang salah kalau saya menyetujui keinginannya, maka dari itu kami berdua membereskan segala macam administrasinya dan sekarang kami berada di sini!" Sarah tidak peduli lagi jika nantinya Daniel bakalan memberikan surat peringatan kepadanya karena sikapnya yang tidak sopan itu.
Amira dari tadi sebenarnya tidak tahu lagi harus menjawab apa karena Daniel itu terlihat sangat ingin marah sekali, padahal pria itu harusnya senang karena jika Amira membayar uang rumah sakitnya sendiri ya Otomatis simpanan pria itu masih tetap bakalan Bertahan.
"kalian dari tadi itu memperebutkan apa sih? sekarang itu kita mau pulang Jadi bisa tidak jangan mempermasalahkan sesuatunya yang hanya membuat pusing, akunya saja ingin pulang kok jadi janganlah bicara banyak kalau ingin mengantarku ya sudah kita jalan tetapi kalau kalian ingin berdebat aku sendiri yang bakalan pulang!" ujar Amira kesal.
Daniel menghela nafasnya secara perlahan kemudian menarik tas yang ada di tangannya Amira, Lalu setelah itu menarik tangan wanita itu agar ikut dengannya menuju ke dalam mobil.
__ADS_1
"hidup kamu itu masih panjang dan juga kamu itu baru mulai bekerja otomatis seharusnya simpanan kamu itu tetap harus ada tidak boleh kamu korek Walau sedikit saja, karena nanti kalau kamu kenapa-napa mau ambil uang apalagi coba untuk membayar semuanya kalau kamu selalu menolak bantuan yang orang lain berikan? "ujar Daniel dan tidak ada niatan untuk menatap ke arah Amira sedikitpun karena dirinya benar-benar merasa kecil dengan wanita itu yang selalu saja menolak bantuan yang ia berikan.
Sarah menatap tak percaya ketika Daniel melupakan keberadaannya di tempat itu, padahal dirinya itu segede gaban ya Otomatis pasti bisa dilihat jelas oleh Daniel dari sudut manapun.
"Astaga ini Pak Daniel lagi melampiaskan kekesalannya kepadaku atau apa sih, masa iya hanya menarik Amira doang terus akunya tidak diajak untuk pulang gitu? "sungut Sarah tetapi Dalam hati saja karena Mana berani dirinya berbicara secara langsung nanti urusannya bisa panjang dengan Daniel.
"eh Sarah kamu jalannya cepat dikit dong nanti ditinggal loh, Soalnya kamu tahu kan ini Pak CEO terkenal urusannya bisa ribet kalau terus menerus mencari masalah dengannya?"ujar Amira sengaja menyindir Daniel karena dari tadi sepertinya tidak membiarkan agar dirinya berjalan secara perlahan.
Daniel tidak peduli Yang penting intinya ia bisa membawa pulang Amira kembali ke apartemennya itu dan memastikan keadaan wanita itu dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada kekurangan apapun dan juga kebutuhannya semuanya bisa dipenuhinya dengan baik tanpa kekurangan sedikitpun.
sepanjang perjalanan menuju ke apartemennya Amira terlihat Daniel tidak ada niatan untuk mengajak berbicara dan kedua wanita pun melakukan hal yang sama, maka dari itu suasana di dalam mobil itu terasa begitu sunyi bukan karena Daniel kesal terhadap Amira melainkan pria itu kecewa karena apa yang ia lakukan itu sebenarnya tulus Hanya wanita itu saja yang tidak pernah mau menghargainya.
Surti di dalam apartemen terlihat begitu gelisah karena katanya hari ini merupakan jadwal Amira pulang, selama beberapa hari dirinya tidak bertemu dengan wanita yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu membuat wanita itu tidak bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan benar.
O
"Ya Tuhan Semoga Mbak Amira baik-baik saja, Kasihan dia kondisinya hamil tetapi harus mengalami masalah yang begitu pelik di dalam hidupnya! "lirih Surti penuh permohonan.
