Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Diperiksa


__ADS_3

Akhirnya hari itu juga Dina dibawa periksa oleh anak-anaknya ke rumah sakit tanpa menunggu hari esok atau tanpa menunggu nanti setelah wanita itu menghendakinya sendirian, soalnya di mana-mana itu orang terkadang lebih menyepelekan keadaan kesehatannya sendiri dibandingkan mencari sesuatu untuk membuat dirinya selalu tetap sehat.


Lagian usia di mana seperti Dina itu sebenarnya butuh sekali yang namanya penanganan ekstra serta tidak terlalu berpikir yang berat-berat jika nantinya akhirnya akan membuat tubuhnya menjadi drop, sebab umurnya seperti begitu sangat rentan dengan penyakit apalagi jika dianggap sepele ya bisa dipastikan nantinya bakalan menyusahkan dirinya sendiri dan juga orang-orang di sekitar.


"Mama Sejak kapan sih tahu kalau sudah sakit seperti ini, Terus selama ini pengobatan apa yang sudah dijalani? "tanya Amira yang sudah mulai mengubah nada bicaranya ketika tadi begitu kasar terhadap Rangga sekarang sudah sedikit lebih halus tetapi Percayalah ia masih saja tetap memasang tatapan tajamnya kepada pria itu.


Dina tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari menantunya itu walaupun sejatinya tatapan Amirah nya ditujukan kepada Rangga bukan karena menyukainya melainkan merasa emosi kepada pria itu, ya Siapa yang tidak emosi ketika bukannya mengurus pekerjaan malah melakukan sebuah kegilaan yang direncanakan oleh Rangga dan juga Adam tanpa sepengetahuan dari dirinya.


"sudah hampir setahun sih tetapi tidak apa-apa kok soalnya kalau ada kalian selalu di samping Mama Percayalah Penyakit ini tidak akan pernah menang, jadi mau ngomong tolong jangan pernah bertengkar lagi jangan pernah minggat lagi karena Mama tidak akan sanggup sampai kalian pergi!" lirih Dina penuh permohonan berharap agar semua orang di situ paham kalau yang dia butuhkan ya hanyalah orang-orang terdekatnya saja.


Amirah menghembuskan nafasnya kasar Karena sejatinya manusia itu tidak bisa menjanjikan sesuatu jika akhirnya tidak bisa ditepati, apalagi ketika memberikan janji itu adalah seseorang yang usianya jauh sekali di atas kita rasa-rasanya sudah seperti tidak menghormati orang tersebut.


"Kok bisa sih tidak diperhatikan padahal sudah selama itu, memangnya ada kegunaannya kalau sampai mama hanya diam saja tidak melakukan apapun? apa mama tidak senang kalau melihat kamu sampai lama kemudian hidup Mama selalu bahagia tanpa merasakan kesakitan sedikitpun, apa Mama tidak suka kalau misalnya kami terlalu banyak bertingkah jadi memilih untuk menjauh saja tidak usah mendekat sedikitpun?" tanya Amira perlahan.


Dina menggelengkan kepalanya karena sejatinya ia Memang dari awal tidak pernah berpikiran sampai di bagian itu, hanya saja mungkin Jalan hidupnya harus seperti begini tidak harus mulus-mulus amat tidak perlu harus sesuai dengan keinginan pasti sekali-kali ada berkeloknya juga.


"Mama dari awal memang tidak ada pikiran sampai situ hanya mungkin karena melihat hubungan kalian yang seperti ini Jadi semangat hidup sudah tidak ada, tetapi jangan pernah berfikiran kalau ini semua gara-gara kalian soalnya kan memang jalan takdir semua orang sudah diatur semoga hidup sehat seperti apapun kalau sudah dikasih penyakit ya tetap bakalan menderita! "jelas Dina karena memang seperti begitu kenyataannya mau hidup dengan pola hidup yang teratur segala sesuatunya diatur tetap Jika sudah ditakdirkan memiliki penyakit yang tetap bakalan menderita.

