
Adam memilih untuk diam saja dan juga tidak membantah apapun yang dikatakan oleh mertuanya Itu sebab memang ini semua akibat kesalahannya, hanya saja mau bagaimana lagi Bukankah kedatangan Tania itu atas kemauan wanita itu sendiri bukan karena ada ajakan yang berasal dari dirinya?
mau diam saja pun rasanya sangat percuma dan juga tidak melakukan apapun juga tetap bakalan disalahkan lagi, terkadang pria itu merasa kasihan dengan istrinya yang selama memilih untuk memaafkannya selalu saja menghadapi berbagai macam masalah yang tidak pernah ada habisnya.
"Maafkan aku ibu tapi sungguh aku tidak tahu kalau nantinya ada Tania di sana, dan dia itu merupakan temanku semasa kuliah dulu jadi otomatis ketika bertemu denganku pasti dia bakalan membahas tentang yang pernah kami lalui. hanya saja Aku tidak menyangka kalau akhirnya dia bakalan mengajak Amira untuk berdebat, Padahal tadi aku sudah mengajak istriku agar kami berdua pulang saja tidak usah menghiraukan kehadirannya di situ! "jelas Adam.
Aida hanya menggelengkan kepalanya karena tidak tahu lagi harus ngomong apa Kepada menantunya itu agar jangan terlalu kecentilan di luar sana, coba kalau misalnya pria itu menjadi orang yang paling tenang tidak melakukan hal ini pasti semua masalah bakalan beres dan juga tidak ada yang namanya seperti saat ini hanya bikin mumet.
Amira yang sudah selesai mandi memilih untuk menyusul suaminya yang tengah berbicara dengan ibunya, Sesampainya di sana dirinya merasa terkejut ketika melihat Adam hanya menundukkan kepalanya padahal setahunya suaminya itu tidak punya salah.
"kamu Kenapa Mas, kok tingkahnya seperti itu? kamu lagi berantem sama ibu, kok Ibu bisa marah suamiku memangnya dia salah apa?"Amira dengan wajah penuh penasaran membuat Aida menatap heran ke arah anaknya itu karena bukankah tadi dirinya yang memarahi Adam lebih dulu makanya sekarang Aida menyesuaikannya bukan malah memarahi anak orang sembarangan.
"loh kok kamu malah bertanya seperti itu bukannya kamu yang sedang memarahi suami kamu, karena tadi ketemu sama orang aneh yang malah berantem sama kamu gara-gara kelakuan suamimu ini? "tanya Aida penasaran.
Adam terlihat memegang tangan istrinya itu karena memang kedatangan Tania di restoran tadi itu dirinya benar-benar tidak bisa memberikan prediksi maka dari itu seharusnya ia tidak boleh disalahkan dong, Lagian mengenali seseorang di masa lalu itu sepertinya tidak buruk-buruk amat karena tergantung orangnya mau memperlakukan orang Masa lalu itu di masa depan seperti bagaimananya.
"sayang kan aku sudah bilang dia itu teman masa laluku dulu tetapi sekarang kami tidak pernah berhubungan lagi loh, Kamu jangan marah-marah tidak jelas seperti ini rasa-rasanya aku itu seperti seorang suami yang selalu saja mencari masalah untuk istrinya! "bujuk Adam agar Amira tidak memarahinya lagi dan mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu membuat Amira hanya bisa tertawa.
"Astaga Mas, Siapa sih yang marah ke kamu orang tadi itu aku hanya pengen mandi saja kegerahan! Sudah ah jangan bahas sesuatu yang buat aku sudah lupa tiba-tiba jadi mengingatnya kembali, kamu itu kok malah mengajakku berantem lagi sih padahal aku lagi tidak ingin lah berantem sama kamu! "omel Amira membuat Aida dan Adam hanya bisa menepuk jidat mereka perlahan karena benar-benar merasa lucu.
"Lain kali kalau tidak bisa membedakan dia lagi marah atau tidak lebih baik kita pilih untuk diam terus tidak usah bicara sama sekali karena nanti akhirnya seperti begini, orang dari tadi begitu panik takutnya jangan sampai kamu mengamuk Eh tahu-tahunya kamu malah biasa saja membuat kami jadi kebingungan kan? "omel Aida membuat Almira tertawa karena menurutnya apa yang dikatakan oleh ibunya itu benar-benar membuatnya merasa lucu soalnya sesuai kenyataan sih kalau memang tadi ia sempat marah dengan Adam Tetapi setelah mandi Perasaan marah itu membawa pergi begitu saja Ya sudah sekarang malah dinikmati saja.
__ADS_1
"Bagaimana kandungan kamu, selama sampai di sini Ibu tidak pernah melihat kamu pergi memeriksakan kondisi kalian? Seharusnya kan awal datang kamu harus langsung memeriksakan kondisinya supaya melihat Bagaimana keadaannya di dalam sana ketika kamu membawa pergi dia kemana-mana, biar bagaimanapun dia itu belum terlahir dan juga belum terlihat kira-kira ada baik-baik saja atau tidak di dalam sana dan kamu sebagai ibunya ya Otomatis tidak boleh membiarkan hal itu begitu saja! "jelas Aida yang melihat selama berapa hari Amira ada di tempat ini tidak sekalipun dirinya dan juga Adam pergi memeriksakan kondisi bayi mereka yang berada di dalam perut anaknya itu.
