
Aida dan juga Surti setengah berlari dari dalam rumah keluar untuk menuju ke mobilnya Adam, mereka berdua mendengus kesal ketika melihat mobil menantunya itu sudah tepat di depan pagar rumah hendak keluar ke arah jalan.
Siapa yang tidak emosi bukannya membawa mobilnya itu mendekat ke arah rumah agar mereka bisa memasukkan barang-barang yang begitu banyak, malah kini membuat mereka berdua harus bekerja keras untuk menjangkau ke arah mobil dan menantunya itu tidak ada niatan untuk membantu sedikitpun.
"dasar menantu tidak tahu di untung bukannya membantu orang tua malah tambah menyusahkan lagi, mobil sudah mendekat ke arah rumah tetapi kini kok malah dibawa pergi! " desis Aida menahan kekesalannya terhadap menantunya itu.
Surti pun merasakan hal yang sama terhadap Adam tetapi ia tidak mungkin dong berkomentar soalnya posisinya di rumah itu sebagai apa, Lagian nggak masalah bekerja seperti begini kan setiap hari ia selalu memikul barang belanjaannya dalam keranjang dari depan pagar rumah menuju ke dalam rumah jadi ya kalau misalnya hanya membawa barang yang sedikit seperti ini tidak terlalu masalah.
"kalau memang Ibu tidak bisa bawa ya sudah Biar aku saja soalnya ini mah kering tidak terlalu berat juga, daripada nanti Ibu bakalan drop lagi kita mau mengurus siapa coba masa iya kita mengurus dua-duanya dalam satu ruangan? "tawar Surti yang memang tidak masalah
Aida mendengar kesal sambil menatap ke arah asisten rumah tangga anaknya itu, bukan karena tidak menghargai tawarnya diberikan oleh Surti, hanya saja untuk saat seperti ini mereka harusnya saling membantu bukan harus tunjuk posisi di sini Siapa yang paling tinggi dan juga siapa yang pantas untuk diperintah.
"Bibi itu ngomong apa sih, ini itu urusan soal menantu dan juga mertua dan kalau misalnya memiliki menantu yang tidak tahu diri yang harusnya kita kasih lurus itu jalan pikirannya! "Aida berdecak kesal karena perkataan dari Surti tadi.
Amira akhirnya tersadar kalau sebenarnya hal penting yang mereka lupakan yaitu keberadaan ibunya dan juga Surti, dan akhirnya ia memukul lengan suaminya begitu kuat membuat Adam meringis kesakitan karena tidak percaya juga istrinya itu sedang menyalurkan rasa sakitnya juga kepada dirinya.
"Kamu kenapa sih Yang? kamu lagi ingin membagi rasa sakit kepada suamimu ini yang sudah tidak masalah, tetapi Kasih kode sedikit lah biar aku tidak terkejut soalnya nanti Kalau suamimu jantungan Memangnya kamu mau melahirkan tanpa harus tetap suami? " tanya Adam membuat Amira menatap tajam ke arahnya sebab maksud dan tujuannya sebenarnya tidak sampai di situ hanya saja suaminya itu yang terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Idih Siapa juga yang mau memukul kamu sampai mampus orang Aku hanya ingin mengingatkan kamu Ternyata apa hal penting yang kita lupakan itu adalah keberadaan Ibu dan juga Bibi Surti, tuh lihat mereka lagi keberatan di sana mengangkat barang-barang sedangkan kamunya di sini Duduk enak-enak seolah-olah mereka yang mau melahirkan sedangkan istrimu ini tidak sama sekali!" sembur Amira merasa kesal dengan kelakuan suaminya itu masa iya hal sepenting ini harus dilupakan.
Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sebenarnya Ia juga sempat berpikiran ke arah sana Tetapi entah mengapa mentok saja di situ, dan setelah diingatkan oleh istrinya barulah ya sabar kalau memang hal itulah yang mereka lupakan saat ini tetapi syukurlah karena ia belum melajukan mobilnya itu ke arah rumah sakit.
"Iya tadi Sebenarnya aku punya pikiran sampai di situ tapi kenapa ya tiba-tiba melupakan hal itu begitu saja, kamu jangan marah-marah dong sampai melakukan KDRT kepada suamimu sendiri nanti akibatnya sama juga yang bakalan menahan rindu yang tidak bisa direalisasikan. "tukas Adam sambil memasang senyuman terbaiknya tetapi Amira sepertinya mencibir kelakuan suaminya yang menurutnya sangat menyebalkan dan juga sangat tidak masuk akal serta seperti anak kecil yang Segala sesuatu harus diingatkan.
"ehh menantu tidak tahu diri kamu itu memang tidak bisa diharapkan sama sekali Sudah tahu orang tua lagi kerja berat Malah ditinggal begitu saja, sudah kalau kayak begini lebih baik tidak usah berbuat saja soalnya tau berbuat tapi tidak tahu bertanggung jawab dasar menyebalkan! "murka Aida sambil memasang tatapan pengguna membuat Adam bergidik nyeri karena merasa sedikit waspada dengan kelakuan mertuanya itu.
