
Bughh,Bughhh,Bughhh....
Tukang bubur tersebut dan juga Sakti kini tengah berusaha mendobrak pintu rumahnya Aida, Karena Wanita itu yang tidak kunjung merespon panggilan yang mereka lakukan dan juga membuat mereka merasa khawatir dengan apa yang terjadi kepadanya.
"Astaga papa sama Masnya kok kenapa sih dari tadi pintunya tidak bisa dibuka sama sekali, Memangnya tenaga kalian itu tidak ada sampai-sampai harus melakukan hal ini juga membutuhkan tenaga lebih dari dua orang? "tanya Dina merasa kesal sebab menurutnya tenaga suaminya itu sangat keok sampai-sampai tidak berguna sama sekali untuk membuka pintu rumahnya Aida.
Sakti mendengus kesal ketika mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut sebab menurutnya Dina itu hanya bisa memerintah tetapi tidak bisa bekerja karena buktinya sekarang bukannya mau bantu mereka malah hanya berdiri dan memberikan kode lewat tangan dan juga mulutnya, terus mengeluarkan kata-kata provokasi yang bukan membuat semangat orang tambah membara tapi malah semangat orang menjadi luntur saat itu juga.
"Mama kalau duduk di situ hanya untuk berbicara panjang lebar dan juga mengundang emosi lebih baik tidak usah saja, karena Papa ini sudah berusaha mengeluarkan tenaga tetapi sepertinya pintu Aida ini digembok dengan beberapa lapis sampai-sampai susah sekali untuk dibuka! "omel Sakti karena tidak suka jika istrinya itu tidak pernah mengerti dengan apa yang ia lakukan.
Dina hanya tersenyum ketika mendengar omelan dari suaminya itu karena sebenarnya Ia juga sangat keterlaluan sih, coba saja kalau misalnya dirinya tidak terlalu banyak berbicara dan juga membiarkan sakit tetap fokus ya mungkin pintu itu sudah terbuka dari tadi.
"Ya sudah kalau begitu lanjutkan saja biar mama jadi penonton di mobil, nanti kalau sudah kebuka pintunya Tolong dikasih kabar ya Soalnya Mama sangat penasaran bagaimana dengan keadaan Aida dalam sana! "perintah Dina yang santai saja seolah-olah ia itu merupakan seorang mandor lapangan jadi kerjaannya hanya memberikan perintah kepada para anak buahnya.
"Ya sudah kalau begitu sana pergi bila perlu tidak usah kembali lagi sampai benar-benar selesai urusannya, Karena sekarang ini yang papa perlu Yaitu fokus dan juga tidak ingin menunda lebih lama lagi supaya bisa memastikan keadaan Aidah! "pria itu sangat menghargai Aida karena merupakan sahabat dari istrinya dan juga orang yang tidak pernah terpisahkan dari Dina serta merupakan besannya yang jelas-jelas harus ia hargai dengan begitu baik apalagi ketika mengingat kelakuan Adam dalam memperlakukan Amira selama ini.
"Ih dasar suami sendiri kok malah tega terhadap istrinya, tapi ya sudahlah aku bakalan mengalah kali ini dan membiarkan dia mau melakukan apapun yang penting intinya keadaan bisa dipastikan aman atau tidak. "batin Dina yang memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu lagi.
akhirnya setelah melalui perjuangan selama 15 menit pintu rumah Aida terbuka juga, membuat tukang bubur yang tadi disewa oleh Dina benar-benar merasa bahagia karena akhirnya dagangannya bakalan ludes dalam waktu beberapa menit saja dan itu merupakan rekor terbaru di dalam kehidupannya selama ini yang kalau mau berdagang biasanya sampai setengah hari dulu baru bisa habis.
"Akhirnya bisa dibuka juga pintu ini, kalau tidak mah saya bakalan gagal membawa pulang uang! "ujar pedagang bubur tersebut merasa lega karena bisa menolong orang sekaligus juga bisa mendorong perut para anggota keluarganya yang akan kelaparan kalau misalnya ia tidak membawa pulang Uang sepeserpun dan alhasil dagangannya yang bakalan dijadikan makan untuk para anggota keluarga padahal sebenarnya sudah merasa bosan sih bertahun-tahun hanya merasakan hidangan yang sama itu setiap hari.
__ADS_1
Sakti memberikan lembaran uang pecahan berwarna merah sebanyak 5 lembar kepada pria tersebut karena memang benar-benar sudah menolongnya, membuat Binar mata tukang bubur tersebut antara percaya atau tidak namun intinya ia benar-benar terkejut dengan semua kejadian yang tak terduga yang baru saja ia alami.
"Ini Pak diambil! karena ini merupakan bayaran bapak membantu saya dari tadi dan juga tidak patah semangat sedikitpun, karena kalau tidak ya Otomatis pintunya tidak bakalan bisa dibuka sama sekali! "ujar Sakti sambil menundukkan kepalanya memberi hormat karena meskipun kedudukan status sosialnya lebih tinggi namun intinya setiap orang harus menghargai hasil kerja keras orang lain karena jika tanpa hasil kerja keras orang tersebut ya apa yang ia inginkan dan juga usahakan tidak akan pernah maju.