"menurut perencanaan dokter ini adalah minggu ini deh aku bakalan melahirkan, jadi untuk kamu masih ada yang persiapan diri baik-baik soalnya kan kita punya golongan darah sama yaitu B resus negatif! jadi aku kan santai saja tidak terlalu memikirkan hal-hal yang terlalu berlebihan soalnya menurutku aku yang mau melahirkan harus lebih santai tidak boleh tertekan, kalau misalnya aku mulai tertekan dari sekarang nanti saat melahirkan kayaknya susah deh untuk lebih tenang kemudian tidak panik dan juga mengatur segala sesuatu itu tidak baik-baik saja! " Jelas Amira membuat Adam yang berstatus sebagai suaminya benar-benar merasa bersalah karena seperti ini tidak berguna di saat-saat seperti begini.
"Astaga kamu tidak bercanda kalau dalam Minggu ini kamu bakalan melahirkan, Ya sudah nanti aku bakalan menelpon Rangga biar dia yang menghandle semuanya lagi sampai 3 bulan ke depan supaya aku bisa menemani kamu! "ujar Adam membuat Amira menggelengkan kepalanya.
"kamu jangan seperti itu dong masa iya cutinya sampai 3 bulan padahal yang melahirkan kan aku bukan kamu, terus nanti kalau misalnya perusahaan tidak Kamu urus terus selalu diserahkan kepada orang lain ya rasa-rasanya kamu sebagai seorang pemimpin tidak berguna loh! "omel Amira karena tidak ingin suaminya itu menjadi orang yang terlalu bersantai tidak mau melakukan apapun sendirian Segala sesuatu harus melibatkan orang lain padahal dirinya sudah besar dan juga bisa dibilang adalah sebagai seorang kepala keluarga.
Aida merasa saat ini adalah hal yang penting untuk membicarakan kondisi Dina kepada Amira dan juga Adam, mungkin dengan begitu anak-anak tersebut bisa lebih memperhatikan kondisi dari wanita itu?
"Ada hal yang penting yang harus Ibu bicarakan dengan kalian berdua jadi tolong didengarkan baik-baik jangan menyanggahnya apalagi memberikan respon berlebihan, karena kalau sampai kalian memberikan respon begitu maka jangan harap Ibu bakalan melanjutkan pembicaraan ini kepada kalian berdua" tegas Aida bahkan tidak ada nada bercanda di dalamnya.
"Ibu ngomong saja kami akan mendengarkannya dan tidak akan pernah membantah hanya sedikitpun, kalau memang ini ada sangkut pautnya dengan kami dari awal dan juga sesudahnya kami meminta maaf sebesar-besarnya karena memang selama ini tidak pernah melakukan hal yang baik-baik untuk kalian sebagai orang tua! "jelas Adam karena memang di sini dirinyalah yang paling berdosa kepada istrinya kepada mertuanya dan juga kepada kedua orang tuanya sampai-sampai dirinya yakin mereka pasti frustasi dengan kelakuannya.
Amira mengusap lengan suaminya itu pelan karena sebenarnya bukan hanya Adam yang salah di sini tetapi dirinya juga ikut-ikutan merasa bersalah, coba saja kalau ia lebih dewasa coba saja kalau iya tidak terlalu terpengaruh dengan apapun pasti otomatis hubungannya dengan Adam tidak seburuk ini Dan juga mungkin mereka selama ini bisa menemani ibunya kemanapun dan tidak akan pergi meninggalkannya selama berbulan-bulan lamanya.
"Aku juga merasa bersalah karena membuat ibu selalu saja tidak enak hati dan juga merasa sendirian serta tidak pernah berbagi keluh kesah kepada orang-orang sekitar, selama ini aku selalu berpikir kalau aku ingin melupakan anak yang tidak berguna karena selalu saja membuat orang tua kesusahan dengan memikirkan keadaanku yang sebaliknya tidak pernah memikirkan kondisi mereka ! "Amira menimpali apa yang dikatakan oleh suaminya tadi.
Aida mendengus kesal karena menurutnya saat ini bukanlah saat untuk Cengeng apalagi bersedih-sedih karena pembahasan yang ada itu bakalan Lebih sedih lagi, jadi yang dirinya inginkan adalah anak-anaknya itu tetap rileks dan juga tenang supaya pembahasan yang terjadi tidak akan membuat mereka merasa terkejut.
"Dina saat ini sedang menderita leukimia antara stadium berapa Ibu juga sudah tidak bisa memastikannya lagi karena pembahasan kami itu sudah terjadi dua bulan lalu, Ibu tahu mengatakan hal ini kepada kalian pasti membuat Dina bakalan merasa kecewa tetapi yang Ibu inginkan yaitu kalian ikut ambil bagian dalam merawat dia supaya bisa segera sembuh! "jelas Aida tiba-tiba membuat Adam dan juga Amira hanya bisa Saling pandang karena benar-benar syok dengan apa yang dikatakan oleh Aida tadi.