"Maaf Ibu tadi itu karena saking paniknya sampai-sampai melupakan keberadaan kalian berdua, tetapi intinya sekarang aku masih di sini dan lebih baik kita berangkat Soalnya takutnya istriku bakalan brojol di jalan!" Amira menatap tajam ke arah suaminya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Dasar Suami tidak tahu diri, awas aja ya kamu kalau sampai aku melahirkan dan kamu ya pingsan lebih dulu maka siap-siap saja! " ancam Amira dengan Tatapan yang benar-benar merasa dengan keberadaan suami nya itu.
Bersyukur karena ia masih diberi kesempatan untuk bisa bersama dengan istrinya di saat-saat seperti begini, tidak tahu bagaimana ceritanya jika sampai Amira melahirkan tanpa dirinya yang mendampingi otomatis Daniel untung besar karena selalu menemani Amira kemanapun Wanita itu pergi.
"Sakit sekali ya, kalau bisa diover lebih baik Berikan saja kepadaku biar kamu tidur dengan tenang?"ujar Adam yang tidak tahu lagi harus mengeluarkan kata-kata penghiburan bagaimana agar istrinya itu bisa sedikit tenang dan juga nyaman.
Aida yang berada di bangku belakang tidak bisa melepas pandangannya dari anaknya yang sekarang Pasti sangat merasakan kesakitan, dirinya memang hanya satu kali melahirkan dan itu adalah Amira namun ia sebagai wanita tentu saja sudah pernah mengalaminya maka dari itu ia hafal benar bagaimana rasanya sakit itu.
__ADS_1
"Sabar ya nak sebentar lagi juga sampai di rumah sakit kamu kalau sudah merasa sedikit enak kan lebih baik berbaring saja di sini, daripada kamu hanya duduk seperti begitu takutnya jangan sampai kamu lebih kesusahan lagi untuk menahan sakitnya!" Tawar Aida.
Amira menghela nafasnya berkali-kali karena tidak mungkin dirinya harus bolak-balik turun dari mobil hanya untuk mendapatkan kenyamanan, karena ia yakin sebentar lagi juga pasti bakalan sampai di rumah sakit dengan begitu dirinya bakalan langsung ditemani Jadi sekarang biarlah bertahan seperti ini dahulu.
"Aku masih bisa bertahan Bu nanti juga Sebentar lagi Bakalan sampai, Lagian ibu juga ya sudah duduk nyaman kok Di situ ngapain harus pindah segala! "ujar Amira toh ini semua juga pasti bakalan bisa ia lewati karena Bukankah menjadi seorang ibu itu adalah keinginan semua wanita.
Aida tetap saja tidak merasa tenang ketika melihat anaknya itu seperti kesusahan sekali, Namun karena kegigihan kamera yang selalu mengatakan baik-baik saja membuat wanita itu ya tidak bisa berbuat banyak.
Franda hari ini adalah jadwalnya untuk mengecek kondisi kesehatannya sekaligus memasang alat kontrasepsi di tubuhnya lagi karena biar bagaimanapun dirinya tidak menjamin bakalan tidak punya pasangan, atau mungkin dijadikan selingkuhan pun ia tidak masalah yang penting intinya ada yang mau membiayai kehidupannya.
dirinya tidak ingin hidup susah terus seperti begini dengan menjadi orang yang benar, sebab kebiasaannya yang selalu mendapatkan pemberian dari pria-pria yang berhubungan dengannya membuat dirinya mau tidak mau harus memasang alat kontrasepsi di tubuhnya meskipun saat ini belum mempunyai pasangan.
selama dirinya tidak dicurigai menjadi seorang pelakor Ya tidak masalah Ia melakukan semuanya itu toh tidak merugikan siapapun juga kan, gaya hidup membuat dirinya rela menjadi seorang wanita yang tidak punya harga diri yang penting intinya kebutuhannya semuanya terpenuhi tanpa terkecuali.
Fadil masih bekerja menjadi kuli bangunan di dekat Kompleks Perumahan yang tidak jauh dari kos-kosan mereka, dirinya merasa heran ketika melihat pagi-pagi sekali Franda sudah bersiap-siap Padahal setahunya anaknya itu pergi ke warung tempat dirinya bekerja adalah pukul 09.00 pagi.
"Kamu mau pergi ke mana pagi-pagi begini, bukannya warung itu bukanya jam 09.00 jadi tidak mungkin dong kalau kamu pergi di jam seperti ini? "tanya Fadil memastikan membuat Franda mendengus kesal.
__ADS_1
Franda tidak suka kalau bapaknya itu terlalu sibuk dengan urusan pribadinya, sebab menurutnya selama ini ia sendiri yang bekerja untuk memberi makan dirinya sendiri dan juga Fadil jadi apapun yang ia lakukan di luaran sana seharusnya pria itu tidak terlalu ikut campur dan banyak mengatur.
"Bisa tidak jangan kepo dengan urusan orang lain, lebih baik pergi kerja sana cari uang yang banyak biar jangan terlalu numpang hidup! " desis Franda kasar lalu pergi dari situ soalnya capek juga berdebat dengan orang tua yang tiap hari pembahasannya pasti sama saja.