__ADS_1


"Oh iya papa, itu benalu satu tuh ngapain Masih ada di sini Kenapa dia tidak pulang ke Prancis aja? kayaknya kalau dia kerja di sana lebih beres daripada di sini hanya menyusahkan orang saja dan hanya membuat kita rugi, dia itu aku bakalan dendam sampai kapanpun loh soalnya gara-gara dia membuat aku itu sudah dianggap sebagai seseorang yang tidak bertanggung jawab dengan pekerjaan!"Rangga yang sedang menyetir dan juga dari tadi tidak menimpali perkataan mereka semua sekarang malah dibawa-bawa oleh Amira bahkan bisa dibilang pria itu kali ini benar-benar menjadi sasaran empuk dari wanita hamil tersebut.


"Ya habisnya mau bagaimana lagi urusan pekerjaan suami kamu belum beres-beres juga, padahal semua yang di handle oleh Rangga itu kan harusnya di handle sama dia tapi karena hobinya keluyuran ya mau tidak mau kita menahan anak orang di sini dulu kan? "tanya Sakti balik membuat Adam hanya cengengesan karena akibat urusannya dengan Amira tidak beres-beres membuat Rangga masih tertahan di tempat itu.


"pekerjaan Mas Adam tidak ada kok hobinya hanya mengganggu doang, nanti setelah ini dia pasti bakalan bekerja Soalnya kalau di rumah itu hanya membuat orang sakit mata tidak ada yang dilakukannya hobinya hanya melihat ke arah gadget doang! "sahut Amira membuat ada menatap terpercaya ke arahnya soalnya ia belum ada niatan untuk bekerja ia malah dipaksa oleh istrinya sendiri.


"loh aku belum ada niatan untuk bekerja, Kenapa sudah mengatakan hal itu kepada Papa? nanti kalau misalnya Rangga Mendengar hal ini pasti dia bakalan begitu bahagia, kalau dengan begitu ya Otomatis waktu kita bertemu semakin berkurang jadinya sedangkan kamu sekarang sudah tinggal menghitung hari saja? "tanya Adam memastikan soalnya menurutnya untuk usia kehamilan Amira seperti saat ini sebenarnya harus ditemani oleh semua orang di sekitarnya biar tidak merasa bosan.


"Aku bukan anak kecil lagi terus kalau misalnya ada apa-apa ya tinggal ambil handphone terus telepon kamu, Masa Iya susah sekali? Daripada kamunya tinggal di rumah terus mengganggu kehidupanku, yang jelas-jelas butuh ketenangan. "ujar Amira yang tidak kehabisan akal untuk menghadapi suaminya itu.


Bahkan ketika Adam memberikan perhatian yang berlebihan, yang ada Amira pasti bakalan menolaknya mentah-mentah. Karena katanya jika terlalu cengeng, Takutnya nanti suatu saat menjadi janda akan selalu bergantung dengan suaminya dan akhirnya bakalan kesusahan sendirian.


sebuah Pemikiran yang sangat tidak masuk akal Karena sekarang suaminya itu dalam keadaan sehat walafiat, jadi otomatis tidak akan pernah ada wacana untuk pergi meninggalkannya sampai selama-lamanya Jadi kenapa harus sudah mempersiapkan status itu lebih awal.


"ya tidak bisa seperti itu dong nanti kalau misalnya kamu sendirian di rumah terus ada kenapa-napa, nanti takutnya kalau mau nelponku pasti bakalan kelamaan dan otomatis aku sebagai seorang suami itu merasa bersalah karena tidak bisa menemani kamu di saat penting. "tolak Adam karena menurutnya Amira itu terlalu tidak peduli dengan keberadaannya sama sekali padahal yang jelas-jelas yang Adam butuhkan adalah kehadirannya yang bisa berguna untuk kehidupan Amira.