"Terima kasih banyak Pak! tetapi saya hanya menerima bayaran sesuai dengan yang sudah menjadi kesepakatan antara saya dan juga istri anda, karena memang bubur saya itu satu gerobak isinya hanya Rp150.000 bukan sebanyak itu jadi saya tidak ingin menerima sesuatu yang memang bukan merupakan hak saya! "tegas tukang bubur tersebut membuat Sakti sedikit merasa jengah karena Biar bagaimanapun Ia sekarang sedang mencemaskan keberadaan Aida dan juga takut nanti karena Aida drop istrinya juga bakalan ikut drop sebab Dina sekarang keadaannya itu bisa dibilang sedang tidak baik-baik saja.
"Maaf Pak saya sedang buru-buru jadi Anggap saja apa yang saya kasih ini merupakan berkat keberuntungan untuk keluarga anda di rumah, dan Anda harus tahu kalau Sebenarnya sebuah Rezeki itu tidak boleh ditolak karena mungkin ini sebenarnya berasal dari yang di atas hanya saja melalui saya! "ujar Sakti lalu segera menarik tangan pria paruh baya tersebut dan meletakkan uang tersebut di dalam tangannya lalu kemudian menuju ke mobil untuk memanggil Dina agar bisa menemaninya masuk di dalam rumahnya Aida dan memastikan keadaan wanita itu apakah baik-baik saja atau tidak.
"tuan dan nyonya Terima kasih banyak ya karena sudah mau memberikan saya rezeki berlimpah hari ini, kalau Boleh saya tahu harus diletakkan di mana itu bubur semuanya soalnya kan itu merupakan miliknya kalian jadi otomatis Saya tidak boleh berdagang lagi sesuatu yang bukan merupakan milik saya? "tanya tukang bubur tersebut memastikan membuat Dina akhirnya mengurungkan niatnya untuk segera masuk ke dalam rumahnya Aida karena Biar bagaimanapun dirinya juga harus bisa merespon apa yang dikatakan oleh tukang bubur tersebut karena memang sudah berjasa membantu mereka dalam kesulitan tadi jadi mungkin sekarang adalah giliran mereka membantu Balik kesulitan pria tersebut.
"kalau memang Bapak sudah menganggap bahwa itu merupakan milik kami ya sekarang Kalau mungkin bisa berkenan silakan bagikan saja bubur itu secara gratis kepada orang-orang di sekitar sini ataupun di manapun yang Bapak temui, kalau memang Mereka bertanya siapa yang memberikan hal ini Anggap saja bahwa hari ini Bapak ingin bersedekah kepada mereka."setelah mengatakan hal itu terlihat Dina dan juga Sakti buru-buru masuk ke dalam rumahnya Aida untuk memastikan keadaan wanita itu secara langsung daripada semua yang dilakukan mereka nanti bakalan terlambat dan juga sia-sia.
"ayo papa cepat kita pastikan keadaan Aidah sekarang semoga saja dia baik-baik saja soalnya itu orang kan jarang mau mendengar keributan di rumahnya kalau memang keadaannya baik-baik saja, oh Tuhan Aida kamu mau membuatku benar-benar bingung antara harus melakukan apa dan juga harus menghubungi siapa untuk memastikan keadaan kamu sekarang! "ujar Dina yang terlihat begitu frustasi dan juga tidak tahu harus bersikap Bagaimana sedangkan Sakti memilih untuk Tetap tenang karena kalau istrinya sudah panik mengasah dirinya juga harus ikutan panik nanti Langkah apa yang harus diambil ketika memang keadaan sedang gawat tidak akan bisa terpikirkan sama sekali akibat otak yang sudah ngeblank lebih dulu.
Dina membulatkan matanya sempurna karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya saat ini, Bagaimasahabatnya itu pingsan dengan ada mimisan di hidungnya Yang sepertinya masih mengalir karena lantai itu masih tergenang dengan cairan yang segar.
"Astaga Aida...
Sakti yang tadi sedang menuju ke arah dapur langsung balik kembali ke dalam kamarnya Aida ketika mendengar teriakan dari istrinya itu, Ia yakin Dina berteriak seperti itu karena sudah menemukan sesuatu yang sangat tidak masuk akal saat ini dan juga mungkin bisa dibilang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja karena Dina juga pastinya kalau berteriak sedangkan tidak ada sesuatu yang penting akan memikirkan hal itu terlebih dahulu.
"Papa tolong kita bawa Aida ke rumah sakit sekarang! Mama takut dia kenapa-napa apalagi hidungnya sampai seperti begini, Ya Tuhan Kok bisa sih kita terlambat menyadari kalau dia sebenarnya sedang tidak baik-baik saja? "Dina merutuki kebodohannya sampai-sampai tidak sadar dengan apa yang tengah terjadi kepada Aida saat ini dan juga terlihat sepertinya dirinya sedang sibuk dengan urusan pribadinya tanpa memikirkan perasaan dan juga keadaan sahabatnya yang jelas-jelas tidak ada orang satupun yang menemaninya padahal Dina sudah menyarankan untuk menggaji asisten rumah tangga agar Aida punya teman di situ.