Amira dan juga yang lainnya sudah sampai di apartemennya yang bisa dibilang ukurannya begitu minimalis, tetapi intinya bersih dan juga nyaman serta lingkungannya Asri sehingga membuat Amira mudah beradaptasi dan juga merasa sedikit nyaman karena apartemen itu juga berada di lokasi yang tidak terlalu ramai dan juga padat penduduk.
Daniel mana tetap percaya ke arah bangunan yang menjulang tinggi di hadapannya saat ini, karena menurutnya bangunan tersebut sebenarnya sangat tidak cocok untuk Amira dan juga pada saat dirinya yang hamil seperti begini.
__ADS_1
"Kamu tinggal di sini?"tanya Daniel memastikan.
"yes benar sekali Pak, karena kalau misalnya aku tinggal di tempat lain tidak mungkin dong aku mengajak kalian berdua ke sini! "sahut Amira lalu berjalan secara perlahan menuju ke lift yang akan mengantarkannya ke lantai tempat unit apartemennya berada.
Sarah notabene yang keadaan keuangannya sama dengan Amira tentu saja merasa biasa saja ketika datang ke tempat itu, yang penting intinya Amira punya tempat tinggal yang bisa membuat wanita itu selalu merasa terlindungi dari panas dan juga hujan serta orang-orang yang bermaksud jahat kepadanya.
Amira memasukkan password pintu ketika sudah sampai di apartemennya dan menyuruh Daniel serta Sarah masuk ke dalamnya, Surti yang melihat majikannya itu sudah datang begitu bahagia lalu segera menghampiri Amira dan memeluk bahagia wanita itu.
"ya Tuhan terima kasih ya Mbak Amira datangnya dengan selamat tidak kekurangan apapun, lain kali jangan ngedrop lagi ya Soalnya bukan mbak saja yang pusing tapi bibi di sini juga rasa-rasanya pengen nangis!" ujar Surti dengan wajahnya yang memerah karena menahan air matanya yang sedikit lagi Bakalan berguguran.
Amira tersenyum ketika mendapat sambutan yang begitu berarti dari Surti itu, dirinya merasa bahagia karena akhirnya ketika ia pulang ada yang menyambutnya seperti ini.
"iya Bik, aku sudah pulang artinya aku sudah sembuh dan juga tidak ada yang perlu dicemaskan lagi soal keadaanku!"jelas Amira.
Surti setelah melepaskan pelukannya dari Amira menatap penuh canggung ke arah Daniel dan juga Sarah, karena tadi dirinya saking antusiasnya karena Amira pulang sampai-sampai lupa kalau wanita itu ternyata membawa dengan tamunya.
"Aduh Mbak Amira ini ngomong sama mereka harus pakai bahasa Inggris atau apa sih, Soalnya Bibi kalau ngomong bahasa Inggris hanya bisanya itu,Not What What!""ujar Surti membuat Amira ingin sekali tertawa dan juga Sarah yang mengerti bahasa terakhir dari wanita itu hanya bisa tersenyum saja.
"ya kalau Bibi nggak bisa ngomong sama mereka pakai bahasa Inggris ya pakai bahasa isyarat saja dong, Anggap saja mereka itu mengerti dengan apa yang Bibi katakan nantinya! "jelas Amira membuat Surti hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena benar-benar dirinya itu kurang up to date.
"Dia ini keluarga kamu atau apa sih?"tanya Daniel penasaran karena setahunya dulu saat dirinya biasa bermain di rumahnya Amira tidak pernah bertemu yang namanya Surti.
__ADS_1
"Dia ini sebenarnya asisten Rumah tanggaku waktu masih bersama dengan suamiku, waktu aku pergi dari rumah dia maunya ngikut ya akhirnya aku bawa dia sampai ke sini!"jelas Amira penuh haru karena memang jika dipikir-pikir hubungannya dengan Surti itu tidak ada sama sekali Tetapi wanita itu dengan rela meninggalkan semua keluarganya demi mengikutinya yang jelas-jelas merupakan orang asing baginya.
Daniel dan Sarah membungkukkan badannya memberi hormat kepada Surti dan juga mengakui ketulusan yang diberikan oleh wanita itu, jarang sekali orang-orang melakukan hal tersebut jika bukan karena uang mereka tidak akan pernah melakukannya meskipun itu adalah keluarga mereka sendiri.