"aduh tolong deh jangan lebay seperti itu, Memangnya kamu pikir aku ini manusia secengeng itu? Aku itu mau melahirkan bukan sakit keras Jadi butuh pengawasan ekstra 1 * 24 jam, Aku butuh kebebasan dan juga ruang gerak yang begitu luas serta Oksigen yang begitu memadai tidak perlu harus banyak orang kan? "omel Amira tidak terima karena menurutnya jika Adam terlalu bersikeras seperti itu rasa-rasanya seperti suaminya itu tidak menghargai keinginannya sedikitpun.

__ADS_1


Dina sebenarnya sudah merasa pusing dari tadi tetapi ya tetap berbuat seolah-olah menjadi wanita yang kuat tidak mudah tumbang, padahal sejatinya harusnya ia sadari kalau tidak selamanya seseorang itu mampu bertahan dengan penyakit yang ada di dalam tubuhnya sendiri.


Amira yang berdebat dengan suaminya merasa heran ketika genggaman tangan mertuanya itu tiba-tiba melemah, ketika ditolenya ke samping terlihat Dina sudah menutup matanya dan juga kepalanya sudah menyandarkan di bahunya membuat wanita itu benar-benar terkejut.


"Ya Ampun Mas, mobilnya bisa cepat lagi Tidak sepertinya Mama pingsan deh? "tanya Amir sambil menggoncang tubuh Dina yang tidak bereaksi apapun membuat semua orang di situ benar-benar menjadi panik dan juga tidak menyangka kalau dari tadi mereka tidak memberikan respon sama sekali terhadap wanita itu.


"Mama, ayo buka matanya jangan seperti ini dong! Ada bagian mana yang sakit supaya maksudnya sebentar ketemu sama dokter bisa kami laporkan secara terperinci, tolong sadar jangan tidur terus seperti begini nanti yang ada mereka bakalan berpikir yang aneh-aneh tentang kamu? "bujuk Sakti lagi tetapi Dina tidak merespon sedikitpun karena kebetulan yang ada di situ itu satu bangku ada Amira dan juga Dina serta Adam sedangkan Papanya duduk di bangku belakang.


Rangga yang sudah ikutan panik memilih untuk mengajukan mobilnya selaju Mungkin biar cepat sampai ke tempat tujuan, karena memang jalanan sekarang sedang tidak mendukung untuk Ia melakukan aksi ugal-ugalan hanya karena ini menyelamatkan nyawa seseorang.


Amira terlihat begitu panik sampai-sampai tidak tahu lagi harus menjawab panggilan itu sebelah mananya, belum lagi Dina yang sudah menampakkan wajah pucat aslinya membuat semua orang benar-benar ketakutan dan juga merasa sedikit Waspada.


"Ya Tuhan Mama, cepat sadar Jangan tidur seperti itu Aku butuh Mama sekarang Dan tolong jangan pernah pergi menjauh dariku kapan saja!"lirik Amira penuh permohonan tetapi sepertinya memang tidak ada respon yang berarti yang diberikan oleh Dina kepadanya sebab Mungkin ia sudah tidak sadarkan diri dari tadi tetapi karena semuanya asyik mengobrol sampai-sampai tidak sadar dengan kondisi dari wanita itu.


Aida yang berada di rumah sendirian benar-benar merasa panik soalnya ingin sekali ia menelpon putrinya dan juga memastikan kabar terbaru dari besannya, hanya saja takutnya jangan sampai sekarang malah mengganggu Amira yang sedang berusaha membujuk Dina agar bisa segera pergi ke rumah sakit dan berobat.


"Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya, kira-kira bagaimana keadaan Dina saat ini? semoga saja dia dalam keadaan baik-baik saja dan juga semoga perlakuan yang diberikan oleh Adam dan Amira tidak terlambat, soalnya nanti bisa dibayangkan aku bakalan hidup sama siapa kalau sampai dianya kenapa-napa!"batin Aida yang benar-benar cemas memikirkan soal keselamatan dari sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2