__ADS_1
Sakti dan juga Dina membawa tubuh lemas milik Aida itu secara perlahan ke dalam mobilnya mereka, Sebab mereka harus segera memberikan pertolongan pertama kepada wanita itu agar mungkin segala sesuatunya tidak terlambat sesuai dengan apa yang diharapkan.
sepasang suami istri itu akhirnya Memilih Untuk mengantarkan Aida ke rumah sakit Sekarang juga tanpa mau menunggu siapapun dan juga tanpa mau mengulur-ngulur waktu, karena Biar bagaimanapun keadaan Aidah itu lebih penting apalagi wajah pucat wanita itu seolah-olah tidak ada aliran darah sama sekali padahal kemarin-kemarin Aida dalam keadaan baik-baik saja.
Amira yang sedang bersiap-siap untuk pulang merasa perasaannya itu sangat tidak tenang Tetapi entah apa dan juga Mengapa dirinya bingung dan tidak bisa mencerna semuanya, berpikir mungkin salah satu anggota keluarganya ada yang cacat ataupun Bagaimana tetapi satu pun tidak ada orang yang mengabarinya.
Adam yang melihat kecemasan di wajah istrinya itu perlahan mendekatinya kemudian mengusap pelan bahu Amira, mencoba menyalurkan sedikit energi agar wanita itu mungkin bisa merasa lebih nyaman dan juga tidak mencemaskan sesuatu yang secara berlebihan seperti itu.
"Kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan, Kalau mungkin iya katakan saja siapa tahu aku bisa membantu? "tanya Adam memastikan terdengarlah nafas yang diberikan oleh Amira karena ini semua sebenarnya hanya perasaannya semata tidak ada bukti apalagi mungkin menerima kabar secara langsung.
"Entah mengapa aku itu tiba-tiba memikirkan tentang ibu, seolah-olah mungkin ada hal yang tidak terduga sedang terjadi kepadanya! Mengingat kalau ibu itu sebenarnya tidak ada teman sama sekali di rumah, dan takutnya jangan sampai ketika dia kenapa-napa tidak bisa meminta tolong kepada orang lain lagi!"ujar Amira yang berusaha untuk tetap bisa menahan tangisnya karena sudah cukup ia kehilangan Ayahnya dulu.
Sekarang tidak mungkin lagi mau kehilangan orang yang terdekatnya sekalipun orangnya itu merupakan orang yang sangat menyebalkan, menyebalkan bukan dalam artian hobinya menyakiti dirinya dan juga ibunya melainkan menyebalkan karena selalu menggoda Amira dan juga mengatakan sesuatu yang nyeleneh karena memang sikap ayahnya itu kan hobinya berkelakar.
Adam sebenarnya merasakan perasaan yang sama tetapi berusaha ditepisnya karena ia sangat yakin orang tuanya pasti baik-baik saja, kalau misalnya ialah menghubungi Rangga sekarang sepertinya sangat tidak bisa karena mungkin pria di seberang itu bakalan sedikit merasa kecewa kepadanya karena gara-gara kelakuannya ada membuat dirinya harus kehilangan pekerjaannya.
"Ya sudah nanti kita bakalan menghubungi mereka di sana supaya memastikan keadaan secara langsung, hanya saja tolong kamu jangan terlalu cemas berlebihan karena kasihan si utun yang ada di dalam perut kamu sekarang pasti bakalan memikirkan keadaan emaknya ketika sedang panik seperti ini! "bujuk Adam berharap agar mungkin Amira bisa sedikit lebih rileks karena memang sebagai seorang anak mencemaskan keadaan orang tuanya itu pasti sangat masuk akal hanya saja mau bagaimana lagi ketika segala sesuatunya tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginan.
"Tidak kalau bisa langsung kita hubungi mereka sekarang Supaya memastikan apa baik-baik saja atau tidak, kalau memang mereka kenapa-napa itu artinya kita harus pulang sekarang juga Karena aku ingin memastikan secara langsung tanpa harus menunggu! "ujar Amira membuat Adam langsung mengambil ponselnya dan menghubungi kedua orang tuanya.
Sakti yang sedang berkendara ya Otomatis tidak sempat mengangkat ponselnya yang bergetar di dalam saku celana, karena pria itu sedang berusaha untuk fokus sebab Biar bagaimanapun ada nyawa yang harus ia tolong berada di kursi penumpang saat ini.
__ADS_1
Dina yang sedang memanggul kepalanya Aida benar-benar dibuat Blank dengan semua kejadian yang ada di hadapannya secara tiba-tiba ini, padahal harapannya agar sahabatnya itu baik-baik saja dan juga tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan Namun ternyata harapannya itu benar-benar tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.