__ADS_1
"Maksudnya Mama sakit kanker darah, Tetapi dia tidak pernah mau melakukan perawatan atau pun Segala macam rangkaian pemeriksaan medis yang lain? "tanya Adam karena memang selama ia kembali ke situ tidak pernah melihat Dina meminum obatnya atau melakukan pemeriksaan.
"kalau pemeriksaan sih sudah Soalnya kalau tidak diperiksa ya mana tahu kalau dia itu sedang menderita penyakit itu, hanya saja penulisan di rumah sakit yang muter balik ke sana kemari habis yang harus memerlukan yang namanya kemoterapi itu yang tidak pernah IA jalankan karena memikirkan kondisi kalian berdua! dia bahkan awal-awal ngotot agar dirawat di Prancis yang entah ada hal apa waktu Ibu tidak paham, ternyata di sana ada Kamu makanya dia ingin selalu ada di sana biar bisa dekat dengan kamu terus!"jelas Aida sambil menatap ke arah Amira yang benar-benar tidak percaya bahwa mertuanya itu sebenarnya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Mas, ayo kita ke rumah Papa sama Mama untuk mengajak Mama pergi ke rumah sakit sekarang juga selagi aku belum merasakan sakit untuk melahirkan! Mungkin dengan begitu kita masih punya waktu untuk merawat Mama sebelum semuanya menjadi terlambat, Terima kasih Ibu karena sudah mau mengatakan hal ini kepada kami karena kalau tidak kami tidak akan pernah tahu sama sekali!"ajak Amira lalu menarik tangan Adam agar segera ikut dengannya saat ini juga tanpa menunggu lagi.
"ya lebih bagus seperti itu biar Ibu bakalan beristirahat di sini dan usahakan tolong kondisi Dina memang benar-benar kalian pastikan dia mendapatkan perawatan yang sesuai , soalnya dia selalu memikirkan kondisi Ibu sampai-sampai melupakan tentang kondisi sendiri yang sebenarnya juga bisa dibilang tidak dalam keadaan baik-baik saja! "perasaan bersalah Aida benar-benar jelas terasa karena selama ini Dina yang memastikan kondisinya baik-baik saja Kemudian kalau ada apa-apa wanita itu pula yang mengantarkan agar Rumah Sakit pokoknya selalu saja menemaninya di saat dirinya sendirian seperti ini Padahal kalau bisa dibilang yang membutuhkan perawatan ekstra adalah wanita tersebut bukan dirinya.
Adam benar-benar mendapat hukuman yang setimpal dengan apa yang ia lakukan tetapi pertanyaannya Kenapa hukuman itu harus diberikan kepada orang-orang terdekatnya, Kenapa tidak diberikan saja kepadanya yang jelas-jelas merupakan orang yang tidak berguna dan selama ini tahunnya hanya menyusahkan orang lain serta membuat orang lain merasa frustasi di dalam kehidupan mereka.
"Aku salah Bu, karena selama ini tidak pernah memikirkan kondisi orang-orang di sekitarku! kebodohan yang pernah aku lakukan ini terkadang membuat aku jadi bingung sendiri, kenapa Tuhan masih membiarkan aku hidup Kenapa dia tidak memberikan hukuman saja kepadaku agar aku sadar perlu manusia itu sebenarnya hanya sementara tinggal di dunia ini! "lirih Adam karena segala macam konsekuensi dan juga segala macam kejadian yang menimpanya benar-benar merupakan hal yang tidak pernah IA bayangkan sebelumnya.
plak
"sudah terlambat menangis lebih baik sekarang langsung bergerak, dari kemarin ke mana saja jadi hari ini baru menyadarinya? "omel Amira yang menampar kepala suaminya itu karena menurutnya tidak perlu harus terlalu cengeng soalnya cengengnya itu tidak akan membalikkan kondisi Dina seperti semula.
Aida ingin sekali tertawa ketika melihat Apa yang dilakukan oleh anaknya itu, soalnya suaminya Lagi bersedih bukannya dibujuk malah diberikan pukulan seperti itu.
"Ya sudah ayo kita pergi sekarang Lagian punya istriku sifatnya Barbar sekali sih, bukan membujuk suaminya agar lebih tenang eh malah suaminya dihajar! "omel Adam tetapi Amira tidak peduli sama sekali soalnya mau peduli juga untuk apa coba suaminya saja dalam keadaan baik-baik saja tidak ada kekurangan apapun.
"Ya habisnya soal sendiri masa iya kita lagi pusing memikirkan kondisi Mama tetapi kamunya malah ngoceh yang tidak jelas di tempat ini, kalau ngoceh yang noh di hadapan Mama supaya dia sadar ternyata anaknya ini masih punya hati nurani tidak membeku seperti batu kali! "omel Amira kesal membuat Adam hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena Lagi Dan Lagi di sini yang melakukan kesalahan ya hanyalah dirinya saja.
__ADS_1